MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 6 Memanggil Markus


__ADS_3

Setelah  orang-orang yang tiba-tiba datang menyerang Yasa dan Riska telah pergi. Yasa pun datang menghampiri Robi yang jatuh pingsan, akibat terkena jurus pukulan berapi yang mematikan.


"Kak Robi belum sadar juga Ris?" Tanya Yasa yang sudah datang menghampiri Riska dan Robi.


"Belum," jawab Riska yang bersedih melihat kakaknya, yang belum sadar dari pingsannya.


"Sebenarnya orang yang berkelahi dengan kalian berdua itu siapa sih?" Malik bertanya kepada Yasa dan Riska.


"Aku juga tidak tahu Lik," sahut Yasa.


"Kalian bertiga jangan pura-pura tidak tahu deh! Itu semua pasti teman-teman kalian dari Padepokan Black? Ayo jujur saja!" ucap Riska marah.


"Riska tenangkan keadaanmu itu, kita tidak boleh berburuk sangka kepada mereka bertiga," ujar Aira menenangkan Riska yang sedang marah.


"Sudah jangan berdebat, lebih baik ayo kita bawa Robi pergi dari sini. Untuk mencari Tabib." Yudi mengalihkan pembicaraan mereka, karena melihat Robi yang belum sadar dari pingsannya.


"Di daerah ini! Kita tidak tahu? Dimana letak keberadaan Tabib kak?" sahut Riska menjelaskan.


"Gimana kalau kita menghubungi Guru Ketua, dengan menggunakan ilmu telepati? Pasti Guru Ketua akan datang membawa Tabib, untuk mengobati luka kak Robi dan kita semua!" usul Firman.


"Ada bener nya juga! Apa yang dikatakan oleh Firman, ya sudah coba kamu lakukan Fir."  Yudi menyuruh Firman untuk melakukan ilmu Telepati, kepada Markus ketua Padepokan Macan Putih, supaya Markus datang membawa Tabib, dan membantu mereka semua yang terluka, terutama mengobati Robi yang belum sadar dari pingsannya.


Firman yang akan melakukan ilmu telepati, tiba-tiba saja di cegah oleh Riska.


"Jangan Firman yang melakukan ilmu telepati! Nanti salah lagi." Riska menghentikan Firman, yang sedang melakukan ilmu Telepati.


"Iiikh, ini orang kenapa sih! Aku lagi melakukan panggilan ilmu telepati kepada Guru Ketua. Jadi harus fokus, nanti bisa gagal, di bantu malah ngajak ribut," gerutu Firman kesal, Karena saat ia akan melakukan panggilan ilmu telepati, malah di ganggu oleh Riska, dengan cara menggoyang-goyangkan tangannya.


"Udah-udah kalian berdua jangan ribut! Kamu juga Riska kenapa sih? Malah mengganggu Firman, yang sedang melakukan ilmu telepati. Kita itu perlu bantuan seorang Tabib. Untuk mengobati kakakmu, dan kita semua juga," jelas Aira melerai Firman dan Riska yang masih bersitegang.


" Kak Aira, Firman ini tuh selalu gagal dalam menggunakan ilmu sihir, jadi tidak bisa di harapkan orang seperti dia ini " sahut Riska marah, dan sangat yakin kalau firman yang melakukan ilmu Telepati pasti bakalan gagal.


"Meski Firman pernah melakukan kegagalan, dalam menggunakan ilmu sihir, itu hal yang wajar kok! Karena kami masih belajar, dan jangan di ungkit terus-menerus. Bahkan dengan idenya Firman, kita bisa memanggil Guru Ketua datang ke sini, untuk membantu kita semua yang terluka." Yasa membela Firman, karena menurutnya kegagalan dalam melakukan ilmu sihir itu hal yang wajar, karena mereka bertiga masih mendalami belajar menggunakan ilmu sihir.


"Ya udah deh, buruan panggil sana. Tapi ingat! Jangan Firman, yang melakukan panggilan ilmu telepati." Riska yang masih belum percaya, dengan kekuatan ilmu sihir yang Firman bisa.


Firman yang sangat kesal dengan ucapan Riska, melakukan ilmu sihir tanpa sepengetahuan Riska. Lalu ia mengeluarkan ilmu sihir penari ulung, membuat Riska menari-nari seorang diri.


"Hahaha..." Firman yang melihat itu tertawa terbahak-bahak.


"Firma...aan!" teriak Riska sangat kencang.


"Aku tahu! Pasti ini perbuatan ilmu sihirmu? Ayo hentikan!" pinta Riska karena ia masih terus menari tidak bisa berhenti menghentikan ilmu sihir ini, karena ilmu sihir Penari Ulung sudah di kunci oleh Firman.

__ADS_1


"Firman sudah hentikan ilmu sihirmu itu. Kasihan Riska, ia juga terluka akibat bertarung melawan orang-orang asing itu." Aira kembali melerai mereka berdua.


Firman pun menghentikan ilmu sihir penari ulung kepada Riska. Riska pun terjatuh ke tanah.


"Awas ya kau Firman! Akan aku balas kau. Dan aku sangat yakin, kalau kalian bertiga itu?Pasti mata-mata Padepokan Black? Sudah jujur saja," ucap Riska penuh emosi, dan sangat yakin kalau Yasa dan kedua sahabatnya itu adalah mata-mata Padepokan Black.


Ketika Riska hendak melakukan serangan balik, ia dicegah oleh Yudi dan Aira.


"Hey wanita merah yang sok. Jaga mulutmu itu, jangan selalu menuduh orang sembarangan, dan selalu mencari masalah." Yasa jadi terbawa emosi, akibat ucapan Riska yang tidak percaya kepada mereka bertiga .


"Sudah Yasa. Kamu jangan marah sampai terbawa emosi, lebih baik kamu saja yang menggunakan ilmu telepati, memanggil ketua Markus. Kalau benar, kalian bertiga itu adalah murid Padepokan Macan Putih, ayo buktikan?" ucapan Yudi seperti menantang Yasa.


"Baiklah, akan aku buktikan kepada kalian Padepokan Singa Merah. Kalau aku dan kedua sahabatku, bukanlah mata-mata Padepokan Black," geram Yasa kepada Padepokan Singa merah.


Yasa pun melakukan ilmu telepati, memanggil Markus ketua Padepokan Macan Putih, dan ia pun memejamkan kedua matanya sambil duduk sila, dan fokus di dalam hati dan pikirannya, untuk bisa memanggil Markus ketua Padepokan Macan Putih.


"Guru ketua," ucap Yasa di dalam hatinya, berkali-kali memanggil nama Markus ketua Padepokan Macan Putih.


***


Markus yang sedang mengamati muridnya, yang sedang belajar ilmu bela diri di lapangan, merasa tidak tenang hatinya.


Karena sudah beberapa hari ini, ia merasakan sebuah firasat yang akan datang menghampiri ketiga muridnya, yang sedang melakukan perjalanan pergi mencari keberadaan Pedang Sakti yang hilang.


"Kenapa yah? Aku terus memikirkan ketiga murid ku itu. Apa jangan-jangan? Akan terjadi sesuatu kepada mereka bertiga!" lirihnya.


Di dalam kesendiriannya. Markus merasa ada seseorang yang memanggil namanya, ia pun mengamati suara itu, sebelum ia menjawabnya.


"Suara itu seperti suara Yasa? Ada apa ya? Yasa memanggilku?" gumam Markus di dalam hatinya.


Kemudian Markus memejamkan matanya, dan menerima panggilan dari Yasa.


"Ada apa Yasa? Kamu memanggilku menggunakan ilmu telepati," tanya Markus kepada Yasa yang berada di sebrang sana.


"Guru Ketua, kami meminta bantuan seorang Tabib, bisakah Guru Ketua segera datang membawa Tabib. Untuk mengobati luka kita semua yang sedang terluka," tutur Yasa menjelaskan.


"Baiklah, tidak lama lagi aku akan datang ke tempatmu." Markus membuka matanya, dan panggilan ilmu telepati pun berhenti.


"Firasat ku beberapa hari ini ternyata benar, bahwa akan terjadi sesuatu kepada mereka bertiga," ujarnya.


Markus pergi menemui Tabib Padepokan Macan Putih, untuk mengajaknya pergi membantu mengobati ketiga muridnya yang sedang terluka.


***

__ADS_1


Sesampainya Markus dan Tabib di tempat yasa, yang memberi sinyal keberadaan nya.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian semua?" tanya Markus yang sudah datang menemui mereka semua.


"Kami di serang orang asing guru ketua," sahut Malik.


"Salam hormat kepada Ketua Markus. Aku mau bertanya, kepada Ketua Markus. Apakah benar? Kalau ketiga orang ini adalah murid Padepokan Macan Putih?" ucap Yudi yang datang memberi hormat kepada Markus, dan ingin mendengar jawaban dari pertanyaannya. Kalau Yasa dan kedua sahabatnya adalah murid Padepokan Macan Putih.


"Iya benar," jawab Markus singkat.


"Dengar itu baik-baik! Kalau aku dan kedua sahabatku itu, bukan orang yang seperti kalian tuduhkan Padepokan Singa Merah," ucap Yasa kesal atas tuduhan yang tidak benar, ia menatap tajam ke arah Riska, yang selalu menuduhnya dan kedua sahabatnya, sebagai mata-mata Padepokan Black.


Riska tidak menanggapi ucapan Yasa, ia menundukkan kepalanya. Karena ia telah salah sangka kepada Yasa dan kedua sahabatnya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berdebat?" Markus yang baru saja datang merasa bingung.


"Ini hanya sebuah ke salah pahaman saja Guru Ketua," sahut Malik.


"Lalu apakah benar, kalau kalian ini adalah murid Padepokan Singa Merah?" tanya Markus sambil menatap Yudi.


"Iya benar ketua Markus. Kami adalah murid Padepokan Singa Merah, yang di utus oleh Ketua Ratu. Untuk membantu mencari keberadaan Pedang Sakti yang hilang dicuri," tutur Yudi.


Aira pun datang menghampiri mereka semua, dan meninggalkan Robi seorang diri.


"Tabib tolong segera bantu temen saya, ia masih pingsan dan belum sadar sampai sekarang." Aira meminta tolong kepada Tabib, dan mendahulukan Robi untuk segera di obati.


Tabib pun mengobati luka Robi, dan membalurkan ramuan obat ke badan Robi yang terluka.


"Luka teman kalian lumayan parah, untung aku datang tepat waktu untuk mengobatinya. Karena pukulan berapi yang mematikan itu, membuat ia sedikit cedera. Tapi itu tidak akan bertahan lama. Setelah ramuan ini menyerap ke dalam tubuhnya, ia akan cepat sembuh. Tapi aku sarankan, jangan terlalu banyak bergerak. Karena takut lukanya robek kembali," jelas sang Tabib, lalu Tabib pun memeriksa luka mereka semuanya secara bergantian.


Setelah Tabib beres mengobati luka mereka semua, Markus datang menghampiri mereka semua.


"Menurut kalian semua, siapa orang yang datang menyerang kalian semua?" tanya Markus sambil menatap ke arah mereka semuanya.


"Itu pasti mata-mata Padepokan Black," sahut Riska.


"Aku rasa orang-orang  itu, adalah orang-orang yang mencuri Pedang Sakti Guru Ketua. Karena di antara orang-orang yang menyerang kami semua, salah satunya aku mengingat sangat jelas. Pada satu orang yang masuk ke dalam ruangan rahasia Guru Ketua. Meski mereka semua menutupi wajahnya, tapi sorot matanya meyakinkan aku bahwa orang-orang itu adalah orang yang mencuri Pedang Sakti," tutur Yasa menjelaskan.


"Kalau begitu, ke mungkin terbesar Padepokan Black lah yang telah menyerang kalian semua. Jadi kalian semua harus terus berhati-hati, dan jika kalian semua sudah pulih kesehatannya. Lanjutkan kembali perjalanan kalian semua, dalam misi mencari keberadaan Pedang Sakti yang hilang di curi oleh Padepokan Black," ucap Markus.


Markus dan Tabib pun pergi meninggalkan mereka semua, dengan menggunakan ilmu Menghilang.


Setelah semuanya merasa lebih baik, mereka semua akan melanjutkan kembali perjalanannya, dalam mencari Pedang Sakti yang menurut Markus di curi oleh Padepokan Black.

__ADS_1


__ADS_2