MISI MENCARI PEDANG SAKTi

MISI MENCARI PEDANG SAKTi
BAB 21 Pergi Ke Padepokan Black


__ADS_3

Aira dan Firman yang pergi ke penginapan Agung Sedayu, dengan menggunakan ilmu terbang. Tidak mendapatkan hambatan dan halangan dari penduduk kampung, yang menjadi pengikut Padepokan Black.


Hanya saja Firman yang merasa ketakutan akan ketinggian, memeluk Aira sangat erat.


"Firman kamu bisa gak sih? Cukup berpegangan tangan saja, gak usah sampai memeluk aku seperti ini!" ucap Aira yang merasa risih, karena Firman memeluk tubuhnya sangat erat.


" Maaf kak, aku gak bisa kalau cuman pegangan tangan doang. Aku takut kalau tiba-tiba saja kak Aira melepaskan tanganku, lebih baik seperti ini saja kak, aku benar-benar takut ketinggian," sahut Firman dengan mata tertutup, karena ia tidak mau melihat ke bawah.


"Huuuh menyebalkan!" gumam Aira di dalam hatinya, karena kesal dengan sikap Firman.


"Tapi biasa aja peluknya jangan kencang-kencang!" ujar Aira yang merasa risih dipeluk oleh Firman.


"Iya kak, maaf," hanya kata itu yang Firman keluarkan.


Firman pun segera melonggarkan pelukannya kepada Aira, mengganti dari memeluk tapi kini hanya memegang erat baju Aira dan juga tangannya.


Perjalanan menggunakan jurus ilmu terbang, tidak memakan waktu yang lama. Karena Aira mempercepat jurus ilmu terbangnya, agar segera sampai ke penginapan Agung Sedayu.


"Kak pelan-pelan dong!" teriak Firman yang takut ketinggian. Ditambah dengan cara terbang yang sangat cepat, membuat ia berteriak meminta untuk pelan-pelan menggunakan jurus ilmu terbangnya.


"Udah kamu diam saja jangan berisik! Tutup saja matamu," bentak Aira.


Firman pun hanya bisa melawan rasa takut akan ketinggian, dan mencoba untuk diam setelah Aira membentaknya.


"Kalau kita pelan-pelan, kapan sampainya? Kita harus segera sampai ke penginapan, dan mengajak teman-teman semuanya. Untuk membantu Yasa yang pergi seorang diri, melawan Padepokan Black," lanjut Aira memberi pengertian kepada Firman.


"Iya kak," sahutnya pelan.


Sesampainya di penginapan Agung Sedayu.


Aira segera mengurangi kecepatan jurus ilmu terbangnya, untuk turun ke bawah tanah.


"Bugh!" suara orang yang jatuh ke tanah.


"Suara apa itu Fir?" tanya Aira kepada Firman, sebelum pergi mencari Robi dan yang lainnya.


Tapi Aira menghentikan langkahnya, karena tidak mendapatkan balasan dari Firman. Aira pun menoleh ke belakang.


"Astaghfirullah!  Firman....? " Teriak Aira yang kaget melihat Firman terjatuh ke tanah, dan ia segera pergi menghampiri Firman yang kemungkinan terjatuh karena pingsan.


"Fir, Firman bangun!" ucap Aira yang sudah berada di dekat Firman, dan ia berusaha membangunkan Firman yang sedang pingsan.


Suara teriakan Aira yang memanggil Firman, terdengar oleh Yudi dan Robi yang berada di dalam kamar penginapan Agung Sedayu.


"Itu bukanya suara teriakan Aira, yang memanggil naman Firman?" Yudi yang mendengarkan suara teriakan dari Aira, memastikan kebenarannya kepada Robi.

__ADS_1


"Iya benar itu suara teriakan Aira. Tapi kenapa Aira berteriak memanggil Firman?" lirih Robi.


"Apa jangan-jangan? Firman di bawa pergi oleh penduduk kampung, yang menjadi pengikut Padepokan Black!" sahut Yudi.


"Kalau benar begitu! Kita harus segera pergi keluar," ajak Robi kepada Yudi.


Mereka berdua pergi keluar pintu penginapan, dan mencari keberadaan Aira dan Firman.


"Firman bangun Fir," Aira menggerakkan tangan Firman.


Suara Aira yang membangunkan Firman, terdengar oleh Robi dan Yudi yang sedang mencari keberadaan mereka berdua. Dan segera pergi menghampiri Aira dan Firman.


"Aira. Firman kenapa?" tanya Yudi yang sudah berada di dekat Aira dan Firman.


"Sepertinya Firman pingsan kak Yudi. Kita harus segera membuat Firman, segera sadar dari pingsannya," sahut Aira mencemaskan keadaan Firman yang belum sadar dari pingsannya.


"Kita pakai ramuan dari Tabib saja!" Robi pun mengeluarkan ramuan kekebalan tubuh.


"Tapi ramuan itu, digunakan jika kita semua akan pergi melawan Padepokan Black." Yudi mencegah Robi, yang akan memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Firman.


"Kita tidak punya ramuan lain, selain ramuan kekebalan tubuh yang di berikan oleh Tabib Padepokan Macan Putih, yang terpenting Firman bisa segera sadar." Robi tidak memperdulikan Yudi yang mencegahnya untuk tidak memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Firman.


" Tapi.....!" Yudi merasa bingung. Untuk mencegah Robi memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Firman, atau membiarkannya.


"Jangan pergi tanpa rencana dan persiapan yang matang Aira?" ucap Yudi yang tidak mau gegabah dalam bertindak menyerang Padepokan Black.


"Tapi sekarang ini! Mau tidak mau, kita semua harus pergi bersama-sama menyerang Padepokan Black. Karena Yasa sudah berada di dalam Padepokan Black, jadi kita harus segera pergi dari sini untuk membantu Yasa yang akan melawan Padepokan Black seorang diri," ujar Aira.


Robi yang memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Firman, merasa kaget dengan penjelasan dari Aira.


"Kamu jangan bercanda Ai?" Robi menatap tajam ke arah Aira.


"Aku tidak bercanda kak. Tadi aku dan Firman pergi mengikuti Yasa, yang pergi seorang diri menuju Padepokan Black. Maka dari itu! Aku dan Firman memutuskan. Untuk pergi ke sini, meminta bantuan kepada kalian semuanya." Aira berusaha meyakinkan Robi dan Yudi. Agar percaya dengan semua ucapannya.


"Yang di katakan oleh kak Aira itu benar kak," sahut Firman yang sudah sadar dari pingsannya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga." Aira merasa lega melihat Firman yang sudah sadar dari pingsannya.


"Iya kak," sahut Firman.


"Kalau begitu kita harus segera pergi dari sini, dan minum ramuan kekebalan tubuh. Setelah itu kita pergi menuju Padepokan Black, untuk membantu Yasa melawan Padepokan Black." Robi memberikan ramuan kekebalan tubuh kepada Aira dan Yudi.


"Tapi! Riska dan Malik kemana kak?" Aira tidak melihat keberadaan Riska dan Malik.


"Pasti mereka masih di dalam, biar aku panggilkan mereka berdua dulu." Robi segera pergi ke dalam penginapan Agung Sedayu, untuk memanggil Riska dan Malik.

__ADS_1


"Riska. Malik?" teriak Robi memanggil Malik dan Riska.


Kedua orang yang di panggil oleh Robi, segera pergi menghampiri Robi.


"Ada apa kak?" sahut Riska.


"Kita harus segera pergi dari sini!" ajak Robi kepada Riska dan Malik, yang sudah berada didekatnya.


Mereka bertiga segera pergi meninggalkan penginapan Agung Sedayu. Dan pergi menghampiri Aira, Yudi dan Firman yang berada di luar penginapan Agung Sedayu.


"Ayo sekarang kita semua pergi menuju Padepokan Black," ajak Aira yang melihat teman-temannya sudah berkumpul.


"Kak Aira. Yasa kemana? Masa kita semua pergi ke Padepokan Black, tanpa mengajak Yasa?" sahut Malik berpura-pura tidak tahu, kalau Yasa sudah pergi ke Padepokan Black.


"Yasa sekarang mungkin sudah berada di dalam Padepokan Black. Maka dari itu, kita semua sekarang harus pergi menuju Padepokan Black," tutur Aira menjelaskan.


"Kak Aira, kalau bisa pergi ke Padepokan Black nya, jangan menggunakan ilmu terbang lagi." Firman yang tidak mau pergi ke Padepokan Black. Menggunakan ilmu terbang, karena ia masih belum bisa melawan rasa takutnya akan ketinggian.


"Kita tidak mungkin jalan kaki menuju Padepokan Black! Pasti itu, akan memakan waktu yang sangat lama. Dan belum lagi kalau ada penduduk kampung, yang datang menghadang kita semua," jelas Aira.


"Tapi.....! Kak?" sahut Firman yang ragu untuk mengatakan, bahwa ia tidak mau pergi ke Padepokan Black dengan menggunakan jurus ilmu terbang.


"Sepertinya, kita tidak bisa memaksa Firman. Untuk pergi menuju Padepokan Black, dengan menggunakan jurus ilmu terbang, takutnya ia sampai di sana malah pingsan seperti tadi." Robi yang mengerti perasaan Firman yang takut akan ketinggian. Tidak mau memaksanya pergi menggunakan jurus ilmu terbang.


"Emangnya, tadi Firman pingsan? Karena dia masih takut ketinggian kak? Hahaha..." Riska yang mendengar Firman pingsan malah tertawa.


"Riska." Robi menatap tajam kearahnya. Riska pun menghentikan tertawanya.


Sedangkan Malik yang merupakan Raja iblis, mendengarkan percakapan mereka semua yang akan pergi menyusul Yasa ke Padepokan Black tersenyum senang.


"Hahaha, sepertinya pertunjukan akan semakin seru! Jika mereka semua juga pergi ke Padepokan Black," gumam Malik didalam hatinya. Dengan tersenyum miring.


"Terus kita semua harus pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan jurus apa kak Robi? Biar bisa cepat sampai ke Padepokan Black?" tanya Aira kepada Robi, karena tadi Robi tidak setuju mereka semua pergi dengan menggunakan jurus ilmu terbang.


Robi tidak langsung menjawab pertanyaan dari Aira, ia juga sedang memikirkan cara untuk bisa pergi cepat ke Padepokan Black.


"Kita pergi menggunakan ilmu menghilang saja," sahut Malik.


"Kamu aneh banget sih Lik! Kita semua, belum ada yang bisa menggunakan ilmu menghilang." Firman menimpali ucapan Malik yang menurutnya sangat aneh.


"Aku sudah bisa," jawab Malik dengan penuh rasa percaya diri.


"Ya sudah, kalau begitu segera ajak kita semua, menggunakan ilmu menghilang yang sudah kamu kuasai." Yudi menantang Malik.


"Oke, sekarang kita semua berpegangan tangan." Malik yang merupakan Raja iblis, menyuruh mereka semuanya untuk memegang tangannya, dan membuat simbol lingkaran. Karena mereka semua akan pergi ke Padepokan Black, dengan menggunakan ilmu menghilang.

__ADS_1


__ADS_2