Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
9.


__ADS_3

Hati itu, hati yang sangat gelisah. Entah kenapa harinya tidak tenang. Gelisah itu mengusik hingga ke kalbu. Bagaimana dengan keadaan Bapaknya? Diapun tah tahu.


Ya, Aisyah gundah. Karena memikirkan keselamatan Bapaknya. Bagaimana keadaan beliau sekarang. Ingin rasanya dia ijin pamit untuk pulang. Tetapi dia masih mempunua tanggung jawab menunggu ujian sekolah.


Aisyah semakin tak karuan ketika yang dihadapinya adalah bandot tua yang sangat keji. Dia teringat sesuatu yang sebelumnya pernah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


Ketika bandot tua itu meminta hutangnya dilunasi dan si penghutang tak dapat melunasi. Dengan tega bak binatang dia merenggut paksa dan menghancurkan masa depan anak gadis penghutang itu.


Tentu saja meninggalkan bekas sakit yang teramat mendalam. Bukan lagi fisik melainkan lahir dan batinnya. Aisyah benar - benar merasa takut.


" Semoga Allah selalu melindungi kita pak" doa Aisyah dalam hati.


Dia teringat tentang proposal yang akan diajukan kepada Pak Lurah. Tujuannya agar semua terlaksana sebagaimana mestinya.


" Nanti setelah dari madrasah aku akan langsung ke kantor desa. Selanjutnya aku akan langsung pulang. Hatiku terasa sangat khawatir dengan Bapak"batin Aisyah.


Setelah tugasnya selesai, dia buru - buru pergi ke kantor desa. Di kantor desa dia tidak mendapati Pak Lurah yang sedang dalam peninjauan jalan.


Aisyah berinisiatif untuk menitipkan proposal yang sudah disepakati bersama Pak lurah tempo hari. Dan semua staf kantoe desa sudah mengetahui perihal tersebut.


Tentu saja mereka dengan sigap membantu Aisyah, karena memang tujuannya sangat baik dan mengembangkan desa.


Setelah memberikan proposal itu Aisyah segera bergegas pulang. Dipikirannya hanya ingin segera melihat keadaan Bapaknya.


Namun naas menimpanya. Di tengah jalan tepatnya didepan rumah putih yang katanya angker itu, dia dihadang juragan Gandi beserta centengnya.


Dia merasa ketakutan. Entah kenapa hatinya menciut, bahkan sangat ciut. Seketika gemetar melanda tubuhnya. Dia benar - benar ingin lari dengan sangat kencang.


Tetapi apa daya, ketika dia akan lari tangannya sudah dicekal salah satu centeng juragan Gandi. Di pegangnya tangan mungil itu.


Aisyah hanya meminta belas kasihan kepada juragan Gandi. Dan hanya bisa meminta maaf atas keputusannya. Tetapi dia tidak merubah pendiriannya untuk tidak menerima lamaran itu


Juragan Gandi makin menggila dengan penolakan Aisyah kembali ia dengar. Dengan kilat amarah di matanya, dia memberi kode kepada kedua centengnya untuk memegangi kedua tangan Aisyah.

__ADS_1


Kini yang dipikoran juragan Gandi hanya ingin memiliki Aisyah, yaitu salah satunya adalah menodai kesuciannya dengan cara paksa alias memperkosanya. Perbuatan keji itu akan segera terlaksana ketika keadaan saat itu sangat sepi.


Dirobeknya baju dinas mengajarnya, hingga lengannya sobek. Aisyah hanya bisa menangis dan meminta tolong. Leher Aisyah seperti tercekat ketika minta tolong.


Dibalik jendela besar rumah putih namapk sosok sekelebat melihat kejadian itu. Setelah melihatnya, tiba - tiba keluarlah lelaki tua renta yang sudah menghardiknya tempo lalu. Di pegangnya sebuah semprotan dan celurit ditangannya.


Dengan sigap, dia menyemprotkan cairan ke mata para centeng dan juragan Gandi. Seketika semua teriak kepedihan dimatanya.


Dia kemudian memberikan kode kepada Aisyah untuk segera pergi. Aisyah tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada orang tua itu.


" Makasih mbah" ucap Aisyah.


Aisyah segera pergi dengan berlari sekencang mungkin. Dan orang tua renta itu menghilang entah kemana, tanpa ada yang tahu.


Aisyah sangat ketakutan. Di sepanjang jalan ada orang yang melihatnya. Seolah tidak percaya bahwa itu adalah Bu Guru. Dia tidak memperdulikan itu.


Matanya terus meneteskan linangan air yang tak bisa terbendung. Dia merasa sangat kotor, karena tubuhnya sudah disentuh yang bukan mahromnya.


Sesampai di rumah Aisyah hanya mengucapkan salam dan segera memeluk Ibunya yang sudah berada di ruang tamu.


" Waalaikumsalam, lohh nduk apa yang terjadi sama kamu? Baju kamu?? Ya Allah Ya Rabb, apalagi ini?" ucap Ibu.


Bapak yang sudah mulai agak membaik setelah diberikan suntikan oleh dokter Clara segera menuju sumber suara. Kenapa sangat gaduh, dan istrinya berteriak histeris. Ketika Bapak keluar kamar dan mendapati keadaan anak gadisnya dengan baju compang camping. Baju yang terkoyak seperti dipaksa dikoyakkan.


" Ya Allah... nduk.. apa yang terjadi?" tanya bapak khawatir.


Aisyah hanya menangis sesenggukan. Ibunya segera menelpon Clara dan Pak Lurah. Seperti yang di pesankan mereka tadi. Kalau terjadi apa - apa bisa menghubungi mereka.


Mereka yang sudah mendapat kabar tentang Aisyah segera menuju rumah Pak Mustofa.


Bapak yang tahu tentang perasaan anak gadisnya itu hanya bisa memeluk dan menemaninya. Sedangkan Ibu membuatkan minuman agar sedikit tenang.


Kedua orang tua itu membiarkan Aisyah menumpahkan semua kesedihannya dengan tangisan. Itu memang sedari kecil dia melakulannya. Setelah itu dia akan bercerita dengan sendirinya.

__ADS_1


" Bagaimana nduk? Sudah tenang?" tanya Bapak.


Aisyah hanya mengangguk pelan. Sementara sebuah mobil merah dan sebuah mobil jeep sudah terparkir rapi didepan rumah Pak Mustofa.


Mereka sangat kaget melihat keadaan Aisyah. Clara segera mendekat dan segera memeriksa tanpa disuruh dan belum mendapatkan peresetujuan dari siapapun.


Clara sangat khawatir dengan keadaan Aisyah. Dia gadis yang sangat baik dan sangat disegani oleh semua orang. Dan dia mendapatkan perlakuan dari seseorang yang mencoba melecehkannya.


Dilihat dari bentuk sobekan paksa pada lengan baju Aisyah dan sedikit goresan kuku di lengannya.


" Bu, sebaiknya Aisyah berganti pakaian dulu. Maaf, ada yang bukan mahromnya disini" ucap dokter Clara dengan melirik Pak Lurah.


" Baiklah Nduk" jawab Ibu.


Ibu kemudian membawa Aisyah untuk berganti pakaian. Setelah itu Aisyah dan Ibu segera keruang tamu, karena sudah banyak yang menunggu penjelasan Aisyah.


Aisyah nampak sedikit takut. Dimatanya tersirat ketakutan dan traumatik yang dalam.


" Aish, kamu tidak perlu menceritakan apapun kepada kami. Tetapi aku hanya ingin bertanya kepadamu. Bolehkah?" tanya dokter Clara dengan sangat lembut.


Aisyah hanya mengangguk mendengar ucapan dokter Clara.


" Aish, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?" tanya dokter Clara.


" Sudah. Alhamdulillah " jawab Aisyah lirih.


" Alhamdulillah" jawab semua serempak.


Aisyah sudah bisa merespon dan mau menjawab pertanyaan dokter Clara. Sedangkan Pak lurah memperhatikan wanita yang dipujanya kini layu dan terlihat menyedihkan.


Aisyah yang enerjik, Aisyah yang riang, Aisyah yang selalu menghidupkan suasana, Aisyah yang pandai dan segala sesuatu yang melekat di diri Aisyah seakan hilang ditelan bumi.


Sakit? tentu saja. Pak Lurah merasakan kepediha dihatinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadis pujaannya. Dan kenapa sampai menimbulkan trauma yang mendalam sehingga dia hanya diam saja.

__ADS_1


Sedangkan Clara masih dengan caranya untuk mengorek sesuatu yang sudah terjadi dengan Aisyah. Clara sudah menganggap Aisyah adiknya sendiri. Karena hubungan kedua orang tuanya. Dan juga Clara hidup sebatang kara.


__ADS_2