
Mereka semua segera keluar masuk ke dalam mobil dengan sangat cepat. Vendra dan Pak Darman yang tak kalah panik karena mereka melihat sesuatu yang sangat menyeramkan.
" Cepat !!!" teriak Pak Yusuf.
Pak Darman segera melajukan mobil dengan sangat gesit. Tanpa berpikir panjang dia melajukannya denga kecepatan yang entah berapa.
" Jangan lewat situ !!!" ucap Pak Yusuf.
" Lewati pohon besar itu!!" teriak Pak Yusuf kembali.
" Tapi.. didepan tidak nampak jalan sedikitpun Pak!!" jawab Pak Darman.
" Cepat !! Tidak perlu anda jawab!! Sebentar lagi akan rubuh!!" ucap Pak Yusuf kemudian.
Dan benar saja, Pak Darman segera menerobos dengan kecepatan tinggi dan selalu membaca doa. Tak lepas dari mulutnyapun selalu bermunajat meminta perlindungan dari Sang Illahi Rabbi.
Vendra yang sudah mulai memucat hanya diam dan selalu berkomat kamit merapalkan doa - doa yang dia mampu. Sedangkan Pak Yusuf turut serta membaca ayat suci Al - Quran.
Duuuuaaarrr... Prrraaakkkkk
Suara itu sangat keras dan semua hanya bisa memejamkan matanya seraya berdoa memohon perlindungan dari sang pencipta.
Pak Darman sedikit mengintip kedepan dengan apa yang terjadi dan bunyi apa yang terdengar. Dia memberanikan diri membuka matanya lebar - lebar. Dalam keadaan mobil yang masih menyala dan berjalan.
" Alhamdulillah..." ucap Pak Darman penuh dengan kelegaan.
Sementara yang lain mendengar kelegaan itu memberanikan membuka mata masing - masing.
" Alhamdulillah " ucap mereka kompak.
" Bunyi apa tadi Pak?" tanya Vendra.
" Ndak tau Den, mungkin bamper depan pecah" jawab Pak Darman dengan perkiraan.
" Ya sudah, tak apa. Nanti kita perbaiki. Yang terpenting semua aman" jawab Vendra seraya memindai matanya menuju kedepan dan kesamping kanan dan kiri.
" Loh... Pak Yusuf... ini bukannya sudah ada di depan gapura??" tanya Vendra penasaran.
" Iya Den.. anda benar" jawab Pak Yusuf.
Sementara Tarno masih diam seribu bahasa. Sepertinya dia masih dilanda kepanikan.
" No... No... kenapa kamu diam saja?" tanya Vendra.
__ADS_1
Tarno tidak menjawab. Hanya diam dan tidak sedikitpun ******* suaranya.
Vendra sangat penasaran. Dia kemudian menoleh kebelakang jok dan dilihatnya sesosok yang berbalut kain putih denga banyak tali di beberapa bagian tubuhnya. Ya, betul itu pocong.
Vendra segera menoleh kembali ke depan. Dan Pak Darman hanya tersenyum penuh arti.
" Pak.. kenapa tidak bilang?" tanya Vendra berbisik.
" Maaf Den" jawab Pak Darman berbisik.
Sementara Pak Yusuf tersenyum dan segera melafadzkan doa pengusir jin dan segala jenisnya. Dengan fokus dia melafadzkan doa. Tak luput dari mereka bertiga. Semua membaca doa dengan sangat gugup dan terbata - bata menahan ketakutan.
" Alhamdulillah " ucap Tarno.
Membuat kelegaan di masing - masing orang yang ada di dalam mobil.
" Cepat sedikit Pak !! Kita singgah sebentar di masjid depan !!" pinta Pak Yusuf.
" Kenapa di masjid Pak? Apa sebaiknya tidak langsung ke rumah saya saja?" tanya Vendra penasaran.
" Hmmm, sabarlah Den. Ikuti saja aturannya. Nanti Aden akan tahu sendiri jawabannya" jawab Pak Yusuf lembut.
Vendra tidak menjawab apapun hanya menganggukkan dan memandang Pak Darman. Kode yang biasa di lakukan olehnya. Dan si penerima sudah paham akan hal itu.
" Den, didepan sepertinya masjid" ucap Pak Darman.
" Pak yusuf, benarkah masjid itu yang di maksud?" tanya Vendra.
" Benar Den, kita singgah sebentar" ucap Pak Yusuf.
" Hmm baiklah. Pak Darman, singgah sebentar seperti yang diucapkan Pak Yusuf" perintah Vendra.
Pak Darman hanya menganggukkan kepalanya dan segera menjalankan mobil sesuai perintah Adennya.
Di belokkan ke arah pintu gerbang masjid yang dimaksud. Masjid itu terlihat sepi dan seperti tidak ada yang beribadah di dalamnya. Tetapi ketika masuk di area masjid terasa begitu nyaman dan damai.
" Alhamdulillah... Mari semuanya, kita masuk terlebih dulu" ucap Pak Yusuf.
Tanpa ada jawaban semua turun dari mobil dan segera mengikuti langkah Pak Yusuf.
" Pak, bagaimana dengan ini?" tanya Vendra dengan menunjukkan sandera yang di maksud.
" Tak apa, No... bawa masuk. Biarkan Pak Kyai juga tahu" ucap Pak Yusuf.
__ADS_1
" Baik Pak!!" seru Tarno.
Mereka segera bergegas masuk ke dalam masjid. Vendra dan Pak Darman masih melihat sekitar masjid. Entah kenapa rasa gundah gulana dan ketakutannya seketika hilang dan menguap begitu saja.
" Mari Den" ucap Pak Yusuf.
" Iya Pak" jawab Vendra segera mengikuti Pak Yusuf.
Pak Yusuf segera berjalan menuju tempat wudlu. Tempat Wudlu yang sangat sederhana, namun sangat bersih.
Terlihat beberapa padasan ( pancuran dengan kendi besar) yang sangat tertata rapi dan juga bersih. Pak Yusuf segera mengambil air wudlu.
Pak Darman yang kebingungan segera melihat kembali jam di tangannya. Dilihatnya jam ditangan tersebut pukul sebelas malam. Itu artinya, sudah lewat waktu isya. Dan mereka telah terjebak di dalam hutan belantara itu melebihi waktu isya.
Sedangkan Vendra segera mengambil air wudlu. Dia juga menyadari belum menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Sedangkan waktu isya sudah merangkak jauh dari waktunya.
Diikuti pula Pak Darman untuk mengambil air wudlu. Sementara Tarno menidurkan bidan itu di bale di dekat masjid.
Ditidurkan sangat pelan bidan itu dan dengan penuh hati - hati. Walaupun itu adalah ' sandra' tapi dia juga manusia yang bernyawa.
" Hmmm... obat biusnya mujarab betul !! Tidurnya sampe ndak bangun - bangun. Hehehe" gumam Tarno sendiri.
" Heleh... wes tak ambil wudlu dulu. Semoga baik - baik saja ya bu bidan" gumam Tarno kembali.
Tarno kemudian merapalkan beberapa mantra. Entah mantra apa yang di bacanya. Tujuan mantra itu agar makhluk tak kasat mata tidak mengganggu bidan tersebut dan semoga dalam penjagaan Allah.
" Bismillahhirrahmannrirrahim, semoga aman ya Bu. Maaf saya tinggal dulu sebentar" gumam Tarno sendiri.
Tarno yang tak lepas dari pengawasan Pak Yusuf sudah menjalankan amanah dengan sangat baik. Bisa dikatakan, Tarno termasuk murid yang sangat berbakti.
Setelah itu Tarno mengambil wudlu. Pak Yusuf yang melihat Tarno meninggalkan bu bidan segera memagari bu bidan. Agar tidak ada yang berani macam - macam untuk mengambil ataupun mencelakai bu bidan.
Mereka segera masuk ke masjid. Segera mereka merapatkan barisan shaf dan Pak Yusuf menjadi imam. Semua menjalankan shalat dengan penuh kekhusyukan.
Setelah selesai sholat, mereka duduk di serambi masjid. Sedangkan Pak Yusuf masih bersila dan Berdzikir.
Pak Darman yang melihat Adennya sedikit gelisah segera menenangkannya.
" Den, sabar !! Tunggu sebentar. Saya rasa ada hal lain di sini yang masih ditunggu Pak Yusuf" terang Pak Darman serius.
" Iya Pak !!! Saya berasakan hal yang sama. Karena itu saya sedikit gelisah" bisik Vendra.
" Berdzikirlah dan fokuskan doa - doa kita !!" seru Pak Yusuf tiba - tiba.
__ADS_1
Vendra dan Pak Darman kaget. Pak Yusuf mengetahui diskusi mereka. Segera mereka diam dan memfokuskan pikiran dan hatinya untuk bermunajat hanya kepada Allah ta' ala.