Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
18.


__ADS_3

" Ya Allah Pak " ucap Mbok Saroh tertegun.


" Aden .. Ada pa to?" tanya Pak Darman memberanikan diri bertanya.


" Hm.. tidak apa Pak. Gadis ini butuh pelajaran sepertinya!! Aku mau dia yang selalu membersihkan kamarku. Menyiapkan segala keperluanku" pinta Vendra.


" Aden... Tapi.." ucap Mbok Saroh mengambang.


" Pindahkan kamarnya di samping kamarku!" perintah Vendra kembali.


" Mbok, ke kamarku segera. Bereskan apa yang aku perintahkan" pinta Vendra.


" Baik den" jawab Mbok Saroh lemas.


Aisyah yang mendengar bentakan Ravendra sangat takut. Nyalinya kini menciut. Entah apa yang akan terjadi kedepannya.


" Aku mungkin sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidupku. Tanpa ijinnya aku memindah semua barang - barangnya. Aku memang salah. Lancang !!" batin Aisyah.


Dikamar sudah menunggu sang empunya. Duduk diatas kursi kebesarannya. Dan bersandar sembari melihat sekeliling kamar.


" Mbok..." tegurnya.


" Ya den... " jawab Mbok Saroh singkat.


Masih dalam mode memindai seluruh kamar miliknya dengan tatapan yang menurut simbok berbeda.


" Maaf Den, sepertinya simbok kok agak kaget ya?" ucap Mbok Saroh.


" Kenapa?" tanya Ravendra datar.


" Emb, lah kok jadi berubah kabeh den.Berubah semua. Tapi simbok suka den. Biar ganti suasananya ngono loh den ( gitu loh den)" ucap Mbok Saroh.


" Hm... Mbok, perlu mbok ketahui. Apakah larangan dan pantangan dirumah ini sudah simbok sampaikan kepadanya?" ucap vendra lantang.


"Sek- sek den, sebentar. Aturan yang mana dulu ini? Lah simbok sudah banyak sekali mengatur gadis itu. Simbok rasa yang jadi juragan malah simbok. Bukan Den Vendra malah" jawab Mbok Saroh.


" Makam dan kamar ujung" jawab Vendra tegas.


" Kalo soal makan lah sudah den. Tapi kalau kamar belum. Kamar itu kan..." jawab Mbok Saroh menggantung.


" Hmm " dehem Vendra.


" Ya, nanti simbok sampaikan" jawab Mbok Saroh.

__ADS_1


" Ada lagi den?" tanya Mbok Saroh kemudian.


" Jangan bantu gadis itu membereskan kamar!!!" perintah Vendra tegas.


" Kasihan lah den. Lah wong baru saja mberesin kamar aden. Udah disuruh mberesin kamar sendiri" ucap Mbok Saroh lembut.


Ravendra hanya bisa melirik memandangi wajah Mbok Saroh. Mbok Saroh yang merasa sudah ngelantur ngomongnya segera mengiyakan perintah adennya.


" Nggih Den, sendiko dawuh" ucap Mbok Saroh tanpa bantahan.


" Ya sudah, kalau sudah ndak ada yang dibutuhkan lagi, simbok mau menemui cah ayu" ucap Mbok Saroh.


" Hm... tolong siapkan semuanya mbok" ucap Vendra kemudian.


" Siapkan? Maksud aden apa?" tanya Mbok Saroh bingung.


" Makan malamku. Aku lapar" ucapnya kemudian.


" Ya, den... " jawab Mbok Saeoh kemudian.


Mbok Saroh segera berlalu keluar dari kamar itu.


" Lah wong kamar wes bagus uda bagus wes cantik begitu. Wes nyaman banget itu buat aden. Lah Pakne kalau lihat mesti setuju nek kamar itu dah rapi dan bagus. Penataannya wae udah pas. Cocok lah !!" gumam Mbok Saroh.


Aisyah diantar menuju kamar itu. Dan segera membuka kamar itu. Aisyah sangat takut awalnya. Karena kamar begitu lembab dan gelap. Tidak ada sedikitpun cahaya yang masuk.


" Gimana cah ayu?" tanya Mbok Saroh.


Aisyah masih berdiam ditempat tanpa menjawab. Ingin sekali menjawab takut, tapi apalah daya. Dia hanya menumpang sebagai benalu di rumah ini.


Dari pada di jadikan istri muda si bandot tua. Lebih baik menjadi budak di rumah ini, pikirnya.


" Mbok, gelap. Apakah lampunya berfungsi?" tanya Aisyah pelan.


" Tak cobane cah ayu" ucap Mbok Saroh.


*klik


klik*


Dua saklar lampu sudah ditrkan oleh Mbok Saroh. Aisyah terperanjat kaget dengan isi kamar tersebut. Dia mengedarkan pandangannya. Menyapu setiap sudut ruangan. Meneliti dan menelisik jika ada serangga atau hewan apapun yang bersarang di dalamnya.


" Mbok..." ucap Aisyah lirih.

__ADS_1


" Ya cah ayu? Simbok juga baru tahu kamar ini. Simbok ndak pernah mencoba pengin masuk. Karena aden yang selalu masuk ke kamar ini. Dan ingat cah ayu. Jangan pernah pingin atau penasaran dengan kamar yang di ujung bawah sana. Ingat !!" peringatan Mbok Saroh kepada Aisyah.


" Nggih Mbok. Insyaallah Aish akan selalu mengingatnya" jawab Aisyah dengan anggukan.


" Jika tidak mau mendapatkan masalah. Ikuti saja aturan yang ada cah ayu" ucap simbok kembali.


" Ya mbok" jawab Aisyah pasti.


" Ya sudah, simbok akan menyiapkan keperluan Den Vendra. Cah ayu ndak apa to kalau simbok tinggal. Cah ayu bersihin dulu. Nanti simbok bantu kalau sudah beres ngerjain keperluan aden" terang Mbok Saroh.


" Iya, mbok. Tidak apa- apa. Terima kasih banyak Mbok" jawab Aisyah.


Aisyah mencari keberadaan alat kebersihan untuk segera dia membersihkan tempat itu. Tapi dia melongok kesana kemari tidak ditemukan satupun. Mbok Saroh yang mengetahui bahwa dicarinya benda yang dibutuhkan itu tidak tahu keberadaanya, Mbok Saroh kemudian meminta Aisyah menunggu.


" Wes, tunggu sebentar. Ambil di dapur saja cah ayu. Simbok ambilkan sebentar ya? Tunggu saja disini!" perintah Mbok Saroh.


" Tidak usah Mbok. Biar Aish saja yang mengambilnya. Mari Mbok, simbok harus menegerjakan yang lainnya bukan?" tanya Aisyah lembut.


Mbok Saroh hanya mengangguk dan tersenyum. Wajah tua yang membingkainya kini terlihat semburat kebahagiaan. Entah hanya semu atau hanya sesaat. Yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Adennya.


" Cah ayu, andaikan simbok punya anak lanang, anak lelaki yo. Tak jodohin kamu sama anaknya simbok wes. Wes ayu, sholehah, lembut. Halah wes, komplit" cerocos Mbok Saroh.


Aisyah yang mendengarkan ocehan Mbok Saroh hanya tersenyum sesekali mengusap bahu tua yang kini mulai rapuh.


Sesampainya di dapur, Simbok segera mengambil sapu dan keperluan kebersihan yang lainnya. Aisyah segera menerima barang tersebut. Dan segera berpamitan untuk bersih - bersih kamar yang akan ditempatinya.


Mbok Saroh segera berlalu melakukan pekerjaannya yang sudah menunggunya.


" Cah ayu !! jangan lupa lampu jangan dinyalakan semuanya jika gorden dibuka. Nanti den Vendra marah. Jika kurang terang, gorden ditutup semua dan bisa dinyalakan lampunya" peringatan Mbok Saroh.


" Nggih mbok, saya permisi" pamit Aisyah.


Aisyah segera berlalu ke kamar atas sesuai perintah sang tuan rumah. Dia segera masuk ke kamarnya. Ya, sebelum dia meninggalkan kamar itu dia sudah memberi tanda dengan memberi karet rambut di knop pintu. Sehingga memudahkannya menemukan kamar itu.


Ini dilakukannya agar tidak tersesat dan salah kamar. Karena rumah ini mempunya beberapa kamar dengan model pintu yang sama. Bahkan untuk membedakan masing - masing pintu sangatlah sulit.


Aisyah tidak mau dicap sebagai orang yang tidak sopan masuk ke rumah orang tanpa permisi. Sudah diberikan tempat berteduh saja sudah cukup.


Kini dia sudah berada di dalam kamar. Sesuai arahan Mbok Saroh. Semua gorden dibuka hanya setengah. Dan dia juga tidak menyalakan lampu sama sekali.


Dia kemudian beranjak untuk menyapu lantai yang sudah sangat kotor karena tidak pernah terjamah sedikitpun.


Dia merasa ada sepasang mata yang mengawasi dan mengintainya di kamar tersebut. Bulu kuduknya kini meremang dan semakin meninggi.

__ADS_1


__ADS_2