MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 74


__ADS_3

Markus dan Tabib yang kini sudah berada di dalam kamar penginapan Yasa dan Firman, mereka berdua segera pergi menghampiri Sekar Wati.


"Akhirnya! Aku bisa bertemu denganmu," ucap haru Markus yang melihat Sekar Wati secara dekat.


"Markus," lirih Sekar Wati yang kaget melihat kedatangan Markus dan Tabib Padepokan Macan Putih.


"Aku ingin mendengar cerita kamu, yang bisa selamat. Saat kamu pergi melawan Rimba, demi menyelamatkan suamimu? Tapi! Sebelum kamu menceritakan itu semuanya, aku ingin Tabib memeriksa keadaan Malik terlebih dahulu. Tabib segera periksa keadaan Malik," perintah Markus kepada Tabib Padepokan Macan Putih. Untuk memeriksa keadaan Malik, yang Markus curigai sebagai murid Padepokan Black yang menyamar menjadi Malik.


"Tapi Guru Ketua. Malik sudah diobati oleh Tabib ini," tunjuk Yasa ke arah Tabib yang menjadi guru ibunya.


"Biarkan saja Yasa. Tabib hanya memeriksa keadaan luka di tubuh Malik saja," jawab Ratu Aurora yang mengerti dengan tujuan Markus, yang memerintahkan Tabib Padepokan Macan Putih. Untuk mencari tanda lahir yang berada di tubuh Malik. Meski Tabib yang merupakan guru Sekar Wati sudah mengatakan, bahwa di tubuh Malik ada tanda lahirnya. Akan tetapi, Ratu Aurora juga ingin mengetahui lebih jelas lagi dari Tabib Padepokan Macan Putih.


"Aku hanya memberitahu saja. Ketua Ratu," sahut Yasa menjelaskan.


"Tabib, ayo cepat periksa." Markus menyuruh Tabib Padepokan Macan Putih. Untuk segera memeriksa Malik, dan ingin mengetahui. Apakah ada tanda lahir di tubuh Malik.


"Baik, ketua Markus." Tabib pun segera pergi menghampiri Malik, dan segera memeriksa bagian tubuh Malik. Karena Tabib Padepokan Macan Putih, akan mencari tanda lahir yang berada di sekitar tubuh Malik.


Setelah selesai mencari tanda lahir di tubuh Malik. Tabib langsung memberitahukan kepada Markus dan yang lainnya.


"Dia adalah Malik murid Padepokan Macan Putih ketua Markus, tapi..." ucap Tabib yang sudah melihat tanda lahir di tubuh Malik, dan Tabib menggantungkan ucapannya. Karena ia tidak tega mengatakan itu semua.


"Tapi, kenapa Tabib" tanya Markus penasaran.


"Kekuatan energinya telah di serap oleh Raja iblis. Sehingga Malik saat ini, tidak memiliki kekuatan energi lagi." Tabib menjawab pertanyaan dari Markus. Meski awalnya Tabib ragu untuk mengatakan tentang kekuatan energi Malik, yang telah di serap oleh Raja iblis.

__ADS_1


"Apa!" Bukan hanya Malik saja yang kaget, mendengar ucapan dari Tabib Padepokan Macan Putih. Tapi mereka semua yang berada di dalam kamar penginapan Yasa dan Firman pun kaget.


"Pantas saja, aku tidak bisa menggunakan ilmu telepati dan jurus lainnya. Ketika aku berada di dalam penjara Padepokan Black. Apa lagi saat aku mau menggunakan ilmu sihir, itu sangat sulit dan tidak bisa aku lakukan. Dan ternyata! Baru aku ketahui. Bahwa sekarang ini, aku sudah tidak memiliki kekuatan energi lagi." Malik yang bersedih kehilangan kekuatan energinya.


"Kamu jangan bersedih lagi Malik. Karena pasti Tabib akan bisa membuat kekuatan energi kamu kembali pulih seperti semula lagi. Aku dan teman-teman yang lainnya, dulu juga pernah mengalami, kehilangan kekuatan energi. Tapi Tabib bisa memulihkan kekuatan energi aku dan teman-teman yang lainnya juga." Yasa menjelaskan kepada Malik, dan berusaha membuat Malik tidak bersedih lagi.


"Tapi maaf. Sekarang ini, aku tidak bisa membuat kekuatan energi Malik kembali seperti semula lagi. Karena Bunga Red, yang sudah aku racik sudah tidak ada lagi. Karena aku sudah meracik semuanya, dan jika ingin kekuatan energi Malik pulih kembali, kita harus pergi mencari keberadaan Bunga Red lagi." Tabib meminta maaf dan jujur mengatakan itu semua. Karena ia tidak bisa membuat kekuatan energi Malik seperti semula lagi. Karena Bunga Red yang di temukannya saat itu, sudah Tabib racik semuanya. Agar kekuatan energi Yasa dan teman-temannya menjadi maksimal.


Malik yang mendengar itu semua, semakin bersedih. Karena kekuatan energinya, tidak bisa kembali seperti dulu lagi.


"Kamu bisa menemukan keberadaan Bunga Red Tabib?" tanya Tabib yang menjadi guru Sekar Wati, kepada Tabib Padepokan Macan Putih.


"Iya," sahut Tabib Padepokan Macan Putih pelan.


"Padahal setahuku, keberadaan Bunga Red itu susah untuk di temukan keberadaannya." lirih Tabib yang menjadi guru Sekar Wati. Karena ia juga mengetahui kekuatan energi Malik yang sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya. Tapi tidak berani menceritakan itu semuanya.


"Yang di katakan oleh Guru Ketua benar Tabib, aku akan menemani Tabib mengambil Bunga Red." Yasa pun menimpali ucapan dari Markus. Karena Yasa ingin kekuatan energi Malik pulih kembali.


"Kita pergi saja ke hutan yang waktu itu kita cari bersama-sama Tabib, bukannya Tabib menemukan keberadaan Bunga Red di hutan itu." Firman mengingatkan Tabib Padepokan Macan Putih. Karena saat Tabib pergi mencari keberadaan Bunga Red, Firman juga ikut bersama dengan Tabib Padepokan Macan Putih.


"Tunggu apa lagi Tabib, kamu segera pergi mengambil Bunga Red." Markus pun segera memerintahkan Tabib Padepokan Macan Putih untuk pergi mengambil Bunga Red.


"Sepertinya aku harus berkata jujur. Kalau yang menemukan keberadaan Bunga Red adalah kucing peliharaannya Yasa," batin Tabib Padepokan Macan Putih.


Saat Tabib akan berkata jujur kepada semuanya. Kucing Kay yang sudah sadar dari pingsannya, ia melihat ke arah Tabib Padepokan Macan Putih.

__ADS_1


Karena saat kucing Kay pingsan itu, ia sedang memaksimalkan kekuatan energinya. Agar bisa cepat pulih, setelah menyalurkan kekuatan energinya kepada Malik.


"Aku sebenarnya bisa menemukan keberadaan Bunga Red berkat...." ucapan Tabib Padepokan Macan Putih terhenti. Karena kucing Kay yang sudah sadar dari pingsannya terus mengeong.


"Meong, meong."


"Kay, ada apa?" Yasa yang sedang berada di dekat Malik, segera pergi menghampiri kucing Kay.


Yasa pun mengambil kucing Kay, dan mengelus bulu kucing peliharaannya. Agar kucing Kay tidak terus mengeong.


Markus yang ingin mengetahui ucapan Tabib Padepokan Macan Putih yang terhenti, segera menanyakan kembali pada Tabib Padepokan Macan Putih. "Kamu bisa menemukan Bunga Red berkat siapa Tabib?"


"Sebenarnya aku tidak mengetahui keberadaan Bunga Red, tapi! Saat aku dan murid Padepokan Macan Putih mencari keberadaan Bunga Red di dalam hutan. Kucing peliharaannya Yasa, tiba-tiba saja datang menghampiriku, dan memberikan Bunga Red kepadaku." Tabib Padepokan Macan Putih pun memberitahukan yang sebenarnya terjadi.


Markus dan Ratu Aurora serta yang lainnya, melirik ke arah kucing Kay dan mengerutkan keningnya. Karena mereka semua belum memahami ucapan Tabib Padepokan Macan Putih.


"Kucing Kay, juga telah menyelamatkan aku dari penjara Padepokan Black. Sehingga aku bisa keluar dari ruang bawah tanah Padepokan Black, dan kucing Kay juga bisa berubah menjadi seekor Burung Elang Raksasa. Bahkan aku bisa sampai di penginapan ini, berkat kucing Kay yang berubah menjadi Burung Elang Raksasa, dan mengantarkan aku sampai ke penginapan ini." Malik pun menimpali ucapan dari Tabib Padepokan Macan Putih, dan mengatakan yang sebenarnya. Agar mereka semua yang berada di dalam kamar ini, bisa mengerti dengan ucapan Tabib Padepokan Macan Putih.


Firman dan Robi serta teman-temannya kaget, mendengar ucapan dari Malik.


"Jadi waktu kita semua, bisa pergi meninggalkan Padepokan Black. Itu semuanya berkat kucing Kay?" ujar Robi yang tidak menyangka. Kalau yang menyelamatkan mereka semua, dari Rimba ketua Padepokan Black adalah kucing Kay.


"Terus yang berubah menjadi seekor Harimau besar, dan berubah menjadi Burung Elang Raksasa itu juga kucing kay?" Firman pun menduga. Kalau yang berubah menjadi Harimau besar dan Burung Elang Raksasa, yang ia lihat saat di Padepokan Black kemungkinan adalah kucing peliharaannya Yasa.


"Iya benar. Kay bisa berubah wujudnya, dan mempunyai kekuatan energi, sama seperti kita semuanya," sahut Yasa yang membenarkan ucapan dari Robi dan Firman.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya kamu Kay?" lirih Riska pelan. Karena ia tidak menyangka, kalau kucing peliharaannya Yasa bisa menyelamatkan mereka semua. Saat mereka semua pergi ke dalam Padepokan Black.


"Aku rasa. Sepertinya mereka semua harus mengetahui siapa sebenarnya aku," gumam kucing Kay di dalam hatinya.


__ADS_2