
Markus dan Yasa serta yang lainnya, mereka semua ingin mendengarkan cerita Sekar Wati, yang selamat dari Rimba ketua Padepokan Black. Saat Sekar Wati pergi membantu Mahesa Mahendra, yang sedang bertarung melawan Rimba ketua Padepokan Black.
***
Flashback.
Saat Sekar Wati menusukkan pedang ke tubuhnya, tidak sampai membuat ia mati. Itu semua hanyalah rencana Sekar Wati, untuk mengelabui Rimba dan murid-muridnya. Agar Rimba dan murid-muridnya bisa percaya, kalau dirinya dan Mahesa Mahendra telah mati. Pedang itu tidak terlalu masuk ke dalam tubuh Sekar Wati, dan ia segera pergi menghampiri suaminya yang terluka. Ketika Rimba dan murid-muridnya, telah pergi meninggalkannya.
"Mahesa, bangun. Aku yakin kamu masih hidup," lirih Sekar Wati yang berharap Mahesa Mahendra masih hidup dan bisa di selamatkan.
"Aku harus pergi mencari Tabib, semoga saja. Mahesa masih bisa tertolong." Sekar Wati pun pergi membawa Mahesa Mahendra pergi mencari seorang Tabib. Untuk bisa menyembuhkan luka di tubuh Mahesa Mahendra suaminya.
Akan tetapi saat perjalanan Sekar Wati membawa Mahesa Mahendra, ia di serang oleh pasukan Raja iblis.
"Mau kemana kamu!" pasukan Raja iblis menghadang Sekar Wati, yang akan membawa Mahesa Mahendra pergi mencari Tabib. Karena pasukan Raja iblis tidak pergi bersama dengan Rimba dan murid-muridnya, pasukan Raja iblis masih menunggu di tempat Sekar Wati dan Mahesa Mahendra yang terluka. Sehingga pasukan Raja iblis bisa mengetahui, kalau Sekar Wati dan Mahesa Mahendra yang akan pergi mencari Tabib.
"Sialan! Kenapa bisa? Pasukan Raja iblis, tidak ikut pergi bersama dengan Rimba dan murid-muridnya." Sekar Wati membatin kesal. Karena ia ceroboh, langsung pergi menghampiri Mahesa Mahendra suaminya. Tanpa melihat pasukan Raja iblis, yang ternyata belum pergi. Dan sekarang ini pasukan Raja iblis mengikuti langkahnya, yang akan pergi mencari Tabib.
"Mahesa, ku mohon bangunlah." Sekar Wati mencium kening Mahesa Mahendra, berharap suaminya masih hidup.
Sekar Wati segera menaruh Mahesa Mahendra di tanah, sebelum ia pergi menyerang pasukan Raja iblis.
Akan tetapi sebelum Sekar Wati menaruh tubuh Mahesa Mahendra, pasukan Raja iblis sudah lebih dulu menyerang Sekar Wati.
Pasukan Raja iblis menggunakan mantra sihir kabut asap, membuat Sekar Wati tidak bisa melihat keberadaan Mahesa Mahendra dan pasukan Raja iblis.
"Hahaha," pasukan Raja iblis tertawa melihat Sekar Wati, yang kebingungan mencari keberadaan Mahesa Mahendra dan pasukan Raja iblis.
Sekar Wati hanya bisa mendengarkan suara tertawa pasukan Raja iblis.
"Di mana kalian semuanya?" teriak Sekar Wati.
Pasukan Raja iblis segera menyerang Sekar Wati secara bersamaan, sehingga membuat Sekar Wati terluka. Karena ia tidak bisa melihat keberadaan pasukan Raja iblis, yang mengeluarkan mantra sihir kabut asap.
"Aku harus mencari cara. Untuk bisa mengalahkan pasukan Raja iblis," batin Sekar Wati.
Sekar Wati yang tidak bisa menghindari serangan dari pasukan Raja iblis, membuat dirinya jatuh tersungkur ke tanah.
"Hahaha... Sepertinya kali ini dia akan mati," ucap salah satu dari pasukan Raja iblis.
__ADS_1
"Iya, kita harus menunggu dia. sampai benar-benar mati," timpal pasukan Raja iblis yang lainnya.
Saat pasukan Raja iblis lengah, Sekar Wati mengumpulkan sisa tenaganya. Untuk bisa mengalahkan pasukan Raja iblis, dan akan bertarung melawan pasukan Raja iblis.
"Aku harus mengalahkan pasukan Raja iblis, agar aku bisa membawa Mahesa Mahendra pergi mencari Tabib." Sekar Wati pun segera berdiri, dan mengambil pedang yang berada di pinggangnya.
Akan tetapi serangan dari Sekar Wati, bisa di tangkis oleh pasukan Raja iblis.
"Ternyata wanita itu, masih hidup! Ayo kita habisi nyawanya," titah salah satu dari pasukan Raja iblis.
Pasukan Raja iblis pun segera menyerang Sekar Wati lagi, dengan menggunakan ilmu sihir. Sehingga Sekar Wati tidak bisa bergerak, dan Sekar Wati yang tidak bisa menahan ilmu sihir dari pasukan Raja iblis jatuh pingsan. Pasukan Raja iblis yang melihat Sekar Wati pingsan, kesempatan itu di gunakan dengan baik oleh pasukan Raja iblis.
"Kini telah tiba kematianmu. Hahaha," pasukan Raja iblis segera menginjak tubuh Sekar Wati.
Akan tetapi sebelum itu terjadi, seorang pendekar datang menolong Sekar Wati.
Pendekar itu pun melawan pasukan Raja iblis, dengan mengeluarkan jurus pedang tri sakti. Pasukan Raja iblis pun terluka. Karena jurus pedang tri sakti mengeluarkan tiga pedang sekaligus, yang menyerang pasukan Raja iblis sampai terluka.
"Siapa kamu? Mengganggu tugasku saja!" geram pasukan Raja iblis kepada seorang pendekar, yang menolong Sekar Wati.
"Bukan urusanmu!" sahutnya sambil bersiap-siap akan menyerang pasukan Raja iblis lagi.
"Ayo kita kalahkan orang itu," pasukan Raja iblis kembali menyerang pendekar itu, dengan menggunakan jurus pedang kegelapan.
"Aaaaaaaaah," jerit pasukan Raja iblis.
Kini energi pasukan Raja iblis melemah, tapi meski pun begitu. Pasukan Raja iblis sebelum pergi meninggalkan Sekar Wati dan pendekar itu, pasukan Raja iblis segera membawa pergi tubuh Mahesa Mahendra yang terluka.
Pendekar itu pun tidak bisa mencegah kepergian pasukan Raja iblis, yang telah membawa tubuh Mahesa Mahendra. Karena pasukan Raja iblis pergi, dengan menggunakan ilmu menghilang.
Pendekar yang tidak bisa mencegah kepergian pasukan Raja iblis, segera pergi menghampiri Sekar Wati yang pingsan. Dan ia pun membawa Sekar Wati pergi ke Desa Walarijo, untuk di obati oleh gurunya yang bernama Badar.
Sesampainya di Desa Walarijo.
Pendekar yang bernama Erik segera pergi menghampiri gurunya, dan memberitahukan tentang Sekar Wati yang terluka.
Badar yang pergi melihat luka di tubuh Sekar Wati, segera menyuruh muridnya yang bernama Tiya. Untuk membalurkan luka di tubuh Sekar Wati.
Saat Sekar Wati sadar dari pingsannya, ia mencari keberadaan Mahesa Mahendra suaminya.
__ADS_1
"Mahesa, di mana kamu?" lirih Sekar Wati sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat ini.
Pintu kamar Sekar Wati di buka oleh murid Badar yang bernama Tiya. Karena Tiya akan mengecek keadaan Sekar Wati di dalam kamarnya.
"Ka....kamu si...siapa?" tanya Sekar Wati gugup.
"Aku Tiya murid guru Badar, yang telah mengobati lukamu. Aku panggilkan guru Badar dulu," sahutnya sambil melangkah pergi memanggil Badar gurunya.
Tidak lama kemudian.
Badar dan muridnya masuk ke dalam kamar Sekar Wati.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Badar sebelum memeriksa keadaan luka Sekar Wati.
"Aku sudah lebih baik," jawab Sekar Wati.
"Syukurlah. Kalau boleh tahu? Kenapa para iblis menyerang kamu?" Badar bertanya lagi kepada Sekar Wati.
"Mereka semua mau membunuhku dan juga suamiku. Terima kasih telah menolongku, oh iya. Apakah suamiku sudah sembuh?" jelas Sekar Wati, dan menanyakan tentang keadaan Mahesa Mahendra suaminya.
"Maaf, aku tidak berhasil menyelamatkan suamimu." Erik meminta maaf kepada Sekar Wati.
Sekar Wati yang mendengar itu, langsung menangis. Karena ia tidak berhasil menyelamatkan suaminya, dan ia juga tidak bisa mengalahkan pasukan Raja iblis.
"Aku harus pergi menemui anakku dan juga mertuaku, yang berada di desa terpencil." Sekar Wati segera bangun dari tempat tidurnya. Untuk pergi menemui anak dan mertuanya.
"Sebaiknya kamu jangan pergi ke sana. Karena itu akan membahayakan keselamatanmu serta anak dan mertuamu, pasti para iblis itu akan mencari keberadaan mu." Badar mencegah Sekar Wati yang akan pergi menemui anak dan mertuanya.
Flashback off.
*****
Yasa dan Markus serta yang lainnya, mendengarkan cerita Sekar Wati.
"Rimba dan Raja iblis, kalian telah memisahkan aku dari kedua orang tuaku. Aku akan mengalahkan kalian," geram Yasa di dalam hatinya.
"Kita harus bisa mengalahkan Rimba dan Raja iblis. Karena merekalah, yang telah membuat kekacauan bagi dunia ini. Banyak manusia di dunia ini, yang telah menjadi pengikut Padepokan Black," ucap Ratu Aurora.
"Iya benar. Jika kita berhasil mengalahkan Rimba dan Raja iblis, pasti kita akan mudah mengalahkan murid-muridnya dan penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black." Badar pun menimpali ucapan dari Ratu Aurora.
__ADS_1
"Sekar Wati pasti kamu tahu cara mengaktifkan Pedang Sakti, yang kini berada di tangan Rimba." Markus segera menanyakan kepada Sekar Wati, tentang cara mengaktifkan Pedang Sakti. Agar mereka semua bisa merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba, dan bisa mengalahkan Rimba dan Raja iblis beserta pasukannya.
"Iya, aku tahu," sahut Sekar Wati.