
Pagi harinya, Aisyah segera berpamitan kepada kedua orang tuanya. Bapak yang hendak ke sawah merasa sangat gelisah. Seperti akan terjadi sesuatu, setelh kedatangan juragan Gandi.
" Bu, doakan semua selamat dari segala marabahaya yang akan menimpa. Bapak juga berdoa semoga semuanya baik - baik saja" pinta Bapak.
" Bapak sangat gelisah sepertinya. Ibu selalu mendoakan yang terbaik pak. Nduk hati - hati" ucap Ibu.
" Iya Bu, Pak. Aish pamit. Assalamualaikum " salam Aisyah.
Aisyah segera pergi ke madrasah untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengajar. Dengan sangat tergesa dia berjalan kaki menyusuru jalanan desa yang terjal. Tampak juragan Gandi yang sudah menunggu di ujung jalan.
Aisyah nampak gugup melihatnya. Apakah juragan Gandi sengaja menunggu ataukah hanya ada keperluan. Aisyah menjadi takut dengan kejadian semalam.
" Bismillahhirrohmannirrohiim" doa Aisyah dan segera melangkahkan kaki dengan mantap.
Ketika sudah sampai di depan juragan Gandi. Dia segera menghadang Aisyah.
" Dek Aisyah kenapa terburu - buru?" twnya juragan Gandi.
" Assalamualaikum juragan. Maaf saya sudah sangat terlambat untuk mengajar" jawab Aisyah dengan sangat sopan dan lembut.
" Aduhhhh... suaranya... kamu tahu apa yang membuatku jatuh cinta denganmu gadis kencur?" tanya juragan Gandi.
" Maaf juragan. Saya tidak ada waktu meladeni basa- basi juragan. Karena kewajiban saya sudah menanti" jawab Aisyah.
" Dan sekarang kewajibanmu untuk melayaniku. Hahaha" gelegar suara juaragan Gandi.
Aisyah sangat ketakutan dengan ucapan juragan Gandi. Sepertinya pernyataannya yang semalamtidak main- main. Dia tidak gentar mengejar Aisyah.
Bapak yang akan kesawah melihat kejadian itu menjadi sangat geram. Bapak kemudian mendekat.
" Ehemmm.." deheman Bapak seolah mengingatkan.
" Eh.. ada Bapak calon mertua. Monggo Pak, selamat bekerja. Bekerja yang rajin dan lihatlah yang terjadi. Hahaha" ucap juragan Gandi.
Bapak masih diam mencerna kata - kata juragan Gandi. Dia sudah tahu akan konsekuensi yang akan terjadi setelah peristiwa penolakan lamarannya itu.
" Dengar Pak. Itulah akibat menentang keinginanku. Akan ku buat rugi semua panenmu tahun ini" ancam Juragan Gandi.
__ADS_1
" Nduk, berangkatlah. Sudah siang. Ini urusan Bapak dengan juragan Gandi" perintah Bapak.
" Ta..ta.. pi Pak" jawab Aisyah terbata.
" Berangkatlah. Penuhi kewajibanmu! Anak - anak di madrasah sudah menunggumu. Pergilah nak" perintah Bapak.
" Baik. Pak Assalamualaikum. Mari juragan Gandi. Mari bapak - bapak semua" pamit Aisyah.
" Itulah yang aku suka dengan anakmu Pak. Dia begitu sopan dan lembut. Kenapa dia menolakku? Heee... Apa yang membuatnya menolakku?" tanya juragan Gandi geram.
" Maaf juragan. Itu sudah keputusan anak kami. Apapun yang terjadi saya akan menghargai keputusan anak saya. Dan jika masih berkelanjutan seperti ini. Ini akan menjadi tanggung jawab saya, melindungi anak semata wayang saya" terang Bapaj.
" Oh.. ya, bagaimanapun anda melakukan kejahatan kepada saya. Saya yakin Allah tidak tidur. Dan Allah akan membalasny" ucap Bapak kembali dan segera berlalu.
Ketika Bapak akan beranjak pergi, hujaman tangan mengenai tengkuk belakang kepala Bapak. Bapak menjadi tidak sadarkan diri setelah emndapst bogeman mentah dari anak buah juragan Gandi.
" Hahaha.. tinggalkan tua bangka itu. Tidak berguna. Sombong!" teriak juragan Gandi dan segera berlalu.
Bapak dalam keadaan pingsan. Belum ada seorang pun yang melewati jalan itu. Dan ketika Pak Lurah akan meninjau jalan yang akan diperbaiki, beliau melihatseseorang terbujur di jalan itu.
" Siapa itu? Pak.. pak.. itu dilihat" perintah Pak Lurah bersama rombonga peninjau.
" Angkat ... angkat... bawa ke tempat teduh dulu" perintah Pak Lurah.
" Pak Lurah, lebih baik dibawa kerumah Pak Mustofa saja Pak. Kasihan juga kalau dijalan" pinta Pak Sekdes.
" Baiklah. Pak, saya pinjam motor Bapak sebentar. Dan Pak sekdes, tolong bonceng di belakang dan pegangi Pak Mustofa" perintah Pak Lurah.
Pak lurah dengan lihai melajukan motor RX King milik salah seorang penilik jalan. Dan mereka segera mengantar Pak Mustofa ke rumahnya.
Ibu yang merasa hatinya tidak tenang sangat tercengang melihat Pak Lurah datang bersama Pak Sekdes membobong tubuh renta suaminya.
" Ya.. Allah.. Bapak.. apa yang terjadi. Maaf Pak Lurah, apa yang terjadi dengan suami saya?" tanya Ibu khawatir.
" Maaf Bu, kami tidak tahu yang terjadi Kami melihat Pak Mustofa sudah tergeletak di pinggir jalan saat saya dan rombongan penilik jalan akan meninjau jalanan" terang Pak Lurah.
" Ooo begitu Pak Lurah. Terima kasih banyak Pak Lurah. Pak Lurah segera membawa suami saya pulang" ucap Ibu.
__ADS_1
Pak Lurah segera merogoh kantong saku di celananya, kemudian beliau mendial nomor seseorang.
" Bu Clara, bisa ke rumah Pak Mustofa sekarang? Iya benar. Pak Mustofa bapaknya Bu Guru. Segeralah kemari. Beliau pingsan tidak sadarkan diri" perintah Pak Lurah.
Bu Clara adalah bidan di puskesmas desa. Dia juga sebenarnya orang kota yang ditugaskan dan mengabdi di desa ini sebagai tenaga kesehatan.
Bu Clara segera menuju rumah Pak Mustofa bersama dengan suster Marni. Perawat sekaligus asistennya.
" Assalamualaikum " salam Bu Clara.
" Waalaikumsalam" jawab serempak.
" Bu Clara, silahkan periksa Pak Mustofa. Tadi kami menemukan beliau di pinggir jalan yang akan kami tinjau. Dan beliau tidak sadarkan diri" perintah Pak Lurah.
Dokter Clara tidak menjawab Pak Lurah. Tetapi tangannya terampil untuk segera memeriksa Pak Mustofa dibantu oleh asistennya.
" Bu, Maaf. Ini sepertinya terjadi penyerangan kepada Bapak" terang Bu dokter Clara.
" Penyerangan?" jawab Ibu dengan sangat kaget.
" Iya bu, begini disini terlihat seperti adanya pemukulan sehingga membuat bapak tidak sadarkan diri. Dan sepertinya dipukul dengan sangat keras" terang bu dokter Clara lagi.
" Ya Allah. Pak Lurah, bukannya saya suudzon. Tetapi sepertinya ada hubungannya dengan juragan Gandi" jawab Ibu.
" Sebenarnya apa yang terjadi Bu? Apakah Ibu dan keluarga ada hutang dengan juragan? Atau ada masalah lainnya?" tanya bu dokter Clara seraya mengusap tangan Ibu.
Bu Clara tahu saat ini Ibu sangat cemas dan takut. Terlihat daei tangannya yang selalu menggenggan dan berkeringat.
" Sebenarnya, juragan Gandi melamar anak saya, Aisyah. Tetapi Aisyah menolak lamarannya" ucap Ibu.
Entah kenapa ada hati yang merasa tergelitik dan sangat bahagia mendengar berita itu. Hati itu merasa lega, karena harapannya untuk mendekati makhluk sholeha itu belum kandas.
Ya, tentu saja Pak Lurah. Siapa lagi? Bahkan Pak Lurah sudah merasa tertarik sejak pertama kali melihat Aisyah.
"Ternyata namanya Aisyah.. sangat pantas dengan nama itu. Akan ku patri di hatiku nama itu" batin Pak Lurah.
Sedangkan Pak Sekdes masih menyimak cerita Ibu. Karena setahu dia, jika sudah berhubungan dengan juragan Gandi akan menjadi sangat ribet.
__ADS_1
" Bu, Ibu tahu kan.. jika sudah menyangkut juragan Gandi?" tanya bu dokter Clara.
"