
Di Padepokan Macan Putih.
Markus yang sudah masuk ke dalam ruangannya, melihat keadaan ruangannya yang sangat berantakan sekali. Karena ulah murid Padepokan Ular Naga, yang masuk ke dalam ruangan Markus ketua Padepokan Macan Putih.
"Astaghfirullah! Kenapa ruanganku jadi berantakan seperti ini? Apa sebenarnya yang mereka cari di dalam ruanganku?" ucap Markus yang kaget melihat keadaan ruangannya yang berantakan.
Markus pun segera memeriksa barang-barang, yang berada di dalam ruangannya. Mencari tahu tujuan murid Padepokan Ular Naga, yang berani datang ke Padepokan Macan Putih, dan membuat berantakan ruangannya.
"Ternyata murid Padepokan Ular Naga berani masuk ke dalam ruanganku. Karena mereka semua mau mengambil buku mantra, yang aku dapatkan dari guru gunung Marajeta." Markus mengepalkan tangannya. Karena geram dengan murid Padepokan Ular Naga, yang telah mengambil buku mantranya.
"Pasti ini semua atas perintah Rimba. Sepertinya aku harus segera mencari keberadaan Sekar Wati, jika ia benar masih hidup. Pasti Sekar Wati tahu cara mengaktifkan Pedang Sakti," lirih Markus yang segera pergi dari dalam ruangannya. Untuk pergi menemui Tabib, yang sedang mengobati muridnya.
Sesampainya Markus di dekat Tabib, ia tidak melihat Tabib mengobati luka murid Padepokan Macan Putih. Markus pun segera menghampiri Tabib.
"Tabib. Apakah murid-muridku sudah di obati semuanya?" tanya Markus yang sudah berada di dekat Tabib.
"Alhamdulillah, sudah ketua Markus." Tabib menjawab pertanyaan dari Markus.
"Kalau begitu. Sebaiknya kita segera pergi ke penginapan Lintang. Karena aku sangat khawatir, jika yang berada bersama dengan Yasa bukanlah Malik murid Padepokan Macan Putih. Tapi kemungkinan dia adalah mata-mata Padepokan Black. Karena sekarang ini! Aku telah kehilangan buku mantra, yang aku dapatkan dari guru gunung Marajeta. Dan ini semua pasti sudah di rencanakan oleh Rimba. Karena saat Yasa datang menemukan keberadaan Malik, keadaan di Padepokan Macan Putih jadi seperti ini," ucap Markus yang menceritakan tentang buku mantranya yang hilang kepada Tabib, dan Markus sangat yakin. Kalau semua kejadian ini, sudah di rencanakan oleh Rimba ketua Padepokan Black.
"Jadi kedatangan murid Padepokan Ular Naga, adalah menginginkan buku mantra milik ketua Markus. Tapi kenapa mereka semua juga mau membawaku pergi dari sini?" lirih Tabib sambil berpikir tentang tujuan kedatangan murid Padepokan Ular Naga, yang selain menginginkan buku mantra milik Markus. Dan mereka semua juga mau membawanya pergi dari Padepokan Macan Putih.
"Mungkin saja, murid Padepokan Ular Naga mau membawa Tabib pergi dari sini. Agar tidak sampai ketahuan. Kalau yang bersama dengan Yasa sekarang ini, adalah murid Padepokan Black yang menyamar menjadi Malik," tutur Markus yang mencurigai kedatangan Malik, yang sekarang ini berada bersama dengan Yasa di penginapan Lintang.
"Bisa jadi seperti itu, ketua Markus." Tabib pun sependapat dengan ucapan Markus.
"Kita pergi ke penginapan Lintang sekarang," ajak Markus pada Tabib Padepokan Macan Putih.
"Iya ketua Markus," sahut Tabib.
__ADS_1
Markus dan Tabib pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, dengan menggunakan ilmu menghilang. Agar mereka berdua bisa segera sampai ke penginapan Lintang, yang berada di Desa Walarijo. Untuk menyelidiki kebenaran tentang Malik yang Yasa temukan.
____________
Yasa yang kaget, melihat kedatangan seorang wanita, yang datang membawakan ramuan kepada Tabib. Untuk menyembuhkan luka Malik.
"Ini guru," ucapnya pelan sambil memberikan ramuan itu kepada Tabib. Tapi tatapan matanya, terus menatap ke arah Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya.
"Ibu," lirih Yasa yang melihat wanita itu mirip dengan ibunya.
Ratu Aurora juga tidak kalah kagetnya, dan ia merasa yakin. Kalau wanita yang membawa ramuan itu adalah Sekar Wati sahabatnya.
"Kamu Sekar Wati?" Ratu Aurora mendekati murid Tabib yang membawakan ramuan. Karena wanita itu mirip dengan ibunya Yasa.
Wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari Ratu Aurora. Karena ia juga kaget melihat Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya, berada di penginapan Lintang.
"Kalian saling mengenal?" tanya Tabib yang mendengarkan ucapan Ratu Aurora, yang memanggil nama Sekar Wati. Karena muridnya yang bernama Sekar Wati hanya diam saja, sambil terus memperhatikan Yasa yang berada tidak jauh di dekatnya.
Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya kaget, mendengar ucapan dari murid Tabib, yang mengatakan kalau dia adalah Sekar Wati ibunya Yasa.
"Ja.... jadi kamu betul ibuku?" Yasa bertanya sambil berjalan mendekati Sekar Wati.
"Iya nak," jawab Sekar Wati sambil memeluk Yasa, yang sudah datang menghampirinya.
Yasa merasa sangat senang bisa bertemu dengan ibunya, dan pencariannya selama ini tidak sia-sia.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu dengan ibu. Berarti ucapan ayah waktu itu benar, kalau ibu masih hidup." Yasa menceritakan sedikit tentang kejadian. Saat ia berada di alam bawah sadarnya, dan pada saat itu. Yasa bisa bertemu dengan Mahesa Mahendra ayahnya.
"Apa? Ayahmu masih hidup nak?" tanya Sekar Wati dengan raut wajah yang tidak percaya. Kalau suaminya masih hidup.
__ADS_1
"Ayah sudah tenang di alam sana Bu. Aku bertemu dengan ayah di alam mimpi," sahut Yasa menjelaskan kepada ibunya.
Sekar Wati bersedih mendengarkan ucapan Yasa, yang mengatakan kalau Mahesa Mahendra sudah meninggal.
Ratu Aurora memeluk Sekar Wati, yang sedang bersedih, dan mengusap punggung Sekar Wati. Mencoba untuk menenangkan Sekar Wati yang sedang bersedih.
"Ratu. Mahesa sudah sudah meninggal, aku saat itu terlambat datang menolongnya." ucap Sekar Wati sambil menangis.
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri Sekar, yang harus di salahkan itu aku. Karena aku, Mahesa Mahendra harus melawan Rimba dan murid-muridnya, dan sekarang ini! Pedang Sakti berada di tangan Rimba." sahut Ratu Aurora yang ikut menyalahkan dirinya sendiri.
"Ketua Ratu, ibu. Jangan menangis." Yasa mencoba menghentikan kesedihan yang di rasakan oleh Ratu Aurora dan Sekar Wati ibunya.
Robi dan teman-temannya pun bingung, melihat Ratu Aurora dan Sekar Wati bersedih. Tabib yang sudah selesai mengobati luka Malik, datang menghampiri Ratu Aurora dan Sekar Wati.
"Kalian berdua. Kenapa? Menyalahkan diri kalian berdua? Ini semua sudah takdir, kita semua harus menerima kenyataan ini. Dan sekarang ini, kalian semua harusnya bersyukur. Karena saat ini, kalian bisa bertemu kembali." Tabib menasihati Ratu Aurora dan Sekar Wati.
"Yang di katakan Tabib benar, ketua Ratu dan ibu jangan bersedih." Yasa mengusap air mata di pipi ibunya, dan membenarkan ucapan dari Tabib.
"Sebaiknya sekarang ini, kita harus pergi menyerang Padepokan Black. Untuk merebut kembali Pedang Sakti, yang berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black," lanjut Yasa yang ingin segera pergi ke Padepokan Black. Untuk mengambil Pedang Sakti ciptaan ayahnya, dari tangan Rimba ketua Padepokan Black.
Sekar Wati dan Ratu Aurora menghapus air matanya, dan kini mereka berdua mempunyai harapan yang sama. Yaitu, ingin merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba, dan bisa mengalahkan Padepokan Black yang bersekutu dengan Raja iblis.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ratu Aurora kepada Sekar Wati.
"Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Oh iya! Kenapa kalian semua bisa berada di desa ini?" jawab Sekar Wati dan bertanya tentang tujuan kedatangan Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya, yang bisa berada di Desa Walarijo.
"Kami semua mencari keberadaan kamu Sekar Wati," jawab Markus yang sudah sampai di penginapan Lintang, bersama dengan Tabib Padepokan Macan Putih.
Markus dan Tabib pun mendengarkan semua pembicaraan di antara mereka semua. Sebelum masuk ke dalam kamar penginapan Yasa dan Firman. Karena di dalam kamar itu, mereka semua sedang berkumpul.
__ADS_1
Mereka semua pun kaget dengan kedatangan Markus dan Tabib Padepokan Macan Putih, yang menjawab pertanyaan dari Sekar Wati ibunya Yasa.