Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
10.


__ADS_3

Tak lama dengan pertanyaan dokter Clara, Aisyah membuka mulutnya. Sekiranya hatinya sudah tenang dan dirasa semua orang yang berada dirumahnya sangat mendukung dirinya.


" Se.. seb..sebenarnya..." ucap Aisyah lirih.


" Jika kamu tidak mau atau belum mau mengatakan apapun kepada kami. Jangan dipaksakan Aish.." ucap dokter Clara lembut.


" Bu dokter..." panggil Aisyah.


" Panggillah kakak, Aish" ucap dokter Clara.


" Kakak?" tanya Aisyah heran.


" Dialah anak sahabat Bapakmu yang selama ini kita cari. Yang kamu cari di kota" terang Ibu lembut.


" Kakak... kakak... hiks..hiks..." tangis Aisyah pecah.


Saat ini Aisyah tidak tahu, harus bahagia, sedih, atau sakit. Hatinya bercampur menjadi satu.


" Kak, sebenarnya... Juragan Gandi berniat akan merenggut mahkota suciku.. hiks..hikss" tangis Aisyah mulai tak terkendali.


" Astaghfirullahhaladzim" sebut Bapak dan Ibu bersamaan.


Seseorang yang kelihatannya sangat santai dan mencerna semua perkatan orang- orang yang ada di ruangan ini merasa sangat geram dengan perlakuan juragan Gandi tersebut.


Kilatan amarah tersirat di netranya. Genggaman jemari mulai menggenggam erat. Wanita yang selama ini sudah mencuri hatinya harus menerima pelecahan seperti ini.


Tetapi dia tidak mau termakan amarah yang memuncak. Dia mencari cara agar pujaan hatinya ini tidak terkena pelecehan kembali. Ataupun kejadian yang membuatnya sangat trauma.


Sedangkan dokter Clara hanya bisa mrnahan sakitnya hati. Terulang lagi kepadanya. Kini dia harus mendengar sendiri dari Aisyah, yang sudah dianggapnya adik kandung.


" Ohh..sayang... hiks.. hiks.. sabar ya.." itulah kalimat yang saat ini terucap di mulut dokter Clara.


" Pak Lurah... ini tidak bisa dibiarkan. Bagaiaman menurut Bapak?" ucap dokter Clara.


Dokter Clara meminta pertimbangan Pak Lurah. Karena jika tidak ada hukum di negara ini, dia pasti sudah membunuh juragan Gandi saat ini juga.


" Dokter Clara, kita tahu bagaimana tabiat juragan Gandi bukan? Untuk melawannya kita butuh strategi. Menurut saya, saat ini saya akan meminta madrasah untuk memindahkan tugas kerja Bu Aisyah ke kota. Agar Bu Aisyah tidak di ganggu kembali. Selanjutnya kita yang berada di desa ini segera menindaklanjuti kejadian ini" terang Pak Lurah.

__ADS_1


" Bagaimana menurutmu Aish?" tanya dokter Clara lembut.


" Kalau memang menurut kakak ini yang terbaik, Aish akan mengikuti saran kakak" ucap Aish.


Bapak dan Ibu menyetujui tentang keputusan Aisyah. Bapak dan Ibu sedikit lega karena banyak yang menolong dan perduli dengan keluarganya. Terlebih mereka mempunyai kedudukan di desa ini.


" Tapi kak, bagaimana dengan Bapak dan Ibu?" tanya Aisyah kepada dokter Clara.


"Sementara Bapak dan Ibu biar kakak yang jaga. Nanti kakak akan tinggal disini menemani Ibu dan Bapak" jawab dokter Clara.


" Baiklah kalau begitu" jawab Aisyah lega


Sementara tangan Pak Lurah tak henti - hentinya mengotak- atik ponsel yang digenggamnya. Sepertinya masih mencari sesuatu.


Hallo... waalaikumsalam... Ya, siapkan semuanya. Abang segera ajukan suratnya. Kirim ke emailku. Segera bang. Kalau perly saat ini juga.


Semua orang hanya diam mendengarkan percakapan Pak Lurah. Pak Lurah merasa lega, kakaknya yang berada di kota mau membantunya.


" Bu Aisyah, segeralah berkemas. Malam ini juga saya antarkan ke kota. Besok pagi Bu Aisyah bisa langsung mengajar di sekolah abang saya. Nanti surat permohonan bantuan pendidik terpilih akan saya kirimkan ke madrasah. Bukankah selama ini madrasah berkembang dengan sangat baik berkat Ibu? Setimpal bukan?" terang Pak Lurah.


" Ayo Aish, kakak bantu. Nanti kakak antar sampai kota" ucap dokter Clara.


" Pak... yang diincar adalah Aisyah. Sampai kapanpun dia akan mencarinya" ucap Pak Lurah tegas.


" Pak Lurah apakah di kota x Aisyah akan bekerja?" tanya dokter Clara.


" Benar bu Clara" jawab Pak Lurah.


" Baiklah. Nanti tinggal di rumah kakak ya.. Tenang saja tidak sendiri. Disana ada mbok inah yang membantu rumah" ucap Clara menenangkan.


" Iya Kak" jawab Aisyah lembut.


Sementara diluar sudah ada sepasang mata mengintai. Ternyata tidak hanya mengintai, dia juga mendengarkan percakapan yang terjadi.


Sayup- sayup terdengar jika Aisyah akan kerja di kota karena guru berprestasi. Dia akan segera melaporkan junjungannnya.


Ya, jurgaan Gandi. Siapa lagi kalau bukan bandot tua itu. Dia akan trrus mengehar Aisyah sampai ke ujung dunia sekalipun.

__ADS_1


Centeng suruhan juragan Gandi segera bergegas menuju rumah junjungannya untuk melaporkan apa yang dia dengar selama pengintaian.


" Apaaaa???? Brengsek!! Lurah bau kencur!!!" teriak juragan Gandi dengan amarah memuncak.


Centeng suruhannya hanya bisa menunduk takut dengan gelegaran suara junjungannya itu. Mereka hanya bisa salinh pandang dan saling tatap.


" Bakar rumahnya!! hancurkan sawahnya!! buat Mustofa merugi. Dan dia akan meminta pertolonganku!!" perintah juragan Gandi.


" Baik, juragan" jawab mereka serempak.


Rencana jurgan Gandi kali ini tidak main - main. Demi mendapatkan gadis pujaan hatinya dia bahkan bermain kotor. Namanya juga juragan Gandi, mendapatkan apapun dengan menghalalkan segala cara.


Diam - diam centeng juragan Gandi sudah menyiapkan semua keperluan yang akan digunakan. Sedangkan juragan Gandi hanya menunggu hasilnya saja.


Ketika Aisyah, Pak Lurah dan dokter Clara bergegas meninggalkan rumah untuk segera ke kota, Ibu merasakan ada kegelisahan hebat yang melanda.


Aisyah meliht kegelisahan di mata Ibu. Aisyah kemudian membuka percakapan.


" Pak Lurah, Kakak... bisa tidak kalau kita ke kotanya besok pagi saja. Aish belum tega meninggalkan Bapak dan Ibu" pinta Aisyah dengan memelas.


Mata yang sendu, mata yang menyiratkan berbagai masalah kegundahan hati. Seakan mencabik - cabik hati yang melihatnya. Mata yang selalu bersinar kini meredup dengan sangat redup.


" Bagaimana Pak Lurah?" tanya dokter Clara meminta pertimbangan.


" Ya sudah... " jawab Pak Lurah dengan tersenyum.


" Terimakasih Pak, kakak" ucap Aisyah.


Bapak, Ibu dan Aisyah kembali ke dalam rumah. Kemudian dokter Clara dan Pak Lurah berpamitan pulang.


Mereka kemudian masuk ke dalama kamar masing - masing untuk beristirahat. Tetapi tidak dengan Aisyah. Dia mengambil wudlu dan segera bersujud kepada sang khaliq.


" Ya Allah, hamba hanya meminta perlindungan dan welas asih dari Mu. Lindungilah keluarga ini dari segala mara bahaya. Hanya engkau yang dapat memberikan pertolongan. Hanya engkau yang mampu membolak - balikkan perasaan seseorang. Amin" doa Aisyah.


Setelah dirasa sudah lebih tenang dalam hatinya. Dia segera merebahkan badannya ke tempat tidur. Ketika dia memejamkan matanya dia mendengar seperti ada seseorang yang mengguyur air.


Memang benar, sumur diluar rumah Aisyah suka ada yang mengambil airnya. Dan itu memang di persilahkan bagi siapapun yang membutuhkan.

__ADS_1


Aisyah memang tidak menaruh curiga. Tetapi ketika matanya mulai tak bisa membuka, Ibunya berteriak kebakaran. Seketika Aisyah bangun dan segera menghampiri kedua orang tuanya.


Aisyah kemudian keluar rumah. Di luar rumah sudah ada yang menunggu, siapa lagi kalau bukan juragan Gandi. Apa lagi yang akan dilakukan juragan Gandi??


__ADS_2