
Mereka segera kembali ke Villa puncak. Vendra dalam pikirannya sendiri sedangkan Pak Darman segera melajukan mobilnya.
Sedari tadi perasaannya sudah tidak enak. Seperti ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka.
Sesampainya di Villa, Pak Darman tidak banyak bertanya dan bicara. Irit, kata lainnya.
" Den, saya segera masuk. Ada yang aden butuhkan?" tanya Pak Darman.
" Tidak Pak. Terimakasih. Nanti jika aku butuh, aku akan meminta sama Tarno. Silahkan Pak Darman menunaikan kewajibannya" ucap Vendra.
Sebenarnya Vendra tidak pernah melarang siapapun beribadah. Tetapi dia tidak suka jika berada di depannya atau terlalu keras. Itu membuatnya sedikit kecewa. Dan hatinya terasa marah.
" Hmmm.. Aishyah, nama itu yang selalu menentramkan hatiku" gumam Vendra.
Vendra segera beranjak menuju ruang kerjanya. Dibukanya beberapa file laporan tentang perkebunannya. Dia juga melihat dari jendela betapa luas kebun miliknya itu. Hingga seluruh penduduk desa bekerja padanya untuk menjadi buruh teh.
" Pak Darman pasti tahu masalah ini" ucap Vendra lirih.
Ya, tiba - tiba saja terbeslit perkataan dari juru kunci itu tentang pabrik gula milik ibunya. Karena selama ini dia tidak mengetahui ada pabrik gula milik orang tuanya.
Vendra segera mencari keberadaan Pak Darman.
" Pak... Pak Darman" teriak Vendra.
Pak Darman yang masih menikmati kopi panasnya di dapur bersama Tarno terjingkat mendengar Adennya memanggilnya. Segera dia berlari kecil.
" Ya Den.. ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Darman.
" Hm.. jam berapa kita akan kembali? Apakah persiapan di sana sudah selesai?" tanya Vendra mengingatkan.
" Sudah Den, beres kalau masalah itu. Aden akan berangkat jam berapa. Saya manut saja" jawab Pak Darman.
" Sekarang Pak !!" jawab Vendra.
" Sekarang?? Ya wes monggo. Aden ndak makan dulu?" tanya Pak Darman.
" Tidak perlu. Aish sudah membawakan bekal untukku di dalam tas!" jawab Vendra sedikit merona.
" Ohh... Aish..." jawab Pak Darman sedikit tersenyum.
Vendra segera kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan berkemas. Sedangkan Pak Darman kembali menghabiskan kopinya.
" Pak... Aish siapa?" tanya Tarno.
" Kepo" jawab Pak Darman.
__ADS_1
" Helehhh... koyok wong enom wae loh ( kaya orang muda aja loh)" jawab Tarno.
" Hishh.. wes ben, gak papa to No? Sak bahagiaku" jawab Pak Darman.
" Wes, aku tak balik ke ruma putih lagi No. Kamu jaga sini yang bener No. Jangan kecewakan Aden. Pesenku, kamu lebih hati - hati lagi No. Banyak Orang yang sedang mengincar sesuatu dari Aden. Jangan sampai kamu lalai dalam menjalankan tugas. Bisa - bisa kamu yang kena" Pak Darman mengingatkan.
" Ya Pak. Makasih. Ini beneran to langsung berangkat? Ndak mau nginep disini?" tanya Tarno.
" Ndak, kasian Saroh No. Aden juga pasti pengin segera pulang. Ada kerjaan ndadak No" jawab Pak Darman.
" Ya sudah Pak. Ati - ati aja wes. Mbawa mobilnya pelan - pelan saja. Sepertinya hujan akan tiba" ucap Tarno.
Vendra sudah bersiap dan membawa tasnya.
" Pak.. sudah?" tanya Vendra.
" Ayo den, Aden sudah? Tidak ada yang tertinggal?" tanya Pak Darman.
" Nggak ada Pak. Ayo!!" ajak Vendra cepat.
Segera Vendra masuk ke dalam mobilnya dan memasang seatbeltnya. Dia menikmati setiap lamunannya sendiri. Ketika Pak Darman tengah duduk dikemudi dan bersedia melajukan kendaraannya, dia berkata kepada Pak Darman dengan penuh keyakinan.
" Pak, ke pabrik gula Mama, sekarang!!" pinta Vendra tegas.
Vendra hanya diam tanpa bicara, sebenarnya dia ingin bertanya. Tapi pasti Pak Darman mempunyai jawaban yang pasti untuk melakukannya.
Ketika sampai tepat agak jauh namun dapat melihat pabrik itu Pak Darman menghentikan mobilnya dan mengambil sesuatu di belakang jok mobil.
" Den, ini !!" ucap Pak Darman.
Vendra segera memakai teropong itu untuk mengetahui pabrik yang dimaksud.
" Masih beroprasi sampai saat ini pak" ucap Vendra.
" Ya!" jawab Pak Darman singkat.
" Siapa yang memegang kendalinya saat ini?" tanya Vendra serius.
" Paman Aden" jawab Pak Darman melemah.
" Berapa aset yang di punya saat ini?" tanya Vendra.
" Hanya pabrik itu. Dan sepertinya pabrik itu akan segera gulung tikar. Karena keuangannya tidak benar. Dan gaji pekerjanyapun tidak pasti!" terang Pak Darman.
" Saya mau pegang kendali pabrik otu kembali. Bisa??" tanya Vendra dengan menatap Pak Darman.
__ADS_1
" Saya usahakan Den" jawab Pak Darman tidak bisa menjanjikan.
" Baiklah kita pulang. Sebelum kita pulang kita lihat kondisi sekitar dan pantau perekonomian orang sekitar juga" pinta Vendra.
" Baik Den!" jawab Pak Darman dengan pasti.
Pak Darman segera mengeluarkan ponsel jadulnya. Walaupun jadul itu sangat berguna baginya. Pak Darman seperti tengah mencari nomor telpon seseorang.
" Indra... tolong awasi area pabrik gula. Laporkan setiap kejanggalan dan kejadian yang ada dan terjadi. Jangan lupa pantau perkembangan perekonomian orang sekitar. Laporkan kepadaku besok pagi!!" ucap Pak Darman.
" Indra?? Bisa dipercaya??" tanya Vendra memastikan.
" Ya Den. Dia orang kepercayaan saya selama ini. Dan dia yang membantu setiap pembelian tanah yang Aden mau. Dan itu juga dia bisa merebut aset Ayahnya Aden dari paman dan bibi Aden" jawab Pak Darman memberi tahu.
" Hmm. Pastikan semua baik - baik saja. Bekerja dengan hati - hati!" perintah Vendra tajam.
" Siap Den. Kita kembali?" tawar Pak Darman.
" Hm.. sudah siap untuk nanti malam bukan?" tanya Vendra memastikan.
" Ya.. Den. Baru saja ada orang yang memberitahukan saya melalui pesan singkat!" jawab Pak Darman.
" Baik. Terima kasih Pak" ucap Vendra tulus.
Pak Darman segera kebali masuk kedalam mobil dan segera mengemudikannya. Hari sudah mulai menuju senja. Mendung dan kabut pun mulai menerpa.
Vendra memperingatkan untuk berhati - hati dalam mengemudikan mobilnya.
" Pak, jembatan tolong bunyikan klakson!" pinta Vendra.
Dan Pak Darman melakukan saran yang diperintahkan oleh Vendra. Kebiasaan orang sekitar, bukannya musrik tapi hanya terbiasa saja.
" Den, kita akan segera sampai di jalan besar. Jika Aden akan beristirahat, beristirahatlah. Persiapkan untuk nanti malam Den tenaganya!" saran Pak Darman.
" Hmm" jawab Vendra.
Selama perjalanan Pak Darman hanya terus melajukan kendaraannya dengan sangat hati - hati. Sedikit cepat agar bisa beristirahat dengan baik.
Pak Darman merasa sedikit penat, sementara bahan bakar juga sudah akan habis. Dibelokkannya mobil ke pom bensin yang saat ini dilaluinya.
Pak Darman segera mengisi bahan bakar kendaraan. Kemudian dia berhenti di rest area. Meluruskan badan sejenak dan ingin minum teh hangat. Karena cuaca sedikit berkabut pertanda udara cukup dingin.
Vendra merasa mobilnya berhenti. Dia segera membuka matanya. Dilihatnya kursi kemudi yang tidak berpenghuni. Segera dia mengedarkan pandangannya kesekitar.
" Pom bensin " gumamnya lirih.
__ADS_1