
Rambut basah menambah kesan seksi setelah mandi. Aisyah segera berganti pakaian.
" Kemarilah Aish" ujar Vendra.
Aisyah segera mendekat tanpa mengatakan apapun.
" Duduklah" perintah Vendra.
Vendra sudah berada di depan meja rias. Dinyalakannya lampu yang menempel di cermin rias itu. Kemudian dibukalah meja itu dengan menggeser bagian atasnya.
Nampak beberapa skincare khusus untuk wanita. Semua sudah tersedia dengan sangat komplit dan tertata dengan rapi.
" Mas??" ucap Aisyah dengan tatapan yang berbinar.
" Untukmu!!" jawab Vendra yang sudah paham akan hal itu.
" Terlalu banyak mas" ucap Aisyah.
" Terima kasih" lanjutnya.
" Hmm" jawab Vendra singkat.
Vendra segera meraih hair dryer untuk mengeringkan rambut Aisyah yang selesai keramas. Sangat wangi bahkan sangat memabukkan.
Vendra dengan telaten mengeringkannya. Bahkan terlihat sangat lihai ketika menggunakan alat pengering rambut itu.
" Selesai" ucap Vendra.
" Besok pergilah ke salon. Potong sedikit rambutmu. Agar terlihat fresh" perintah Vendra.
" Baiklah" jawab Aisyah.
Vendra segera berlalu ke kamar mandi. Tentu saja menahan yang sudah bergejolak. Tentu dia menahan hasrat itu dengan susah payah.
" Sial!!! " umpat Vendra jengkel.
Tak terasa air matanya menetes. Dia kini dalam masalah besar. Bagaimana dia akan mengatakan kepada istrinya? Tentu bukanlah hal yang mudah.
Vendra segera menepis rasa sedihnya itu. Bisa memiliki gadis pujaan hatinya tetapi tak dapat menyentuhnya secara utuh.
" Huuuuhhh" deru nafas berat yang sengaja dikeluarkan Vendra.
Segera Vendr menyelesaikan mandinya, dari hasrat menjadi tersayat. Hatinya kini menjadi sedih mengingat penyakit yang merenggutnya.
" Setidaknya jika aku sudah tiada didunia ini dia bisa menikmati harta yang aku tinggalkan. Tidak ada lagi yang akan meremehkannya apa lagi berbuat semena- mena. Dia bisa membeli mulut orang sombong yang menghinanya!" batin Vendra angkuh.
Setelah selesai, Vendra segera keluar. Dilihatnya baju yang sudah disiapkan istrinya.
" Dia menyiapkan untukku" gumam Vendra.
Selengkung senyuman muncul di wajah tampan itu. Aisyah gadis yang selama ini dilihatnya walau dari kejauhan sudah membuatnya semakin jatuh hati.
Vendra segera memakai bajunya dan keluar kamar mencari keberadaan sosok gadis itu. Tak lama dipindiqnya mata itu kini nampak gadis yang tengah di carinya.
__ADS_1
" Mas... duduklah, akan ku buatkan teh chamomile" ucap Aisyah yang tengah sibuk.
Tanhan kecilnya sangat terampil saat berada di dapur. Vendra melihatnya dengan takjub.
" Kasihan sekali kamu !! suamimu penyakitan. huff" batin Vendra mengeluh.
" Mas" sapa Aisyah.
" Kenapa melamun?" sambungbya kemudian.
" Hmm, tak apa. Kamu sudah selesai?" tanya Vendra.
" Ya, lihatlah. Bahkan sedari tadi aku telah menyiapkannya semua. Mas, tolong panggil Mbok sama Pak Darman. Kita belum sarapan bukan?" ucap Aisyah.
" Sarapan yang terlambat!!" ucap Vendra.
" Ya.. begitulah" timpal Aisyah.
Vendra segera mendial nomor Pak Darman. Tak lama dua sosok itu telak hadir di meja makan mereka.
" Sarapan yang terlambat Mbok, Pak. Tapi setidaknya kita makan. Diisi perutnya sebelum beraktifitas" ucap Aisyah memecah keheningan.
" Loh, Den.. mau ke puncak tah?" tanya Pak Darman.
" Nggak!!" jawab Vendra singkat.
" Hari ini aku tidak akan kemanapun Pak. Hari ini aku mau di rumah saja" jawab Vendra meneruskan.
" Makanlah!" perintah Vendra.
" Mbok... kenapa diam? Tidak enak?" tanya Aisyah memecah keheningan.
" Ndak apa cah ayu. Mbok cuma ingat sesuatu" jawab Mbok Saroh.
" Sesuatu apa?" tanya Aisyah penasaran.
" Emmbbb... ini masakan, maksud simbok resepnya dari mana?" tanya Mbok Saroh.
Vendra dan Pak Darman hanya menjadi pendengar dan menyimak percakapan dua orang wnauta berbeda usia itu.
Vendra baru saja menyadari, masakan itu bukanlah masakan kampung. Dan masakan itu sering di rasakannya ketika dia ingin makan itu.
Maklum saja, separuh darahnya adalah orang bule. Jadi sesekali masakan luar negri samgat dirindukannya.
" Embb.. ini aku lihat di lemari itu. Ada buku kecil. Aku membacanya dan mencobanya. Untungnya bahan makananya ada" ucap Aisyah.
" Hiks... Hiks.." tangis Mbok Saroh tiba - tiba datang.
" Mbok.. kenapa? Maaf jika aku membuat Mbok bersedih" ucap Aisyah yang merasa bersalah.
" Ndak apa cah ayu" jawab Mbok Saroh.
Pak Darman hanya mengusap punggung istrinya dengan lembut. Aisyah kini baru menyadari setelah melihat wajah Pak Darman.
__ADS_1
" Loh.. Pak.. wajah bapak??" tanya Aisyah heran.
" Sebenarnya, ada apa ini? Apa ada sebuah misteri atau rahasia yang tidak aku ketahui?" tanya Aisyah menggebu.
" Apakah aku disini adalah sebuah pelampiasan kalian? Apakah aku dianggap tawananmu Tuan!!" teriak Aisyah.
Kini Aisyah tiada terkendali emosinya meluap. Dia bahkan bagaikan orang bodoh yang tidak pernah mengetahui apapun.
" Tenanglah. Nanti aku akan jelaskan!!" ucap Vendra.
" Cah ayu, buku itu adalah buku milik Mamanya Aden. Nyonya sangat suka masak. Sehingga resep masakannya selalu dituliskan di buku sebagau catatan. Jika ada orang lain yang menggunakan resepnya itu, Nyonya sangat senang. Karena berguna" jawab Mbok Saroh.
" Makaroni scottel, menu wajib di meja makan. Ini makanan kesukaan nyonya. Dan biasanya ada bitterbalen" cerita Mbok Saroh.
" Aden juga sangat suka. Tapi karena Mbok ndak tahu resepnya. Dan ndak pernah lihat buku nyonya jadi mbok ndak bisa bikinkan" ucap Mbok Saroh.
" Ya, cah ayu. Untuk wajah saya nanti aden saja yang menjelaskannya" ucap Pak Darman.
Aisyah kini sudah mulai menguasai emosinya. Sedangkan Vendra cuek dengan adegan yang ada di depannya. Dia diam menikmati makanan yang dimasak oleh istrinya.
Terlalu nikmat dan rindu jika melewatkannya. Makanan yaang dirindukannya. Dia selalu menyempatkan makan ketika di hotel yang bagus. Tapi rasanya tidak seenak ini.
" Bisakah kamu membuatkanku ini jika aku menginginkannya?" pinta Vendra kemudian.
Aisyah yang tadinya sangat emosi kini hanya termangu dan terbengong.
" Hahh??"
Hanya itu yang keluar dari mulut Aisyah.
" Hmm" ucap Vendra kemudian.
Vendra segera menyelesaikan makannya dam meninggalkan meja makan.
" Selesaikan makanmu. Dan kembalilah ke kamar. Pak Darman, cek semua yang di puncak lusa kita ke sana. Mbok, selamat istirahat!!" ucapnya cepat dan tegas.
Semua yang ada di meja makan hanya menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulut Vendra. Seakan terhipnotis dan hanya bisa diam.
" Hahhh!!!" keluhan Aisyah setelah kepergian Vendra.
" Lihat kan Pak? " ucap Aisyah kemudian.
" Aish !!! aku masih mendengarnya!!" teriak Vendra dengan berlalu.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah kemudian.
Mbok Saroh yang menyaksikan kedua insan yang sudah berstatuskan suami dan istri itu hanya dengan tersenyum.
" Pak, dia sudah kembali" ucap Mbok Saroh.
" Ya.. benar" jawab Pak Darman kemudian tersenyum.
" Jangan lupa Den, obatnya!!" ucap Mbok Saroh mengingatkan.
__ADS_1
Vendra menatap tajam dari lantai atas.
" Upsss" tutup mulut Mbok Saroh.