
Malik yang merupakan Henry murid Padepokan Black, bisa keluar dari Padepokan Macan Putih bersama dengan Adit. Karena mereka berdua akan pergi ke pasar, dan di saat perjalanan menuju gerbang pintu keluar Padepokan Macan Putih. Malik masih terus memikirkan cara keluar dari Padepokan Macan Putih, tanpa ada yang mencurigainya.
"Aku harus memikirkan cara!. Agar saat aku pergi meninggalkan Adit, ia tidak curiga kepadaku," batin Henry sambil berjalan beriringan dengan Adit.
"Lik, ayo jalannya agak cepetan. Biar kita bisa cepat sampai ke pasar, soalnya Rama dan Tanto sudah memperingatkan kita berdua. Agar jangan terlalu lama di pasarnya." Adit pun menarik tangan Malik, agar mereka berdua bisa segera sampai ke pasar.
Saat Malik dan Adit berjalan tidak jauh, dari gerbang pintu masuk Padepokan Macan Putih. Malik melihat ada dua murid Padepokan Ular Naga, yang sedang berada tidak jauh dari gerbang Padepokan Macan Putih.
"Itu bukannya Roy dan Surya?, murid Padepokan Ular Naga!. Sebaiknya aku meminta bantuan kepada mereka berdua," gumam Malik dalam hatinya.
Karena murid Padepokan Ular Naga itu, sudah menjadi pengikut Padepokan Black. Dan mereka semua, selalu menuruti perintah dari Rimba ketua Padepokan Black.
"Adit, aku pergi buang air kecil dulu ya ke sana. Kamu tunggu di sini saja," pamit Malik yang mencari alasan. Agar ia bisa meminta bantuan, kepada Roy dan Surya murid Padepokan Ular Naga.
"Iya, tapi jangan lama-lama yah!." Adit pun mengijinkan Malik yang akan pergi buang air kecil.
Malik bergegas pergi meninggalkan Adit, menuju pohon besar yang tidak jauh dari Padepokan Macan Putih. Sesampainya disana, ia segera menggunakan ilmu telepati. Untuk meminta bantuan kepada Roy dan Surya.
"Roy. Surya," panggil Henry dengan menggunakan ilmu telepati.
Roy dan Surya yang mendapatkan perintah dari Amran ketua Padepokan Ular Naga. Untuk menjadi mata-mata Padepokan Black, dan mencari tahu informasi tentang cara mengaktifkan Pedang Sakti di Padepokan Macan Putih. Karena Rimba ketua Padepokan Black, telah menyuruh Amran ketua Padepokan Ular Naga. Untuk menyuruh murid-muridnya mengintai Padepokan Macan Putih.
Roy dan Surya yang sedang mengintai Padepokan Macan Putih. Tiba-tiba saja mereka berdua, mendengar suara panggilan ilmu telepati dari Henry murid Padepokan Black.
"Aku mendapatkan panggilan ilmu telepati dari Henry," lirih Surya.
"Iya, aku juga. Tapi kenapa Henry memanggil kita berdua?, dengan menggunakan ilmu telepati?." tanya Roy kepada Surya.
"Lebih baik, kamu saja yang menerima panggilan ilmu telepati dari Henry. Agar kita bisa mengetahui tujuan Henry, yang memanggil kita berdua dengan menggunakan ilmu telepati." Surya menyuruh Roy. Untuk menerima panggilan ilmu telepati dari Henry.
"Baiklah." Roy segera menerima panggilan ilmu telepati dari Henry.
__ADS_1
"Ada apa Henry?," tanya Roy yang menerima panggilan ilmu telepati dari Henry.
Karena Henry yang berubah menjadi Malik, menggunakan suara aslinya. Agar Roy dan Surya mau menerima panggilan ilmu telepati darinya.
"Aku mendapatkan tugas dari ketua Rimba, untuk menyamar menjadi Malik murid Padepokan Macan Putih. Sekarang ini aku mau pergi ke pasar, bersama dengan Adit murid Padepokan Macan Putih. Bisakah kamu dan Surya menolong aku?," ucapan Henry yang tidak bisa di teruskan. Karena Roy menyela ucapan Henry.
"Bantuan apa?," tanya Roy yang menyela ucapan dari Henry.
" Aku meminta bantuan kepada kalian berdua, agar aku bisa pergi dari Adit murid Padepokan Macan Putih. Tanpa di curigai oleh Adit murid Padepokan Macan Putih," jawab Henry yang meminta bantuan kepada Roy dan Surya.
"Oh baiklah," Roy pun mematikan panggilan ilmu telepati dari Henry.
Sedangkan Adit yang sedang menunggu kedatangan Malik, mencoba berteriak memanggil nama Malik. Agar mereka berdua bisa segera pergi ke pasar.
"Malik, ayo cepat. Kita harus segera pergi ke pasar." Adit berteriak memanggil Malik, dan mengajaknya untuk segera pergi ke pasar.
"Iya Dit, sebentar lagi," sahut Henry, yang masih berdiam diri di belakang pohon besar itu.
"Ayo Dit, kita pergi sekarang." Malik yang berpura-pura sudah selesai buang air kecil, ia pun segera mengajak Adit pergi ke pasar.
Mereka berdua pun pergi menuju pasar, dan tanpa Adit sadari. Roy dan Surya murid Padepokan Ular Naga, pergi mengikuti jejak mereka berdua.
Di saat perjalanan Adit dan Malik yang akan pergi ke pasar, mereka berdua di hadang oleh kedua murid Padepokan Ular Naga.
"Berhenti," ucap Surya yang menghentikan perjalanan mereka berdua.
"Kalian berdua mau apa?. Menghadang aku dan temanku, yang akan pergi!." Adit menayangkan pada kedua orang yang sedang menghadangnya dan Malik, yang akan pergi ke pasar.
Karena Adit tidak mengetahui, kalau Roy dan Surya itu adalah murid Padepokan Ular Naga, yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black.
"Kamu tidak perlu tahu," jawab Roy dengan nada bicara yang berteriak, dan seperti orang yang sedang marah.
__ADS_1
Roy dan Surya segera mengeluarkan pedangnya, yang berada di pinggangnya. Untuk menyerang Adit dan Malik, dengan menggunakan jurus pedang beracun.
Adit dan Malik yang tidak membawa pedang, mereka berdua mendapatkan serangan dari Roy dan Surya. Karena mereka berdua tidak bisa menghindari serangan itu. Sehingga membuat mereka berdua terluka, terkena jurus pedang beracun.
"Hahaha," Roy dan Surya tertawa melihat Adit dan Malik terluka.
"Iiikh, ini Roy dan Surya. Kenapa menyerang aku beneran sih?," gerutu Malik di dalam hatinya. Karena ia juga malah terkena jurus pedang beracun.
Adit segera bangun, untuk membalas serangan dari Roy dan Surya. Meski ia dan Malik tidak membawa pedang, tidak membuat ia takut menghadapi Roy dan Surya, yang telah menghadang langkahnya yang akan pergi ke pasar.
"Jangan senang dulu!." Adit tersenyum miring, dan segera mengeluarkan ilmu sihir manusia batu. Agar kedua orang yang sedang menghadangnya, menjadi manusia batu.
Akan tetapi ilmu sihir Adit, tidak terkena oleh Roy dan Surya. Karena mereka berdua bisa menghindar, dari ilmu sihir yang di keluarkan oleh Adit.
"Uuuuh sial!, mereka berdua bisa menghindar ilmu sihir manusia batu, yang aku keluarkan," batin Adit yang kesal. Melihat Roy dan Surya bisa menghindar ilmu sihir manusia batu, yang ia keluarkan.
"Hanya segitu saja, kemampuan murid Padepokan Macan Putih?." Roy mengejek ilmu sihir Adit, yang tidak bisa mengenainya dan juga Surya.
"Hahaha, payah sekali." Surya pun ikut mengejek ilmu sihir yang Adit keluarkan.
"Kalian berdua, jangan senang dulu. Apakah kalian tidak tahu?, kalau di sini adalah wilayah kekuasaan Padepokan Macan Putih. Sebentar lagi, guru dan murid Padepokan Macan Putih akan segera datang ke sini. Karena mereka semua bisa mendeteksi kekuatan kalian berdua, yang baru saja kalian berdua keluarkan." Adit mengancam Roy dan Surya. Karena meski jarak dari Padepokan Macan Putih, ke tempat mereka semua yang sedang berkelahi, sudah jauh dari Padepokan Macan Putih. Tapi itu bisa di dektesi kekuatan ilmu yang telah mereka berdua keluarkan.
"Sial, aku kira. Mereka semua tidak bisa mendeteksi kekuatan jurus pedang, yang di keluarkan oleh Roy dan Surya. Jika mengunakannya, sudah jauh dari tempat Padepokan Macan Putih," batin Henry yang tidak mengetahui itu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Adit dan Malik merasakan jurus pedang beracun, yang menjalar masuk ke dalam tubuh mereka berdua.
"Aaaaaaaaah!." Adit dan Malik yang terkena jurus pedang beracun berteriak. Karena jurus pedang beracun telah masuk ke dalam tubuh mereka berdua. Membuat Adit dan Malik terjatuh ke bawah tanah, sampai mereka berdua pingsan.
"Roy, sebaiknya kita harus segera pergi dari sini. Karena aku takut murid Padepokan Macan Putih, akan segera sampai ke sini." Surya mengajak Roy pergi. Agar mereka berdua tidak sampai ketahuan dan tertangkap oleh murid Padepokan Macan Putih.
"Iya, tapi kita juga harus pergi membawa Henry." Roy dan Surya segera pergi menghampiri Henry yang berubah menjadi Malik. Dan membawanya pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu terbang. Agar mereka bisa segera sampai ke Padepokan Black.
__ADS_1