Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
72.


__ADS_3

" Entah!!" jawab Menik sekenanya.


" Jangan bercanda!! Ini nyawa orang Nik!!" ucap Aisyah sedikit meninggi.


" Heh... gadis judes. Lama - lama kamu cepat tua. Marah terus kerjaannya. Hihihi...." ledek Menik.


Mata bulat cantik itu kini menjelma bak mata elang yang mengintai mangsanya. Tajam dan membunuh tanpa ampun. Dan Menik merasakan kekuatan yang begitu mencekik lehernya hingga sedikit susah bernafas.


" Mantra apa yang kau baca???" tanya Menik dengan sedikit tersengal.


" Cukup Aish... Sorry... dorry ... morry... maa... aff" ucap Menik semakin tercekat.


Aisyah segera menutup matanya sekilas.


" Shadawallahul ' adziim" ucap Aisyah dalam hati.


" Haaahhh... haaaaahhhh" engah Menik.


" Sebenarnya mantra apa yang kamu baca?? Kamu bisa membunuhku!!" ucap Menik kemudian.


" Tidak ada mantra. Dan aku tidak pernah mempelajari mantra!" jawab Aisyah cuek.


" Haaahhhh!!! Gadis juteeeekkk!!" sarkas Menik.


" Hahahahah" ledek Aisyah.


Menik hanya memandang tawa gadis yang ada di depan matanya.


" Cantik!!" ucap Menik kemudian.


" Apa??" tanya Aisyah yang tiba - tiba berhenti setelah mendengar menik berkata.


" Tidakkk. Aku tidak mengatakan apapun!" kembali Menik berkata demikian.


" Jadi... apa mantra itu?" tanya Menik yang masih penasaran.


" Jika kamu penasaran. Masuklah agama yang ku peluk dan ku anut dengan sepenuh hati!!" ucap Aisyah.


Menik diam dan berfikir. Menimbang dan mengingat bahwa di alamnya belum ada yang memeluk agama seperti Aisyah. Ragu menelusup hingga ke relung jiwa.


Tak dapat dipungkiri, hatinya begitu bimbang. Bagaimana kehidupan selanjutnya di alamnya itu? Apakah ada teman atau tidak? Apakah dia bisa menjadi manusia yang tawaduk?


" Apakah itu akan menjamin hidupku?" tanya Menik kemudian.


" InsyaAllah " jawab Aisyah dengan tersenyum.


" Berat tidak menjadi manusia sepertimu?" tanya Menik yang penasaran.

__ADS_1


" Huhhh... kapan - kapan aku jelaskan. Sebaiknya kita bahas masalah ini dulu. Lihatlah dua lelaki besa usia itu sudah menungguku!!" ucap Aisyah menyadarkan pembahasan itu.


" Hmmm baiklah. Nanti kalau aku sudah pulih aku akan kembali bertanya tentang apa?? Apa katamu tadi??" tanya Menik.


" Islam dan menjadi muslim" jawab Aisyah.


" Yaaa... itu... baiklah. Ngomong - ngomong soal wanita jelek itu... Sepertinya dua sampai tiga hari akan bangun. Sebaiknya gunakan alat medis untuk membantu pemulihannya!!" terang Menik.


" Tapi... kita hidup memang sengaja menjauh dari orang lain!!" jawab Aisyah bingung.


" Ahhh... laki - laki itu. Laki - laki yang takut keramaian. Laki - laki yang aneh!! Dia memang seperti drakula yang tak mempunyai taring!!" ejek Menik.


" Hissss kamu. Begitu juga suamiku. Lalu bagaimana solusinya untuk itu Menik??" tanya Aisyah bingung.


" Diskusikan kepada Pak tua itu. Dia orang bijak. Pasti akan mrngambil langkah seribu" jawab Menik santai.


" Pak Darman??" tanya balik Aisyah.


" Ya tentu saja. Dan, wanita tua yang selalu di sampingmu itu. Dia akan membantu dengan sigap. Jangan pernah tinggalkan wanita jelek ini!!" ucap Menik.


" Dari tadi kamu menyebutnya wanita jelek? Kenapa Menik?" tanya Aisyah penasaran.


" Dia memang berhati busuk. Lebih busuk dari bangsaku di alamku. Dia jahat Aish. Tidak sepertimu. Badanmu bercahaya. Hatimu saja tak mampu ku tembus. Seperti transparan. Tidak bersekat maupun berongga. Semua bersih!!" terang Menik.


" Jika sudah sadar wanita ini. Jangan pernah lepaskan. Dia saksi kunci suamimu!!" ucap Menik.


" Sama - sama Aish. Baiklah aku akan kembali kr alamku. Capek ngurusin manusia begini !!" ucap Menik sarkas.


" Oke.. oke.. baiklah. Kembalilah. Dan terimakasih banyak. Istirahatlah!!" ucap Aisyah.


wusshhhhh


Sekelebat bayangan itu telah hilang. Tak nampak di depan matanya. Vendra yang melihat istrinya hanya diam seperti orang melamun itu kini menepuk pelan bahunya.


" Aisyah...." panggil Vendra.


" Hmmm" jawab Aisyah seraya kembali ke mode alamnya.


" Bagaimana? Malah ngelamun!!" ucap Vendra.


Aisyah tidak menjawab apapun. Mata bulat itu kini meniti dan memindai mencari sosok tua yang di maksud Menik, mbak kunti yang mengatakannya.


" Hmm... Pak.. tolong bawa orang ini ke rumah sakit atau apapun yang menurut Bapak aman. Berikan dia bantuan medis secepatnya!!" ucap Aisyah.


" Aish.. disini ada aku. Kenapa kamu malah mengatakan kepada Pak Darman?" tanya Vendra sedikit kecewa.


" Mas... tidak ada waktu banyak sebelum nafasnya terputus. Dan, bukankah kita memang tinggal jauh dari orang banyak? Dan apa itu bukankah pengasingan? Tentu aku mempertimbangkan itu!" jawab Aisyah.

__ADS_1


" Pak... tolong urus bersama Simbok. Secepatnya Pak!" pinta Aisyah.


" Aku yang menentukan ini semua Aisyah!!" ucap Vendra meninggi.


" Baiklah. Tentukanlah jika memang Mas berkuasa dan berkehendak. Terserah bagaimana Mas akan memperlakukan orang ini. Tapi jika lewat, maka jangan pernah kecewa seumur hidup Mas!!" ucap Aisyah.


" Sudah.. sudah... " ucap Mbok Saroh.


Wanita renta itu tiba - tiba datang dengan peralatan yang dibutuhkan. Sementara Pak Darman mulai pusing menghadapi tuan dan nyonya kecilnya saat ini.


" Begiji saja Den. Panggil dokter Haris saja. Dokter yang biasa menangani kami jika kami berobat!" ucap Mbok Saroh.


" Ya, usul saja sih Den!!" ucap Mbok Saroh.


" Tapi... bagaimanaaa..." ucap Vendra menggantung.


" Tenang saja. Nanti kita pindahkan bidan ini ke rumah belakang Paviliun. Kan Setahu dokter Haris memang kita tinggal di sana. Benarkan Pak?" tanya Mbok Saroh ke Pak Darman.


" Hmmm benar juga. Den... dokter Haris memang pernah saya undang untuk memeriksa simbok di rumah belakang paviliun" ucap Pak Darman menbenarkan.


" Lancang !! Bagaimana kalian bisa begitu tanpa sepengetahuanku?" ucap Vendra yang merasa di bohongi.


" Maaf Den, waktu itu keadaan mendesak. Simbok sudah tidak tahan sakitnya. Sakit kepala heba seperti dunia berputar - putar. Bahkan rasanya tubuh ini tidak berpijak" terang Mbok Saroh menjelaskan.


" Mas.. sudahlah. Nanti kita atur. Simbok juga tidak salah. Demi kemanusiaan" ucap Aisyah lembut.


Aisyah mengetahui suaminya mulai kecewa dan marah. Tapi dia tahu tindakan Mbok Saroh dan Pak Darman sangat mengancam keberadaannya.


" Mas, toh orang tidak tahu rumah ini yang sekarang bukan? Bukankah orang - orang desa tahunya hanya rumah putih angker di depan sebagai cover halaman rumah ini?" ucap Aisyah kemudian.


" Aku juga butuh medis Mas. Lihatlah badanku. Semuanya lecet. Aku juga butuh asupan vitamin dan obat - obatan di tubuhku!" ucap Aisyah menegaskan.


" Hufffttt.... kamu sendiri yang nakal. Ngrogoh sukmo tanpa ijin dariku!!" ucap Vendra dengan menoel hidung mungil istrinya.


" Lolos kalian!! " ucap Vendra dengan menunjuk Pak Darman dan Mbok Saroh.


Aisyah tersenyum senang melihat hal itu. Binar mata kedua orang tua itu sangat bahagia. Hingga terpancar bak ucapan terimakasih kepada nyonya kecilnya itu.


" Pak, urus sesuai permintaan istriku" ucap Vendra tegas.


" Terimakasih Mas" ucap Aisyah senang.


" Baik Den. Kita pindab dulu di rumah belakang. Den..." ucap Pak Darman terhenti.


" Kenapa Pak?" tanya Vendra penasaran.


" Emmmm Maaf Den... saya lancang....sayaa...." ucap Pak Darman ragu - ragu.

__ADS_1


__ADS_2