Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
65.


__ADS_3

" Sebenarnya siapa mereka? Siapa yang menjadi tuannya? Kenapa mereka sangat menghalangiku?" gumam Aisyah lirih.


" Kenapa pesan - pesan Bapak dulu kini terbeslit di otakku? Disaat keadaan genting begini. Ah... terima kasih Bapak, sudah memberikan pelajaran yang begini. Sangat membantuku" gumamnya berlanjut.


Masih dengan suara rintihan kesakitan. Dipastikan suara itu bersumber di antara dua antek - antek yang berjaga itu. Aisyah menelusuri dengan hati - hati. Tapi sudah diendus oleh kedua antek - antek itu.


" Hmmm ada apa wahai kau anak manusia?" tanya antek - antek satu.


" Seprtinya dia mau manghantarkan nyawanya!!" ucap antek - antek dua.


" Siapa yang ada didalam??" tanya Aisyah tanpa basa basi lagi.


" Hmmm ada tujuan rupanya? Siapa tuanmu??" tanya antek - antek satu.


" Aku tidak bertuan. Hanya satu sesembahku. Allah SWT!!" jawab Aisyah tegas.


" Hehhh. Munafik!! Manusia munafik!!" hardik antek - antek satu.


" Kau bisa sampai kesini tentu saja ada kakek buyutmu juga pengikut kami. Pemuja kami!! Hahaha" jawab antek - antek dua.


" Hmmm benarkah??? " tanya Aisya tersenyum miring.


Didalam hati Aisyah sungguh bertanya. Apakah benar begitu adanya. Jika nenek moyangnya adalah pemuja jin dan iblis? Tapi, dia menepis semua pertanyaan dihatinya. Pernyataan iblis atau jin tidak perlu dipercaya.


" Hahaha. Lihatlah...." ucap antek satu.


Terlihat kepala mbah buyutnya yang sedang melayang layang diudara. Walaupun sudah meninggal ternyata jiwanya menjadi pengabdi kekal di dunia iblis.


Aisyah tersentak sedikit kaget dan terlihat di wajah ayunya itu. Segera sadar akqn permainan jin tersebut. Segera wajahnya kembali tenang dan didalam hatinya selalu beristighfar dan berdzikir atas nama Allah SWT.


" Hahaha... sudah lihat bukan? Buyutmu pemuja kami. Dialah tonggak dimana kamu bisa sampai kesini. Hahaha. Dia pemuja kami. Dan sekarang kami butuh dia untuk menghancurkanmu! Hahaha" gelegar suara antek dua.


" InsyaAllah Allah akan selalu menjagaku. Dan mengampuni semua kesalahan buyutku, jika memang begitu adanya " jawab Aisyah tegas.


Kini antek satu sudah geram dengan pendirian dan jawaban Aisyah yang tidak goyah sedikitpun. Bahkan dengan menampilkan kepala buyutnya dihadapannya itu.


Antek satu segera melayang dan melesat denga cepat.


Craaaaasssssssss


Terdengar goresan antara kuku dan kulit tubuh bergesekan. Seketika darah meleleh tanpa permisi melalui kulit tubuh mulus itu.


" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah.


Ya, Aisyah sempat menghindar dengan cepat. Jadi dia hanya tergores sedikit di lengan kirinya dengan kuku tajam antek satu. Jika tidak, mungkin cekikan atau hantaman keras telah melandanya sedemikian rupa.

__ADS_1


Dan pertarungan sengit itu segera terjadi. Antek dua tak kalah juga ingin mengadukan keahliannya. Melayang melambung tinggi dan...


Boooommmm


Melesat kebawah mengantam batu besar pijakan Aisyah. Aisyah yang sudab melayang melesat ke lain tempat. Antek satu segera mendaratkan ekornya dengan ujung lancip.


Crash... crasssshhh


Aisyah segera berlari menghindar. Dan terdengar sahutan layaknya orang berperang dengan pedang.


Criiinggg.. crashhh... crashhh. Criiiingggg


" Bapak???" Aisyah terperanjat kaget.


" Cepat !! waktumu tidak banyak. Amalan yang sudah bapak ajarkan!!! tenagamu sudah tidak memungkinkan!!" ucap Bapak.


Tanpa bantahan sedikitpun Aisyah segera memejamkan mata dan membaca bacaan ayat - ayat suci Alquran yang sudah di ajarkan jika ingin meleburkan makhluk tak kasat mata. Dan kini lantunan ayat menggema memenuhi seleuruh penjuru ruangan.


" Aaarggghhhh panasss... Diam kau gadis keparat !!! Laknat!!" teriak antek satu dengan memegangi telinganya.


Dan bapak terus menyerang membabi buta antara antek satu dan antek dua.


" Aaaaaaaarggghhh "


" Aaaaaaaarggghhh " teriak antek satu dan antek dua.


Seketika goyangan dahsyat terjadi. Aosyah sedikit kaget dnegan goncangan itu. Tak lama terdengan seperti batu bergeser. Ya, ruangan itu terbuka dengan sendirinya.


Aisyah segera masuk dan melihat siapa yang didalam dengan rintihan yang memilukan. Aisyah terhenyak kaget. Wanita yang sudah cukup umur tertahan di sana.


" Dia hanya jiwa. Lalu raganya dimana??" batin Aisyah.


" Tolooonggg " rintihan itu kembali terdengar.


Lemah dan bahkan sangat lemah. Jika tidak menajamkan telinga pun sudah tidak mendengarkan rintihan itu.


" Siapa anda? Kenapa anda disini? Dan kenapa meminta tolong?" tanya Aisyah.


" Tolonggg" hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Aisyah hanya mengernyit. Dibukanya tali yang membelit. Sebelumnya Aisyah tahu tali itu sudah bermantra. Segera dibacanya doa untuk memudahkannya membuka tali itu.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Aisyah.


Atas ijin Allah, tali itu terbuka dengan sangat mudah.

__ADS_1


" Tolong bawa pergi" ucap wanita itu.


" Siapa anda??" tanya Aisyah.


" Suamimu tahu!!" jawab wanita itu.


" Haaahhh???" Aisyah terhenyak.


Apakah ini yang dimaksud suaminya dia yang dapat menolong? Aisyah segera membawa wanita itu pergi. Tapi, dia hanya jiwa. Lalu raganya dimana?


Aisyah menepis pikiran itu dahulu dan dia segera membawa melesat kembali ke raganya. Sementara jiwa itu dia ikat dan disimpannya di sebuah tempat. Jika sudah ketemu raganya dia akan kembalikan dengan segera.


Sementara disebuah kamar luas. Wanita cantik itu sudah mengeluarkan banyak sekali darah. lengan kirinya yang sudah terluka dengan luka menganga.


Sementara sekujur tubuhnya penuh dengan keringat. Lebam di sana sini sudah tak terkira adanya. Wanita paruh baya itu setia membasuh mebersihkan dan membantu mengolesi obat diarea luka itu.


Merawat denga penuh kasih sayang. Yang entah kapan gadis cantik itu berbaring lemah tak berdaya. Sementara sang pujangga cinta terus bermunajat kepada Allah ta'ala. Memohon denga serendahnya dan meminta pertolongan untuk kekasih halalnya.


" Cah ayu, cepet kembali Nduk... " ucap Pak Darman yang mulai panik melihat luka - luka yang bertengger nyata di tubuh gadis itu.


Ya, untuk saat ini Pak Darman belum melihat bagaimana luka lebam yang ada. Karena saat Mbok Saroh membersihkan tubuh gadis itu. Pak Darman berpaling.


Hanya melihat rembesan darah yang mengucur deras di lengan kiri gadis itu. Seketika desir hatinya teriris. Tak dapat membantu secara nyata Hanya bisa melalui doa - doa serta memohon perlindungan sang Khaliq.


" Uhuuuukkkk" terdengar batuk disertai darah segar keluar dari mulut gadis cantik itu.


" Astaghfirullahhaladzim " pekik Mbok Saroh.


Vendra segera bangun dan menghentikan kegiatannya. Melesat mensejajari tubuh itu. diraihnya sapu tangan yang ada. Dimiringkan tubuh gadis itu agar darahnya bisa keluar tanpa mengambat pernapasan.


" Uhuuukkk" kembali terbatuk.


" Astaghfirullahhaladzim. Ya Allah... lindungilah istri hamba" gumam Vendra dengan lirih.


Bola mata bulat itu terbuka secara perlahan. Sangat lambat dan pelan. Sehinggat kerjapan - kerjapan lembut di bola mata itu nampak.


Sedikit kelegaan dihati lelaki itu akan hadirnya kesadaran setelah kekhawatiran menderanya sepanjang malam ini.


" M..m..mas" gumam Aisyah lirih.


" Ya.. ini Mas" jawab Vendra lembut.


" Ssssshhhh sakit" ucap Aisyah dengan memejamkan mata.


Sekujur tubuhnya kini merasakan sakit san terasa pegal. Entah kenapa seperti lemas dan tak bertulang.

__ADS_1


" Jangan bergerak dulu. Istirahatlah. Kamu sudah berjalan dan melalui banyak rintangan bukan? Istirahatlah" ucap Vendra lembut.


__ADS_2