
Panglima Perang yang membawa sebagian murid Padepokan Black, dan penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black.
Datang menghadang Firman yang akan menolong Yasa.
"Ayo serang mereka semua!" perintah Panglima Perang kepada murid Padepokan Black dan penduduk kampung. Untuk menyerang Robi dan teman-temannya yang akan membantu Yasa.
Firman yang sebentar lagi akan sampai ke tempat Yasa yang terjatuh di bawah, bergegas pergi menghampirinya meski di hadang oleh Panglima Perang.
"Yasa, bangun Yas!" teriak Firman memanggil Yasa.
Tidak ada jawaban dari mulut Yasa, anggota badannya juga tidak memberikan gerakan. Padahal Yasa sudah terbebas dari ikatan serangan Pedang Sakti, yang Rimba keluarkan.
"Temanmu itu sudah mati, kamu mau menyusulnya juga? Hahaha...." ucap Panglima Perang sambil tertawa senang, melihat Yasa tidak bergerak.
Firman yang mendengar seperti itu, segera pergi untuk melawan Panglima Perang. Dengan menggunakan jurus Pedang Putaran Angin, angin yang berputar mengenai Panglima Perang tidak membuat ia ikut terbang melayang di udara.
"Hanya seperti itu saja kekuatan ilmu Pedangmu?" ejek Panglima Perang kepada Firman. Karena Panglima Perang bisa menghalau jurus Pedang Putaran Angin yang Firman keluarkan.
"Huuuh sialan, ternyata dia bisa menghalau jurus Pedang Putaran Anginku," gerutu kesal Firman didalam hatinya. Firman pun segera memikirkan cara untuk bisa mengalahkan Panglima Perang, dan bisa memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Yasa, agar Yasa bisa cepat sadar.
Sedangkan Rimba hanya memperhatikan Perkelahian di antara murid Padepokan Black serta penduduk kampung, yang menyerang Robi dan teman-temannya. Dan Panglima Perang yang melawan Firman.
"Hahaha, rencana yang di buat oleh Raja iblis benar-benar sangat menarik. Pasti setelah mereka semua mati tidak ada lagi yang akan merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku, dan aku akan menjadi penguasa dunia ini. Pengikut Raja iblis juga akan semakin banyak," ucap Rimba tertawa bahagia.
Yudi dan Robi yang melawan penduduk kampung, mengeluarkan jurus Pedang Perak yang di ajarkan oleh Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti secara bersamaan, untuk menyerang Penduduk kampung. Setengah penduduk kampung yang terkena jurus Pedang Perak terluka parah hingga mengeluarkan darah.
"Kita berhasil mengalahkan setengah penduduk kampung," ucap Robi senang bisa berhasil mengalahkan setengah penduduk kampung.
"Iya, kita harus bisa mengalahkan mereka semuanya." Yudi menimpali ucapan Robi.
Robi hanya menjawab dengan mengagukan kepalanya, lalu bersiap-siap kembali melawan orang-orang kampung.
"Ayo kita serang mereka!" ucap salah satu penduduk kampung, menyuruh teman-temannya untuk menyerang Robi dan Yudi. Karena melihat temannya terluka, terkena jurus Pedang Perak yang Yudi dan Robi keluarkan secara bersamaan.
"Kita lakukan serangan dengan menggunakan ilmu sihir saja," jawab teman penduduk kampung.
"Iya benar, kita secara bersamaan mengeluarkan ilmu sihir capit kepiting," timpal teman yang lainnya, dengan suara pelan.
Mereka semua segera melakukan serangan balik dengan menggunakan ilmu sihir capitĀ kepiting. Yudi dan Robi pun tidak bisa bergerak, karena tidak bisa menghindari ilmu sihir capit kepiting.
"Aaah, lepaskan!" suara rintihan kesakitan Yudi dan Robi, yang terkena ilmu sihir capit kepiting. Membuat mereka berdua terluka di bagian tangannya. Karena Robi dan Yudi terus memberontak dan terus mengerakkan badannya, agar bisa terlepas dari ilmu sihir capit kepiting.
"Hahaha..." semua penduduk kampung dan murid Padepokan Black, serta Rimba dan Panglima Perang tertawa melihat Yudi dan Robi tidak bisa bergerak. Karena mereka berdua terkena ilmu sihir capit kepiting.
Aira dan Riska yang bertarung melawan murid Padepokan Black, melihat Robi dan Yudi tidak bisa bergerak. Karena mereka berdua terkena ilmu sihir capit kepiting yang penduduk kampung keluarkan.
__ADS_1
"Kak Aira, cepat pergi menolong kak Robi dan kak Yudi," ucap Riska sambil terus menyerang murid Padepokan Black.
"Iya" sahut Aira, dan langsung segera pergi menolong Yudi dan Robi dengan mengeluarkan jurus Pedang Biru Langit. Untuk membuka ilmu sihir capit kepiting, yang membuat Yudi dan Robi tidak bisa bergerak.
Kekuatan Pedang Biru Langit yang Aira keluarkan, bisa membebaskan Yudi dan Robi dari ilmu sihir Capit Kepiting.
"Kamu tidak apa-apakan kak?" tanya Aira kepada Yudi dan Robi.
"Iya hanya luka kecil, dan tidak terlalu sakit. Karena kita semua sudah meminum ramuan kekebalan tubuh." jawab Yudi.
"Iya aku juga tidak begitu sakit," timpal Robi.
Firman dan Riska yang melihat Panglima Perang dan murid Padepokan Black yang sedang lengah. Saling memberi sinyal untuk mengeluarkan jurus ilmu sihir Lilitan Berapi secara bersamaan.
"Syaaa," suara jurus ilmu sihir lilitan berapi yang Firman dan Riska keluarkan secara bersamaan. Serta hembusan api yang mengenai mereka semua. Ilmu sihir lilitan berapi yang berputar-putar sangat kencang, tepat mengenai Panglima Perang dan murid Padepokan Black, serta penduduk kampung yang sedang lengah, dan membuat mereka semua menjerit kepanasan.
"Aaaaaaaaah! Panas," jerit kesakitan dan kepanasan mereka semua, yang terkena jurus ilmu sihir Lilitan Berapi.
"Ternyata mereka semua tidak bisa di anggap enteng," gerutu kesal Rimba. Yang melihat Panglima Perang dan murid Padepokan Black, serta penduduk kampung yang menjadi pengikutnya kesakitan. Terkena jurus ilmu sihir Lilitan Berapi.
Sedangkan Firman yang melihat itu semua, segera pergi menghampiri Yasa, untuk memberikan ramuan kekebalan tubuh kepadanya.
"Yasa, bangun Yas." Firman membangunkan Yasa yang sedang pingsan.
"Semoga kamu cepat sadar Yas," lirih Firman penuh harap.
Rimba mengambil Pedang Sakti, dan menunjuk Pedang Sakti ke arah Robi, Yudi dan Aira serta Riska. Membuat mereka berempat terbang melayang di udara sambil terikat erat.
"Kamu menyerah saja, lihat semua teman-temanmu akan menyusul sahabatmu ke neraka. Hahaha...." Rimba tertawa bahagia. Karena melihat Firman seorang diri.
"Aku tidak akan menyerah begitu saja," sahut Firman dengan penuh percaya diri.
"Kemana perginya Malik?" gumam Firman yang tidak melihat keberadaan Malik di sekitar ruangan Padepokan Black.
"Aku sepertinya! Harus mengeluarkan ilmu sihir gumpalan awan. Riska juga tadi bisa membebaskan Yasa dengan ilmu sihir gumpalan awan." Firman segera mengeluarkan ilmu sihir gumpalan awan. Untuk membebaskan teman-temannya, yang terikat erat karena Pedang Sakti yang di gunakan oleh Rimba.
Tapi kali ini ilmu sihir gumpalan awan, yang Firman keluarkan malah gagal. Bukan gumpalan seperti asap yang akan membebaskan teman-temannya. Melainkan ribuan daun, yang berterbangan mengenai teman-temannya.
"Hahaha, ilmu sihir macam apa itu?" ejek Rimba yang melihat kegagalan Firman. Dalam menggunakan ilmu sihir Gumpalan Awan.
"Hahaha....." Panglima Perang dan murid Padepokan Black, serta penduduk kampung yang masih terluka ikut tertawa, melihat kegagalan Firman yang salah mengeluarkan ilmu sihirnya.
"Huuuh, kenapa sih? Aku selalu salah terus. Apalagi dalam keadaan seperti ini," gerutu kesal Firman menyalahkan dirinya sendiri.
"Firman," suara Yasa yang sangat pelan memanggil nama Firman.
__ADS_1
Firman yang merasa seperti ada orang yang memanggilnya, segera menengok ke arah Yasa. Berharap Yasa sudah sadar dari pingsannya.
"Yasa! Alhamdulillah kamu sudah sadar." Firman senang melihat Yasa yang sudah sadar.
"Kita harus melawan mereka semua Fir, dan bisa merebut Pedang Sakti yang ada di tangan Rimba," tutur Yasa.
"Sebaiknya kita selamatkan teman-teman dulu," sahut Firman.
Yasa pun segera bangun untuk menyelamatkan teman-temannya.
"Aku kira! Anak Mahesa Mahendra sudah mati, ternyata masih hidup." Rimba sangat geram melihat Yasa masih hidup.
Yasa mencoba mengeluarkan jurus Pedang Naga Sakti lagi, untuk membebaskan teman-temannya yang terikat erat oleh Pedang Sakti yang Rimba gunakan.
Jurus Pedang Naga Sakti menyerang Rimba, dan teman-temannya pun terbebas dari ikatan Pedang Sakti.
"Bugh," suara Robi, Yudi dan Aira serta Riska, yang terjatuh secara bersamaan.
Firman segera menghampiri teman-temannya, sedangkan Yasa bertarung melawan Rimba.
"Sepertinya kita semua, tidak bisa mengalahkan Rimba," lirih Riska sambil menahan rasa sakit.
"Iya benar. Kita terlalu terburu-buru menyerang Padepokan Black, tanpa persiapan yang matang," sahut Yudi.
"Kalian semua baik-baik saja, tidak?" tanya Firman yang sudah berada di dekat mereka semua.
" Kami semua baik-baik saja Fir," jawab Robi.
"Alhamdulillah." Firman yang sempat khawatir kepada mereka semua merasa senang jika teman-temannya baik-baik saja.
"Ini semua, berkat ramuan kekebalan tubuh yang diberikan oleh Tabib. Kami yang tadi terluka. Kini tidak merasakan, rasa sakit lagi. Karena ramuan kekebalan tubuh benar-benar sangat ampuh," tutur Aira.
"Syukurlah, kalau kak Aira, Yudi dan Robi serta Riska tidak terluka parah. Oh iya! Apakah? kalian semua melihat Malik? Soalnya, dari tadi aku tidak melihatnya?" Firman menanyakan Malik kepada teman-temannya. Karena saat mereka semua masuk ke dalam Padepokan Black. Firman tidak melihat keberadaan Malik.
"Aku tidak melihat Malik Fir." Robi menjawab pertanyaan dari Firman.
"Di mana kamu Lik?" gumam Firman mencemaskan Malik.
Tidak lama kemudian.
Raja iblis dan pasukannya datang. Untuk membantu Rimba, agar menang melawan Yasa dan teman-temannya.
"Raja dan pasukannya sudah datang." Rimba begitu senang melihat Raja iblis dan Pasukannya datang membantunya.
"Aku pastikan! Kalian semua akan mati," gumam Rimba di dalam hatinya, sambil tersenyum senang. Dan meyakinkan, bahwa ia akan berhasil mengalahkan Yasa dan teman-temannya. Karena Raja iblis sudah datang membawa pasukannya.
__ADS_1