Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
42.


__ADS_3

" Hmmm" jawab Vendra manggut - manggut.


" Lalu??" tanya Vendra berlanjut.


" Yaaa.. saya ndak tau to Den. Tuan besar disana ngapain saja. Wong saya ndak mbuntuti ( mengikuti)" jawab Pak Darman.


" Kapan Mom di vonis penyakit sialan itu?" tanya Vendra datar.


" Saat kehamilan Aden. Waktu itu diperiksa dan kata mantri ada virus laknat itu" jawab Pak Darman.


" Mantri?? Siapa dia?" tanya Vendra.


" Lah.. itu nanti bisa tanyakan sama Simbok, Den. Sepertinya Simbok tahu semuanya dari Nyonya besar. Kemungkinan Nyonya cerita banyak tentang hal itu" jawab Pak Darman.


" Baiklah. Sekarang saya mau Bapak fokus saja ke jalan. Sebentar lagi akan turun hujan" ucap Vendra datar sembari memainkan ponselnya.


" Dia sedang apa ya?" gumam Vendra lirih.


Pak Darman yang masih tajam pendengarannyapun sampai mendengar gumaman majikannya itu. Senyum simpul terbit di wajah tuanya.


" Yaa, kalau kangen di telpon saja to Den. Lewat ponselnya simbok kan bisa" saran Pak Darman santai.


Vendra seketika menatap tajam ke arah pak Darman. Pak Darman ketakutan saat itu juga. Mata elang nan tajam bak melihat mangsa itu terpampang nyata.


" Ahaaa... ide cemerlang" ucap Vendra dengan tersenyum.


Vendra kemudian mengotak - atik ponselnya itu dan mengetikkan sebuah pesan kepada Mbok Saroh.


" Telpon saja Den, biar ndak penasaran. Cah ayu juga pasti menantikan kabarnya Aden" saran Pak Darman.


" Malu" jawab Vendra lirih.


" Hihi... manten anyar ( pengantin baru) masih malu - malu. Nanti kalau sudah lama juga malu - maluin. Telpon saja, tanya Simbok loh Den. Biar pastinya gitu" ucap Pak Darman.


Vendra segera menelpon Mbok Saroh. Dan ternyata teleponnya tidak diangkat.


" Tidak diangkat. Mungkin Simbok masih sibuk atau tidak dengar Pak. Atau mungkin dimana gitu" jawab Vendra lemas.


" Ya sudah sabar, nanti juga dibalas. Kan Simbokmu itu ndak dua puluh empat jam megangi ponsel terus den. Seringan megangin ulekan. Hahaha" kelakar Pak Darman.


Vendra hanya diam tidak menjawab. Dia sesekali melihat ponselnya untuk memastikan adanya pesan yang masuk.

__ADS_1


Pak Darman yang melihat tingkah Adennya merasa lucu. Selama hidupnya baru sekali ini perubahan drastis yang sangat membuatnya senang sekaligus heran.


Senang karena Adennya sudah bisa membuka kembali lembaran kehidupannya. Dan meninggalkan masa hidup dikutubnya. Herannya, berubah karena seoeang gadis yang jelas - jelas belum dikenalnya sama sekali.


Hanya melihatnya dari atap rumah dan sesekali melihat kegiatan gadis itu. Pak Darman kini hanya bisa memakluminya karena ternyata itu adalah pertanda jatuh cinta. Ya, cinra pertama majikan kecilnya itu.


" Pak, parkir di Villa seperti biasa. Kemarin tentang barang yang ditanamkan di pekarangan belakang rumah sudah dibereskan" terang Vendra.


" Siap Den" jawab Pak Darman.


Pak Darman dengan sigap melajukan kendaraannya dengan sangat lihai. Karena memang dia sudah sangat hafal dengan keadaan dan daerah itu. Sampai lekuk dan terjalnya jalanan sudah sangat dihafalinya.


Tak lama mereka telah sampai di halaman Villa. Sesekali Vendra mengindai matanya menyusuri seluruh halaman Villa itu.


Villa tua peninggalan Papanya yang sangat terawat hingga kini. Kesan angker di Villa ini tidaklah nampak. Karena Vendra kembali merenovasi sedikit bagian yang rusak untuk mengikuti era design modern.


Jadi seperti modern klasik. Dan itu membuat daya tarik orang kebanyakan. Dan bahkan tidak ada sedikitpun orang yang takut jika melewati Villa tersebut. Walau bagaimanapun Villa itu menyimpan banyak cerita dan kejadian yang sampai saat ini belum terungkap.


" Pak, masuk dulu. Sepertinya akan turun hujan" ucap Vendra dengan terburu.


" Ya den" jawab singkat Pak Darman.


Pak Darman segera parkir dan membereskan semuanya. Vendra segera berlalu menuju kamarnya.


" Kenapa juga belum ada jawaban!! Coba telpon Simbok saja deh.." gumamnya.


Vendra segera menghubungi Mbok Saroh. Kini telepon Mbok Saros terdengar sibuk. Kemungkinan sedanf menerima telepon.


" Pak Darman !!" ucapnya pasti.


Tanpa berkata apapun Vendra mencari sosok tua itu. Di segala penjuru ruangan dan segala tempat. Nampaklah sosok yang dicarinya itu berada di halaman belakang dengan menikmati secangkir kopi hangat dan singkong rebus.


Pak Darman tengah sibuk meniup - niup singkong yang sepertinya masih panas. Terlihat dari kepulan asap yang keluar dari singkong itu. Sesekali berceloteh ria dengan menggunakan dialek jawa kentelnya itu.


Tanpa basa- basi Vendra segera meraih ponsel Pak Darman.


" Maaf" ucapnya dengan bahasa bibirnya.


" Hallo... Simbokk!!" ucap Vendra berbinar.


Dan Pak Darman masih dengan kagetnya yang tidak ada angin atau hujan badai dirinya tersambar sengatan. Sengatan kekagetan yang dibuat juragan ciliknya itu.

__ADS_1


Kepalanya kini hanya menggeleng kecil dan sedikit tersenyum simpul.


" Wess to.. anak muda.. " gerutunya santai.


Sesekali Pak Darman melihat ekspresi wajah Adennya itu. Wajah yang sangat jauh berbeda yang belum pernah dia temui. Binar kebahagiaan kini terbingkai jelas diraut wajahnya.


Pak Darman hanya bisa bersyukur dan sangat bahagia jauh didalam lubuk hatinya itu. Hari yang sudah lama dinantinya kini mulai muncul. Bak matahari muncul di ufuk timur.


Yang memberikan sinar cahaya terangnya untuk menyinari seluruh bumi. Kini harapannya hanya ingin, bumi ini masih tetap dengan kesuburan dan kedamaian yang terjaga.


Selesai menelpon Vendra segera mengembalikan ponsel Pak Darman.


" Maaf Pak, saya lancang. Sekali lagi saya minta maaf" ucapnya penuh sesal.


" Ndak apa Den. Wes, ndak perlu di pikirkan. Bapak ikhlas" jawab Pak Darman.


" Aish tidur dengan simbok malam ini. Benar kata Bapak, dia menantinkabar dari saya. Dan dia juga malu untuk menanyakan kabar saya melalui Simbok" ucapnya kemudian.


Pak Darman hanya diam menyimak ucapan kalimat demi kalimat juragan ciliknya itu. Wajah yang bahagia itu kini sangat terlihat dari dekat. Pak Darman tidak mau kehilangan wajah tampan yang kini tengah merajut kasih.


" Gadis malang " gumamnya.


Pak Darman yang mendengar itu langsung menatap tajam Adennya.


" Istighfar Den" ucap Pak Darman.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Vendra.


" Mungkin ini memang takdir Allah, Aden orang baik dan sekarang dapet jodohnya yo wong baik juga. Cah ayu anak yang sholehah Den. Jangan disia- siakan" pesan Pak Darman.


" Iya Pak" jawab Vendra.


" Pak, setelah Ashar segera bersiap" pinta Vendra.


" Loh, mau kemana Den?" tanya Pak Darman penasaran.


" Ini juga masih hujan gede gini Den" sambung Pak Darman.


" Ya, sabar Pak. Nunggu tidak terlalu deras saja kita langsung berangkat. Pelan - pelan saja" ucap Vendra.


" Siap den. Ini den singkong rebus, kata tu si ujang nyabut samping rumah tua. Deket sumur" ucap Pak Darman santai.

__ADS_1


" Kata si ujang rumah tua seperti ada orang di dalamnya. Terdengar rintihan kesakitan katanya" ucap Pak Darman.


__ADS_2