
Indra dan teman-temannya yang pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu terbang. Cepat sampai ke Padepokan Black, mereka bertiga segera pergi menuju gerbang Padepokan Black, karena Indra ingin bertemu dengan Rimba ketua Padepokan Black.
"Ayo kita segera pergi menemui ketua Rimba," ajak Indra kepada Rio dan Udin.
"Iya bos" sahut Rio dan Udin secara bersamaan.
Mereka bertiga pun pergi menuju gerbang Padepokan Black, yang sedang di jaga oleh kedua murid Padepokan Black.
Sesampainya di gerbang pintu masuk Padepokan Black. Kedua murid Padepokan Black yang tidak bisa melihat Indra, mencegah Rio dan Udin yang akan pergi ke dalam Padepokan Black.
"Kalian berdua mau apa datang ke sini?" tanya murid Padepokan Black, yang bertugas menjaga pintu masuk Padepokan Black.
"Aku mau bertemu dengan ketua Rimba," sahut Indra yang tidak bisa terlihat oleh murid Padepokan Black. Karena ilmu sihir tak terlihat, masih berada di dalam dirinya Indra.
"Ini seperti suara bos Indra saja? Tapi di mana bos Indra nya?" lirih murid Padepokan Black, sambil mencari keberadaan Indra di sekitar pintu masuk Padepokan Black.
"Bos Indra ada di sini! Tapi ia tidak bisa terlihat oleh kalian berdua, aku dan Udin saja tidak bisa melihat bos Indra," ucap Rio menjelaskan tentang kondisi Indra, yang tidak bisa terlihat oleh siapapun.
"Oh, begitu," sahut murid Padepokan Black yang menyimak ucapan dari Rio.
"Hey! Kalian berdua. Jangan berdiam diri saja di sana, cepat bukakan pintu gerbang Padepokan Black. Karena aku mau bertemu dengan ketua Rimba." Indra marah kepada murid Padepokan Black, yang tidak membukakan pintu masuk Padepokan Black. Karena Indra ingin pergi menemui Rimba ketua Padepokan Black.
"Maaf, bos Indra. Ketua Rimba sedang tidak berada di ruangannya." murid Padepokan Black, tidak membukakan pintu masuk Padepokan Black. Karena Rimba sedang tidak berada di dalam Padepokan Black.
"Uuuuh," gerutu kesal Indra. Karena ia tidak bisa bertemu dengan Rimba ketua Padepokan Black.
"Bagaimana ini bos? Kita mau menunggu di sini? Apa pergi kembali ke Desa Rindang?" tanya Udin kepada Indra.
"Kita tunggu saja di sini," jawab Indra dengan raut wajah yang sangat kesal. Karena ia tidak bisa bertemu dengan Rimba ketua Padepokan Black. Indra yang sangat berharap bisa bertemu dengan Rimba. Agar Rimba mau membantunya, supaya ia bisa terlihat lagi seperti semula.
"Baik bos," sahut Rio dan Udin secara bersamaan.
__ADS_1
Indra dan Udin serta Rio menunggu kedatangan Rimba di depan pintu masuk Padepokan Black, yang sedang di jaga oleh kedua murid Padepokan Black.
"Kenapa aku bisa jadi seperti ini sih? Aku rasa! Saat aku berada di dalam ruangan penginapan Rumah Indah. Aku tidak melakukan apapun, tapi kenapa? Aku bisa jadi seperti ini?" gumam Indra di dalam hatinya. Sambil melamun, dan menunggu kedatangan Rimba ketua Padepokan Black.
"Bos, bos Indra," teriak Rio. Karena Indra yang sedang melamun, tidak mendengarkan suara Rio yang memanggil namanya.
"Bos, bos Indra...." Udin pun ikut berteriak memanggil nama Indra.
Rio dan Udin yang tidak bisa melihat keberadaan Indra yang sedang melamun, mereka berdua terus memanggil Indra. Sampai pada akhirnya. Indra tersadar dari lamunannya. Karena suara teriakan Udin dan Rio yang terus memanggil namanya.
"Ada apa sih? Berisik banget," geram Indra kepada Rio dan Udin, yang terus berteriak memanggil namanya.
"Hey! Kalian berdua jangan berisik di sini," murid Padepokan Black marah. Karena mereka berdua mendengarkan suara teriakan dari Rio dan Udin, yang terus memanggil nama Indra.
"Hehe, iya maaf." Udin dan Rio pun meminta maaf kepada kedua murid Padepokan Black, yang sedang bertugas menjaga gerbang pintu masuk Padepokan Black.
Indra yang kesal kepada Rio dan Udin, memukul kepala mereka berdua.
"Aduh! Sakit," Udin dan Rio yang mendapatkan pukulan dari Indra merintih kesakitan.
"Aku cuman mengikuti Rio saja bos," sahut Udin yang tidak mau di salahkan oleh Indra.
"Rio, kamu mau apa? Terus memanggilku?" tanya Indra hanya kepada Rio.
"Jadi begini bos. Aku mau memberikan ide kepada bos Indra, dari pada kita menunggu di sini. Lebih baik, kita coba pergi ke tempat Tabib Padepokan Black, semoga saja. Tabib bisa membuat bos bisa terlihat lagi." Rio memberikan ide itu. Karena ia tidak mau terlalu lama menunggu kedatangan Rimba. Jadi Rio memberikan ide seperti itu, agar ia bisa membuat Indra bisa terlihat lagi seperti semula.
"Bagaimana bos? Ayo kita pergi sekarang menemui Tabib Padepokan Black," lanjut Rio yang mengajak Indra dan Udin, untuk pergi ke tempat Tabib Padepokan Black.
Indra yang mendengarkan ide dari Rio tersenyum senang, dan berharap Tabib Padepokan Black bisa membuat ia bisa terlihat lagi.
"Yang kamu katakan ada benarnya Rio! Sekarang kita pergi menemui Tabib Padepokan Black." Indra bersemangat sekali, mengajak Rio dan Udin pergi ke tempat Tabib Padepokan Black. Agar Indra bisa terlihat lagi seperti semula.
__ADS_1
Indra dan Udin serta Rio yang akan pergi ke tempat Tabib Padepokan Black. Dicegah oleh kedua murid Padepokan Black, yang melihat kepergian Udin dan Rio. Mereka berdua pun segera menghentikan langkah kaki Rio dan Udin, karena mereka berdua tidak bisa melihat Indra.
"Hey! Kalian berdua mau pergi kemana?" tanya murid Padepokan Black. Membuat langkah kaki Indra dan Udin serta Rio terhenti.
"Aku mau pergi ke tempat Tabib Padepokan Black," sahut Indra yang menjawab pertanyaan dari murid Padepokan Black, yang bertugas menjaga pintu masuk Padepokan Black.
"Oh, tidak jadi bertemu dengan ketua Rimba?" murid Padepokan Black bertanya lagi, kepada Indra dan teman-temannya.
"Jadilah, tapi nanti. Ayo kita segera pergi ke tempat Tabib Padepokan Black." Indra menarik tangan Rio dan Udin. Mengajak mereka berdua, untuk segera pergi ke tempat Tabib Padepokan Black.
_______
Roy dan Surya yang berhasil membawa Henry pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu terbang. Membuat mereka bertiga bisa segera sampai ke Padepokan Black.
"Roy, ini Henry masih belum juga sadar dari pingsannya?" ucap Surya yang mengecek keadaan Henry.
"Kita harus memberikan penawar jurus pedang beracun, pasti Tabib Padepokan Black bisa mengobatinya. Sebaiknya kita sekarang pergi menemui Tabib Padepokan Black, sebelum mengantarkan Henry kepada ketua Rimba." Roy dan Surya pun pergi membawa Henry ke tempat Tabib Padepokan Black.
Sesampainya di tempat Tabib Padepokan Black.
Roy dan Surya melihat Tabib Padepokan Black, yang sedang membukakan pintu masuk ruangannya. Karena mereka berdua melihat Rio dan Udin, yang akan masuk ke dalam ruangan Tabib Padepokan Black.
"Roy, ayo kita juga ikut masuk ke dalam sana," ajak Surya kepada Roy.
"Iya," sahut Roy singkat.
Mereka berdua pun bergegas pergi menghampiri Tabib Padepokan Black, yang akan menutup pintu ruangannya.
"Tabib," panggil Roy dan Surya.
"Ada apa kalian ke sini? Dan ini bukannya, seperti murid Padepokan Macan Putih, yang di kurung di ruangan bawah tanah Padepokan Black?" tanya Tabib yang melihat Malik yang merupakan Henry murid Padepokan Black. Karena Tabib belum mengetahui rencana Rimba ketua Padepokan Black.
__ADS_1
"Nanti saja diceritakannya, sebaiknya Tabib segera mengobati dia," jawab Roy yang menyuruh Tabib mengobati Henry, yang wajahnya menjadi Malik.
"Tapi...." Tabib tidak meneruskan ucapannya. karena Roy dan Surya langsung masuk ke dalam ruangan Tabib Padepokan Black.