
Yasa yang masih belum sadar dari pingsannya, berteriak memanggil Mahesa Mahendra ayahnya.
"Ayah......!" teriak Yasa sambil mengangkat satu tangannya, lalu ia membuka matanya dan bangun dari pingsannya.
"Yasa!" lirih Markus dan Tabib secara bersamaan, karena mereka berdua yang masih berada di dalam kamar, dan melihat Yasa sudah sadar dari pingsannya.
"Guru Ketua. Tabib," ucap Yasa yang melihat Markus dan Tabib berada di dalam kamar yang ia tempati.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga." Markus mengucapkan rasa syukurnya, karena senang melihat Yasa yang sudah sadar dari pingsannya.
"Kamu jangan dulu banyak bergerak Yasa, luka kamu belum sembuh, dan silahkan kamu berbaring lagi. Biar aku periksa lagi semua lukamu." Tabib menyuruh Yasa berbaring di tempat tidur, untuk memeriksa keadaannya.
Setelah Tabib selesai memeriksa keadaan Yasa.
"Yasa luka kamu masih belum sembuh, dan aku rasa luka kamu akan lama untuk sembuhnya. Tapi meski pun begitu, aku akan berusaha mencari ramuan untuk menyembuhkan lukamu," tutur Tabib menjelaskan tentang keadaan luka Yasa. Tapi tidak berani menceritakan tentang kekuatan energinya yang sudah menghilang, karena di ambil kekuatan energinya oleh Raja iblis.
"Terima kasih Tabib, telah mengobati lukaku," sahut Yasa mengucapkan terima kasih kepada Tabib Padepokan Macan Putih.
"Yasa, kenapa? Saat kamu pergi ke Padepokan Black, tidak meminum ramuan kekebalan tubuh yang aku berikan kepadamu." tanya Tabib yang penasaran. Karena Yasa tidak meminum ramuan kekebalan tubuh, yang Tabib buat untuk Yasa dan teman-temannya. Jika mereka semua akan pergi menyerang Padepokan Black.
"Maaf Tabib. Aku bener-bener tidak ingat sama sekali, dengan ramuan kekebalan tubuh yang Tabib berikan kepadaku. Saat aku pergi ke Padepokan Black." Yasa meminta maaf pada Tabib. Karena waktu itu Yasa terburu-buru pergi meninggalkan penginapan Agung Sedayu, untuk segera pergi menuju Padepokan Black.
Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kamu dan yang lainnya berhasil pergi meninggalkan Padepokan Black. Karena aku rasa kalian semua terlalu terburu-buru dalam menyerang Padepokan Black, dan tidak mempersiapkan dengan sangat matang. Untuk saat ini sebaiknya pulihkan terlebih dahulu lukamu itu Yas." Markus mengusap lengan Yasa dengan lembut.
Yasa bener-bener merasa bersalah, karena telah gegabah pergi ke dalam Padepokan Black.
"Kenapa sih? Aku bisa ceroboh sekali, mau saja pergi ke dalam Padepokan Black seorang diri," gerutu Yasa di dalam hatinya. Menyalahkan dirinya sendiri, yang tidak berpikir panjang dalam menyerang Padepokan Black.
"Kamu istirahat saja Yas, biar lukamu cepat sembuh." Tabib menyuruh Yasa untuk beristirahat. Lalu Tabib mengajak Markus untuk pergi meninggalkan Yasa yang akan beristirahat.
__ADS_1
"Guru Ketua. Tabib," cegah Yasa saat Tabib dan Markus akan pergi meninggalkannya.
"Ada apa Yasa?" sahut Markus.
"Tadi aku bertemu dengan ayah dan ibuku." Yasa berterus terang menceritakan kepada Markus dan Tabib, saat ia bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Apa aku tidak salah dengar Yas?" Markus kaget mendengarkan ucapan Yasa, yang bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Iya benar Guru Ketua," Yasa membenarkan pertanyaan Markus, yang kaget mendengarkan ceritanya, yang bertemu dengan kedua orang tuanya.
"Mungkin mereka bertemu di alam bawah sadar Yasa," bisik Tabib di telinga Markus.
"Kalau begitu coba ceritakan." Markus penasaran dengan cerita Yasa, yang bisa bertemu dengan kedua orang tuanya di alam bawah sadar Yasa.
Yasa yang baru sadar dari pingsannya, langsung menceritakan semua kejadian yang ia alami, di alam bawah sadarnya. Dan menceritakan tentang kekuatan energinya yang menghilang, saat Yasa menggunakan jurus ilmu terbang sampai beberapa kali tapi tetap saja gagal.
"Mungkin aku harus menceritakan kekuatan energi Yasa yang sudah hilang," gumam Tabib di dalam hatinya. Karena Tabib yang mendengarkan cerita Yasa, yang menceritakan tentang kekuatan energinya yang menghilang.
"Maaf Yasa. Kekuatan energi kamu dan juga teman-temanmu, memang betul menghilang. Karena terkena Mantra Pemanggil Roh yang Raja iblis keluarkan. Jadi kemungkinan Raja iblis yang tidak berhasil mengambil Roh kalian semua, tapi ia berhasil menyerap kekuatan energi kalian semua," tutur Tabib yang berterus terang menceritakan tentang, kekuatan energi Yasa dan teman-temannya yang menghilang.
"Pantas saja, ketika aku menggunakan jurus ilmu terbang tidak bisa aku gunakan. Ternyata kekuatan energi aku telah di ambil oleh Raja iblis," geram Yasa sambil mengepalkan tangannya.
"Aku yakin, kekuatan energi kalian semua pasti akan pulih kembali. Karena Tabib akan berusaha mencari ramuan. Untuk memulihkan kekuatan energi kamu dan juga teman-temanmu. Sebaiknya kamu lanjutkan kembali ceritanya." Markus sangat ingin mengetahui cerita Yasa, yang bertemu dengan kedua orang tuanya.
Yasa pun melanjutkan kembali ceritanya. Saat ia bertemu dengan kedua orang tuanya, dan sampai ia terbangun dari pingsannya. Karena mendengarkan cerita dari ayahnya, yang menyatakan kalau ternyata ibunya Yasa masih hidup.
"Apa! Ibumu masih hidup?" ucap berbarengan Markus dan Tabib. Karena setahu mereka berdua, kalau ayah dan ibu Yasa sudah meninggal dunia. Karena kalah bertarung melawan Rimba yang di bantu oleh Raja iblis.
"Iya Guru Ketua. Tabib, dan ayah juga menyuruhku untuk mencari keberadaan ibuku. Tapi kalau keadaanku seperti ini, mana bisa aku mencari ibuku." Yasa sedih karena tidak bisa mencari ibunya, dengan kondisinya saat ini, yang tidak memiliki kekuatan energi.
__ADS_1
"Kalau Sekar Wati masih hidup, kemungkinan ia mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti." gumam Markus dalam hatinya.
"Sebaiknya kamu beristirahat Yasa. Aku dan Tabib pergi keluar dulu, agar kamu bisa beristirahat yang cukup," pamit Markus dan Tabib, meninggalkan Yasa di dalam kamar seorang diri.
"Iya," sahut Yasa singkat.
Markus dan Tabib pun pergi meninggalkan Yasa, karena mereka berdua ingin berbicara tanpa ada Yasa dan teman-temannya, yang mengetahui pembicaraan antara mereka berdua.
"Tabib. Aku mohon, carikan ramuan yang bisa membuat Yasa dan teman-temannya, bisa pulih kembali kekuatan energinya. Agar Yasa bisa mencari ibunya. Karena kemungkinan Sekar Wati mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti," ucapan Markus di potong oleh Tabib.
"Maaf Ketua Markus, memangnya Pedang Sakti yang kini berada di tangan Rimba, belum aktif sepenuhnya?" Tabib memotong ucapan Markus, karena ia belum mengetahui tentang cerita, saat Yasa dan teman-temannya, pergi menyerang Padepokan Black.
"Iya benar Tabib, aku sudah mendengarkan ceritanya dari Firman. Aira dan juga Riska. Saat mereka semua pergi menyerang Rimba, dan mereka juga melihat Pedang Sakti yang di gunakan oleh Rimba, tidak aktif sepenuhnya. Karena ketika Yasa menyerang Rimba, dengan menggunakan jurus Pedang Naga Sakti. Rimba tidak bisa mengelak serangan jurus Pedang Naga Sakti.
Seharusnya Pedang Sakti bisa mengalahkan jurus Pedang Naga Sakti. Karena kekuatan Pedang Sakti dapat menyerap ke dalam tubuh orang yang menggunakan Pedang Sakti," tutur Markus menjelaskan kepada Tabib.
"Kalau begitu, kita harus segera mencari Sekar Wati. Untuk mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti," sahut Tabib.
"Iya betul, kita semua harus pergi mencari Sekar Wati. Agar kita bisa mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti, dan jika Yasa sudah mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti. Pasti Yasa bisa merebut Pedang Sakti yang kini berada di tangan Rimba, dan semoga saja. Setelah Yasa mengetahui cara mengaktifkan Pedang Sakti, bisa mengalahkan Padepokan Black dan Raja iblis berserta pasukannya, dengan menggunakan Pedang Sakti ciptaan Mahesa Mahendra," ucap Markus.
"Sebaiknya, aku harus segera pergi mencari Bunga Red. Karena hanya Bunga Red lah, yang bisa memulihkan kondisi kekuatan energi Yasa dan juga teman-temannya. Tapi...?" Tabib sedang berpikir, dan ia juga tidak berani mengucapkan kelanjutannya.
"Tapi kenapa Tabib?" tanya Markus penasaran.
"Tapi keberadaan Bunga Red, sangatlah langka dan sulit untuk di temukan. Meski begitu, aku akan berusaha mencarinya," tutur Tabib.
"Kamu perginya jangan sendirian saja Tabib, bawalah murid-murid Padepokan Macan Putih. Untuk membantumu dalam mencari keberadaan Bunga Red," ucap Markus menyuruh Tabib pergi mencari Bunga Red. Dan Markus akan menyuruh murid-muridnya, untuk membantu Tabib mencari keberadaan Bunga Red.
"Baiklah, ketua Markus." Tabib pun pergi meninggalkan Markus. Untuk mencari Bunga Red, agar kondisi Yasa dan teman-temannya bisa pulih kembali.
__ADS_1
"Aku akan berusaha mendapatkan Bunga Red. Meski aku juga tidak tahu, di mana letak keberadaan Bunga Red yang sangat langka itu," gumam Tabib di dalam hatinya. Saat ia melangkah pergi meninggalkan Markus.
"Semoga saja. Tabib dan murid-murid ku, bisa menemukan keberadaan Bunga Red. Agar Yasa dan teman-temannya, bisa pulih kembali kekuatan energinya," lirih Markus yang berharap, Tabib dan murid-muridnya bisa mendapatkan Bunga Red.