Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
55.


__ADS_3

" Masss!!" sentak Aisyah sedikit kaget.


Wajah cantik dengan hiasan rona merah di pipinya tak tahu malunya muncul begitu saja. Hawa panas dan dingin dengan diiringi suara detak jantungnya yang kian tak terkira membuat kegelisahan dan kegugupan yang tak terbendung.


" Ma... maaf" ucap Aisyah gugup.


Tangan kekar yang selama ini dilihatnya kini terjulur seperti akan melayang ke wajahnya. Direkatkanlah mata indah itu dengan penuh kewaspadaan. Pipi dengan perona merah alami itu merasakan kehangatan yang menjalar.


" Ahh " sentak Aisyah yang mulai membuka mata pelan.


Terbitlah senyum terindah dari wajah tampan suaminya. Garis tegas yang mendominasi dengan hidung mancung bak gunung berapi kini tepat di depan netranya.


" Kenapa hmm?" tanya Vendra.


Suara bariton yang menggema bak seperti alunan yang mendayu. Suara yang biasanya terdengar ketus dan tegas itu kini terdengar sangatlah empuk dan sedap di dengar.


" Emmmbb" jawab Aisyah gugup.


Di dongakkannya dagu lancip milik gandis cantik itu. Tetapi mata indah yang dirindukannya masih dengan arah tunduk karena ketakutan kini mendominasi dalam dirinya.


" Kenapa?" tanya Vendra lagi.


" Gugup? Ataukah? Aku yakin ini yang pertama untukmu!" ucap Vendra yang sedikit panjang.


Tak pernah terdengar banyak pertanyaan dari mulut manis lelaki itu. Teriakan dan suara ketus saja yang setiap kali menggema di telinga Aisyah. Kini mata bulat cantik telah membuka sempurna. Mengerjap - ngerjap dengan indah untuk menetralka kebingungannya.


" Apakah ini monster yang ku kenal? Ataukan orang lain yang merasuki jiwanya? Atau dia kesurupan?" batin Aisyah.


" Jangan bilang aku kesurupan !! apa yang kamu pikirkan hm?" tanya Vendra yang seolah mengerti dengan pikiran gadisnya itu.


" Ahh tidak" jawab Aisyah dengan menggelengkan kepalanya pelan sembari menepis tangan kekar itu.


Tak sampai disitu saja, tangan itu masih memegang jemari mungil milik sang pemilik hati. Ditautkannya dengan lembut untuk menciptakan perasaan nyaman untuk gadisnya itu. Ya, gadisnya. Toh nyatanya memang dia belum pernah menyentuh Aisyah.


" Apa yang terjadi?" tanya Vendra lembut.


Aisyah kini bingung dan menatap kedua mata tua yang tengah tersenyum dan menunggu penjelasannya. Kini gadis itu sadar akan tingkah suaminya yang baru saja dilakukan.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah kaget.

__ADS_1


" Kenapa cah ayu?" tanya Mbok Saroh kaget.


" Malu hmm?? Ada mereka?" tanya Vendra sedikit menggoda.


Aisyah hanya menundukkan wajahnya. Menekan rasa malu yang membuncah di hatinya. Tapi Vendra masih dengan setia mengusap jemari mungilnya dengan lembut. Memberikan efek sedikit tenang di hatinya yang entah bagaimana harus dia ekspresikan.


" Apa yang terjadi?" tanya Vendra kembali.


" Ahhh..." Aiyah tersentak karena teringat sesuatu.


" Mas..." ucap Aisyah.


" Ahh.. maaf tuan" ucap Aisyah kembali membenarkan ucapannya.


Ditundukkan wajah malu dan sangat beraninya menyebut suaminya " Mas" . Dia sudah paham dengan pernikahan ini. Pernikahan diatas kertasnya. Dia hanya sebagai penumpang di rumah ini.


" Maaf tuan" sekali lagi Aisyah berucap.


" Aku suka dengan panggilanmu untukku, 'mas'" jawab Vendra cepat.


" Ahh ... untuk itu maaf saya sudah lancang Tuan" ucap Aisyah menyesal.


" Mas !! Ingat Aisyah!!" ucap Vendra meninggi.


" Baiklah... m..mas" ucap Aisyah terbata.


" Hmmm bagus!!" jawab Vendra dengan mengusap pucuk kepala gadisnya.


" Mas, Mbok, Pak .." ucap Aisyah yang kini teringat apa yang terjadi.


Ketiga orang itu masih diam tanpa jawabannya. Tetapi seluruh pasang mata tertuju pada sang sumber suara. Tahu akan tatapan dari mereka Aisyah segera menceritakan apa yang dialaminya baru saja.


" Ada makhluk aneh dalam mimpiku. Dan ada seorang wanita yang meminta tolong. Wanita itu merintih kesakitan seperti sedang di sandera, di sekap bahkan dianiaya. Entah apa maksud mimpiku" ucap Aisyah lesu.


" Benar Den, dugaan kita tepat!!" ucap Pak Darman spontan.


" Dugaan??" tanya Aisyah mengernyit.


" Mas, tolong jelaskan" Aisyah berucap.

__ADS_1


Aisyah kini menodong suaminya untuk menjelaskan apa yang diucapkan oleh Pak Darman baru saja. Ataukah hanya sebuah kesalahan saat berbicara. Masih dalam mode meminta penjelasan kepada Vendra. Mata bulat itu belum juga mengerjap dan terus menatap wajah tampan sang lelaki.


" Baiklah, akan mas jelaskan. Dengarkan dengan baik. Mas tidak akan mengulanginya lagi. Jangan pernah memotong apapun saat mas jelaskan. Dan simpulkan sendiri menurut pendapat kamu!" ucap Vendra panjang dan tegas.


" Baiklah" jawab Aisyah dengan menganggukkan kepala.


" Sebenarnya.... kepergian kita hari ini adalah....." ucap Vendra yang sedikit berat dengan ******* nafasnya.


" Kita pergi ke rumah tua" ucap Vendra.


Mbok Saroh langsung terbelalak. Seperti ada keterkejutan yang sangat di mata tuanya.


" Ya, rumah tua. Rumah tua yang ada di rumah utama. Di sana terdengar ada suara seseorang yang merintih. Tapi... bukan itu yang menjadi tujuan utamaku. Aku pergi ke suatu tempat. Di dusun sebelah rumah utama. Di sana ada seseorang yang aku temui bersama Pak Darman" terang Vendra.


" Maaf Den, Mbok sela yo" ucap Mbok Saroh menginterupsi.


" Bukannya desa sebelah itu ndak ada Den? Dan, bukankah itu sebagian hanya hutan belantara? Dan kata orang - orang setahu simbok dulu ada sebuah makan di dalam hutan itu" ucap Simbok.


" Benar begitu Bune?" tanya Pak Darman tidak percaya.


" Ya benar, dulu pernah kan Simbok diajak Nyonya besar mengelilingi hutan itu. Dulu Nyonya masih paham betul jalan lintasnya. Entah sekarang, mungkin sudah tertutup semak belukar atau ilalanh tinggi" terang Mbok Saroh.


" Tidak adakah penduduk satupun di dalam hutan?" tanya Pak Darman kembali.


" Kata Nyonya hanya sebuah makam. Ya memang makan itu dibuat seperti rumah joglo yang bagus. Kemungkinan ada orang yang merawat atau dibayar untuk merawatnya. Karena setahuku Makam milik seorang Kyai di daerah itu" ucap Mbok Saroh.


" Kyai?" tanya Vendra.


" Ya... namanya siapa yaa... lupa simbok..." ucap Simbok yang berusaha mengingatnya.


" Ya sudah, tak apa Mbok. Sembari mengingat - ingat. Jangan di paksakan. Nanti juga akan ketemu sendiri jika sudah terberslit ingatan itu" ucap Vendra kemudian.


" Kami pergi menemui seorang yang mengetahui sesuatu hal yang ingin kami ketahui. Dia gurunya si Tarno. Katanya mau ngantar kita ke suatu tempat. Dan kita hanya mengikuti saja" terang Vendra.


" Singkat cerita, kami mengikuti semua petunjuk yang sudah diberikan. Dan sampailah di sebuah rumah bentuk joglo. Dan ada seseorang penghuni di situ dan mereka sudah menemukan orang yang kita cari untuk meminta keterangannya"


" Loh.. Aden sama Pak'e masuk hutan? Lah di desa itu kan hutan itu Pak!!" Seru Mbok Saroh.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Vendra kemudian.

__ADS_1


" Wes.. ceritakan dulu Den.. biar Ndak terjeda lagi" ucap Pak Darman.


" Dan kami berinisiatif membawanya setelah ada kejadian yang aneh dirumah tersebut. Banyak kejanggalan yang terjadi. Dan kata Tarno kita tidak boleh mengatakan apapun, bertanya bahkan menoleh kebelakang" terang Vendra kemudian.


__ADS_2