Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
35.


__ADS_3

" Selamat ya nduk, Simbok berdoa supaya pernikahan kalian till jannah" ucap Mbok Saroh.


" Amiin. Terima kasih Mbok" jawab Aisyah dengan senyum yang di paksakan.


Tidak banyak yang hadir di acara pernikahan itu. Karena memang kedua belah pihak tidak mempunyai orang tua dan sanak saudara yang mereka punya.


Sebenarnya ada tetapi karena banyaknya permasalahan yang terjadi, Vendra menutup diri dari kerabatnya.


Pernikahan sederhana yang telah disiapkan oleh Vendra dan beberapa orang kepercayaannya sudah berlalu dan lancar.Vendra merasa cukup puas dengan pekerjaan mereka.


Setelah acara itu usai, kini sepasang pengantin tengah duduk berdua di salah satu kamar hotel yang disewanya. Melaksanakan malam pertama pernikahan bersama pasangan.


" Mandilah.." ucap Vendra datar.


Aisyah tanpa menjawab segera berlalu masuk ke kamar mandi. Dia juga merasa sudah cukup gerah dengan semua yang di pakainya. Sangat sesak dan tidak dapat bergerak dengan bebas.


Sedangkan Vendra meminta Pak Darman untuk membelikan baju untuk Aisyah tidur dan untuk besok saat pulang keluar dari hotel. Tentu saja baju untuknya ikut serta dalam list permintaan barang.


Aisyah tidak bingung saat membuka baju pengantinnya karena memang kebaya pengantin yang dipakainya sangat memudahkannya untuk melepas sendiri.


Vendra juga memesan makanan dan minuman untuknya dan Aisyah. Lapar, tentu saja. Setelah menjalani prosesi ijab qobul yang menurutnya sangat menguras tenaga dan pikirannya.


Tok


Tok


Tok


" Den..."


Vendra sudah tahu siapa yang mengetuk pintu dari luar. Dia segera beranjak dan membuka pintu.


" Terima kasih Pak. Bapak dan Mbok istirahat dikamar sebelah. Sudah saya booking. Pulang bersama besok pagi saja" perintah Vendra.


" Baik Den. Terimakasih" jawab Pak Darman.


" Saya yang terima kasih pak" ucapp Vendra tulus.


Pak Darman segera berlalu masuk kamar bersama Mbok Saroh. Vendra sudah memesankan makanan untuk mereka juga.


Vendra segera duduk di kursi sudut kamar itu. Memang dia tidak menyewa kamar mewah untuk mereka berdua. Yang terpenting nyaman dan bersih.


Aisyah sudah selesai mandi. Dia segera keluar dengan menggunakan bathtroubenya. Dan segera memakai hijabnya walau dalam keadaan rambut yang masih basah.


Vendra memindai istrinya dari atas kebawah. Tak disangka gadis yang selalu ingin dia lindungi ternyata sudah dalam pelukannya. Melihat apa yang digunakan istrinya Vendra merasa aneh.


" Kemarilah... Duduk!!" perintah Vendra singkat.

__ADS_1


Tanpa menjaaab Aisyah segera duduk.


Dibukanya hijab yang menutupi kepala Aisyah dan Vendra mengambil handuk untuk mengeringkan rambut Aisyah.


" Tu..tuan..Maaf" ucap Aisyah.


Dia segera menutup kembali hijabnya.


" Ohhh... Aisyah... kamu sudah halal bagiku! Dan aku berhak atas dirimu" ucap Vendra penuh dengan penekanan.


Dengan ragu - ragu Aisyah membuka hijabnya perlahan. Vendra yang tidak sabar dengan cepat ikut menyambar hijab itu dan segera menaruhnya di meja rias.


Vendra mengambil handuk kembali dan mengusap ke kepala Aisyah. Aisyah hanya diam saja. Bola matanyapun tidak berani menatap wajah suaminya walau dari pantulan cermin.


Di hotel itu sudah dilengkapi dengan pengering rambut walaupun masih dengan model judul.


Vendra dengan telaten mengeringkan dengan Hairdryer itu dan dengan menyisir perlahan rambut istrinya.


Rambut hitam lebat dan panjangnya sepunggung. Pas dengan wajah istrinya yang sangat ayu walaupun tanpa make up.


" Aku tidak akan meminta hakku sekrang kepadamu. Tapi layani aku sebagaimana kamu melayani suami. Kamu paham?" ucap Vendra.


Aisyah hanya mengernyit mencerna ucapan dari Vendra.


" Jangan pernah memanggilku tuan lagi. Karena sekarang aku adalah suamimu. Terserah padamu kamu mau memanggilku apa" ucap Vendra.


Aisyah tidak menjawab apapun hanya menganggukkan kepalanya. Dia hanya diam mencerna setiap kalimat uang Vendra katakan.


" Besok kita akan kembali ke rumah. Istirahatlah. Aku akan mandi sebentar" perintah Vendra.


" Iya Tu.. maaf maksud saya .. Mas" ucap Aisyah sedikit gugup.


" Hmmm.." jawab Vendra datar


" *Mas.." batin Vendra.


" Lumayan. Dan itu membuatku sangat nyaman" ucap Vendra dalam batinnya*.


Vendra segera masuk kedalam kamar mandi. Ketika masuk kedalam kamar mandi ternyata Aisyah sudah menyiapkan air mandi hangat. Sesuai dengan seleranya dan sedikit aromateraphy yang sudah disiapkan oleh hotel.


Dia kemudian keluar kamar mandi. Masih dengan bathrobenya pula.


Tok


Tok


Tok

__ADS_1


Vendra segera menuju pintu dan membuka pintu. Ternyata pelayan hotel yang membawakan makanan yang sudah dipesannya tadi.


" Kenapa belum ganti pakaian?" tanya Vendra.


" Saya lupa membawa baju Mmas" ucap Aisyah terbata.


" Hmmm.. maaf. Aku lupa. Papperbag itu ada baju untukmu. Pakailah" ucap Vendra.


Aisyah segera mengambil papperbag itu dan membawanya ke kamar mandi. Ternyata benar, baju untuknya. Bahkan sangat komplit beserta baju **********.


Dipakainya baju tidur itu. Mbok Saroh membelikan baju tidur dengan lengan panjang. Vendra pun segera memakai baju tidur yang sudah dimintanya juga kepada Pak Darman.


Ketika keluar kamar mandi, Aisyah tertegun. Tertegun bersamaan saat dua pasang mata saling berpandangan dan melihat satu sama lainnya. Bajunya ternyata kembaran alias couple.


Senyum itu terbit di rahang kokoh milik Vendra. Seketika Aisyah terpana melihat senyum langka itu.


Dia kemudian ikut tersenyum melihat suaminya tersenyum. Ada arti dibalik senyum mereka.


" Couple" jawab mereka bersamaan.


Seketika tawa mereka berdua pecah.


Bahkan rasa canggung mulai memudar diantara mereka berdua.


" Aish..." panggil Vendra.


" Aish?? Dari mana dia tahu panggilan itu. Hanya Bapak dan Ibu yang memanggilku dengan sebutan itu. Dia.. kenapa dia mengetahuinya?" batin Aisyah.


" Kemarilah, kita makan malam bersama. Anggap saja candle light dinner. Walaupun tidak ada lilin" ucap Vendra.


Aisyah segera mendekat dan duduk disamping suaminya. Aroma maskulin menyeruak hingga rongga hidungnya. Membuat nyaman berada di samping suaminya itu.


Rambut yang dulu berantakan kini sudah terpotong rapi, bahkan jambang dan kumisnya dipangkas habis tak tersisa. Kini hanya ada wajah tampan dengan rahang kokoh yang sangat menawan berada di sampingnya.


Vendra yang tahu istrinya masih memandanginya, tidak berkata apapun. Hanya mendiamkannya saja. Membiarkan istrinya menikmati zetiap inci wajahnya.


" Kamu tidak akan kenyang jika melihatku saja. Makanlah!" ucap Vendra.


Aisyah langsung tergagap dari tatapannya. Malu, sangatlah malu telah tertangkap basah sudah memandangi wajah suaminya yang begitu menawan.


" Baru tahu suamimu sangat tampan. Hmmm??" ucap Vendra bangga.


Aisyah hanya tersenyum dan tertunduk malu. Dia segera menyendok makanannya dan memasukkan makanannya untuk menghindari rasa malu.


" Kenapa sekarang kamu irit bicara? Bukankah kamu suka sekali berbicara? Bahkan kamu seorang guru. Tidak ada seorang guru yang selalu diam dan bungkam" ucap Vendra.


" Dan baru aku tahu ternyata Mas juga banyak sekali bicara" ucap Aisyah tanpa menjeda setelah Vendra berbicara.

__ADS_1


" Aku sangat suka itu mas" ucapnya lagi.


__ADS_2