MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 79 Pergi Menyerang Padepokan Black


__ADS_3

Saat Para Dewa mengajak Yasa dan yang lainnya, untuk pergi menyerang Padepokan Black. Tabib Padepokan Macan Putih, mencegah kepergian mereka semua.


"Kita tidak mungkin bisa pergi sekarang. Karena keadaan Malik yang sekarang ini, tidak memiliki kekuatan energi," ucap Tabib Padepokan Macan Putih, menghentikan langkah kaki mereka semua, yang akan pergi ke Padepokan Black.


"Guru Ketua, kita harus bagaimana ini? Kekuatan energi Malik belum kembali, apa sebaiknya kita pergi mencari keberadaan Bunga Red terlebih dahulu? Agar kekuatan energi Malik bisa pulih kembali," tanya Yasa kepada Markus.


"Bagaimana! Kalau Malik tidak usah ikut pergi, jadi Tabib dan Malik di sini saja." Markus menyuruh Tabib Padepokan Macan Putih untuk menjaga Malik, dan tidak mengajak Tabib dan Malik pergi ke Padepokan Black.


"Tapi Guru Ketua, aku juga ingin ikut mengalahkan Padepokan Black," sahut Malik.


"Kamu jangan memaksa ingin ikut pergi Malik. Jika kondisi kamu tidak seperti ini, pasti kamu bisa ikut pergi ke Padepokan Black." Ratu Aurora setuju dengan pendapat Markus, yang menyuruh Tabib dan Malik tidak ikut pergi menyerang Padepokan Black.


Yasa yang melihat Malik bersedih. Karena ia tidak bisa ikut pergi ke Padepokan Black, mengusap punggung Malik.


"Kamu di sini saja Malik bersamaku, karena kekuatan energi kamu tidak ada. Andai saja Bunga Red masih ada, pasti aku bisa memulihkan kekuatan energi kamu," ujar Tabib Padepokan Macan Putih.


"Mencari keberadaan Bunga Red juga tidak mudah untuk di dapatkan. Karena keberadaannya itu, sangat sulit untuk di temukan." Badar yang merupakan guru Sekar Wati, ikut menimpali ucapan Tabib Padepokan Macan Putih.


Para Dewa yang sudah jalan terlebih dahulu, melihat Yasa dan yang lainnya belum berangkat. Dewa Tanah pun segera pergi menghampiri Yasa dan yang lainnya, yang masih berada di dalam kamar penginapan Lintang.


"Kenapa kalian semua masih di dalam sini?Emangnya ada masalah apa lagi ini?" tanya Dewa Tanah kepada mereka semua, yang masih berada di dalam kamar penginapan.


"Kekuatan energi Malik telah di ambil oleh Raja iblis. Saat dia di kurung di dalam ruang bawah tanah Padepokan Black, jadi sekarang ini! Malik tidak bisa ikut pergi menyerang Padepokan Black," jawab Tabib Padepokan Macan Putih, yang memberitahukan kepada Dewa Tanah tentang kondisi yang di alami Malik.


"Aku membawa ramuan untuk kita semua." Dewa Tanah segera mengeluarkan ramuan yang berada di dalam saku baju jubahnya.


"Ini ambil saja, berikan kepada Malik. Semoga dengan ramuan ini, kekuatan energinya bisa pulih kembali." Dewa Tanah memberikan ramuan yang sudah di buatnya kepada Tabib Padepokan Macan Putih.


"Kalian semuanya juga minum ramuan ini! Karena di dalam ramuan itu, terdapat Bunga Red yang aku racik. Agar saat kita semua pergi menyerang Padepokan Black, kita semua tidak mengalami luka cedera yang parah. Dan! Kekuatan energi kita tidak akan bisa di ambil oleh Raja iblis," lanjut Dewa Tanah menjelaskan, dan memberikan ramuan yang ia racik kepada mereka semua.


Mereka semua yang sudah mendapatkan ramuan dari Dewa Tanah, segera meminum ramuan itu. Sebelum mereka semua pergi menuju Padepokan Black.

__ADS_1


"Alhamdulillah, setelah meminum ramuan dari Dewa Tanah aku merasa lebih baik dan bertenaga," ucap Malik.


"Iya aku juga Lik," sahut Firman.


Mereka semua pun merasakan kekuatan energi, yang lebih besar dari sebelumnya.


"Guru Ketua kita semua pergi ke Padepokan Black dengan apa?" tanya Yasa kepada Markus.


"Kita pergi dengan menggunakan ilmu terbang saja," jawab Markus.


"Tapi.... Guru?" Firman yang hendak mengatakan kepada Markus. Kalau ia takut akan ketinggian, tidak jadi ia teruskan.


"Sebaiknya kita semua pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu menghilang saja. Agar kita semua bisa segera sampai di Padepokan Black, dan bisa mengambil Pedang Sakti dari tangan Rimba," ujar Dewa Api.


Firman yang mendengar ucapan dari Dewa Api, menghembuskan nafas lega. Dan berharap mereka semua akan pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu menghilang.


"Yang di katakan oleh Dewa Api ada benarnya juga. Ayo kita semua pergi sekarang," ajak Dewa Air kepada mereka semua.


_____________


Sementara itu di Desa Rindang.


Guru Herion dan murid Padepokan Macan Putih, serta penduduk kampung Desa Rindang. Mereka semua telah berhasil menangkap Edi dan anak buahnya.


"Akhirnya kalian semua bisa tertangkap juga," geram para penduduk kampung kepada Edi dan anak buahnya. Karena mereka semua telah menculik anak perempuannya.


"Ayo kita hajar lagi orang itu sampai mati," sahut penduduk kampung yang lainnya.


Penduduk kampung pun maju ke depan dan kembali memukul Edi dan anak buahnya.


"Ampun, ampun!" Edi dan anak buahnya meminta ampunan kepada para penduduk kampung, yang sedang memukul mereka semua.

__ADS_1


"Tenang, kalian semua harus tenang. Kalau kita membunuh mereka semua, kita tidak akan bisa menemukan para gadis yang di culik oleh mereka semua." Guru Herion berusaha menenangkan para penduduk kampung, yang geram kepada Edi dan anak buahnya.


"Yang di katakan oleh guruku benar, lebih baik kita interogasi mereka semua. Untuk mengetahui di mana para gadis yang telah mereka culik," ujar Adit murid Padepokan Macan Putih.


Para penduduk kampung pun menghentikan pukulan mereka semua, dan pergi menjauh dari Edi dan anak buahnya. Sedangkan guru Herion mendekati Edi dan anak buahnya, berharap mereka semua akan mengatakan yang sejujurnya. Dan memberitahukan di mana letak keberadaan para gadis yang telah mereka culik.


"Sebaiknya kalian semua jujur, di mana para gadis yang telah kalian semua culik?" tanya guru Herion.


"Ka...mi ti...dak tau," sahut Edi gugup.


"Hey Edi, katakan yang sebenarnya. Kalau tidak! Aku dan penduduk kampung tidak akan segan-segan membuatmu mati," gertak penduduk kampung kepada Edi. Agar Edi mau mengatakan di mana keberadaan anak gadisnya, yang telah Edi dan anak buahnya culik.


"Ayo kita bunuh saja dia," sahut penduduk kampung yang lainnya, sambil pergi mendekati Edi dan anak buahnya.


"Iya, iya. Aku akan memberitahukan kepada kalian semuanya, aku hanya memberikan para gadis itu kepada bos Indra, dan aku tidak tahu mau di apakan gadis yang telah aku culik." Edi akhirnya mengatakan yang sebenarnya.


"Siapa itu bos Indra?" Guru Herion kembali bertanya lagi.


"Di,,,dia itu pemuda kampung Desa Bukit Duri," sahut anak buahnya Edi.


"Setahuku penduduk kampung Desa Bukit Duri itu, adalah penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black. Ada tujuan apa? Padepokan Black menculik para gadis?" gumam guru Herion di dalam hatinya.


"Aku akan membawa mereka semua ke Padepokan Macan Putih, untuk mengurung mereka semua di sana," ucap guru Herion yang memberitahukan kepada para penduduk kampung Desa Rindang.


Karena guru Herion sudah memberitahukan kepada Markus, dengan menggunakan ilmu telepati. Saat guru Herion dan murid Padepokan Macan Putih serta penduduk kampung Desa Rindang, yang telah berhasil menangkap Edi dan anak buahnya. Dan Markus menyuruh guru Herion. Untuk mengurung Edi dan anak buahnya di Padepokan Macan Putih.


"Terus bagaimana nasib anak gadisku yang telah di culik oleh Edi dan anak buahnya?" tanya penduduk kampung kepada guru Herion.


"Aku dan murid-murid ku akan pergi menyelamatkan para gadis, yang telah di culik. Kalian semua cukup doakan saja, semoga aku dan murid-murid ku berhasil menyelamatkan para gadis, yang telah di culik oleh Edi," jawab guru Herion.


"Emangnya guru Herion sudah mengenal bos Indra pemuda kampung Desa Bukit Duri?" bisik Adit di telinga guru Herion.

__ADS_1


"Tentu saja tidak dit, kita pergi ke Padepokan Black. Karena bos Indra itu! Adalah penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black. Jadi kita semua pergi ke Padepokan Macan Putih terlebih dahulu. Untuk mengurung Edi dan anak buahnya, setelah itu! Barulah kita pergi ke Padepokan Black." Guru Herion mengajak murid Padepokan Macan Putih. Untuk pergi ke Padepokan Macan Putih, dan mengurung Edi dan anak buahnya.


__ADS_2