MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 8 Rencana Raja Iblis


__ADS_3

Di dunia lain, yaitu di alam Kerajaan Kegelapan, yang di pimpin oleh Raja iblis, ia sedang mengumpulkan pasukannya, untuk membantu Rimba ketua Padepokan Black.


"Wahai pasukan ku, kali ini kita mendapatkan tugas dari Rimba ketua Padepokan Black, untuk menghadang murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah. Karena mereka semua, mau merebut Pedang Sakti yang sudah menjadi milik Rimba. Untuk itu, aku mengumpulkan kalian semua, mau memberikan tugas ini kepada kalian. Agar bisa menghadang mereka semua," tutur Raja iblis.


"Baiklah Raja, apa yang akan Raja rencanakan dalam menghadang mereka semua?" tanya salah satu pasukan Raja iblis.


"Berikan ramuan penghilang energi ini kepada mereka semua. Karena dengan menggunakan ramuan ini, kekuatan energi mereka akan hilang. Dan kalian semua harus ingat, salah satunya di antara kalian semua. Salah satunya harus berubah menjadi manusia, yang sangat sakti kekuatannya. Agar mereka bisa percaya, dan mau meminum ramuan ini. Katakan saja, bahwa dengan meminum ramuan ini bisa menambah kekuatan energi." Raja iblis menjelaskan rencananya, dan memberikan ramuan penghilang energi kepada pasukannya.


"Kalau begitu kami akan pergi, ke alam manusia," sahut pasukan Raja iblis.


Kesepuluh pasukan Raja iblis pergi ke alam manusia. Untuk memberikan ramuan penghilang energi ini, kepada murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah.


Di alam manusia.


Pasukan Raja iblis sudah berubah menjadi manusia, dan mereka semua sedang mengatur strategi penyamarannya, agar bisa di percaya oleh murid Padepokan Macan Putih dan murid Padepokan Singa Merah.


***


Padepokan Macan Putih dan Padepokan Singa Merah, melanjutkan kembali perjalanannya dalam mencari keberadaan Pedang Sakti yang hilang di curi oleh Padepokan Black.


"Kak Robi, benar sudah merasa cukup kuat dan sehat melakukan perjalanan ini?" tanya Riska, yang masih mengkhawatirkan kondisi luka kakaknya.


"Iya dek. Kakak udah gak kenapa-napa kok, udah sehat," sahut Robi sambil mengangkat tangannya kuat 💪.


"Syukurlah. Kalau begitu mari kita semua pergi, melanjutkan perjalanan mencari Pedang Sakti, yang hilang di curi oleh Padepokan Black," ajak Yasa kepada teman-temannya.


Mereka semua pun berangkat bersama-sama. Tidak ada salah sangka lagi, setelah mengetahui semuanya.


Meski Riska belum berani meminta maaf, kepada Yasa dan kedua sahabatnya. Karena gengsinya yang sangat tinggi.


Padepokan Macan Putih dan Padepokan Singa Merah, terlihat lebih kompak dan akrab. Setelah beberapa hari ini sering bertemu dan berinteraksi, dalam membahas rencana perjalanan yang akan mereka lalui, dan mereka semua sepakat harus lebih berhati-hati, dan selalu bersama-sama dalam menghadapi musuh yang akan datang menghampiri mereka semua.


Perjalanan yang cukup jauh dari tempat sebelumnya, membuat Riska mengkhawatirkan keadaan kakaknya.

__ADS_1


"Teman-teman semuanya! Kita berhenti dulu ya," ucap Riska yang menghentikan perjalanan mereka semua.


"Iya, kita berhenti sebentar ya!" Robi memegang dadanya yang terluka, karena mulai merasa sedikit sakit dan kelelahan.


"Kak Robi! Sepertinya, luka kak Robi belum terlalu kering, itu ada sedikit darah di baju kakak." Aira kaget, melihat luka di punggung Robi yang mengeluarkan darah.


"Iya benar, ya sudah kita beristirahat di sini saja. Aku akan membalurkan obat ramuan dari Tabib, untuk mengobati luka Robi. Selama beristirahat di sini! Sebaiknya Yasa dan Malik serta Firman, pergilah mencari air. Untuk menambah persediaan air di sini, dan untuk Riska dan Aira tugasnya menyiapkan bekal makanan," ucap Yudi yang memberi arahan kepada mereka semua.


Mereka semua pun beristirahat, dan meminum air sebelum melakukan tugas dari Yudi.


"Ayo kita pergi mencari air," ajak Malik kepada Yasa dan Firman.


"Lebih baik, kita mencari airnya secara berpencar saja. Jika salah satu di antara kita, sudah menemukan air, panggil saja dengan menggunakan ilmu telepati." Yasa menyarankan agar berpencar mencari sumber air, supaya tidak memakan waktu yang lama.


"Yang di katakan Yasa ada benarnya juga." Firman pun menyetujui saran dari Yasa.


Dan akhirnya, mereka bertiga berpencar mencari sumber air.


Ditengah perjalanan. Yasa melihat ada orang yang sedang berkelahi, ia hanya memperhatikan dari kejauhan, tanpa datang menghampiri mereka semua.


"Anak muda, kenapa lihatin saja? Tolong bantuin ibu dan anak ibu, mereka semua mau membunuh kami semua," ucap ibu itu ketakutan, dan meminta tolong kepada Yasa. Agar mau membantu anaknya, yang sedang melawan orang-orang yang ingin mencelakai ibu itu dan kedua anaknya.


Ketika Yasa, hendak datang melawan orang-orang itu, datanglah seorang lelaki dewasa menghajar ke enam lelaki yang berkelahi dengan anak ibu itu.


Yasa pun terpanah dengan kekuatan lelaki dewasa itu, hanya sekali hempasan, orang-orang itu sudah menjadi lemah tak berdaya, gaya penyerangan lelaki itu sangat cepat, dan bisa menangkis semua serangan dengan baik. Sampai akhirnya, lelaki dewasa itu berhasil mengalahkan keenam lelaki, dengan waktu yang sangat singkat. Keenam orang-orang yang hendak mencelakai ibu dan kedua anaknya, langsung pergi meninggalkan mereka semua.


"Kalian berdua, apa ada yang terluka?" tanya lelaki dewasa itu kepada kedua anak ibu itu.


"Keningku terluka, akibat terbentur batu besar itu," tunjuk anak ibu itu, ke sebuah batu besar.


"Kalau aku, kakiku terkilir.  Karena tadi kaki aku di putar-putar, oleh orang-orang itu," sahut anak ibu itu yang satunya lagi.


"Oh seperti itu! Sebelum aku mengobati luka kalian berdua, perkenalan namaku Kelana," lelaki dewasa yang bernama Kelana mengulurkan tangannya ke arah kedua anak ibu itu.

__ADS_1


"Apa aku tidak salah dengar nak! Namamu beneran Kelana Pendekar Sakti yang sangat hebat itu?" ibu itu pergi meninggalkan Yasa, dan berlari pergi menghampiri Kelana, saking antusiasnya menanyakan tentang Kelana.


"Iya Bu, ini itu beneran Kelana si Pendekar Sakti yang juga seorang Tabib. Perkenalkan, nama aku Bisma dan adikku ini Wisnu. Kalau ini ibuku Maria," ucap Bisma sambil memperkenalkan dirinya, dan juga memperkenalkan ibu serta adiknya.


Sedangkan Yasa masih tetap berdiri di tempatnya, sambil melihat cara Kelana mengobati Bisma dan Wisnu.


Hanya menggunakan air, luka Bisma yang terbentur batu langsung hilang, dan tidak ada bekas lukanya. Kaki Wisnu yang terkilir, hanya satu kali usapan dari Kelana. Langsung bisa berdiri dan berjalan, dan tidak merasa sakit lagi.


"Terima kasih, atas bantuan dan pertolongannya Pendekar Kelana. Kini kedua anakku, sudah sembuh," ibu Maria mengucapkan terima kasih, kepada Kelana sambil tersenyum senang. Setelah itu, ibu Maria dan kedua anaknya pergi meninggalkan Kelana si Pendekar Sakti.


Yasa yang melihat itu, langsung datang menghampiri Kelana si Pendekar Sakti.


"Pendekar Kelana, perkenalkan namaku Yasa." Yasa memperkenalkan dirinya, sebelum meminta bantuan kepada Kelana si Pendekar Sakti.


Kelana pun menerima uluran tangan dari Yasa, tanda perkenalan mereka berdua.


"Pendekar Kelana bolehkah aku meminta bantuan kepada Pendekar Kelana? Untuk mengobati luka temanku yang sedang sakit," tanya Yasa langsung ke arah intinya.


"Aku bisa membantumu, minum saja ramuan air ini. Selain luka cepat sembuh, ramuan air ini juga bisa menambah kekuatan energi," ujar Pendekar Kelana, sambil memberikan sebotol ramuan air minum itu kepada Yasa.


"Terima kasih Pendekar Kelana, atas ramuan air ini." Yasa menerima dengan baik botol ramuan, yang di berikan oleh Pendekar Kelana.


"Sebelum di berikan kepada temanmu, kamu minum saja terlebih dahulu minuman itu. Agar bertambah kuat energi kamu." Kelana si Pendekar Sakti tersenyum miring, Ketika Yasa hendak meminum ramuan penghilang energi.


Yasa yang mau meminum ramuan itu.


Tiba-tiba saja, di kejutkan oleh kehadiran seekor kucing hitam. Sampai minuman yang ada di tangan Yasa tumpah semuanya.


"Dasar kucing sialan, mengacaukan saja rencana dari Raja iblis. Karena ramuan Penghilang Energi itu, di buatnya sangat susah, dan memakan waktu yang sangat lama. Bisa-bisa Raja iblis, akan marah besar kepadaku," gerutu Pendekar Kelana kesal, di dalam hatinya.


"Maaf Pendekar Kelana, apa ramuan minuman ini masih ada lagi?" tanya Yasa.


"Tidak ada," jawab Pendekar Kelana, dan langsung pergi meninggalkan Yasa.

__ADS_1


Yasa yang merasa bingung atas kepergian Pendekar Kelana, memutuskan untuk kembali melanjutkan mencari sumber air.


__ADS_2