
Rimba pergi menuju Padepokan Ular Naga, dengan menggunakan ilmu menghilang. Sehingga ia cepat sampai di Padepokan Ular Naga, kedatangan Rimba ketua Padepokan Black di sambut dengan baik oleh murid Padepokan Ular Naga.
"Salam hormat kepada Ketua Rimba," ucap murid Padepokan Ular Naga, yang memberikan salam hormat kepada Rimba ketua Padepokan Black.
"Iya," jawab Rimba.
"Silahkan duduk ketua Rimba." Roy murid Padepokan Ular Naga mempersilahkan Rimba duduk di pendopo Padepokan Ular Naga.
"Kalian semua pergi panggil Amran." Rimba menyuruh murid Padepokan Ular Naga. Untuk pergi memanggil Amran ketua Padepokan Ular Naga. Sebelum ia duduk di pendopo Padepokan Ular Naga.
"Baiklah ketua Rimba," sahutnya.
Murid Padepokan Ular Naga segera pergi menghadap Amran ketua Padepokan Ular Naga.
Roy dan Surya murid Padepokan Ular Naga, yang pergi ke ruangan Amran ketua Padepokan Ular Naga.
"Tok-tok." Roy mengetuk pintu ruangan Amran ketua Padepokan Ular Naga.
Amran yang mendengar suara ketukan pintu, segera pergi membukakan pintu ruangannya.
"Ada apa kalian datang menemuiku?" tanya Amran yang sudah membukakan pintu ruangannya.
"Di pendopo Padepokan Ular Naga, ada ketua Rimba yang ingin bertemu dengan ketua Amran," jawab Surya yang memberitahukan kepada Amran. Kalau Rimba ketua Padepokan Black, ingin bertemu dengan Amran di pendopo Padepokan Ular Naga.
"Iya aku akan menemui ketua Rimba." Amran pun masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu. Karena mau mengambil buku mantra sihir. Untuk di berikan kepada Rimba ketua Padepokan Black, yang menunggu kedatangannya di pendopo Padepokan Ular Naga.
Sesampainya Amran di pendopo Padepokan Ular Naga, ia memberikan salam hormat kepada Rimba ketua Padepokan Black.
"Salam hormat ketua Rimba," ucap Amran yang sudah berada di pendopo Padepokan Ular Naga, tempat Rimba menunggu kedatangannya.
"Iya," sahutnya singkat.
__ADS_1
"Mana buku mantra sihirnya?" lanjut Rimba yang melihat Amran datang membawa buku mantra sihir. Karena Rimba ingin segera mendapatkan buku mantra sihir, yang di dapatkan oleh murid Padepokan Ular Naga.
"Ini ketua Rimba bukunya." Amran pun memberikan buku mantra sihir itu kepada Rimba ketua Padepokan Black.
"Kerja bagus." Rimba tersenyum senang. Karena ia bisa mendapatkan buku mantra sihir, yang Markus dapatkan dari Guru gunung Marajeta.
"Markus kamu sudah kehilangan Pedang Sakti, dan sekarang aku juga berhasil mengambil buku mantra sihir yang kau miliki. Dengan begitu, aku akan mudah mengalahkan kalian semua. Hahaha," batin Rimba.
Rimba pun segera membuka buku mantra sihir, dan mencaritahu tentang cara mengaktifkan Pedang Sakti.
"Kenapa di buku mantra sihir ini, tidak ada cara mengaktifkan Pedang Sakti?'' gumam Rimba yang sudah membuka buku mantra sihir, dan mencaritahu tentang cara mengaktifkan Pedang Sakti.
"Tapi meski tidak ada cara mengaktifkan Pedang Sakti. Markus dan murid-muridnya tidak akan bisa mengalahkan aku, apa lagi Pedang Sakti dan buku mantra sihir berada di tanganku." Rimba tersenyum penuh kemenangan. Karena ia berhasil mendapatkan Pedang Sakti dan juga buku mantra sihir di Padepokan Macan Putih.
Amran yang melihat Rimba tersenyum, ia pun juga ikut tersenyum senang. Karena ia dan muridnya berhasil mengambil buku mantra sihir di Padepokan Macan Putih. Amran pun segera menanyakan tentang tugas, yang akan di berikan oleh Rimba ketua Padepokan Black. Karena ia mengetahui kedatangan Rimba, yang bukan hanya sekedar mengambil buku mantra sihir saja. Pasti ada tugas baru yang akan di berikan kepadanya.
"Bagaimana langkah kita selanjutnya Ketua Rimba?" tanya Amran.
"Kamu dan murid Padepokan Ular Naga, pergi ke Desa Walarijo. Karena yang aku tahu sekarang ini! Markus dan murid-muridnya berada di sana," jawab Rimba yang menyuruh Amran dan murid Padepokan Ular Naga. Untuk pergi ke Desa Walarijo.
_____________
Sementara itu.....
Di Desa Walarijo.
Markus dan Ratu Aurora serta Yasa dan teman-temannya, masih berkumpul di kamar penginapan Lintang. Yasa yang berada di dekat kucing Kay mengelus bulunya, berharap kucing Kay mau menceritakan tentang dirinya.
"Kay, kamu ceritakan saja tentang jati dirimu?" lirih Yasa yang ingin mengetahui tentang jati diri kucing Kay.
"Meong, meong."
__ADS_1
Markus yang terus memperhatikan kucing peliharaannya Yasa, tidak percaya dengan perkataan Tabib dan Yasa serta kedua sahabatnya Yasa. Karena Markus melihat kucing peliharaannya Yasa, hanya seekor kucing biasa.
"Kucing peliharaannya Yasa itu hanya kucing biasa. Mana mungkin! Dia bisa menemukan keberadaan Bunga Red, dan bisa berubah menjadi Harimau dan menyelamatkan kalian semua di Padepokan Black," ucap Markus yang belum percaya dengan ucapan Tabib. Yasa dan Malik serta Firman dan Robi, yang menceritakan tentang kekuatan energi kucing Kay.
"Aku mengatakan yang sebenarnya ketua Markus, kalau kucing peliharaannya Yasa lah yang telah menemukan keberadaan Bunga." Tabib Padepokan Macan Putih, berusaha untuk menyakinkan Markus, bahwa kucing Kay yang memberikannya Bunga Red.
"Kucing peliharaanku bukan seekor kucing biasa guru Ketua. Karena aku sendiri menyaksikan kekuatannya, saat jiwaku ikut terbawa dengan jiwa kucing Kay ke ruang bawah tanah Padepokan Black, dan bisa menyelamatkan Malik yang dikurung disana. Kay, aku mohon kamu bicaralah." Yasa pun juga berusaha untuk menyakinkan Markus, dan meminta kucing Kay untuk berbicara dengan menggunakan bahasa manusia.
"Sepertinya aku harus menceritakan tentang jati diriku," batin kucing Kay.
Kucing Kay yang mendengarkan ucapan Markus, yang menganggap ia hanya seekor kucing biasa. Serta Tabib dan Yasa yang berusaha meyakinkan Markus, ia pun segera menceritakan tentang jati dirinya dengan menggunakan bahasa manusia.
"Aku adalah seekor kucing utusan para Dewa, kedatanganku mendekati Yasa adalah perintah dari para Dewa. Untuk membantu Yasa dalam mencari Pedang Sakti yang di curi oleh Padepokan Black, dan sekarang ini berada di tangan Rimba ketua Padepokan Black," ucap kucing Kay dengan bahasa manusia.
Mereka semua yang berada di dalam kamar penginapan Lintang, terkejut mendengar ucapan dari kucing peliharaannya Yasa, yang menggunakan bahasa manusia.
"Akhirnya, kamu berbicara juga Kay. Semoga Guru Ketua dan yang lainnya, akan percaya dengan ucapanku," gumam Yasa di dalam hatinya.
"Kay, kamu bisa berbicara?" Riska kaget mendengar ucapan dari kucing Kay.
"Aku tidak menyangka kalau kucing peliharaannya Yasa, adalah utusan para Dewa," lirih Markus pelan.
Tabib yang merupakan guru dari Sekar Wati yang bernama Badar, pun ikut berbicara tentang kucing Kay. "Sebenarnya, semenjak aku datang ke penginapan ini. Aku sudah merasakan aura Para Dewa di sini, tapi aku tidak menyangka. Kalau aura Para Dewa berada di tubuh kucing ini," tunjuk Badar ke arah kucing Kay.
"Aku memang kucing utusan para Dewa, dan jiwaku yang berada di sini, sudah merasakan keberadaan Sekar Wati yang ada di desa ini. Aku yang merasa kamu akan mengetahui aura para Dewa di dalam tubuhku. Maka dari itu, saat kamu akan memeriksa keadaanku, aku segera bangun. Agar kamu tidak merasakan aura para Dewa di dalam tubuhku," tutur kucing Kay menjelaskan kepada Badar gurunya Sekar Wati yang seorang Tabib.
Tabib Padepokan Macan Putih yang mendengarkan penjelasan dari kucing peliharaannya Yasa, segera menanyakan tentang Bunga Red yang kucing Kay berikan kepadanya. "Kalau kucing peliharaannya Yasa adalah utusan para Dewa. pasti! Bunga Red di dapatkan oleh para Dewa, dan Para Dewa menyuruh kucing peliharaannya Yasa memberikan Bunga Red kepadaku?"
"Iya benar Tabib," sahut kucing Kay.
"Markus kita sudah menemukan keberadaan Sekar Wati, sebaiknya kita segera menyusun rencana. Untuk pergi menyerang Padepokan Black," ucap Ratu Aurora.
__ADS_1
"Yang di katakan oleh ketua Ratu benar Guru Ketua, lebih baik kita segera pergi ke Padepokan Black yang bersekutu dengan Raja iblis. Agar kita semua bisa merebut Pedang Sakti di tangan Rimba, dan bisa menyelamatkan dunia ini dari Rimba dan Raja iblis, yang menginginkan menguasai dunia ini." Yasa pun menimpali ucapan dari Ratu Aurora. Karena ia ingin mengambil Pedang Sakti ciptaan ayahnya dari tangan Rimba ketua Padepokan Black.
"Tapi sebelum kita semua pergi menyerang Padepokan Black. Aku ingin mendengarkan cerita dari Sekar Wati, yang bisa selamat dari Rimba, dan kenapa? Kamu bisa berada di desa ini Sekar Wati?'' tanya Markus kepada Sekar Wati.