
Yasa pergi meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan kembali mencari sumber air, dan mengambil botol minum pemberian dari Kelana Si Pendekar Sakti.
"Ramuan air ini, masih tersisa setetes air, meski sedikit mudah-mudahan saja, dengan setetes air ini bisa menyembuhkan luka kak Robi." Yasa membawa pergi botol minum itu, untuk di berikan kepada Robi.
Kucing yang menumpahkan ramuan air, pemberian dari Kelana si Pendekar Sakti, malah terus mengikuti Yasa ke mana pun ia pergi.
"Hey kucing manis, kenapa! Kamu terus mengikuti ku?" Yasa pun memegang kucing hitam yang terus mengikutinya.
"Sepertinya kamu lapar yah?" Yasa mengusap-usap bulu lembut kucing itu.
"Meong, meong," kucing itu terus mengeong.
"Hahaha, kucing manis. Kamu seperti mengerti saja dengan ucapan ku! Kamu kelaparan yah? Kalau begitu mari ikut bersama ku." Yasa menggendong kucing itu, dan mengajaknya pergi menemui teman-temannya di tempat peristirahatan.
Sesampainya Yasa di sana.
Sudah ada Markus dan seorang Tabib, yang sedang mengobati luka Robi.
"Salam hormat kepada Guru Ketua," ucap Yasa memberi hormat kepada Markus pemimpin ketua padepokan macan putih.
"Yasa bukannya kamu di suruh mencari persediaan air, kenapa pulang malah membawa sebotol air yang kosong?" tanya Riska penuh selidik.
" Aku memang pergi mencari sumber air. Tapi aku tidak menemukannya, maka dari itu. Aku membawakan ramuan air ini, untuk menyembuhkan luka kak Robi. Tapi ramuan air itu malah tumpah, dan hanya menyisakan sedikit airnya," sahut Yasa menjelaskan.
"Kalau boleh saya tahu! Dari siapa? Kamu mendapatkan ramuan air itu?" Tabib datang menghampiri Yasa, dan terus mengamati botol ramuan air yang ada di tangan Yasa.
"Ramuan air ini, aku memintanya dari Kelana si Pendekar Sakti. Karena ia juga seorang Tabib, katanya! Ramuan air ini selain bisa menyembuhkan luka, ramuan air ini juga bisa menambahkan kekuatan energi yang ada dalam tubuh kita," tutur Yasa.
"Luka Robi sudah saya obati, kalau di tambah dengan ramuan lain takutnya obatnya tidak bekerja dengan baik. Tapi kalau boleh! Saya ingin mengambil botol ramuan ini? Untuk saya racik kembali," pinta sang Tabib.
"Ini, ambil saja Tabib." Yasa pun memberikan sebotol ramuan air ini, kepada Tabib untuk di racik kembali oleh Tabib.
Firman dan Malik yang baru datang membawa persediaan air, yang di tugaskan oleh Yudi, langsung pergi menghampiri Markus.
"Salam hormat kepada Guru Ketua," ucap Malik dan Firman berbarengan.
__ADS_1
"Ada apa? Guru Ketua dan Tabib datang menemui kami?" tanya Malik penasaran, melihat Markus dan Tabib berada bersama dengan teman-temannya.
"Aku ingin memastikan keadaan kalian semua, dan aku membawakan Tabib untuk mengecek luka Robi." jawab Markus.
"Alhamdulillah, luka Robi yang tadi sedikit robek. Sudah saya obati, dan kalian semua bisa melanjutkan kembali perjalanannya." Tabib pun menjelaskan kondisi luka Robi.
"Dengarkan ucapan ku ini! Kalian semua harus tetap berhati-hati. Karena kemungkinan yang menyerang kalian semua waktu itu adalah Padepokan Black, dan kalian semua harus tetap kompak melawan Padepokan Black. Demi merebut kembali pedang pusaka yang sangat sakti. Aku hanya khawatir, jika Pedang Sakti itu sudah di gunakan oleh Rimba ketua Padepokan Black. Pasti akan terjadi kehancuran bagi dunia ini! Dan banyak manusia menjadi pengikut Raja iblis. Jangan sampai itu terjadi. Aku sangat berharap kepada kalian semuanya, agar bisa mengalahkan Padepokan Black. Tapi kalian semua harus ingat dengan nasihatku ini! Untuk terus bersama-sama menghadapi musuh. Karena jika kalian tidak bersatu atau berpecah belah, maka akan mempermudahkan musuh mengalahkan kalian semua. Kalau begitu, aku dan Tabib pamit pergi." Markus yang sudah memberikan nasihat kepada Yasa dan teman-temannya, ia pun mengajak Tabib. Untuk pergi ke Padepokan Macan Putih, dengan menggunakan ilmu menghilang.
Mereka semua mendengarkan dengan baik, semua nasihat dari Markus ketua Padepokan Macan Putih, dan memberikan salam penghormatan kepada Markus dan Tabib, sebelum Markus dan Tabib pergi mengunakan ilmu menghilang.
Firman mendekati Yasa dan berbisik di telinganya.
"Yas, tadi kamu pergi kemana sih? Aku dan Malik sudah menemukan sumber air, ilmu telepati aku dan Malik tidak bisa memanggil kamu! Ini bener-bener aneh Yas?" ucap Firman yang penasaran dan merasa aneh. Karena ia bisa memanggil Malik dengan menggunakan ilmu telepati, tapi ketika Firman menggunakan ilmu telepati memanggil Yasa, ia tidak bisa menggunakan panggilan ilmu telepati itu kepada Yasa.
"Aku tidak terlalu jauh pergi berjalan dari sini, terus aku mendengarkan ada suara orang yang sedang berkelahi. Mungkin panggilan ilmu telepati kalian berdua tidak bisa aku dengar, karena suara perkelahian itu?" jawab Yasa.
"Siapa? Yang berkelahi di sekitar sini? Aku tidak mendengar suara apa pun di sini?" sahut Riska ,yang mendengarkan pembicaraan antara Firman dan Yasa.
"Masa! Tidak kedengaran sampai sini sih? Soalnya, orang yang berkelahi ada enam orang melawan dua orang. Terus Kelana si Pendekar Sakti datang menolong kedua pemuda itu dan..." ucapan Yasa yang belum selesai, malah di potong oleh Malik.
"Dia itu seorang Pendekar Sakti dan juga seorang Tabib, aku meminta bantuannya. Untuk mengobati luka kak Robi. Riska kamu benar? Tidak mendengar suara perkelahian di sekitar sini?" tanya Yasa ingin memastikan.
"Iya aku serius! Tidak mendengar suara apa pun itu di sekitar sini." Riska sangat yakin dengan pendengarnya yang masih baik.
"Yang di katakan Riska betul Yas, kami yang ada di sini tidak mendengarkan suara apa pun itu! Apalagi suara perkelahian." Yudi pun ikut membenarkan ucapan dari Riska.
"Kalau ada suara perkelahian yang tidak jauh dari tempat ini! Pasti kita akan datang menghampiri suara perkelahian itu." Aira pun ikut menimpali, dan meyakinkan kalau mereka tidak mendengar suara apa pun.
"Ya sudahlah. Tidak usah di permasalahkan, yang terpenting Yasa tidak kenapa-kenapa kan?" ujar Malik menghentikan pembicaraan itu.
"Dari pada bahas perkelahian, mending kita semua makan dulu. Karena yang sedang berkelahi itu! Cacing yang ada di dalam perutku ini hehehe....." Firman yang sudah kelaparan langsung makan duluan.
Sedangkan Yasa dan yang lainnya, hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Firman.
Sebelum makan. Yasa memberikan sebagian makanannya, kepada kucing yang Yasa bawa, dan mereka semua pun makan dengan lahapnya.
__ADS_1
"Itu kucing siapa Yas?" tanya Firman sambil mengunyah makanannya.
"Kucing ini, sekarang menjadi kucing peliharaan ku. Nama kucing ini adalah Kay," jawab Yasa sambil menunjukkan kucing peliharaannya yang bernama Kay, ke arah teman-temannya yang sedang makan.
" Meong, meong,"
"Iiikh! Gemes banget kucing kamu Yas. Seperti mengerti saja dengan ucapan mu?" Aira yang sudah selesai makan, mendekati kucing peliharaan Yasa.
Tapi kucing itu malah pergi menghampiri Riska, dan bergelayut manja di pangkuan Riska.
"Hey Kay! Kenalin aku Riska?" celoteh Riska, sambil mengusap-usap bulu kucing Kay.
"Meong, meong," kucing itu senang berada di dekat Riska.
Ketika Yasa hendak mengambil kucing Kay dari pangkuan Riska, kucing Kay malah naik ke atas rambut Riska. Yasa pun berusaha mengambil kucing Kay, yang berada di atas rambut Riska.
"Pelan-pelan Yas! Cengkraman kucing Kay sangat kuat sekali." Riska menahan rasa sakti. Karena Kucing Kay naik ke atas rambutnya.
"Kay! Kamu jangan nakal yah?" Yasa dengan hati-hati mengambil kucing Kay di atas rambut Riska.
Kucing Kay berhasil Yasa ambil dari rambut Riska, tapi kucing itu malah berlari pergi meninggalkan Yasa dan Riska, Yasa yang melihat ada sedikit luka di kening Riska mencoba untuk mengobati luka Riska.
"Maaf yah Riska, di kening mu ada luka cakaran kucing Kay. Bolehkah aku mengobati lukamu itu?" ucap Yasa.
Riska hanya mengagukan kepalanya, lalu Yasa pun mengobati luka Riska dengan pelan-pelan. Ketika Riska merintih kesakitan, mata Yasa dan Riska saling beradu pandang.
"Wanita sok tahu ini! Kalau tidak sedang marah-marah cantik dan menggemaskan juga yah," gumam Yasa dalam hatinya.
"kenapa lihatin aku terus? Sambil senyum-senyum lagi?" ketus Riska, karena ia merasa heran dengan sikap Yasa yang seperti itu.
" I...itu! Luka kamu sudah aku obati. Jadi aku merasa tenang. Karena luka cakaran kucing Kay, tidak sampai parah mengenai kening mu," kilah Yasa mencari alasan yang tepat, dan tidak membuat Riska merasa curiga. Karena ia tadi sempat mengagumi kecantikan wanita itu.
"Oh begitu! Aku sudah tidak kenapa-kenapa kok Yas? Lebih baik kita semua pergi dari sini, untuk mencari penginapan. Karena kalau bermalam di hutan kasihan kak Robi, ia harus benar-benar memulihkan kondisi badannya terlebih dahulu. Biar cepat sembuh, agar kita semua bisa segera pergi ke Padepokan Black. Untuk merebut Pedang Sakti yang berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black," tutur Riska.
Mereka semua pun pergi mencari penginapan, untuk bermalam di sana. Karena hari sudah mau mendekati sore hari.
__ADS_1