Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
63.


__ADS_3

Tubuh mungil itu kini sedikit gelisah. Tidurnya tidak begitu tenang. Bergerak sedikit demi sedikit. Menegang.. dan tak lama peluh telah membasahi dahinya. Sedikit bergumam, tetapu tak begitu jelas. Lirih... sangat lirih.


Badan kekar itu kini menyadari, terbangun dan memperhatikan wajah sang pujaan hati. Kini rasa cemas menyelimuti hatinya. Entah apa yang dimimpikan kekasih hatinya itu hingga terasa sangat menganggu.


" Aish..." panggilnya lembut.


Di goyangkan bahu dengan lembut sang istri. Dan tak ada rasa bosan untuk membangunkan sang istri dari tidurnya. Mimpi buruk telah menyelimuti tidur istrinya.


" Aish..." panggilnya lagi.


Ditepuknya pipi nan mulus itu. Tapi, sang pemilik sama sekali tidak merespon hal itu. Terus menerus di panggilnya dalam malam temeram itu. Bagaimana jika mimpi itu kembali hadir.


Tangan itu kemudian mencari telepon jadulnya untuk menelepon seseorang.


" Hallo..." suara berat terdengar dari seberang telepon.


" Pak... tolong..." Vendra hanya mengucapkan kalimat itu.


Entah kenapa telepon mati dengan sendirinya. Perasaan menyeruak tidak nyaman kini menyelimuti hatinya. Akan ada sesuatu yang akan terjadi diluar kendali.


" Astaghfirullahhaladzim " ucapnya lirih.


" Mas, selalu berdzikir dan jangan lupa selalu membaca apapun yang mas bisa. Yakinkan dalam hati, Jika Allah akan selalu ada untuk kita"


Ucapan itu tiba - tiba terngiang di telinganya. Tak disiakan ingatan dan dengungan yang seakan hadir melesak dengan sendirinya. Kini ia berkomat kamit membaca doa - doa. Rapalan apapun dibacanya. Dzikir selalu di ucapkannyq tanpa rasa letih. Hanya percaya dalam hati jika Allah akan menolongnya dari marabahaya yang menjeratnya.


Sementara di paviliun belakang. Dua orang yang mulai renta kini dilanda panik. Telepon dari sang tuannya hany singkat dan entah kenapa ketika di hubungi kembali tidak tersambung.


Kecemasan menyelimuti hati kedua insan itu. Segera berlari dengan tergopoh - gopoh menuji rumah utama. Ketika akan masuk ke dalam rumah, entah kenapa banyak sekali halangan dan rintangan silih berganti.


Tiba - tiba saja muncul kucing yang seakan ingin menikam mereka dengan sengaja. Tetapi mereka dengan sigap menghindar dan tidak terkena cakaran kucing itu. Tetapi, entah mengapa ketika kucing itu akan dikejar sudah menghilang.


" Pak... kucing!!!" ucap Mbok Saroh.


" Mbok, jangan lupa doa !!" peringat Pak Darman.

__ADS_1


" Iyo Pak " jawab Mbok Saroh mengangguk mantap.


Mereka segera menuju pintu, tetapi pintu rumah utama terkunci. Tidak biasa sang tuan menginci rumah utama yang terhubung denga paviliun.


" Wes, iki ra beres Mbok !! ( Wah, ini gak beres Mbok!!) " ucap Pak Darman.


" Ayat kursi Pak. Minta sama Gusti Allah " ingat Mbok Saroh.


Pak Darman tidak menjawab apapun hanya mengangguk. Dan segera mereka membaca Ayat kursi dan meminta pertolongan dari sang khaliq dengan mantab.


" Klek"


Suara pintu tiba - tiba terbuka. Rona bahagia dan lega telah nampak diwajah kedua insan itu. Segera mereka terpikir kembali ucapan permintaan tolong sang Aden. Rayt wajah kembali serius dan ketegangan terjadi.


" Pak Gelap!!" ucap Mbok Saroh.


" Dzikir Mbok. Doa terus. Aku juga doa terus ini. Gandengan Mbok!! Jangan jauh dariku!!" perintah Pak Darman.


Mbok Saroh hanya mengangguk dan terus berkomat kamit. Tiba - tiba lampu bak suasana lampu disko. Nyala mati, nyala mati. Itu terus yang terjadi.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap mereka bersamaan.


Langkah kaki kedua orang ketika akan naik ke tangga menuju kamar Adennya. Perlahan namun pasti. Mereka tidak gegabah dalam melangkah.


Sriiiingggg


Sekelebat hitam melewati kedua orang itu. Mata tua mereka tidak dapat dibohongi jika mereka tidak melihat. Tepat di depan mereka ada siluet atau bayangan putih bertengger di ujung lorong kamar.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Mbok Saroh.


" Bismillahhirrahmannrirrahim. Allahu la ilaha illa huw, al-ayyul-qayym, la ta`khuzuhu sinatuw wa la na`um, lahu ma fis-samawati wa ma fil-ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahu illa bi`iznih, ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai`im min ‘ilmihi illa bima sya`, wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ard, wa la ya`uduhu hifzuhuma, wa huwal-‘aliyyul-‘azim"


" Bismillahhirrahmannrirrahim. Qul a’uzu birabbin-naas. Malikin-naas. Ilaahin-naas. Min syarril-waswaasil-khannaas. Alladzii yuwaswisu fii suduurin-naas. Minal-jinnati wan-naas."


" Bismillahhirrahmannrirrahim. Qul a’uuzu birabbil-falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wa min syarrin-naffaasaati fil-‘uqad. Wa min syarri khasidin idzaa khasad"

__ADS_1


Terus menggema dan terdengar di telinga kedua orang tua itu. Seketika bayangan itu hilang dengan sendirinya. Sementara di dalam terdengar seseorang lirih - lirih membaca ayat alquran.


Suara lelaki itu dengan tenang terus berkumandang. Suara merdu merasuk hingga kalbu. Tanpa mengetuk pintu hanya ucapan salam. Dan seketika siempu hanya menjawab salam dan melanjutkan kembali apa yang sedang di baca.


Tanpa ada kata yang berarti. Tangan wanita tua yang mulai keriput segera mencari keberadaan sebuah kain. Kain yang biasanya untuk mengelap keringat atau biasanya menggunakan handuk kecil atau handuk muka. Ya, sapu tangan yang di carinya. Tapi tidak ketemu. Hanya handuk yang ada di pikirannya.


Tangan tua itu dengan sigap mengelap keringat peluh yang membasahi wajah cantik sang nyonya kecilnya. Dirabanya tubuh itu denga menempelkan punggung tangannya. Menuju ke dahinya.


" Demam!" ucapnya lirih.


Sang pemilik hati segera menyalang menatap wanita tua yang baru saja berucap lirih. Kemudian lelaki tua segera menghampiri mereka.


" Teruslah berdoa Den. Kami yang menjaga raga ini. Bantulah sebisa Aden. Kami yang menjaga kalian disini!!" ucap Pak Darman seketika.


" Pak.. Apa benar ??" tanya Mbok Saroh ragu.


" Hmmm.. sepertinya. Dilihat dari tidurnya sepertinya Cah ayu ngrogoh sukmo" ucap Pak Darman.


" Apakah dia tidak tidur dan bermimpi seperti kemarin?" ucap Mbok Saroh.


" Kali ini sepertinya berbeda" jawab Pak Darman.


" Teruslah membaca ayat suci Al quran Den. Jangan lengah sedikitpun. Jangan hiraukan kami. Dan terus fokus untuk Cah Ayu" ucap Pak Darman.


" Mbok... Seka dengan air hangat saja Mbok !! Perlakukan dia seperti ini saja. Jangan khawatir. Cah Ayu bukan sembarang orang" ucap Pak Darman.


Teringat ketika Aisyah memberitahu ada buhul di depan rumah putih. Dia sempat berpesan kepadanya. Jika nanti terjadi sesuatu, jangan khawatir. Semua akan baik - baik saja. Sejatinya yang perlu di khawatirkan adalah Mas Vendra. Karena dia belum terlalu tahu masalah beginian.


" Tolong jaga Mas Vendra. Jangan membuat dia khawatir. Nanti malam saya akan mencoba mencari tahu. Bilang saja saya mimpi!"


" Perlakukan ragaku seperti orang sakit biasa. Berikan perawatan dan lafalkan doa keselamatan untuk saya"


" Lindungi Mas Vendra"


Itu pesan yang di ucapkan Aisyah ketika itu. Pak Darman kini paham apa yang sedang terjadi di depan matanya.

__ADS_1


__ADS_2