MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 16 Rahasia Terbongkar


__ADS_3

Perjalanan Yasa dan kawan-kawannya, sudah memasuki pertengahan jalan Desa Bukit Duri.


Karena perjalanan yang sudah sangat malam, mereka semua memutuskan. Untuk bermalam di sebuah penginapan yang ada di Desa Bukit Duri.


"Sebaiknya, kita semua bermalam di penginapan Duri Indah saja," ucap Malik, sambil menunjuk ke arah sebuah penginapan, yang bernama Duri Indah.


"Setuju!" teriak Firman.


"Biasa aja kali Firman, semangat bener sih. Hahaha," timpal Riska dengan gelak tawa.


"Badan aku sudah lemes banget, dan aku juga sudah mengantuk Ris," sahut Firman sambil menguap mulutnya. Karena Firman ingin segera beristirahat dan tidur.


Mereka semua pun pergi ke penginapan Duri Indah, untuk bermalam di sana.


***


Pemuda kampung Desa Bukit Duri, terus memperhatikan Yasa dan teman-temannya, yang memasuki penginapan Duri Indah.


"Itu ada dua wanita cantik," tunjuk Indra ke arah Riska dan Aira, teman-teman Indra pun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Indra.


"Pasti mereka berdua itu masih perawan. Kita harus bisa menangkap mereka berdua, dan membawanya pergi ke hadapan ketua Rimba," lanjutnya lagi.


"Iya benar bos, pasti ketua Rimba akan senang, dan akan memberikan kita semua emas yang sangat banyak. Hahaha," ujar Udin tertawa bahagia.


"Ayo bos, kita tangkap kedua wanita cantik itu!," ajak Rio yang sangat bersemangat sekali. Karena ia ingin segera menangkap Riska dan Aira.


"Jangan sekarang! Kita semua harus mengatur strategi terlebih dahulu. Agar kita tidak gagal menangkap mereka berdua," cegah Indra kepada Rio, yang akan pergi menghampiri Riska dan Aira.


Indra dan teman-temannya. Sedang mengatur strategi, agar bisa menangkap Riska dan Aira. Mereka semua pun terus mengikuti Riska dan Aira, yang akan pergi ke dalam kamar penginapannya.


"Bos ini kesempatan yang sangat bagus, mereka berdua tidurnya satu kamar. Jadi kita semua bisa langsung menangkap mereka berdua dengan sangat mudah," ujar Udin yang sangat bersemangat sekali.


"Sabar Din! Jangan langsung masuk dulu. Tunggu mereka berdua tidur dulu, barulah kita semua beraksi menangkap mereka berdua," sahut Indra sambil tersenyum miring.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Indra dan teman-temannya tengah bersiap-siap, untuk masuk kedalam kamar Riska dan Aira. Dengan cara mengendap, sambil berjalan pelan-pelan dan berhati-hati. Agar tidak sampai ketahuan oleh Riska dan Aira.


Sesampainya di dalam kamar penginapan Riska dan Aira. Indra dan teman-temannya tidak menemukan keberadaan Riska dan Aira.


"Huuuh sialan, kemana perginya dua wanita itu?" gerutu kesal Indra yang tidak menemukan keberadaan Riska dan Aira di dalam kamarnya.


"Apa mereka semua tidak jadi menginap di sini bos?" tanya Udin.

__ADS_1


"Kalau mereka tidak jadi menginap di sini! Pasti kita bakalan tahu dong! Kepergian mereka semua, dari penginapan Duri Indah ini? Secara kita semua menunggu di depan pintu keluar penginapan Duri Indah." Rio menjelaskan dengan logikanya.


"Yang di katakan oleh Rio ada benarnya juga!" lirih Indra yang menyimak ucapan Rio.


"Bos, bos. Ayo ikut aku ke kamar sebelah," ajak Wawan kepada Indra dan teman-temannya, yang masih berada di dalam kamar Riska dan Aira.


Mereka semua pun pergi, menuju kamar yang ditunjuk oleh Wawan, dan mendengarkan suara percakapan Yasa dan teman-temannya, di balik pintu kamar penginapan.


***


Didalam kamar.


Yasa dan yang lainnya, sedang membicarakan rencana mereka semua. Untuk bisa merebut Pedang Sakti, dan bisa mengalahkan Padepokan Black yang bersekutu dengan Raja iblis.


"Sebentar lagi, kita akan memasuki Padepokan Black. Jadi mulai dari sekarang, kita semua harus menyiapkan rencana yang matang. Agar kita berhasil mengalahkan Padepokan Black," ucap Robi.


"Tenang saja kak, aku yakin kalau Yasa Mahendra sahabat baikku. Pasti bisa mengalahkan Padepokan Black beserta pasukan Raja iblis," sahut Firman yang merasa yakin. Kalau Yasa bisa mengalahkan Padepokan Black.


"Apa! Ini aku tidak salah dengar? Nama lengkap Yasa, adalah Yasa Mahendra?" Yudi merasa kaget mendengar nama lengkap Yasa.


"Iya benar kak Yudi, itu nama lengkap ku," sahut Yasa yang meyakinkan. Kalau nama lengkapnya adalah Yasa Mahendra.


"Kok kak Yudi bisa tahu nama ayahku?" Yasa merasa heran. Karena Yudi bisa mengetahui, kalau Mahesa Mahendra adalah ayahnya.


"Pantas saja, jika aku melihat kamu itu. Seperti aku melihat wajah ayahmu Yas, dan ternyata baru aku ketahui. Kalau anak Mahesa Mahendra,  yang selama ini di cari keberadaannya, adalah kamu!" Yudi merasa terharu bisa bertemu dengan anak Mahesa Mahendra.


"Apakah kak Yudi, mengenal ayahku?" tanya Yasa penasaran.


"Tidak Yas. Aku hanya melihat gambar wajah ayahmu, yang di tunjukkan oleh Ketua Ratu. Waktu itu, ketua Ratu menyuruhku. Untuk pergi mencari keberadaan anak Mahesa Mahendra, dan yang harus kamu ketahui Yas.  Pedang Sakti yang ingin kita rebut dari tangan Rimba ketua Padepokan Black itu, adalah Pedang Sakti ciptaan ayahmu." Yudi menceritakan apa yang ia ketahui.


"Pantas saja ketua Markus, menyuruh aku yang belum lama belajar di Padepokan Macan Putih. Untuk pergi menjalankan misi mencari Pedang Sakti, yang ternyata adalah milik ayahku. Tapi kenapa? Ketua Markus tidak menceritakan itu semua kepadaku?" ucap Yasa yang kecewa karena Markus. Tidak menceritakan semua itu kepada Yasa.


"Mungkin ketua Markus punya alasan tersendiri, mengapa ia tidak memberitahu kamu Yas," Robi mencoba memberi pengertian kepada Yasa.


"Yang di katakan oleh kak Robi. Ada benarnya juga Yas, yang pasti setelah kamu mengetahui semua ini. Kamu harus semakin bersemangat, untuk bisa merebut Pedang Sakti ciptaan ayahmu, dan mengalahkan Padepokan Black beserta pasukan Raja iblis," timpal Riska, selain memberikan pengertian kepada Yasa, ia juga memberikan semangat kepadanya. Untuk bisa merebut Pedang Sakti yang sudah berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black.


"Ini sudah malam. Lebih baik kita semua beristirahat, dan pergi ke dalam kamar masing-masing. Karena besok pagi, kita semua akan melanjutkan kembali perjalanan menuju Padepokan Black," ujar Aira yang menyuruh mereka semua. Untuk pergi ke dalam kamar penginapan, yang telah mereka semua pesan.


Mereka semua pun pergi ke kamar masing-masing, untuk beristirahat.


______

__ADS_1


Dan keesokan paginya.


Disaat mereka semua akan melanjutkan kembali perjalanannya. Aira pergi ke kamar mandi sebentar, dan mereka semua menunda keberangkatannya. Karena menunggu Aira, yang sedang pergi ke dalam kamar mandi.


Aira yang sudah buang air kecil di dalam kamar mandi, segera keluar. Akan tetapi langkahnya terhenti, karena ada beberapa orang yang datang menghampirinya.


Aira mencoba melawan orang-orang itu. Meski ia hanya seorang diri, tidak membuatnya takut. Akan tetapi jumlah yang banyak, membuat Aira tidak sanggup melawan seorang diri. Maka dari itu, ia mencoba meminta bantuan kepada teman-temannya.


"Tolong, tolong!" teriak Aira sangat kencang. Agar teman-temannya bisa mendengarkan suaranya, dan segera datang menghampirinya.


Yasa dan teman-temannya, mendengarkan suara teriakan Aira yang meminta tolong.


"Itu! Bukannya suara Aira? Ada apa yah? Sampai Aira berteriak meminta tolong?" ucap Robi heran.


"Lebih baik, kita semua coba pergi ke sana. Untuk mengetahuinya," sahut Malik yang mengajak teman-temannya. untuk pergi menghampiri Aira, yang berteriak meminta pertolongan.


Mereka semua bergegas pergi menemui Aira, yang pergi ke dalam kamar mandi. Sesampainya di sana, mereka semua terkejut melihat Aira sedang berkelahi dengan beberapa orang laki-laki. Mereka semua pun segera pergi membantu Aira, yang sedang berkelahi melawan orang-orang itu.


Jurus pedang dan ilmu sihir yang mereka pelajari di Padepokan Elang Sakti, segera mereka keluarkan. Agar bisa mengalahkan orang-orang yang menyerang Aira.


Yudi dan Robi segera menghadang orang itu, yang akan mencelakakan Aira dengan pedang ditangannya, pedang orang itu terpental jatuh ketanah. karena berhasil di hadang oleh Robi dan Yudi.


Orang-orang itu, segera mengeluarkan jurus yang mereka kuasai. Untuk mengalahkan Yasa dan teman-temannya, dengan menggunakan jurus Pedang Permata Hijau. Membuat Yasa dan teman-temannya terluka, karena terkena jurus Pedang Permata Hijau.


Firman yang baru saja sampai disana, melihat semua temannya terluka. Firman pun segera mengeluarkan ilmu sihir Teratai Batu Emas, daun-daun yang berada di atas pohon berjatuhan, mengenai orang-orang itu. Karena daun itu berubah menjadi batu emas, dan membuat mereka sakit di bagian kepalanya.


Orang-orang itu, meski masih merasakan rasa sakit di bagian kepalanya. Tapi mereka semua berusaha bangun, agar mereka semua bisa menangkap Aira, yang berada tidak jauh di dekat mereka semua. Karena mereka semua ingin membawa Aira pergi.


Yasa yang melihat Aira, akan di bawa pergi oleh orang-orang itu. Segera mengeluarkan jurus Pedang Ribuan Elang,  orang-orang yang membawa pergi Aira berteriak kesakitan. Karena mereka semua terkena jurus Pedang Ribuan Elang, membuat badan mereka semua penuh luka. Seperti di patuk ribuan elang, yang menyerang mereka semua.


Orang-orang itu pun segera pergi melarikan diri, tanpa bisa membawa Aira pergi bersama mereka semua.


Yasa dan teman-temannya, segera pergi menghampiri Aira.


"Kamu tidak apa-apakan Ai?" tanya Robi yang mencemaskan Aira.


"Aku tidak kenapa-kenapa kok. Lebih baik, kita semua harus segera pergi dari sini. Karena aku sangat yakin. Kalau mereka semua itu! Adalah pemuda kampung desa ini, yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black." Aira yang menjawab pertanyaan dari Robi. Sangat yakin sekali, bahwa orang-orang yang menyerangnya, adalah penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black.


"Padepokan Black, dan pasukan Raja iblis. Aku akan segera datang untuk mengalahkan kalian semua, dan merebut kembali Pedang Sakti milik ayahku," geram Yasa didalam hatinya kepada Padepokan Black.


Mereka semua memutuskan, untuk segera pergi dari penginapan Duri Indah. Dan melanjutkan kembali perjalanannya, yang akan pergi menuju Padepokan Black.

__ADS_1


__ADS_2