Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
31.


__ADS_3

" Hmm, karena dia yang membuatku jadi begini!!" ucap Vendra lirih.


Pak Darman mengusap bahu Vendra lembut dan memberikan belaian menenangkan layaknya seorang ayah.


" Yang membuat janggal, Setelah melahirkanmu Ibumu dibawa ke Villa dimana kamu tinggal sekarang. Disana Ibumu seperti dikucilkan dan diisolasi dari banyak orang. Bahkan dokter yang menangani Ibumu pun tak tahu keberadaannya"


" Saya pun juga tidak paham, hanya Saroh yang diikut sertakan ke Villa. Dan saya juga menyusulnya setelah nyonya Erika meninggal. Kejadian itu tidak lama setelah aden lahir" ucap Pak Darman menimpali.


" Saya juga diberhentikan oleh juragan besar saat Nyonyq Erika dibawa ke Villa putih. Diberi upah besar dan setelah itu saya menjadi kuncen menggantikan mendiang bapak saya" ucap juru kunci.


" Meninggalnya nyonya Erika tidak ada yang tahu, tapi juragan besar menutupi dengan sakit pasca melahirkan aden" ucap juru kunci.


" Lalu, apakah Ibu dibawa kesini untuk di makamkan?" tanya Vendra.


" Hmm.... Darman kamu yang menceritakan untuk hal ini. Saat itu akupun ndak ditempat itu" ucap juru kunci.


" Saat berita itu sudah sampai di Villa puncak, Saroh menangis sesenggukan saat bercerita. Kalau Nyonya Erika meninggal dan mayatnya dibawa juragan besar ke Villa puncak. Saat itu sudah ada telepon. Tapi saat itu, kami para pekerja di rumah tidak diperbolehkan mengatakan apapun berita kematian Nyonya Erika" cerita Darman.


" Juragan besar membawa jasad Nyonya Erika yang sudah di kafani. Dan segera dibawa masuk. Segera kami para pekerja di perintahkan untuk membantu pemakaman. Saya segera menuju kerumah Mbah untuk menyiapkan pemakaman. Dan semua pekerja menguburkan Nyonya malam hari. Agar tidak di lihat orang - orang" ucap Darman dengan sedikit berembun di matanya.


" Juragan besar sangat tega dengan Nyonya Erika. Wanita yang sangat baik dan mengabdikan diri sepenuh hati hanya untuk suaminya. Meninggalkan keluarganya di Eropa hanya untuk bersama juragan besar. Sudah ditularkan penyakit, meninggalpun pemakaman tidak layak" ucap Pak Darman tak kuasa menitikkan air mata.


" Akhirnya kenapa saya setiap satu bulan sekali kesini. Ya, untuk ziarah makam Nyonya. Saroh dan Saya juga sudah melaksankan kirim doa setiap peringatan dibantu Mbah" ucap Darman.


" Lalu setelah kematian Ibu. Bagaimana dengan nasibku Pak?" tanya Vendra antusias.


" Di keluarga juragan besar, semua menuduh penyakit itu karena Nyonya Erika yang menularkan. Karena mereka berfikir, orang luar negri terbiasa melakukan hubungan suami istri bebas" jawab Pak Darman.


" Di fitnah!!" jawab Vendra geram.

__ADS_1


" Siapa?" tanya Vendra tajam.


" Siapa yang memfitnah Ibuku?" tanya Vendra sedikit marah.


" Bibi Aden sendiri dan Paman Aden" jawab Pak Darman.


" Aku ingat Man, berati yang saat itu ribut - ribut harta warisan Aden bukan?" tanya Mbah juru kunci.


" Ya... !!" jawab Darman.


" Warisan??? Warisan apa?" tanya Vendra tidak tahu.


" Bukankah hanya Villa dan sepetak kebun yang Papa tinggalkan untukku?" tanya Vendra.


" Ya Den, itupun sisa hasil perebutan Paman dan BiBi Aden" jawab Darman.


" Berdebatan harta yang cukup sengit, Pak Darman segera membawa sertifikat dan beberapa uang tunai serta mobil untuk di bawa pergi sesuai perintah juragan besar. Sementara Arman dan Dina masih memperebutkan harta yang lain. Cek cok pun terjadi, hingga mereka saling lepas kendali. Dan, sebuah peluru menancap dengan cepat. Tepat di jantung juragan besar. Saya yang mendengar keributan dari luar segera masuk" terang juru kunci.


" Juragan besar sempat meminta tolong kepada saya. Saat saya akan mendekat Bu Dina merebut pistol dari Pak Arman dan kembali menempak juragan besar. Saat itu pekerja yang lain sudah tidak ada. Hanya saya saja yang kembali karena saya akan mengambil beberapa barang saya setelah juragan besar memberhentikan saya tanpa alasan yang jelas" terang juru kunci.


" Dan saya mendapat ancaman tentang kejadian yang menimpa juragan besar. Jika saya mengatakan tentang pembunuhan itu, maka saya dan keluarga saya akan segera dihabisi. Dan, saat itu mereka banyak sekali membawa anak buah dan centeng - centeng suruhannya. Setelah itu saya tidak tahu lagi keberadaan juragan besar. Dimakamkan dimana pun saya tidak tahu" jawab juru kunci lesu.


" Hmmmm... rumit !! Ternyata keluargaku hancur karena harta dan kekayaan" jawab Vendra.


" Ya, dan Aden juga sudah tahu bukan? Kemarin mereka berbuat apa kepada pekerja? Mereka masih mengincar harta itu. Mereka pikir harta itu milik juragan besar hasil dari orang tua mereka alias kakek aden" ucap Darman menimpali.


" Hmm Den, kalau boleh tahu. Apa yang Aden bawa?" tanya juru kunci penasaran.


" Hmm, Pak!!" ucap Vendra memerintahkan Pak Darman menjelaskan.

__ADS_1


Kendil itu segera diberikan kepada Pak Darman. Pak Darman menerima dengan hati- hati.


" Bukalah, dan periksalah dengan teliti!!" pinta Darman kepada juru kunci.


Juru kunci segera membuka dan melihat apa isi dari kendil itu. Dan sedikit abu yang ada. Juru kunci itu sudah tahu apa yang dibakar dan menjadi abu itu. Tapi untuk tanah dan paku tidak ikut terbakar.


Diambilnya tanah itu dan di hirup bau tanah itu. Diusapnya oleh juru kunci. Vendra dan Pak Darman memperhatikan dengan teliti.


" Ooo semprulll!!! Demang .. Demang ora tau berubah, ndak pernah berubah!! Sopo sik ngrusuh, Siapa yang mengusik?" ucap juru kunci geram.


" Man, ini lemah pekuncen wingit. Itu makam yang sebelah sana" ucap juru kunci dengan menunjuk arah.


" Yang bisa ngambil cuma saya dan orang - orang yang diijinkan dengan baik atau dengan cara kotor saja. Jika dia tidak mempunyai ilmu dia tidak akan kuat setelah mengambilnya!!" ucap juru kunci.


" Sekutu dengan setan!!" ucap juru kunci.


" Mbah tau orangnya??" tanya Vendra.


Juru kunci memperhatikan kedalam mata Vendra yang sedikit berbeda. Disana terdapat jawaban yang pasti dan bisa menolong Vendra.


" Demang hanya disuruh orang. Dia dukun di desa ini Den. Suatu saat ada seorang gadis yang akan membantu menyelesaikan semua ini Den. Cepat atau lambat aden akan bertemu dengannya!" jawab juru kunci.


" Aisyah " celetuk Pak Darman.


Juru kunci hanya menoleh ke arah Darman. Kemudian mengangguk dan tersenyum. Vendra langsung paham dengan maksud itu.


" Den, kendilnya tak simpen saja. Nanti tak kembalikan ke wingitan sana. Biar tidak terjadi sesuatu. Aden ndak perlu khawatir jika bersama gadis itu" jawab juru kunci tersenyum.


" Ya sudah Mbah, aku tak pamit. Kami akan segera kembali ke Villa putih. Dan segera menunaikan hajat. Kami kesini hanya melihat keadaan. Tolong kabari kalau ada berita apapun" pamit Pak Darman.

__ADS_1


__ADS_2