
Malik yang mendengarkan pembicaraan antara Tabib dan guru Herion, benar-benar kaget dengan ucapan Tabib yang curiga kepadanya. Saat Tabib sedang mengobati lukanya, dan mendengarkan penjelasan Tabib, yang menyatakan tidak melihat tanda lahir di tubuh Malik, yang merupakan Henry murid Padepokan Black.
"Waduh ternyata Tabib sudah mencurigai aku dari dulu, sebaiknya aku harus segera pergi dari sini. Jangan sampai mereka semua bisa menangkap ku, dan kalau sampai aku tertangkap oleh mereka semua. Pasti Tabib dan guru Herion akan mengintrogasi aku. Lebih baik aku harus segera pergi dari sini, aku tidak mau ketua Rimba nanti marah kepadaku," ucap Malik segera melangkah pergi meninggalkan pintu ruangan guru Herion, yang sedikit terbuka pintu masuk ruangannya. karena Malik yang telah membukakan pintu ruangannya guru Herion, untuk bisa mendengarkan pembicaraan antara Tabib dan guru Herion.
Malik yang merupakan Henry, bergegas pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih. Karena ia tidak mau sampai Tabib, dan guru Herion mengetahui kalau dirinya bukanlah Malik murid Padepokan Macan Putih.
Sesampainya di gerbang Padepokan Macan Putih, langkah kaki Malik terhenti. Karena ada dua murid Padepokan Macan Putih, yang sedang berjaga di depan pintu masuk Padepokan Macan Putih.
"Huuuh sial, ada dua murid Padepokan Macan Putih lagi di depan. Kalau aku menggunakan ilmu sihir tak terlihat di Padepokan Macan Putih, pasti Tabib dan guru Herion bisa mendeteksi dan merasakan keberadaanku, yang menggunakan ilmu sihir tak terlihat," gumam Malik di dalam hatinya.
Karena di Padepokan Macan Putih, bukan cuman hanya Tabib dan para guru yang bisa mendeteksi kekuatan ilmu sihir, murid-murid Padepokan Macan Putih juga bisa mendeteksi dan merasakannya.
"Bagaimana pun caranya, aku harus bisa pergi dari sini!" lanjut Malik sambil memikirkan cara. Agar ia bisa pergi dari dalam Padepokan Macan Putih.
Malik yang sedang berpikir, tidak menyadari kedatangan Adit murid Padepokan Macan Putih, yang pergi menghampirinya.
"Hey Lik, gimana kabar kamu?" tanya Adit murid Padepokan Macan Putih, yang merupakan temannya Malik.
"Aku baik-baik saja," sahutnya sambil tersenyum kecil.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja, oh iya!. Selama ini kamu menghilang kemana Lik? Soalnya aku dan teman-teman pergi mencari keberadaan kamu!" Adit penasaran dengan menghilangnya Malik, maka dari itu ia menanyakannya kepada Malik.
"Aku dan Firman serta murid Padepokan Singa Merah, yang pergi ke dalam Padepokan Black. Pada saat aku akan masuk ke dalam Padepokan Black, murid Padepokan Black menyerang aku yang berada di belakangnya Firman. Sehingga aku mencoba melawan mereka semua, tapi jumlah murid Padepokan Black yang banyak. Aku tidak bisa mengalahkan mereka semua, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi melarikan diri dari Padepokan Black, dan pergi sejauh mungkin. Agar murid-murid Padepokan Black tidak terus mengejar aku, sampai akhirnya aku berada di Desa Rindang, dan bertemu dengan Yasa dan teman-teman yang lainnya," tutur Henry yang berubah menjadi Malik, dan mengarang cerita tentang menghilangnya Malik.
"Aku dan teman-teman saat mencari keberadaan kamu, tidak sampai pergi ke Desa Rindang. Karena aku dan teman-teman di serang oleh murid Padepokan Ular Naga." Adit juga menceritakan saat ia dan teman-temannya yang pergi mencari Malik, sampai ia dan teman-temannya di serang oleh murid Padepokan Ular Naga.
__ADS_1
"Malik, aku pergi ke pasar dulu ya," lanjut Adit pamit pergi ke pasar kepada Malik.
Malik yang mendengarkan ucapan Adit murid Padepokan Macan Putih, yang akan pergi ke pasar tersenyum senang.
"Sebaiknya aku ikut pergi bersamanya saja," gumam Malik di dalam hatinya. Karena dengan cara itu, ia bisa pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih.
"ADit," panggil Malik yang sudah mengetahui nama murid Padepokan Macan Putih. Karena semua ingatan Malik yang berada di ruangan bawah tanah Padepokan Black, telah berhasil di masukkan oleh Rimba, ke dalam ingatan Henry yang berubah menjadi Malik.
"Iya, ada apa Lik?" Adit pun menghentikan langkahnya yang akan pergi ke pasar, karena Malik memanggilnya.
"Aku ingin ikut menemani kamu ke pasar!" Malik segera pergi menghampiri Adit. Agar ia bisa keluar dari Padepokan Macan Putih.
"Tapi...." Ucapan Adit tidak di teruskan. Karena Malik menarik tangannya, dan mengajaknya pergi keluar Padepokan Macan Putih.
"Ayo dong Dit, masa aku harus menarik tangan kamu terus sih!" Malik kesal dengan Adit, yang seperti tidak mau mengajaknya pergi ke pasar.
"Hmmmz. Aku harus mencari cara agar bisa ikut pergi bersama dengan Adit," batin Malik.
"Adit, aku juga ada sesuatu barang yang akan aku beli, jadi aku ikut bersama kamu. Dan sekalian mengingatkan kamu, agar tidak sampai ada bahan makanan yang lupa untuk di beli." Malik mencoba merayu Adit, agar ia bisa ikut pergi bersama dengan Adit.
"Oooh, baiklah. Tapi kamu harus izin terlebih dahulu kepada guru Herion" Adit menyuruh Malik untuk berpamitan kepada guru Herion.
"Aku tadi sudah mendapatkan izin dari guru Herion, hanya saja. Aku tidak mau pergi sendirian ke pasar," kilah Malik yang mencari alasan. Untuk meyakinkan Adit murid Padepokan Macan Putih, agar mau mengajaknya pergi keluar Padepokan Macan Putih.
"Yang benar kamu Lik," ucap Adit yang belum yakin, dengan ucapan Malik.
__ADS_1
"Kamu bukannya tadi melihat aku pergi dari ruangannya guru Herion?" Malik berusaha meyakinkan Adit, dan bisa percaya dengan semua ucapannya.
Adit sebelum memutuskan mengajak Malik pergi, ia menatap arah jalan Malik. Yang seperti baru saja keluar dari ruangan guru Herion.
"Ya sudah, ayo kita pergi ke pasar." Adit pun akhirnya mengajak Malik pergi ke pasar.
Mereka berdua segera pergi ke gerbang Padepokan Macan Putih, yang sedang di jaga oleh kedua murid Padepokan Macan Putih bernama Tanto dan Rama.
Sesampainya di gerbang Padepokan Macan Putih, langkah kaki Adit dan Malik terhenti. Karena Tanto dan Rama, yang bertugas menjaga pintu masuk Padepokan Macan Putih. Harus mengetahui tentang kepergian Adit dan Malik.
"Kamu dan Malik mau pergi kemana Dit?" Tanto menanyakan kepergian Adit dan Malik, yang akan pergi keluar Padepokan Macan Putih.
"Tadi saat aku pergi ke pasar, ada beberapa bahan makanan yang lupa aku beli. Malik juga mau ke pasar, ada sesuatu yang mau dia beli." Adit pun menjawab pertanyaan dari Tanto. Sebelum ia dan Malik pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, untuk pergi ke pasar.
"Malik kamu baru juga datang ke Padepokan Macan Putih, sudah mau pergi keluar saja. Lebih baik kamu pergi istirahat di kamarmu." Rama mencegah Malik yang akan ikut pergi ke pasar bersama dengan Adit.
"Ada barang yang akan aku beli, dan aku juga sudah mendapatkan izin dari guru Herion." Malik berusaha membuat Rama dan Tanto, memperbolehkannya pergi bersama dengan Adit.
"Biarkan saja Malik pergi bersama aku. Karena Malik kan baru datang lagi ke Padepokan Macan Putih, pasti ada sesuatu yang mau dia beli di pasar. Aku akan menjaga Malik dengan baik, kalian berdua tidak usah khawatir. Apalagi Malik juga sudah mendapatkan izin dari guru Herion" timpal Adit yang mencoba membantu Malik, yang ingin ikut pergi ke pasar bersamanya.
"Ya sudah, tapi kalian berdua jangan pergi terlalu lama ya!" Rama dan Tanto pun memperbolehkan Malik ikut pergi bersama dengan Adit.
"Iya," sahut Malik dan Adit secara bersamaan.
Mereka berdua pun pergi keluar Padepokan Macan Putih. Untuk pergi ke pasar mencari bahan makanan, yang dilupakan oleh Adit.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih," gumam Henry di dalam hatinya sambil tersenyum miring.