MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 20 Pergi Menyusul Yasa


__ADS_3

Yasa pergi meninggalkan penginapan Agung Sedayu. Karena ia akan pergi seorang diri menuju Padepokan Black, tanpa mengajak teman-temannya.


Perjalanan yang jauh dari tempat penginapan Agung Sedayu, menuju Padepokan Black tidak menemukan hambatan, dan halangan dari penduduk kampung yang sudah menjadi pengikut Padepokan Black.


Yasa terus maju seorang diri memasuki Padepokan Black, yang sudah di kelilingi dengan awan hitam.


Yasa juga melihat ada sebuah jalan, yang menuju alam kegelapan, seperti yang di katakan oleh Erlangga ketua Padepokan Elang Sakti.


"Apakah jalan ini? Adalah pintu masuk menuju alam kegelapan?" lirih Yasa yang sudah menemukan sebuah jalan, yang akan menuju Kerajaan Kegelapan yang di pimpin oleh Raja iblis.


"Sebaiknya, aku jangan dulu masuk ke dalam sana. Sebelum aku bisa mengambil Pedang Sakti, yang berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black," ucap Yasa.


Yasa pun memutuskan mencari jalan masuk menuju Padepokan Black. Untuk merebut Pedang Sakti yang ada di tangan Rimba.


Sesampainya di dalam Padepokan Black. Yasa merasa sangat heran. Karena di dalam Padepokan Black sangat sunyi dan sepi.


"Kenapa di sini sepi sekali?" lirih Yasa yang heran dengan keadaan di dalam Padepokan Black.


Yasa terus masuk ke dalam Padepokan Black, berjalan pelan-pelan. Agar tidak ketahuan oleh murid Padepokan Black.


Tapi tanpa Yasa ketahui, bahwa kedatangannya sudah di tunggu oleh Rimba ketua Padepokan Black.


Bahkan Rimba sengaja membuat jalan Yasa menuju Padepokan Black, berjalan lancar tanpa ada yang menghalanginya.


Ketika Yasa akan masuk ke dalam sebuah kamar, tiba-tiba Yasa mendengar suara orang yang menyambut kedatangannya.


"Selamat datang wahai anak Mahesa Mahendra," ucap Rimba yang ada di belakang Yasa.


"Huuuh sial aku ketahuan," gumam Yasa di dalam hatinya. Yasa dengan rasa percaya dirinya, bersiap-siap untuk melawan Rimba dan murid Padepokan Black.


*****


Aira yang melihat Yasa akan pergi secara terburu-buru, langsung pergi mengikutinya lagi.


"Kak, mau kemana buru-buru banget?" teriak Firman yang melihat Aira pergi sambil berlari.


"Ssstt!" Aira yang mendengar suara teriakan Firman, segera berbalik ke belakang. Sambil mengangkat jari telunjuknya agar Firman diam.

__ADS_1


"Kenapa sih kak?" ucap Firman dengan suara pelan, ia pun pergi menghampiri Aira yang berada di depannya.


"Sebaiknya kita berdua segera pergi mengikuti Yasa. Ayo cepat!" Aira langsung memegang tangan Firman, dan mengajaknya pergi menyusul Yasa yang pergi entah kemana.


Aira dan Firman yang mengikuti Yasa yang sedang pergi keluar penginapan, mereka berdua sangat kaget. Ketika Yasa pergi menuju Padepokan Black, tanpa mengajak teman-temannya terlebih dahulu.


"Ini seperti jalan menuju Padepokan Black," lirih Aira.


"Ah yang bener kak?" sahut Firman yang tidak percaya, kalau Yasa pergi ke Padepokan Black seorang diri.


"Iya benar, ini adalah satu-satunya jalan menuju Padepokan Black. Ayo kita harus segera pergi menghadang Yasa, jangan sampai  ia pergi ke sana sendirian. Apalagi pergi ke Padepokan Black tanpa persiapan yang matang, bisa-bisa kita kalah melawan Padepokan Black," tutur Aira menjelaskan.


"Baik kak." Firman dan Aira segera pergi menyusul Yasa. karena mereka berdua akan menghadang Yasa, yang akan pergi seorang diri menuju Padepokan Black.


Langkah Aira dan Firman terhenti. Karena banyak penduduk kampung, yang datang menghadang mereka berdua.


"Mau kemana kalian berdua?" tanya salah satu penduduk kampung.


"Minggir!" teriak Aira. Karena langkanya untuk menyusul Yasa terhenti, akibat di hadang oleh penduduk kampung.


Firman dan Aira  segera mengeluarkan pedangnya, yang berada di pinggang mereka berdua. Untuk menyerang penduduk kampung yang menghalangi langkah mereka berdua, yang akan mencegah Yasa. Untuk tidak pergi ke Padepokan Black seorang diri.


Penduduk kampung tidak tinggal diam. Apalagi mereka melihat temannya terkena tusukan pedang Aira, dengan jurus Pedang Biru Langit yang Aira keluarkan.


Penduduk kampung segera mengeluarkan jurus Pedang Black, yang di ajarkan oleh Rimba ketua Padepokan Black.


Jurus Pedang Black membuat Aira dan Firman terluka, karena mereka berdua tidak bisa menghindari serangan jurus Pedang Black, yang di keluarkan oleh penduduk kampung.


Sedangkan Firman yang masih kuat berdiri, sambil menahan rasa sakit akibat terkena jurus Pedang Black, ia berusaha untuk mengerahkan seluruh kekuatannya yang masih tersisa. Firman yang sudah bangun, segera mengeluarkan jurus Pedang Putaran Angin, membuat penduduk kampung itu berterbangan. Setelah semua penduduk kampung berterbangan. Firman mengeluarkan ilmu sihir pengikat, membuat penduduk kampung terikat dengan sangat kuat, dan tidak bisa pergi ke mana pun. Karena sihir pengikat sudah Firman kunci.


"Kak Aira masih kuat tidak?" tanya Firman yang melihat Aira masih meringis kesakitan. Karena mereka berdua terkena jurus Pedang Black.


"Aku masih kuat kok Fir. Jurus pedang dan ilmu sihir kamu, sekarang tidak gagal lagi. Dan sekarang kamu telah berhasil mengalahkan mereka semua," sahut Aira yang bangga atas keberhasilan Firman, dalam mengalahkan penduduk kampung, yang telah menghadang langkah Aira dan Firman.


"Iya kak, itu berkat Yasa yang selalu mensupport aku," tutur Firman.


Aira menanggapinya dengan sebuah senyuman bangga atas keberhasilan Firman, dan Aira segera mengajak Firman pergi menyusul Yasa, yang akan pergi menuju Padepokan Black.

__ADS_1


"Kak Aira, ini gimana? Yasa sudah tidak terlihat lagi, dan kemungkinan ia sudah masuk ke dalam Padepokan Black." Firman mencemaskan Yasa. Karena Yasa masuk ke dalam Padepokan Black seorang diri.


"Sahabat kamu itu, ceroboh banget sih," gerutu kesal Aira. Karena Yasa malah pergi sendiri, masuk ke dalam Padepokan Black.


"Coba kamu gunakan ilmu telepatimu, untuk memanggil Malik, dan menyuruh teman-teman yang lainnya. Agar segera mereka semua datang ke sini," perintah Aira kepada Firman.


"Iya kak." Firman seger melakukan panggilan ilmu telepati, untuk memanggil Malik yang berada di dalam penginapan Agung Sedayu.


Firman yang sudah berusaha memanggil Malik berkali-kali, tapi tidak ada jawaban dari Malik.


"Maaf kak, Malik tidak menjawab panggilanku."


"Coba kamu gunakan ilmu telepatimu. Untuk memanggil Ketua Markus, semoga saja Ketua Markus bisa menjawab panggilan dari kamu." Aira sangat berharap Markus menjawab panggilan dari Firman, dan akan segera datang membantu mereka semua, dalam melawan Padepokan Black.


Firman pun segera melakukan ilmu telepati, memanggil Markus Ketua Padepokan Macan Putih.


"Kak Guru Ketua juga tidak menjawab panggilan dariku? Terus kita harus bagaimana ini?" Firman benar-benar bingung memikirkannya.


"Begini saja, kamu pergi ke penginapan sekarang, dan jangan lupa! Ajak semua teman-teman. Untuk segera pergi ke Padepokan Black. Karena aku akan pergi menyusul Yasa ke Padepokan Black," tutur Aira.


"Itu sangat bahaya sekali kak. Lebih baik, kita menyusul Yasa ke Padepokan Black bersama teman-teman yang lainnya juga." Firman tidak mau Aira pergi membantu Yasa seorang diri.


"Itu akan memakan waktu yang sangat lama Firman," sahut Aira.


"Ya sudah, biar aku saja yang pergi menyusul Yasa ke Padepokan Black. Sedangkan kak Aira pergi ke penginapan" ujar Firman.


"Aaah! Kamu ini yah?" gerutu kesal Aira.


Lalu Aira berpikir sangat keras, agar ia mendapatkan solusi. Untuk bisa membantu Yasa, yang pergi seorang diri melawan Padepokan Black.


"Kita berdua sebaiknya pergi ke penginapan, dengan menggunakan jurus terbang. Agar segera sampai ke penginapan, dan tidak ada yang akan menghadang kita lagi," ajak Aira kepada Firman.


"Tapi..... Kak, aku.... Takut ketinggian," jawab Firman ketakutan.


"Tutup saja kedua matamu itu Firman," bentak Aira.


Aira memegang tangan Firman, mengajaknya pergi menggunakan jurus ilmu terbang. Agar mereka berdua bisa segera sampai, ke penginapan Agung Sedayu.

__ADS_1


Sedangkan Firman yang sedang melawan rasa takutnya, terus menutup kedua matanya. Agar tidak sampai melihat ke bawah tanah.


"Semoga saja. Aku tidak terlambat menolong Yasa, yang pergi ke Padepokan Black seorang diri. Uuuh, ceroboh banget sih kamu Yas!" gumam Aira di dalam hatinya, yang kesal sekaligus mencemaskan Yasa yang pergi ke Padepokan Black seorang diri.


__ADS_2