
Yasa yang ketahuan oleh Rimba, langsung bersiap-siap melawan Rimba dan murid-muridnya, dan segera mengeluarkan pedang yang berada di pinggangnya.
"Santai saja, wahai anak Mahesa Mahendra! Bukankah kamu menginginkan Pedang Sakti ini!" Rimba memperlihatkan Pedang Sakti ke hadapan Yasa.
Yasa yang melihat Pedang Sakti, yang berada di tangan Rimba, ingin sekali mengambil Pedang Sakti ciptaan ayahnya.
"Kamu datang ke sini untuk mengambil Pedang Sakti inikan?" tanya Rimba sekali lagi.
"Iya kamu benar! Kembalikan Pedang Sakti itu, kamu tidak pantas memegang Pedang Sakti ciptaan Ayahku!" sahut Yasa.
"Hahaha, kamu tidak akan bisa merebut Pedang Sakti yang sudah berada di tanganku, asal kamu tahu! Ayah dan ibumu saja bisa mati di tanganku. Apalagi kamu bocah ingusan, yang berani datang seorang diri ke dalam Padepokan ku. Sudah bosan hidup rupanya?" ucap Rimba.
Yasa yang geram mendengarkan cerita dari Rimba, yang menyatakan telah membunuh kedua orang tuanya.
Langsung maju ke depan. Untuk menyerang Rimba, dengan mengeluarkan jurus Pedang Perak. Rimba ketua Padepokan Black yang belum siap bertarung melawan Yasa, terkena jurus Pedang Perak yang Yasa keluarkan.
"Boleh juga kekuatan Pedang anak Mahesa Mahendra ini!" lirih Rimba yang mundur kebelakang. Akibat terkena jurus Pedang Perak yang Yasa keluarkan.
Rimba segera menyuruh murid-muridnya untuk menyerang Yasa, dan ingin melihat seperti apa kekuatan anak Mahesa Mahendra.
Sedangkan Yasa yang mendapatkan penyerangan dari murid-murid Padepokan Black, terus melawan mereka semua tanpa rasa takut.
Murid-murid Padepokan Black mengeluarkan jurus Pedang Black, yang di ajarkan oleh Rimba ketua Padepokan Black.
Jurus Pedang Black yang di keluarkan oleh murid-murid Padepokan Black, yang begitu banyak menyerang Yasa, membuat Yasa sedikit terluka.
"Sepertinya! Aku harus mengeluarkan jurus Pedang Ribuan Elang. Untuk mengalahkan murid-murid Padepokan Black," gumam Yasa didalam hatinya. Sambil memikirkan cara mengalahkan murid-murid Padepokan Black, barulah ia bertarung melawan Rimba ketua Padepokan Black. Untuk merebut Pedang Sakti yang berada ditangan Rimba.
"Hahaha... Ternyata kekuatan anak Mahesa Mahendra, hanya seperti itu saja?" ejek Rimba yang melihat Yasa terluka. Karena terkena jurus Pedang Black, yang murid-muridnya keluarkan untuk menyerang Yasa.
"Hahaha...." suara tertawa Rimba bersama dengan murid-murid Padepokan Black.
"Mumpung mereka semua sedang lengah. Sebaiknya, aku harus segera mengeluarkan jurus Pedang Ribuan Elang," gumam Yasa memantapkan hatinya, untuk bisa mengalahkan murid Padepokan Black di saat mereka semua lengah.
Yasa segera bangun, untuk menyerang murid Padepokan Black. Dengan menggunakan jurus Pedang Ribuan Elang.
Yasa pun mengerakkan pedangnya dengan sangat cepat, untuk mengeluarkan jurus Pedang Ribuan Elang. Ketika murid-murid Padepokan Black lengah. Karena mentertawakan Yasa yang terluka, akibat terkena jurus Pedang Black yang mereka keluarkan.
__ADS_1
Murid-murid Padepokan Black yang sedang tertawa, tiba-tiba saja meringis kesakitan setelah Yasa mengeluarkan jurus Pedang Ribuan Elang dengan sangat cepat. Disaat mereka semua lengah, dan tidak bisa menghindar jurus Pedang Ribuan Elang.
"Aduh! Sakit sekali," suara rintihan murid Padepokan Black, yang terkena jurus Pedang Ribuan Elang. Membuat mereka semua seperti di patuk oleh ribuan burung elang.
"Sial!" geram Rimba yang melihat semua muridnya meringis kesakitan. Karena terkena jurus Pedang Ribuan Elang.
Yasa tersenyum senang, setelah menyaksikan semua murid Padepokan Black, menjerit kesakitan karena terkena jurus Pedang Ribuan Elang.
Rimba yang melihat Yasa tersenyum. Segera pergi untuk melawan Yasa, dengan menggunakan Pedang Sakti yang berada ditangannya.
"Jangan senang dulu, Wahai anak Mahesa Mahendra! Pedang Sakti ciptaan ayahmu akan membuatmu mati," ucap Rimba.
"Sebelum itu terjadi. Aku pastikan Pedang Sakti sudah berada di tanganku, dan yang mati itu bukan aku, tapi kau!" Yasa menunjuk ke arah Rimba, dan berkata dengan suara lantang dan berani. Meski ia seorang diri melawan Rimba.
"Jangan terlalu bermimpi, bisa merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi milikku l," senyum sinis Rimba kepada Yasa.
Yasa segera bersiap melawan Rimba, yang berada di hadapannya, dengan penuh keyakinan. Yasa sudah menyiapkan diri untuk menggunakan jurus Pedang Naga Sakti, saat melawan Rimba ketua Padepokan Black.
Sedangkan Rimba hanya berdiam diri, dan menatap tajam ke arah Yasa.
Ingin melihat kekuatan Pedang apa yang akan Yasa keluarkan.
Jurus Pedang Naga Sakti yang Yasa keluarkan, mengeluarkan cahaya dan seekor naga yang akan menyerang Rimba.
Rimba menghalau jurus Pedang Naga Sakti yang Yasa keluarkan, dengan menggunakan Pedang Sakti.
Tapi kekuatan Pedang Sakti yang belum aktif sepenuhnya, tidak bisa terus menghalau jurus Pedang Naga Sakti.
Membuat Rimba terluka karena serangan naga yang terus mengincarnya.
Yasa sudah menyempurnakan jurus Pedang Naga Sakti. Karena setiap hari ia terus belajar, dan berusaha menyempurnakan jurus Pedang Naga Sakti. Untuk bisa melawan Rimba.
Rimba tidak akan membiarkan Yasa menang melawannya. Pedang Sakti terus ia gunakan untuk mengalahkan Yasa. Meski jurus Pedang Naga Sakti yang Yasa keluarkan terus menyerangnya.
Rimba segera melakukan serangan balik kepada Yasa dengan menggunakan Pedang Sakti yang menunjuk ke arah Yasa, membuat Yasa melayang terbang ke atas sambil terikat dan tidak bisa bergerak.
"Hahaha...." Rimba tertawa melihat Yasa terikat. Dan tidak bisa menyerangnya lagi.
__ADS_1
****
Robi dan teman-temannya, pergi ke Padepokan Black dengan menggunakan ilmu menghilang.
"Buka mata kalian semua!" titah Malik yang merupakan Raja iblis, kepada Robi dan teman-temannya. Untuk membuka mata mereka semua, karena sudah sampai di Padepokan Black.
"Kita sudah berada di Padepokan Black," ucap Robi yang sudah membuka matanya.
"Iya benar, kapan kamu belajar ilmu menghilangnya Lik?'' tanya Firman penasaran.
"Itu tidak penting. Sekarang kita semua sudah sampai di Padepokan Black, lebih baik kita semua harus masuk ke dalam Padepokan Black." Malik menyuruh mereka semua untuk pergi ke dalam Padepokan Black.
"Ya sudah ayo kita masuk sekarang." Aira yang mencemaskan Yasa. Mengajak teman-temannya untuk segera pergi masuk ke dalam Padepokan Black.
Mereka semua pun masuk ke dalam Padepokan Black.
"Hahaha... Permainan akan semakin seru!" ucap Malik, ketika Robi dan teman-temannya masuk ke dalam Padepokan Black.
Sesampainya di dalam Padepokan Black.
"Yasaaa," teriak mereka semuanya. Karena Robi dan teman-temannya melihat Yasa yang terbang di atas. Sambil terikat erat, terkena Pedang Sakti yang di pegang oleh Rimba ketua Padepokan Black.
"Hahaha.... Kamu tidak mati sendirian, ada teman-temanmu yang akan menemanimu," ucap Rimba yang melihat Robi dan yang lainnya, yang sudah datang ke Padepokan Black.
Riska yang melihat Yasa, yang sedang terikat di atas sana, segera mengeluarkan ilmu sihir Gumpalan Awan. Tepat ke arah Yasa, yang berada di atas sana, dan membuat Yasa terjatuh ke bawah.
"Bugh," suara Yasa yang terjatuh ke bawah.
Riska dan teman-temannya segera pergi menghampiri Yasa, yang sudah terjatuh ke bawah.
Rimba yang melihat mereka semua akan membantu Yasa, segera menancapkan Pedang Sakti ke bawah. Untuk mencegah mereka semua yang akan membantu Yasa. Pedang Sakti membuat lantai terbelah menjadi dua, lalu di dalamnya keluar kobaran api yang sangat besar.
Robi dan yang lainnya, segera mundur kebelakang untuk menghindari kobaran api.
"Hahaha..." Rimba tertawa melihat mereka semua yang menghindar ke belakang.
Firman ingin segera menghampiri Yasa. Maka dari itu Firman mengeluarkan ilmu sihir Semburan Air. Untuk memadamkan kobaran api yang di buat oleh Rimba, dengan menggunakan Pedang Sakti.
__ADS_1
Kobaran api masih terus berkobar meski tidak terlalu besar, Firman nekat pergi menghampiri Yasa yang terjatuh.
Tapi langkahnya dihadang oleh Panglima Perang yang baru saja datang, dengan membawa murid Padepokan Black dan penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black.