Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
29.


__ADS_3

Senyuman berkembang di bibir lelaki yang tengah berseri di pagi ini. Lelaki paruh baya yang sedang menatap senyuman itu ikut menerbitkan senyum kebahagiaannya.


" Setelah berpuluh - puluh tahun, senyum itu nampak kembali. Aden... hansem kalo kata nyonya besar dulu" batin Pak Darman.


Selama perjalanan, Pak Darman terus mengemudikan mobil. Sedangkan Vendra di biarkan dengan lamunan dan pikirannya yang entah kemana. Pak darman segera memanggil adennya.


" Den... Aden.." panggil Pak Darman menepuk bahu Adennya dengan lembut.


" Den... sudah nyampek ini loh" ucapnya lagi.


" Owalah.. wis luput yen wong lagi kasmaran ( Owalah... payah kalau orang lagi jatuh cinta). Hmm... ndak sadar - sadar ini. Maaf kalau tepukan bapak sedikit keras lo ya!!" gerutu Pak Darman.


" Den.." ucap Pak Darman sedikit keras dan menepuknya juga sedikit keras.


" Ehhh" Vendra terhenyak dari lamunannya.


" Ehhh... sudah sampai ya Pak? Hehe.. maaf, gak sadar" ucap Vendra cengengesan.


" Ya sudah tak maklum Den. Lah wong masih kasmaran. Masih jatuh cinta. Ya semua terasa indah. Ya to?" ledek Pak Darman.


Vendra tidak menyahuti perkataan Pak Darman. Hanya menerbitkan senyumnya kembali.


" Den, Bapak seneng banget lo. Aden sudah bisa senyum lagi. Alhamdulillah " ucap Pak Darman.


" Hmm" jawab Vendra singkat.


" Pak tolong bereskan barang saya. Bantu Pak Darman!" perintah Vendra kepada pegawai yang datang menyambutnya.


" Nggih Den. Mari Pak, tak bantu" jawab pegawai itu.


" Yo.. yo.. iki. Tulungono ( bantuin), Tasnya Aden bawa ke kamar saja. Seperti biasa, siapkan teh" perintah Pak Darman.


Ya, Pak Darman bisa memerintahkan kepada pegawai Vendra. Karena semua karyawan dan pegawainya tahu jika Pak Darman adalah orang kepercayaan Vendra. Istrinya yang membantu membesarkan Vendra.


Dan mereka berdua bekerja lebih dari setengah abad. Mereka mengabdikan diri bekerja kepada keluarga Vendra sejak masih muda. Oleh karena itu Pak Darman juga disegani oleh pegawai yang lainnya.


Semua barang bawaan sudah di bawa ke kamar. Dan Tarno segera ke dapur membuatkan teh untuk juragannya. Sementara juragannya masih menikmati halaman belakang rumah yang ada kolam ikan kecilnya.


" Den, itu Tarno masih bikinke teh" ucap Pak Darman.


" Chamomile?" ucap Vendra.


" Ya?? Apa den?? Chamo?? Chamo apa den?" tanya Pak Darman yang sedikit asing.

__ADS_1


" Teh Chamomile Pak" jawab Vendra.


" Halah... teh apa lagi itu. Sek wes, Tarno bisa ndak bikinke teh chamomilenya. Aden istirahat dulu. Jangan ngelamun lagi, ati- ati disini masih rungkut. Banyak demitnya!!" ucap Pak Darman mewanti - wanti.


" Demit apa Pak.. Pak.. Demit ra ndulit, setan ra doyan ( Demit gak nyolek, setan pun gak mau) " jawab Vendra.


Vendra memperhatikan sekeliling rumahnya. Rumah dengan bangunan sederhana yang terlihat sangat asri. Tidak ada rumah lainnya selain rumah ini. Posisinya juga berada paling atas.


Matanya terus menyusuri setial sudut rumahnya. Tiba - tiba mata itu tertuju pada gundukan tanah yang terlihat aneh. Tidak terlalu besar, tetapi seperti galian masih baru.


Didekatinya gundukan tanah itu. Kemudian dia melihatnya, benar dugaannya. Seperti baru dibuat. Dia kemudian menuju dapur untu meminta bantuan Pak Darman atau Tarno.


" Eh.. loh... Den" ucap Pak Darman bingung.


" Aden mau kemana to? Kok buru - buru banget loh!" gerutu Pak Darman.


Setibanya di dapur...


" Tarno... " panggil Vendra kepada Tarno.


" Nggih Den??" jawab Tarno yang kaget mendengar suara barito itu.


" Kamu ada cethok atau linggis kan? Dirumah ini ada perlengkapan kebun juga kan?" tanya Vendra.


" Ya ada Den. Kalau ndak ada mana mungkin taman dirumah Aden ini bisa rapi" jawab Tarno.


" Belum Den. Saya ndak tahu teh apa itu. Saya belum pernah mencobanya. Dan saya rasa disini juga ndak ada" jawab Tarno jujur.


" Ya sudah, tidak perlu kamu buat. Besok kapan - kapan akan mendatangkan orang yang bisa meracik teh itu. Dan kamu bisa belajsr. Sekarang, kamu ikut saya. Terus siapkan alat berkebun atau apapun untuk bisa digunakan menggali" perintah Vendra.


" Nggih Den. Mari den. Ada di sana" jawab Tarno dengan menunjuk arah.


Mereka segera kembali ke halaman belakang rumah dan segera mengambil barang yang di perlukan. Tarno mengambil beberapa cetok dan cangkul untuk keperluan. Sedangkan Vendra sudah berada di area.


Pak Darman terasa bingung dengan tingkah Adennya. Memang Vendra orang yang cukup pendiam. Tapi sekali melakukan seauatu itu pasti hal yang sangat penting.


Diam mengamati apa yang akan dilakukan Vendra. Tarno segera mendekat ke arah Vendra.


" Kamu tahu ini apa?" tanya Vendra menelisik.


" Emmbb.. tidak den. Saya pun baru melihatnya. Dan sepertinya galian masih baru" terang Tarno.


" Gali !!" perintah Vendra.

__ADS_1


Tanpa menjawab Tarno segera menggali tanah tersebut. Dicangkulnya tanah itu digalinya terus, tak lama dan tidak dalam sudah nampak sebuah kendil ( periuk kecil yang terbuat dari tanah).


" Stopp!!" perintah Vendra.


Vendra berjongkol mengambil kendil yang di bungkus kain putih. Kemudian dibukanya kendil itu.


" Ah...." teriak Vendra tersentak.


" Kenapa Den?" tanya Pak Darman.


" Ada yang mau macam - macam denganku !!" ucap Vendra dengan melirik Tarno.


Tarno yang merasa dilirik lalu mengerutkan dahinya. Bingung dengan tatapan juragannya seolqh memberikan pertanyaan melalui matanya.


" Saya ndak tau den. Saya juga baru liat galian ini. Dan ini masih baru. Kemarin saya tidak ke belakang sini. Karena turun hujan. Jadi saya berada di dalam rumah saja" terang Tarno.


" Astaghfirullahhaladzim, isinya kok beginian No... Medeni, menakutkan! Apa disini ada dukun No?" tanya Pak Darman.


" Ada Pak, namanya Ki Demang. Rumahnya di bawah lereng. Disamping makam" jawab Tarno.


" Den... Aden ndak apa?" tanya Pak Darman.


" Tarno, bakar kendil beserta seluruh isinya. Kau muslim bukan??? Bacakan fatihah tiga kali dan segera kamu bakar" perintah Vendra.


" Baik Den" jawab Tarno.


" Segera!! Sekarang!!" ucap Vendra sedikit meninggi.


" Pak setelah ini kita ke makam. Seperti awal tujuan kita. Bisakan?" tanya Vendra.


" Siap den" jawab Pak Darman.


" Isinya tanah, rambut, boneka dan paku. Jelas ini adalah sepertinya digunakan untuk menyantet. Tapi siapa yang melakukannya. Aku akan mencari tahu!!" batin Vendra penasaran.


Tarno yang keluar membawa korek segera melakukan apa yang disuruh juragannya. Setelah semua terbakar dengan rata, Vendra membawa kendil itu ke pemakaman.


Vendra segera pergi ke makam seperti yang direncanakan awal. Selama di perjalanan Pak Darman tidak satupun mengeluarkan sepatah kata. Sedangkan Vendra terus diam dan berpikir.


Dua lelaki dewasa yang duduk bersamaan dalam satu mobil, tetapi tidak ada percakapan sedikitpun. Suasanapun sangat hening, bahkan sampai di makampun sangat hening dan sepi.


" Den, mari.." ajak Pak Darman.


" Hmm" jawab Vendra dengan mengangguk.

__ADS_1


Mereka sengaja memang tidak membawa bunga. Agar disinyalir tidak ada yang mengetahui kedatangan seseorang yang ziarah.


Mata mereka masing - masing mengedarkan keseluruh penjuru. Seperti sedang mencari sesuatu.


__ADS_2