MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 19 Rencana Berjalan Lancar


__ADS_3

Pasukan kegelapan yang di perintahkan oleh Raja iblis, untuk membawa salah satu dari murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah. Mereka semua sedang bingung untuk memilih orang yang akan mereka bawa ke Padepokan Black.


"Kita harus mengambil yang mana nih?" tanya salah satu pasukan kegelapan yang masuk ke dalam kamar Yasa dan kedua sahabatnya.


"Yang ini sajalah," pasukan kegelapan memilih Malik. Untuk di bawa ke Padepokan Black.


Pasukan kegelapan sebelum membawa pergi Malik ke Padepokan Black, mereka semua menghampiri Raja iblis terlebih dahulu.


"Raja, kami membawa orang ini?" pasukan kegelapan menunjukkan wajah Malik, kehadapan Raja iblis.


"Ya sudah, cepat kamu bawa dia pergi dari sini," perintah Raja iblis kepada pasukannya.


Mereka semua pun pergi membawa Malik, menuju Padepokan Black.


Sedangkan Raja iblis mengantikan Malik yang di bawa pergi oleh pasukannya. Lalu Raja iblis berpura-pura tidur bersama dengan Yasa dan Firman sebagai Malik.


*****


Keesokan harinya.


Yasa yang sudah bangun tidur, membangunkan Firman yang masih tertidur pulas.


"Fir bangun udah siang nih!"


"Aku masih ngantuk Yas," sahutnya dengan mata masih tertutup, karena masih ingin tidur.


"Ya sudah, terserah kamu ajalah." Yasa pun bangun dari tempat tidurnya, dan pergi ke kamar mandi.


Akan tetapi, sebelum Yasa masuk ke dalam kamar mandi, ia mendengarkan suara Riska dan Malik sedang tertawa bersama.


"Tumben Riska sama Malik bisa sedekat itu?" lirih Yasa yang iri melihat kedekatan Malik bersama dengan Riska.


Yasa yang sudah melihat Malik dan Riska, memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi, sebelum bertemu dengan Riska dan Malik.


Setelah selesai mandi, Yasa segera pergi menghampiri Malik dan Riska.


Sesampainya disana.


" Hay Yas! Baru bangun tidur ya?" sapa ramah Malik kepada Yasa.


"Iya," sahut Yasa singkat, dan mengepalkan tangannya. Karena melihat Malik dan Riska yang sedang duduk berdua, dan ia juga melihat Malik memegang tangannya Riska.


Bahkan Yasa melihat Riska tersenyum memandang wajah Malik, tanpa menyapanya yang baru datang menghampiri mereka berdua.


"Asyik, bener ngobrolnya. Lagi ngebahas soal apa sih?" Yasa pun duduk di antara mereka berdua. Karena ingin bisa dekat dengan Riska.


"Ehh, ternyata ada Yasa yah?" ucap Riska yang baru melihat kedatangan Yasa.

__ADS_1


"Iya Ris, aku gangguan kalian berdua yah?" ujar Yasa, yang merasa Riska seperti tidak suka dengan kedatangannya.


"Gak kok Yas," sahut Malik.


"Tadi itu, aku lagi menyatakan cinta kepada Riska," bisik Malik di telinga Yasa.


"Degh!" suara detak jantung Yasa, berdetak sangat kencang.


"Oh iya Yas, kebetulan kamu ada di sini. Aku mau kamu jadi saksi cinta aku sama Riska yah," lanjut Malik yang masih berbisik di telinga Yasa.


Yasa tidak membalas ucapan dari Malik, ia hanya terdiam dan menyaksikan pernyataan cinta Malik kepada Riska.


"Riska, bagaimana jawaban kamu?" ucap Malik sambil menatap mata Riska, dan membacakan mantra cinta kepada Riska. Agar membuat Riska jatuh cinta kepada Malik.


"Iya Malik aku juga mencintaimu," sahut Riska.


"Degh!" Yasa yang mendengar pernyataan cinta Malik yang di terima oleh Riska, membuat ia merasa patah hati.


"Selamat ya Malik, Riska." Yasa memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua. Lalu ia langsung pergi meninggalkan Malik dan Riska.


"Hahaha, rencanaku berjalan dengan mulus," ucap Malik, setelah Yasa pergi meninggalkannya dan Riska.


________


Yasa yang sedang patah hati, karena menyaksikan pernyataan cinta Malik yang di terima oleh Riska. Membuat ia memutuskan untuk pergi meninggalkan penginapan Agung Sedayu.


"Aaaaaaaaah!" teriak Yasa sangat kencang.


"Bukan urusanmu," bentak Yasa.


"Kamu kenapa sih Yas?" Aira mendekati Yasa.


"Eeeh kak Aira, maaf tadi aku sudah membentak kakak." Yasa yang di bakar rasa cemburu, tidak bisa mengontrol emosinya.


"Jelaskan, kenapa kamu seperti ini?" Aira ingin mengetahui, kenapa Yasa bersikap seperti ini.


"Tidak ada apa-apa kok," sahutnya dengan sebuah senyuman terpaksa.


"Jika berteriak kencang, membuat hatimu merasa lebih baik. Keluarkan saja semua beban di dalam hatimu, dengan cara berteriak," ujar Aira.


"Aaaaaaaaah!" teriak Yasa lagi. Agar rasa sakitnya bisa hilang.


"Gimana sudah lebih baik?" Aira kembali menanyakan tentang perasaan Yasa.


"Iya lumayan kak," sahut Yasa sambil mengatur nafasnya. Setelah dua kali berteriak sangat kencang.


"Aku tahu, kamu pasti sangat kecewa dan marah. Iyakan?" Aira menatap wajah Yasa.

__ADS_1


Yasa kaget mendengar ucapan Aira yang mengetahui perasaannya. Saking kagetnya, ia menatap tajam ke arah Aira.


"Haah, kok kak Aira bisa mengetahui perasaanku! Yang sedang patah hati sih?" gumam Yasa di dalam hatinya.


"Biasa aja kali Yas, gitu banget melihatnya. Hehehe...." Aira berusaha menenangkan hati Yasa yang sedang kecewa.


"Maaf kak," sahutnya.


"Aku tahu, tidak gampang mengambil Pedang Sakti, yang kini berada di tangan Rimba Ketua Padepokan Black. Apalagi kamu baru saja mengetahui, kalau Pedang Sakti itu adalah milik ayahmu. Pasti saat ini, kamu sedang kecewa sama Ketua Markus. Karena beliau tidak memberitahu kamu terlebih dahulu. Tapi percayalah Yas, kamu jangan marah kepada Ketua Markus. Pasti beliau mempunyai alasannya tersendiri," tutur Aira.


"Aku kira kak Aira mengetahui perasaanku yang sedang patah hati, tapi ternyata aku salah mengiranya. Hehehe," gumam Yasa di dalam hatinya, sambil tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa Yas? Malah tersenyum seperti itu?" Aira yang berusaha menjelaskan agar Yasa tidak marah, dan kecewa kepada Ketua Markus. Malah menjadi heran dengan sikap Yasa yang tiba-tiba tersenyum.


"Biarlah perasaan cinta ini, aku saja yang mengetahuinya," batin Yasa.


"Kita kembali ke penginapan saja kak. Karena kita semua harus pergi bersama-sama menuju Padepokan Black, pasti teman-teman sedang mencari kita berdua." Yasa mengajak Aira pergi kembali ke penginapan Agung Sedayu.


Aira yang masih merasa heran dengan perubahan sikap Yasa. Mencoba mengikuti langkah kaki Yasa, yang mengajaknya pergi ke penginapan Agung Sedayu.


Sesampainya di penginapan Agung Sedayu. Yasa dan Aira masuk ke dalam kamar masing-masing.


Yasa yang melihat Malik yang sedang duduk sendirian di dalam kamar, ia pun menghampiri Malik.


"Hey Yas, kamu kemana saja sih? Dari tadi, aku dan teman-teman pergi mencari kamu?" tanya Malik yang melihat Yasa, yang akan datang menghampirinya.


"Aku tadi cuman pergi keluar sebentar saja kok," sahutnya.


"Oh iya Lik, jaga baik-baik Riska yah," lanjut Yasa lagi.


"Iya Yas. Tapi tadi Riska bilang sama aku, saat kamu pergi. Riska malah mengatakan...." Malik berpura-pura sedih, dan sengaja menggantungkan ucapannya. Agar membuat Yasa penasaran.


"Riska mengatakan apa Lik?" tanya Yasa antusias, dan berharap Riska menolak cintanya Malik.


"Riska akan menerima cinta siapa saja. Asalkan bisa mengalahkan Padepokan Black, dan bisa merebut Pedang Sakti. Tapi Riska menginginkan orang itu, untuk pergi seorang diri tanpa ada yang membantu. Sepertinya Riska menolak cintaku karena ia mencintaimu Yas," tutur Malik mengatakan itu semua, agar Yasa mau pergi ke Padepokan Black seorang diri.


"Kamu yakin Lik ? Riska bilang seperti itu?" tanya Yasa yang ingin memastikan kebenarannya.


"Iya Yas. Aku tahu kalau kamu itu mencintai Riska, iyakan?" Malik menatap mata Yasa.


Yasa menundukkan kepalanya, ia malu mengakui perasaan cintanya kepada Riska didepan Malik.


"Jika kamu benar mencintai Riska, maka buktikanlah rasa cinta kamu itu. Dengan cara pergi sendirian ke Padepokan Black, toh Pedang Sakti itu milik ayah kamu. Jadi menurutku, yang pantas pergi ke sana ya kamu sendiri," ucap Malik dengan senyum penuh arti.


"Tapi....." Jawab Yasa bingung.


"Kamu jangan ragu seperti itu lah Yas. Buktikan rasa cinta kamu kepada ayahmu dan Riska, pasti ayahmu akan bangga jika kamu berhasil merebut Pedang Sakti dengan cara kamu sendiri, dan pastinya. Riska akan semakin mencintaimu, udah jangan kebanyakan mikir. Lebih baik sekarang kamu pergi ke Padepokan Black seorang diri, tanpa meminta bantuan dari orang lain." Malik berusaha membuat Yasa agar mau pergi ke Padepokan Black seorang diri.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi ke Padepokan Black." Yasa bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia pergi meninggalkan Malik yang masih di dalam kamar.


"Hahaha..." Malik yang merupakan Raja iblis tertawa bahagia. Karena rencananya berjalan dengan lancar, dan hanya tinggal menunggu kedatangan Yasa ke Padepokan Black seorang diri. Untuk melanjutkan kembali rencananya di Padepokan Black.


__ADS_2