Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
73.


__ADS_3

Entah kenapa membuat para pembaca marah adalah hal yang sangat membuatku lucu. Tersenyum membaca tiap komentar. Terimakasih ya reader sudah selalu setia menanti tiap episode yang author update.


Terimakasih sudah setia menanti. Ada sebab dan lain hal yang membuat author tidak up date. Banyak kendala yang membuat episode terhambat. Sakit yang tidak diduga. Ada kerabat yang membutuhkan tangan ini untuk sedikit mengulurkan tangan.


Menyingsingkan lengan tinggi - tinggi dalam membantu mereka. Dan masih banyak hal lainnya yang tidak author sebut.


Hanya ucapan terimakasih yang tak terhingga uang dapat author ucapkan. Sampai terhura.... eh... terharu membaca tiap komenan.


Komenan yang membuat hati ini selalu nano - nano. Memacu adrenalin ketika membaca. Tapi sangat berkesan dan membangun. Terimakasih pembaca kesayangan. Love you all.....


Mata elang itu terus menajam. Menunggu mata senja itu berkedip mencari kebenaran dan kejujuran yang akan di ucapkan. Tanpa kata Vendra hanya diam menunggu.


" Katakan saja Pak. Jangan ditutupi apapun itu. Kita sudah menjadi keluarga. Bukan begitu Mas?" ucap Aisyah kemudian untuk mencairkan suasana yang sedikit menegang.


" Hmm" jawab Vendra santai.


Masih diam membisu. Tiada kata terucap dari bibir tua itu. Dua orang senja itu hanya diam menunduk. Menimbang apa yang akan diucapkan dan dilontarkan.


" Ayo... katakan!! Apa yang Bapak tutupi dariku?" ucap Vendra yang kemudian tidak sabar.


Hardikan yang begitu kuat memekakkan telinga membuat bulu kuduk berdiri. Mengingat dimana awal Aisyah bertemu dengan suaminya itu. Suara menggelegar dan suara pesakitan menjadi satu.


Jemari mungil mulai terulur antara ragu dan takut. Memberanikan diri mengusap lengan kekar yang ada di hadapnya.


" Masss... sabar" ucap Aisyah.


Bak mantra ajaib. Entah kenapa hati keras itu menjadi melunak mendengar ucapan bak angin semilir.


" Pak... katakanlah..." ucap Aisyah lembut.


" Seb... sebenarnya..." ucap Pak Darman menggantung.


" Jangan ragu Pak. Dan kita tidak punya waktu banyak. Akupun juga butuh medis saat ini" ucap Aisyah.


" Sebenarnya saya mengatakan... kalau... kalau... saya punya anak laki - laki kepada dokter itu" ucap Pak Darman dengan ketakutan.


Diam..


Dan hanya diam. Tidak ada kata berikutnya yang keluar dari keempat manusia itu.

__ADS_1


" Hmmm tidak buruk. Menurutku itu menguntungkan keadaan sekarang ini bukan?" ucap Aisyah tiba - tiba.


Vendra hanya memandang wajah mungil nan ayu itu. Meminta penjelasan apa yang baru saja terlontar.


" Ya benar bukan? Jika tidak dokter itu akan curiga kepada kita Mas. Pak Darman benar mengatakan demikian. Ya, aku tahu tujuannya adalah menyelamatkanmu!" terang Aisyah.


" Dan kedepannya tidak akan mendapatkan pertanyaan yang pelik bukan begitu Pak?" ucap Aisyah.


" Benar Cah Ayu. Takutnya menjadi kecurigaan orang lain. Toh selama ini Den Vendra tidak pernah diketahui orang banyak. Dan mungkin masyarakat pun belum tahu. Dan kami menyimpannya sebagai rahasia" terang Pak Darman.


" Ya, tentu saja karena Mbok juga sudah berada di sisi Mas dari bayi bukan? Hanya Mbok sama Bapak yang selalu ada" ucap Aisyah kemudian.


" Ya memang benar adanya. Tidak ada yang tahu ada makhluk ganteng di rumah penuh misteri ini. Yang kami tahu hanya ada hantu bergentayangan kesana kemari dirumah ini" ucap Aisyah.


" Hihihi" Mbok Saroh terkikik geli.


" Owalah kalau itu memang ada Cah Ayu. Rumah depan pancen ( memang) medeni ( serem)" ucap Mbok Saroh membenarkan.


" Ya sudah. Keputusan sudah benar. Kita pindah rumah belakang!!" ucap Vendra kemudian.


" Baik Den!!" ucap Pak Darman.


" Loh.. ganti baju?? Kenapa??" tanya Vendra.


" Biar gak kelihatan cakepnya Mas!!" gemas Aisyah.


" Kita nyamar sementara Mas!!!" Aisyah mulai sebal dengan Vendra.


" Maklum Cah Ayu... pinternya udah habis. Kepentok cinta maksimallll!!!" ledek Mbok Saroh.


" Hihihi" kikik ketiga orang itu.


Semburat merah di pipi Vendra. Antara malu dan juga masih mode berfikir. Dia memang sedikit kurang mencerna. Entah karena shock atau apapun itu. Karena semua terkesan mendadak dan membuat akal sehatnya sedikit lambat berfikir.


Pak Darman lega karena semua sudah tidak ada masalah yang dia simpan. Melangkah ringan tanpa beban dan akan menjadi rencana kedepan yang jauh lebih baik.


" Baiklah kita dalam keadaan menyamar. Bagaimana dengan Aisyah. Simbok tidak mengatakan juga punya anak perempuan bukan?" tanya Vendra menyelidik.


" Tidak. Kami hanya mengatakan mempunyai anak lelaki semata wayang. Bukan memang begitu?" ucap Mbok Saroh yakin.

__ADS_1


" Baiklah. Kita semua ganti baju" ucap Aisyah.


" Memangnya kamu tahu baju yang seperti apa yang akan kita pakai?" tanya Vendra balik.


" Hmmm setidaknya Mbok saroh dan Pak Darman menjaga image mereka sebagai orang yang sederhana. Walaupun secara kehidupan sebenaranya mereka mempunyai segalanya. Fasilitas pun mereka tak kalah dengan juragan di desaku Mas!!" ucap Aisyah.


" Mbok... sebenarnya dia siapa si?? tahu segalanya tentangku!! Bukankah aku yang selalu meman..." ucap Vendra menggebu yang hampir saja melepaskan rahasianya.


" Meman?? Meman apa Mas?" tanya Aisyah menyelidik.


" Wes.. gimana mau selesai kalau begini? Ndak kelar - kelar. Kita segera pindah ini! Pak' e juga pasti sudah mulai bebenah di rumah belakang. Dan pasti nunggu kita" ucap Mbok Saroh yang mengedipkan mata ke arah Adennya.


" Makasih Mbok" ucap Vendra yang merasa terselamatkan.


Segera mereka membereskan semuanya. Dengan pakaian sederhana mereka segera menuju rumah sederhana yang sengaja di bangun. Ya, Pak Darman berinisiatif untuk membuat rumah sederhana tersebut. Sebenarnya hanya untuk kedok semata.


Melindungi juragan kecilnya yang kini menjelma menjadi lelaki dewasa yang sudah berumah tangga. Seluruh hidupnya hanya untuk mengabdi untuknya. Melindungi dari orang luar yang berbuat jahat dan melindungi dari keluarganya yang siap menghabisinya kapanpun.


Tak ada niat terselubung dalam hati kedua orang tua itu. Hanya melindungi makhluk kecil yang tak berdosa. Makhkuk yang selama hidupnya hanya dimanfaatkan oleh keluarganya. Terutama paman dan bibinya.


Harta!! Itulah yang mereka cari. Vendra merupakan pewaris utama kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Tidak ada yang tahu seberapa kekayaan yang dimilikinya. Warisan dari ibunya yang sangat banyak.


Dan selama hidupnya Vendra menghabiskan menyendiri. Menjadi pribadi yang tertutup. Tak terjamah sedikitpun. Kini ada seorang gadis yang menggebrak dunianya.


Aisyah.....


Rumah sederhana dengan taman cantik dan berbagai sayuran tumbuh dengan subur. Aisyah terpana melihat rumah itu. Aisyah mulai berpikiran liar akan dunia luarnya. Tidak terkekang dalam rumah mewah dengan segala fasilitas yang ada.


" Mas...." ucap Aisyah lembut.


" Jangan meminta apapun melebihi batasan Aish...!!" ucap Vendra lembut.


" Baiklah...." jawab Aisyah lemah.


Mbok Saroh hanya mendengarkan pembicaraan keduanya. Senyum dengan ukiran lekukan kulitnya yang sudah kesana kemari memahami apa yang ada di pikiran nyonya kecilnya.


" Sesekali... boleh Cah Ayu kemari" ucap Mbok Saroh menimpali.


" Massss...." ucap Aisyah dengan binar bahagia.

__ADS_1


" Dengan syarat!!" jawab Vendra kemudian.


__ADS_2