Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
60.


__ADS_3

Semua sudah terhidang. Sangat menarik dan menggugah selera. Sang penghuni perutpun terasa ikut bersemarak dan berdendang dengan nyaring. Gadis manis bermata bukat itu segera menyiapkan piring dan lain sebagainya.


Dituangkan sedikit nasi ke piring itu. Dia belum paham seberapa takaran nasi untuk suaminya.


" Cukup Mas?" tanya Aisyah lembut.


" Hmm. Terimakasih" jawab Vendra singkat.


Semangkuk sop dagingpun sudah dihadapan suaminya. Hubungan LDR sop dengan nasi kini yang terpampang nyata. Ya, terpisah. Itu sangat benar. Vendra mengernyit. Aisyah hanya tersenyum menanggapi itu.


" Supaya Mas bisa menikmati rasa original sopnya tanpa tambahan apapun. Caranya nanti diambil sedikit demi sedikit sopnya dan tuangkan di nasi. Mas bisa rasakan sensasinya" terang Aisyah.


" Hmmm aku tahu. Tapi...." ucap Vendra menggantung.


" Apakah ada yang kurang?" tanya Aisyah.


" Simbok dan Pak Darman" jawab Vendra.


" Hmm baiklah, akan aku panggilkan" jawab Aisyah.


" Tidak !! Tidak perlu... " ucap Vendra segera.


Berdirilah badan nan kekar itu menuju telepon rumah yang teronggok ditembok. Di pencetlah nomor yang dituju.


" Mbok... yaa.... baiklah..."


Terdengar begitu saja ucapan itu menggema. Tak ada tanya untuk ditanyakan dari bibir mungil gadis itu. Hanya diam dan mengamati apa yang akan terjadi di depan matanya.


" Assalamualaikum " ucap Mbok Saroh seperti terburu.


" Waalaikumsalam " jawab Aisyah dan Vendra kompak.


" Weee... lah kok wes pepak ( komplit). Lah.. maaf ini simbok telat ya? Maaf ya Den" ucap Mbok Saroh kikuk.


" Duduklah Mbok" ucap Aisyah kemudian dengan tersenyum.


" Loh.. Pak Darman mana ?" tanya Vendra kemudian.


" Pakne lagi di kamar mandi. Sebentar lagi qkan menyusul katanya" terang Mbok Saroh.


" Baiklah..." jawab Vendra.

__ADS_1


" Wee... ini kenapa jadi begini. Wes ndak usah lah. Simbok bisa duduk dimana saja. Aden sama cah ayu makan saja. Dan ndak perlu nunggu Pakne juga" ucap Mbok Saroh yang merasa tidak enak.


" Cah ayu, maafin Simbok ya.. telat nyiapin sarapan. Dan semua ini cah ayu to yang nyiapin?" tanya Mbok Saroh.


" Iya Mbok. Ndak apa. Mas Vendra minta di masakin ini" ucap Aisyah dengan menunjuk masakan yang sudah terhidang di meja .


" Assalamualaikum " sapa Pak Darman.


" Waalaikumsalam " jawab serempak.


" Kenapa Pak? Masuk angin? Mau periksa? Saya antarkan" ucap Vendra tanpa basa basi.


" Ehh... ndak perlu Den. Wong ini cuman panggilan alam saja. Ndak perlu ke dokter. Kan sudah rutin ini jadwalnya ngapelin kamar mandi. Tiap pagi ngapelnya Den" ucap Pak Darman.


" Hmmm" jawab Vendra dengan tersenyum tipis.


" Ya.. sudah. Semua sudah ada, sekarang silahkan duduk. Dan silahkan sarapan. Saya sudah masak ini semua. Semoga semua suka" ucap Aisyah menengahi.


Aisyah segera mengambil piring yang ada dan menuangkan nasi untuk Pak Darman dan Mbok Saroh.


" Cukup Pak? "


" Cukup Mbok?" tanya Aisyah.


" Hmm ... silahkan" jawab Vendra singkat.


Mereka kemudian menikmati hidangan yang ada. Tapi satu ekor mata bulat itu melihat ada kegelisahan dalam meja makan itu. Ya, tak lain jika suaminya entah telah memikirkan suatu hal apa.


Aisyah yang paham akan itu segera menyelesaikan makan dan memberikan minum untuk suminya.


" Jika sudah kenyang dan sudah tidak mau makan, minumlah Mas. Nanti bisa dilanjutkan makan lagi" ucap Aisyah lembut.


" Apakah ada suatu hal yang terjadi?" tanya Pak Darman.


" Angin sedikit kencang berhembus. Mas Vendra sedikit cemas agaknya Pak!!" ucap Aisyah.


" Kapan? Tadi? Kami tak merasakannya. Ah.... jangan - jangan...!" ucap Pak Darman mengira.


" InsyaAllah kita dalam keadaan yang baik - baik saja. Berpikir positif dan rasional saja. InsyaAllah hal itu akan menjauh dari kita dan jangan lupa kencengin doa" terang Aisyah.


" Sepertinya kita harus bongkar cepat. Kalau menunggu mereka menyerang kita tidak akan tahu lagi kapan waktunya bukan?" ucap Vendra panjang lebar.

__ADS_1


Mbok Saroh yang bangkit dan segera menuju laci dapur mengambil beberapa obat dan diberikan untuk Adennya. Aisyah hanya mengamati saja apa yang diberikan Mbok Saroh.


" Tunggu !! Maaf itu sebenarnya obat apa? Mas sakit? Mas sakit apa?" tanya Aisyah memberondong.


" Mbok!!" tanya Aisyah penasaran.


" Mbok, saya sudah tidak minum obat itu lagi!!" jawab Vendra tegas.


" Tapi Den... takutnya... " jawab Mbok Saroh menggantung.


" Den Vendra sudah seminggu ndak minum Mbok. Dan dia dalam keadaan sehat dan stabil saja" jawab Pak Darman.


" Jadi... apakah??" tanya Mbok Saroh menggantung kembali.


" Untuk itu kami mencari tahu semua ini. Eh.. malah ketemu dedemit yang gak jelas jluntrungannya ini. Lah jadine repot semua to!!" jawab Pak Darman ketus.


" Maaf Pak, Jika membuat Bapak jadi begini" jawab Vendra lemas.


" Ma.. Maaf Den. Bukan itu maksud saya. Saya senang - senang saja mbantu Aden. Lah tapi, kok yo lawannya itu ndak nyata !! Kalau nyata kan jelas Den.. Mau mukul, ninju, mbogem kan bebas" terang Pak Darman.


" Mas... Tolong jelaskan" tegas Aisyah.


" Cah Ayu... Sebenarnya..." ucap Mbok Saroh menggantung.


" Aku sakit yang belum dapat disembuhkan!!" jawab Vendra tegas dengan menatap manik tajam istrinya.


" Baiklah, jika belum mau terbuka dengan ku. Aku akan sabar menunggu apa yang keluar dari mulut Mas langsung" jawab Aisyah lembut dan segera berlalu.


Aisyah masuk kekamar dan segera membersihkan diri untuk mengambil wudlu. Tak lupa dia segera menunaikan sholat sunah dhuhanya. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Dalam doanya dia selalu mendoakan suaminya dan mengaminkan setiap doa suaminya itu.


Vendra tahu jika saat ini istrinya tengah merajuk. Membuat hatinya menjadi kikuk dan tak terbentuk. Untuk menjadi dirinya yang dingin seperti dulu rasanya sudah berbeda.


Rasa yang sudah memenuhi rongga kehidupannha yang merubah segalanya dari dirinya. Tak terkecuali dengan sikapnya. Walau irit berbicara, namun dia sedikit banyak berubah dengan memberikan perhatian.


Vendra pun tak ayal menyusul sang istri menuju peraduan ilahi. Menengadahkan tangan hampa dan berharap untaian doa di makbul dan ijabah.


Setelah selesai sholat dia menuju sebuah ruangan. Ruangan yang hanya dia yang bisa memasukinya. Pak Darman mengetahui dan Mbok Saroh pun tahu. Sebuah kamar yang tanpa boleh satu orang pun masuk. Bahkan untuk membersihkannya pun dia lakukan sendiri.


Duduk merenung dengan apa yang terjadi baru saja. Menghentak lamunan jauh menerawang ketika dokter mengatakan sebuah pernyataan.


"HIV tidak selalu berkembang menjadi AIDS. Saat ini, konsumsi obat-obatan antiretroviral (ARV) dapat mencegah kondisi AIDS bagi orang yang positif HIV. Dengan demikian, orang-orang yang positif HIV yang mengonsumsi ARV secara rutin dapat menjalani hidup yang nyaris seperti orang normal serta memiliki harapan hidup yang lebih panjang.

__ADS_1


Walau begitu, penting untuk diingat bahwa ARV tidak dapat menyembuhkan infeksi HIV. Orang yang positif HIV harus mengonsumsi obat tersebut seumur hidup".


" Astaghfirullahhaladzim. Semoga aku selalu bersabar atas semua ini" gumamnya lirih.


__ADS_2