
Yasa dan yang lainnya, semakin serius dalam belajar menggunakan jurus Pedang Naga Sakti, dan ilmu sihir yang di ajarkan oleh Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti.
Dari hari ke hari, Yasa semakin bisa menyesuaikan gerakan jurus Pedang Naga Sakti. Meski masih belum sempurna secara keseluruhan, tapi tidak membuatnya menyerah dan putus as. Malah semakin bersemangat untuk bisa menguasai jurus Pedang Naga Sakti.
Di saat semuanya sudah tertidur lelap, Yasa masih belajar jurus Pedang Naga Sakti di lapangan seorang diri.
Riska yang kebetulan dari kamar mandi, tidak sengaja melihat Yasa yang sedang belajar jurus pedang naga sakti di lapangan, lalu ia memutuskan untuk pergi menghampirinya.
"Yasa, ini sudah malam. Kamu tidak tidur? Besok lagi saja Yas, belajar jurus Pedang Naga Saktinya," ucap Riska yang sudah berada di dekat Yasa.
"Hehehe, aku belum ngantuk Ris," jawab Yasa sambil menghentikan latihannya.
"Aku tahu, kamu pasti ingin segera bisa menguasai jurus Pedang Naga Sakti, tapi kamu juga harus menjaga kesehatanmu. Yas," tutur Riska.
"Iya Ris," sahutnya singkat.
Yasa memandang wajah Riska, dengan penuh cinta.
"Entah sejak kapan! Aku tak tahu itu? Yang pasti hati ini. Mulai merasakan jatuh cinta kepadamu Riska," gumamnya sambil tersenyum.
Lalu Yasa mengeluarkan ilmu sihir di tangannya, dan keluarlah cahaya kecil berbentuk seperti kupu-kupu terbang menghampiri Riska.
Riska yang melihat itu tersenyum bahagia, dan bisa menebak kalau itu pasti perbuatan Yasa.
"Pasti ini semua ilmu sihir kamu iyakan? Ayo ngaku saja Yas?" ujarnya.
Yasa menanggapinya hanya dengan sebuah senyuman, karena senang melihat Riska tersenyum.
"Meong, meong," suara kucing Kay datang menghampiri mereka berdua.
"Kay sayang, kok belum tidur sih?" celoteh Yasa kepada kucing Kay.
"Meong"
__ADS_1
"Habis tuanku juga belum tidur sih," sahut Riska yang menimpali ucapan Yasa.
Mereka berdua pun tertawa bersama-sama.
"Oh iya Yas, aku sudah bisa loh menguasai ilmu sihir lilitan berapi, kamu mau lihat gak?" Riska sangat antusias sekali, ingin memperaktekan ilmu sihir lilitan berapi, yang sudah ia kuasai. Saat Riska yang akan bersiap-siap, mengeluarkan jurus ilmu sihir lilitan berapi. Yasa segera menghentikan gerakan Riska.
"Iya aku percaya kok, kalau kamu sudah bisa menguasai ilmu sihir itu. Simpan saja tenaga mu. Karena besok kita akan pergi dari sini, dan melanjutkan kembali perjalanan menuju Padepokan Black." Yasa menghentikan gerakan Riska, yang sudah bersiap-siap ingin memperaktekan jurus ilmu sihir lilitan berapi.
"Oh baiklah. Kalau begitu, selamat malam dan beristirahat Yasa dan Kay yang imut." Riska pun pergi setelah mengusap-usap bulu kucing Kay.
"Selamat malam juga bidadari ku," ucap Yasa pelan, setelah Riska pergi meninggalkannya.
Yasa dan kucing Kay pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya.
Yasa dan teman-temannya, sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Padepokan Elang Sakti, dan mereka semua pergi berpamitan kepada Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti di ruangannya.
"Kalian semua sudah siap pergi? Untuk melanjutkan kembali perjalanan mencari Pedang Sakti?" tanya Erlangga.
"Siap Ketua Erlangga," sahut mereka semua.
"Sebelum kalian semua pergi meninggalkan Padepokan Elang Sakti, menuju ke Padepokan Black. Aku memberi pesan kepada kalian semua!, untuk terus berhati-hati. Karena sebelum kalian semua memasuki Padepokan Black. Kalian semua akan bertemu dengan penduduk kampung, yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black, dan pastinya penduduk kampung itu akan menghadang kalian semua."
"Dan yang paling penting! Yang harus kalian ketahui. Ada sebuah jalan di sekeliling Padepokan Black, yang menuju dunia kegelapan yang di pimpin oleh Raja iblis. Jadi kalian semua, selain menghadapi murid Padepokan Black. Kalian semua akan berhadapan dengan pasukan Raja iblis. Sekali lagi aku ingatkan!, kepada kalian semuanya. Jangan sampai lengah, ketika sampai di perbatasan desa ini, menuju Padepokan Black. Karena sesampainya di perbatasan desa ini, banyak padepokan dan penduduk kampung, yang menjadi pengikut Padepokan Black. Jadi kalian semua, harus terus berhati-hati." Erlangga memberikan pesan kepada Yasa dan teman-temannya, sebelum mereka semua pergi meninggalkan Padepokan Elang Sakti.
"Baik Ketua Erlangga," sahut mereka semua.
"Kami semua, mengucapkan terima kasih. Atas semua pelajaran, yang sudah Ketua Erlangga ajarkan. Aku dan teman-teman semuanya, akan mengingat semua pelajaran dan nasihat serta pesan dari Ketua Erlangga," ucap Yasa yang mewakili teman-temannya. Untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti.
"Iya sama-sama, agar kalian semua aman sampai perbatasan desa ini. kalian semua akan di antar oleh murid-murid Padepokan Elang Sakti." Erlangga menyuruh murid-muridnya. Untuk pergi mengantar Yasa dan teman-temannya, sampai ke perbatasan desa ini.
__ADS_1
Setelah Yasa dan teman-temannya berpamitan kepada Erlangga. Mereka semua pergi meninggalkan Padepokan Elang Sakti, dan di antar pergi sampai ke perbatasan desa ini, oleh murid Padepokan Elang Sakti.
Perjalanan yang jauh dari Padepokan Elang Sakti, sampai ke perbatasan Desa Bukit Duri. Mereka semua lalui dengan sangat lancar, tanpa ada hambatan dan halangan.
"Ini sudah sampai ke perbatasan Desa Bukit Duri. Aku dan teman-teman ku, hanya cukup mengantarkan kalian semua sampai di sini saja," ucap Rizal murid Padepokan Elang Sakti, yang ikut pergi mengantar Yasa dan teman-temannya.
"Iya, terima kasih Rizal dan teman-teman semuanya. Sudah mau mengantar kami semuanya, sampai ke perbatasan Desa Bukit Duri ini." Robi mengucapkan rasa terima kasih kepada semua murid Padepokan Elang Sakti, yang sudah mengantar mereka semua, sampai ke perbatasan Desa Bukit Duri ini.
"Iya sama-sama," sahutnya.
"Yasa semangat yah! Aku yakin, kalau kamu dan teman-temanmu. Pasti bisa mengalahkan Padepokan Black, dan bisa merebut Pedang Sakti yang berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black." Lutffy memberi semangat kepada Yasa dan teman-temannya.
"Doakan saja. Semoga kita semua, bisa mengalahkan Padepokan Black serta pasukan Raja iblis," sahut Yasa yang meminta doanya kepada mereka semua.
"Aamiin," mereka semua pun mengamini doanya, dan berharap doa dari semuanya bisa dikabulkan. Untuk bisa mengalahkan Padepokan Black serta pasukan Raja iblis.
"Kalau begitu, kami semua pergi ke Padepokan Elang Sakti. Kalian semua tetap harus berhati-hati yah!. Karena seperti yang Ketua Erlangga bilang, penduduk kampung dari perbatasan Desa Bukit Duri. Sampai ke Padepokan Black, itu semuanya sudah menjadi pengikut Padepokan Black," ucap Lutffy mengingatkan Yasa dan teman-temannya, sebelum Lutffy dan murid Padepokan Elang Sakti, pergi meninggalkan Yasa dan teman-temannya.
"Iya Lutffy, semua pesan dan nasihat dari Ketua Erlangga dan kamu. Akan kita ingat semuanya kok, dan pasti kalian semua bakalan rindu kepadaku, iya kan?" sahut Firman dengan gaya percaya dirinya.
"Iya benar Fir, aku pasti kangen banget sama ilmu sihir kamu yang gagal terus, sampai aku tak henti-hentinya tertawa jika mengingat itu semuanya." Lutffy pun menimpali ucapan Firman sambil tertawa.
"Hahaha." Mereka semuanya pun ikut tertawa. Jika mengingat kejadian, saat Firman yang salah mengeluarkan ilmu sihirnya.
"Sudahlah, jangan bahas itu terus," gerutu Firman kesal dan malu.
"Habisnya lucu banget tahu Fir. Saat kamu mengeluarkan ilmu sihir lilitan berapi, yang keluar malah sebuah tali rafia. Hahaha," gelak tawa Lutffy tak henti-hentinya tertawa, jika mengingat kejadian itu.
"Udah kalian semua pergi sana, katanya mau pulang ke Padepokan Elang Sakti," usir Firman, kepada Lutffy yang suka meledeknya.
"Iya, ini juga mau pulang kok, ingat yah Firman. Kamu jangan sampai salah menggunakan ilmu sihir lagi. Hehehe," Lutffy masih terus menggoda Firman dengan candaannya.
"Iya," jawabnya ketus.
__ADS_1
Murid Padepokan Elang Sakti pun pulang, setelah berpamitan kepada Yasa dan teman-temannya.
Sedangkan Yasa dan teman-temannya. Segera pergi melanjutkan kembali perjalanan mereka semua, yang akan pergi menuju Padepokan Black.