MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 63 Yasa Merasa Bersalah


__ADS_3

Markus yang ikut pergi bersama dengan Ratu Aurora serta Yasa dan teman-temannya, dalam mencari keberadaan Sekar Wati ibunya Yasa. Mereka semua sudah berjalan jauh dari perbatasan Desa Rindang.


Ditengah perjalanan mereka semua, tiba-tiba saja Markus mendengarkan suara panggilan ilmu telepati dari Tabib Padepokan Macan Putih.


"Ada apa yah! Tabib memanggilku?" gumam Markus dalam hatinya sambil berpikir.


Sebelum menerima panggilan ilmu telepati dari Tabib Padepokan Macan Putih. Markus menghentikan langkah kaki Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya.


"Ratu. Yasa dan kalian semuanya, kita semua berhenti sebentar di sini!" Markus menghentikan langkah kaki mereka semua, yang akan pergi mencari keberadaan Sekar Wati.


"Kenapa! Kita semua harus berhenti Markus?" tanya Ratu Aurora yang ingin mengetahui tujuan Markus, yang menghentikan perjalanan mereka semua.


"Karena aku mendapatkan panggilan ilmu telepati dari Tabib, maka dari itu. Sebaiknya kita berhenti sebentar saja di sini," sahut Markus.


"Baik guru Ketua," Yasa dan teman-temannya pun duduk beristirahat. Karena Markus akan menerima panggilan ilmu telepati dari Tabib Padepokan Macan Putih.


"Ada apa Tabib?" tanya Markus yang sudah menjawab panggilan ilmu telepati dari Tabib Padepokan Macan Putih.


"Aku mau memberitahukan, tentang kecurigaanku terhadap Malik," jawab Tabib yang berada di Padepokan Macan Putih.


"Kecurigaan! Apa maksudmu Tabib?" Markus kembali bertanya lagi kepada Tabib. Karena ia tidak mengerti dengan maksud ucapan Tabib, yang mencurigai Malik.


"Aku sangat curiga, kalau Malik itu bukanlah Malik murid Padepokan Macan Putih." Tabib tidak bisa meneruskan ucapannya. Karena Markus menyela ucapannya.


"Kenapa Tabib bisa berpikir seperti itu?" ucap Markus yang menyela ucapan Tabib.


"Aku sudah mencurigai Malik. Ketika aku sedang mengobati lukanya. Karena pada saat itu! Aku tidak menemukan tanda lahir di bagian tubuh Malik," tutur Tabib yang akhirnya menceritakan kepada Markus, tentang kecurigaannya terhadap Malik.


"Kalau memang benar seperti itu! Kenapa? kamu baru sekarang memberitahuku?" Markus bertanya lagi kepada Tabib, dengan nada yang sedikit marah.

__ADS_1


"Aku hanya ingin, menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu. Sebelum menceritakan semuanya kepada ketua Markus." Tabib menjawab pertanyaan dari Markus dengan penuh penyesalan. Karena Tabib tidak langsung memberitahukan kepada Markus, tentang kecurigaannya terhadap Malik.


"Lebih baik. Tabib datang saja ke sini, dengan menggunakan ilmu menghilang. Agar bisa lebih jelas menceritakan, tentang kecurigaan Tabib terhadap Malik." Markus menyuruh Tabib untuk pergi menemuinya.


"Baik, ketua Markus." Tabib pun menghentikan panggilan ilmu telepati. Karena Tabib akan segera pergi, menghampiri Markus dan Ratu Aurora serta Yasa dan teman-temannya.


Ratu Aurora yang melihat Markus telah selesai, menerima panggilan ilmu telepati dari Tabib Padepokan Macan Putih. Segera mempertanyakan tentang pembicaraan antara Markus dan Tabib Padepokan Macan Putih.


"Markus! Ada apa? Tabib memanggilmu?" tanya Ratu Aurora yang ingin mengetahui pembicaraan antara Markus dan Tabib.


"Tabib mencurigai Malik!" Jawab Markus.


"Maksud guru Ketua apa?" Yasa yang penasaran dengan ucapan Markus. Langsung bertanya kepada Markus, tentang perkataan Tabib yang curiga kepada Malik sahabat baiknya.


"Sebentar lagi. Tabib akan segera datang ke sini. Karena aku juga ingin kalian semuanya, mengetahui tentang kecurigaan Tabib terhadap Malik." Markus menjawab pertanyaan dari Yasa, yang ingin mengetahui kecurigaan Tabib terhadap Malik.


"Aku juga sedikit curiga kepada Malik. Apalagi! Saat aku sedang mencari kucing Kay, dan aku tidak sengaja melihat Malik sedang melakukan panggilan ilmu. Entah? Dengan siapa dia melakukan panggilan ilmu telepati itu?" gumam Firman di dalam hatinya. Karena Firman juga sudah mencurigai Malik. Tapi Firman belum menceritakan, tentang semua kecurigaannya kepada Yasa dan teman-temannya.


Tidak lama kemudian.


Tabib Padepokan Macan Putih, sudah datang ke tempat Markus dan Ratu Aurora serta Yasa dan teman-temannya, yang sedang menunggu kedatangan Tabib.


Tabib memberikan salam hormat kepada Markus dan Ratu Aurora terlebih dahulu.


"Salam hormat kepada Ketua Markus dan ketua Ratu." Tabib membukukan sedikit badannya. Untuk memberikan salam hormat kepada Markus dan Ratu Aurora.


Markus dan Ratu Aurora pun menerima salam hormat dari Tabib, dengan cara mengagukan kepalanya.


"Tabib coba kamu ceritakan semua kecurigaan mu itu? Sekarang!" Markus langsung menyuruh Tabib. Untuk segera menceritakan tentang kecurigaan Tabib terhadap Malik, di hadapan Ratu Aurora dan Yasa serta teman-temannya.

__ADS_1


Tabib pun mulai menceritakan tentang semua Kecurigaannya terhadap Malik. Karena Tabib yang pada saat itu, membalurkan ramuan ke tubuh Malik, tidak menemukan tanda lahir yang berada di tubuh Malik. Dan Tabib juga menceritakan Malik yang sudah pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih. Saat Malik dan Adit akan pergi ke pasar, dan di serang oleh dua orang asing yang tidak Adit kenal. Tapi Tabib sangat yakin. Kalau yang menyerang Malik dan Adit adalah murid Padepokan Ular Naga, yang mendapatkan perintah dari Rimba. Untuk menjadi mata-mata Padepokan Black.


"Kalau memang benar begitu! Malik yang saat itu berada bersama kita semuanya, bukanlah Malik murid Padepokan Macan Putih. Pasti dia itu adalah utusan Rimba, yang menyamar menjadi Malik." Markus mengepalkan tangannya. Karena ia malah terpercaya dengan semua ucapannya Malik, yang kemungkinan adalah mata-mata Padepokan Black.


"Iya benar ketua Markus. Apalagi ia sekarang ini, sudah pergi meninggalkan Padepokan Macan Putih, dan aku juga sangat yakin! Kalau yang membawa dia pergi adalah murid Padepokan Ular Naga. Karena saat aku memeriksa keadaan luka Adit, ia terkena jurus pedang beracun." Tabib pun membenarkan ucapan Markus.


"Aku juga sebenarnya telah curiga kepada Malik." Firman yang mendengarkan semua ucapan Tabib, yang mengatakan tentang kecurigaan Tabib terhadap Malik. Kini Firman juga mengatakan, tentang kecurigaannya terhadap Malik.


"Maksud kamu apa Firman? Kamu juga curiga kepada Malik?" tanya Markus yang penasaran dengan ucapan Firman.


"Fir, kamu juga curiga kepada Malik?" Yasa juga bertanya kepada Firman. Karena Firman belum menjawab pertanyaan dari Markus.


"Iya benar guru ketua. Yasa," sahut Firman yang membenarkan pertanyaan dari Yasa dan Markus.


"Apa yang membuat kamu juga curiga terhadap Malik. Firman?" tanya Tabib yang ingin mengetahui tentang kecurigaan Firman terhadap Malik.


"Karena waktu Aku dan Yasa pergi ke penginapan Rumah Indah. Untuk pergi mencari keberadaan kucing Kay yang hilang. Pada saat itu! Aku tidak sengaja melihat Malik, yang sedang melakukan panggilan ilmu telepati. Entah dengan siapa? Aku tidak tahu, tapi yang pasti bukan kepada guru Ketua. Apalagi kepadaku dan Yasa, dan ada suatu hal yang lebih membuat aku curiga kepada Malik. Saat ia bisa menggunakan ilmu menghilang, menuju Padepokan Black. Untuk bisa membuat aku dan teman-teman semuanya, cepat sampai ke dalam Padepokan Black. Meski saat itu! Malik mengatakan telah belajar dari ketua Erlangga, tapi aku tidak langsung percaya begitu saja," tutur Firman yang menceritakan tentang kecurigaannya terhadap Malik.


"Jadi kamu juga curiga kepada Malik, sudah dari lama dong Fir?" tanya Yasa yang mendengarkan ucapan Firman, yang mengatakan kecurigaannya terhadap Malik.


"Iya Yas," sahutnya singkat.


"Kalau memang benar seperti itu! Malik sahabatku dimana? Apakah ia baik-baik saja?" lirih Yasa yang sedih mendengar semua ucapan dari Tabib dan Firman, yang mengatakan. Kalau Malik yang mereka semua temukan pada saat itu, kemungkinan bukanlah Malik sahabat baiknya.


"Ini semua adalah kesalahanku. Karena aku yang pada saat itu, pergi menuju Padepokan Black seorang diri. Membuat kekuatan energi ku dan teman-teman semuanya menghilang, dan membuat Malik juga menghilang entah di mana? Keberadaannya sekarang ini?" lanjut Yasa penuh penyesalan. Karena ia merasa semua itu adalah kesalahannya, yang pergi seorang diri melawan Padepokan Black. Untuk merebut Pedang Sakti dari tangan Rimba, tanpa merencanakan persiapan terlebih dahulu.


"Sudahlah Yas, yang lalu biarlah berlalu. Jadikan semua permasalahan ini. Membuat kita semuanya, harus lebih berhati-hati. Jangan sampai! Hal seperti ini terjadi lagi," ucap Riska mencoba menenangkan diri Yasa, yang sedang bersedih. Karena Yasa merasa bersalah, atas kehilangan Malik sahabat baiknya.


"Yang Riska ucapkan benar Yas, jangan menyalakan dirimu sendiri," timpal Firman yang setuju dengan ucapan dari Riska.

__ADS_1


"Tapi menghilangnya Malik, itu semua adalah kesalahanku. Aku harus bisa menemukan keberadaan Malik, untuk menebus rasa bersalahku yang membuat Malik menghilang. Dimana sekarang ini kamu Lik?" batin Yasa yang merasa bersalah atas kehilangannya Malik.


__ADS_2