Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
68.


__ADS_3

" Pantas saja!! Tanpa salam dan sapa!! Kafir!!" ketus Aisyah.


" Ahhh... itu !! " ucap Mbak kunti yang sudah maksud.


" Apa?" tanya Aisyah.


" Aku memang belum Islam. Kafir sebutannya bukan? Tapi aku tidak sekafir itu juga!!" sanhgah mbak kunti.


" Lalu kalau tidak punya agama dan kamu pasti hanya bertuan bukan?" tanya Aisyah.


" Dulu... tapi sekarang bebas kok!!" jawab Mbak kunti.


" Bebas kaburan atau bebas legal??" tanya Aisyah memastikan.


" Legal dong.... Oh ya, btw namaku Menik. Jenisku katanya Miss kunti. Tapi aku cantik ya kan?" ucap Mbak kunti pede.


" Oke!! Apa maksud dan tujuanmu!!" tanya Aisyah sarkas.


" Eitsss tenang dulu nona. Itu jiwa bebas siapa? cepat cari raganya. Kalau dalam waktu empat puluh hari tidak kembali dia akan hilang bak asap. Dan tak kembali lagi. Alias koit" terang mbak kunti.


" Ah... iya. Aku sampai lupa!!" ucap Aisyah.


" Sepertinya ada seseorang yang menginginkan nyawamu saat ini cah ayu!!" ucap Mbak Kunti.


" Hisss itu panggilanku dari Simbok!!" gerutu Aisyah.


" Aku juga mau panggil itu. Karena kamu memang cantik. Ayu paras dan hatimu. Aku tahu itu. Dan sepertinya kamu butuh sedikit tambal sukmo" ucap Mbak Kunti.


" Apakah efek kejadian tadi ya? " tanya Aisyah.


" Ada sedikit lubang, itu akan pulih mungkin dua atau tiga hari lagi. Tapi sepertinya aku bisa membantu lebih cepat dari itu" ucap Mbak Kunti.


Ya, Aisyah tahu. Makhluk ini punya kekuatan untuk nambal sukmo orang. Tak semua jenis Miss Kunti bisa tambal sukmo. Tapi ada beberapa yang bisa. Mereka bahkan belajar agar bisa menguasai ilmu tambal sukmo.


" Berbaringlah" ucap Mbak kunti.


" Apakah akan berhasil Menik?" tanya Aisyah ragu.


" Kita coba saja dulu!!" jawab Menik si Mbak kunti.


" Hisss... buat orang kok coba- coba !!" ucap Aisyah.


Happpp


Tangan putih pucat dengan kuku yang panjang - panjang itu dengan terampil bergerak disertai berbagai mantra yang entah apa itu. Hembusan angin dingin datang menerpa. Bau anyir kini hadir menyeruak memenuhi indra penciuam Aisyah.


" Kelamaan menunggumu siap!! Lagian banyam berdebat kalau sama kamu!!" cerocos Menik.


" Tahan sebentar, sedikit nyeri tapi kamu dapat lihat hasilnya nanti" ucap Menik.


Aisyah tidak menjawab hanya mengangguk lemah. Hanya merasakan di sekujur tubuhnya hawa hangat menyelimutinya. Gadis mungil itu merasakan seluruh tubuhnya kini nyeri hebat. Tulangnya seakan - akan luruh begitu saja.


" Astaghfirullahhaladzim " lirih Aisyah.

__ADS_1


" Tahan sebentar lagi" ucap Menik.


Happppp


Wuussssss


" Haaahhhh..... Haaaahhhh" Menik si Mbak Kunti terengah - engah.


" Sudah !! lubang - lubang itu sudah tertambal" ucap Menik.


" Capek!! Tenagaku terkuras. Istirahatlah. Aku akan pergi. Mau isi tenaga dulu. Bye gadis judes!!" ucap Menik yang sudah sangat lemas.


" Terimakasih Menik" ucap Aisyah.


Menik segera pergi menghilang begitu saja. Sedangkan Aisyah mulai merintih kesakitan karena merasakan sekujur tubuhnya nyeri hebat. Ngilu pegal kini mendera.


" Astaghfirullahhaladzim.... Astaghfirullahhaladzim " Aisyah merintih.


" Ya Allah... Ya Rabb... tadi belum disulam tidak begitu sakit. Tapi kenapa sekarang begini ya rasanya. Nikmatnya luar biasa" gumam Aisyah lirih.


Vendra yang sudah menyelesaikan sarapannya, kini kembali ke kamar. Mendengar rintihan - rintihan kecil dia semakin melebarkan daun telinganya.


" Aish... Aish..." gumam Vendra lirih.


Tok...


Tok...


Tok...


" Kamu baik - baik saja Aish?" tanya Vendra di balik pintu.


" Masss" jawab Aisyah dari dalam kamar.


Lirih... sangat lirih. Hampir tidak terdengar.


" Aish... Mas masuk ya??" ijin Vendra.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Ementara Aisyah sudah tidak berdaya untuk menjawab. Hanya anggukan yang tak nampak oleh suaminya.


" Tidak ada jawaban. Apa aku masuk saja ya? Khawatir sekali rasanya" batin Vendra.


" Masuk saja lah, makin lama makin khawatir " gumam Vendra.


ceklek...


Pintu terbuka lebar. Terdengar rintihan sangat lirih. Vendra segera mendekat menuju istri mungilnya. Apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan tadi dia sudah memberikan obat nyeri untuknya.


" Aish... Aish... Apa yang terjadi? Apakah qda yang sakit?" tanya Vendra khawatir.


" Mas... sakit... Astaghfirullahhaladzim. Tolong buatkan air doa" pinta Aisyah .


" Air doa?" tanya Vendra.

__ADS_1


" Hmmm Air putih yang di bacakan alfatihah" jawab Aisyah lirih.


" Apakah air doa itu manjur jika aku yang membuatnya?" tanya Vendra ragu.


" Coba saja Mas.." ucap Aisyah lemah.


Vendra segera berlari keluar tanpa menutup pintu. Segera dia kebawah. Suara gemuruh berisik seperti orang dikejar setan terdengar hingga telinga dua orang paruh baya.


Vendra segera menyambar gelas yang diisi air putih dan segera kembali berlari dengan cepat namun berhati- hati. Dua orang tua itu hanya melongo dan saling pandang.


Tanpa aba - aba mereka juga mengikuti Adennya yang berlari terburu - buru. Pertanyaan mereka hanya satu bahkan sama ' apa yang terjadi?'.


Vendra segera duduk di samping Aisyah dan mulai komat kamit membacakan surat alfatihah dengan khusuk sesuai perintah istrinya.


" Aish... minumlah" ucap Vendra lembut sembari membantu membangunkan tubuh mungil istrinya.


Mbok Saroh dan Pak Darman baru saja sampai di dalam kamar. Melihat cah ayunya lemas tak berdaya dan seperti tak bertenaga membuat hatinya sedih. Apa yang terjadi sepeninggal mereka bertiga dalam kamar.


" Den..." panggil Mbok Saroh.


" Doakan saja Mbok. Semoga tidak kenapa - kenapa" jawab Vendra.


Panggilan Mbok Saroh mewakili pertanyaan dalam hati wanita renta itu. Dan Vendra paham akan panggilan itu. Jawaban ini menurutnya cukup baik. Karena sesungguhnya Vendra juga tidak tahu apa yang terjadi terhadap istrinya.


" Alhamdulillah " ucap Aisyah.


Air doa tandas habis tak tersisa. Aisyah kembali berbaring lemah denga mulai memejamkan mata. Tapi telinganya mendengar setiap suara yang ada di dalam kamar ini.


" Sebenarnya apa yang terjadi selama kami tinggal Aish??" tanya Vendra lirih.


Pak Darman mengamati dengan teliti. Tidak berani bertanya apapun. Luka tak kasat mata sudah mulai mengering. Ya, lubang yang disulam menjadi kering. Tadi masih menganga lebar dan Pak Darman hanya akan berencana mencari Pak Kyai untuk menanyakan obatnya.


Ternyata, hal diluar dugaan. Luka menganga sudah tertutup. Ingin rasanya bertanya, siapa yang membantunya saat ini?.


" Astaghfirullahhaladzim..." lirih Aisyah.


" Ya Allah, apakah aku patut mendapatkan istri yang seperti ini? Dengan banyaknya dosaku yang tertimbun bak gunung menjulang. Dia saja dalam keadaan seperti ini tidak mengeluh. Terus nermunjat kepadaMu. Kenapa aku yang begini masih saja menggerutu merutuki nasibku!!" ucap Vendra dalam hati .


" Bagaimana Den? " tanya Mbok Saroh.


Aisyah yang mendengar itu hanya tersenyum simpul. Wanita paruh baya itu sangat khawatir. Terdengar dari ucapannya yang sedikit bergetar dan lirih. Bak menahan air mata yang akan tertumpah.


" Entahlah Mbok" jawab Vendra.


" Aish... " ucap Vendra di sertai usapqn lembut di pipi tirus wanitanya itu.


" Hmmmm.... aku baik - baik saja Mas" jawab Aisyah lemah dan masih dalam memejamkan matanya.


" Nduk... Cah Ayu... " panggil Pak Darman.


Mata bulat itu kini terbuka perlahan dan bergerak mengikuti datangnya suara bariton itu.


" Nanti akan ku jelaskan" jawab Aisyah dengan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2