
" Ada apa? Apabyang kamu fikirkan?" tanya Vendra memecah keheningan dan juga lamunan Aisyah.
" Em.. tak.. tak apa tuan" jawab Aisyah gugup.
" Tidurlah... " perintahnya melembut.
Aisyah merasa ada hal yang aneh. Suara Vendra yang begitu lembut menembus gendang telinganya. Dia merasa bukanlah Vendra yang sedang berbicara.
" Tunggu apa lagi??" tanyanya ketus.
" Yah... mulai lagi. Baru aku merasakan kelembutan suaranya. Kini kembali ketus lagi. Dasar aneh !!" batin Aisyah.
" Kenapa bengong?" tanya Vendra kembali dengan ketus.
" Tidur!! Kamu tidur di sofa itu dan aku tidur di ranjangku. Karena ini adalah kamar milikku. Jika kamu ingin tidur di ranjang, aku mengijinkanmu tidur dikamar yang sudah aku perintahkan sebelumnya!" ucap Vendra penuh penjelasan.
Aisyah yang membayangkan kejadian tadi membuatnya ketakutan kembali. Dia segera menyejajarkan tubuhnya di sofa. Sofa yang menurutnya dengan ukuran yang cukup besar untuk badannya. Tidak buruk juga tidur disofa. Bahkan sofa ini terasa sangat empuk.
" Aisyah!!" panggil Vendra.
" Ya tuan" jawav Aisyah singkat.
Aisyah mendengar sang tuan memanggilnya, buru - buru dia bangun dan duduk. Karena menurutnya itu tidak sopan jika berbicara dengan lawan bicara tidak duduk, sama saja tidak menghormatinya.
Dilemparkannya selimut dan bantal tepat di pangkuan Aisyah. Aisyah terperanjat kaget dengan perlakuan Vendra.
" Gunakan itu" ucapnya ketus.
" Ya Allah, sekesar itukah lelaki ini? Kan visa memberikan aku dengan baik - baik. Bagaimana kehidupan kedepannya jika aku benar - benar menikah dengannya? Menjadi istrinya? Ah... bagaikan dineraka!!" batin Aisyah.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah lembut mengapus pikiran jahatnya.
" Jangan sebut itu dihadapanku !!!" teriak Vendra menggelegar.
Aisyah sangat shock dan benar - benar sangat kaget. Setengah tidak mempercayai teriakan itu. Tetapi dia mendengar dan menyaksikan sendiri orang yang berteriak tidak menyukai sebutan Allah.
" Astaghfirullahhaladzim, syetan dan jin mana yang dapat menguasai raganya? Sebesar itukah kekecewaannya kepada Allah? Hingga syetan bersarang hingga ke hatinya, bahkan mungkin sudah mengalir ke darahnya" bayin Aisyah dengan sembari mengelus dadanya.
" Sekali lagi aku mendengarnya, maka... enyahlah dari rumahku !!! Aku sudah tidak peduli dengan keselamatanmu!!" hardik Vendra.
" Jika tuan memang akan menikahi saya, maka setiap hari akan selalu melafadzkan asma Allah. Dan tuan akan selalu emlihat dan mendengarkan itu semua. Bahkan jika tuan mengusir saya dari sini. Allah akan melindungi saya. Termasuh perlindungan dari tuan, itu juga perlindunga dari Allah melalui tuan karena hati tuan digerakkan olehNya" ucap Aisyah tegas.
" Selamat malam" ucap Aisyah menutup pembicaraanya.
" Kauuu!!! Sshhhh!!!" desis Vendra dengan rasa jengkelnya.
__ADS_1
Aisyah segera menata bantal untuk tidurnya, agar nyaman ketika tidur. Dan segera membentangkan selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai leher.
" Bismillahhirrahmannrirrahim...." doa Aisyah ketika akan tidur.
" Aisyahhhh!!!" hardik Vendra.
Aisyah tidak mendengarkan hardikan Vendra. Dia kemudian menutupkan matanya dan menghadap punggung sofa. Terlelap tidur, walaupun mendengar sedikit omelan - omelan dari Vendra.
" Gadis ini !!! Ishhh... kenapa sangat menjengkelkan !! Dia benar - benar berani menantangku. Menyebalkan sekali !!" gerutu Vendra yang tidak kunjung tidur.
Sedangkan yang diomelinya sudah sampai kedalam mimpinya. Aisyah kini bermimpi bertemu dengan seorang wanita belanda. Lebih tepatnya noni. Ya, noni itu yang kemarin dia temui perwujudannya.
Noni itu mendekat dan tersenyum. Tidak ada wajah yang menyeramkan sedikitpun dari wujudnya. Aisyah mulai ketakutan, keringat dingin membanjiri dahinya.
Gelisah yang Vendra lihat dari tidur Aisyah. Vendra mendekati untuk melihat sebenarnya apa uang terjadi dengan Aisyah.
" Jangan ganggu saya... jangan ganggu saya.." igau Aisyah.
Didalam mimpi Aisyah, noni itu mendekatinya dan meraih tangan Aisyah dengan lembut. Didudukkannya Aisyah di sebuah sofa. Ya, sofa yang sama persis yang saat ini dia tiduri.
" *Jangan takut cantik. Aku tidak akan mengganggumu. Maafkan aku yang kemarin. Tolong jaga Vendra. Jangan pernah sakiti dia. Obati rasa kecewanya. Aku sangat menyayanginya" ucap Noni.
" Tapi... siapa anda? Kenapa anda berpesan dengan saya?" tanya Aisyah.
" Aku tahu, kamu gadis yang selalu ada dihatinya dan akan membantunya kelak. Tolong jaga dia. Aku Ibu Vendra" ucapnya.
Disaat Aisyah menengadahkan kepalanya Noni itu sudah tidak nampak dihadapannya.
" Ibu... Ibu.." igau Aisyah.
" Apa dia memimpikan Ibunya?" ucap Vendra.
" Aisyah... Aisyah..." panggilnya dengan menepuk pipinya yang sangat halus.
" Aish... bangun.." ucapnya kemudian.
" Ahhhh.... " lenguh Aisyah yang terbangun dari mimpinya.
Bulir keringat dingin sudah membasahi seluruh wajahnya. Apa yang dilihat ya di dalam mimpi seperti nyata. Dia mengedarkan pandangannya. Matanya memindai seluruh ruangan.
" Aish... Kamu baik - baik saja?" tanya Vendra khawatir.
" Ah... tuan" ucap Aisyah.
" Kamu mimpi buruk? minumlah dulu" perintah Vendra lembut.
__ADS_1
" Ii... Iyaa tuan... " jawab Aisyah masih dalam ketakutan.
Direngkuhnya tubuh mungil itu dalam pelukan seorang lelaki berbadan besar itu. Bagi Aisyah, Vendra termasuk lelaki dengan postur tubuh yang besar.
Aisyah merasakan kenyamanan dalam pelukan Vendra. Dan dia sedikit terhanyut dalam dekapan lelaki yang bukan muhrimnya itu.
" Astaghfirullahhaladzim " sebut Aisyah seraya menjauhkan pelukan dari tubuh Vendra.
" Maaf tuan" ucap Aisyah dengan cepat.
" Hm... Sudah merasa tenang?" tanya Vendra lembut.
" Su.. sudah tuan" jawab Aisyah gugup.
Rona merah di pipi kedua gadis itu terlihat sangat jelas. Entah malu atau apa yang dirasakan gadis itu.
" Kenapa masih gugup?" tanya Vendra.
" Maaf, jika aku lancang memelukmu. Hanya menenangkanmu saja!! " jawabnya cuek.
" Baru saja lembut... sudah kembali mode cuek!!" batin Aisyah.
" Aisyah..." panggilnya lembut.
Aisyah terkesiap saat namanya di panggil dengan begitu lembut.
" Ahh... i.. yaa tuan" jawab Aisyah pelan.
" Mimpi apa? Kamu mengigau dan memanggil Ibu" tanya Vendra.
" Emmm.. tidak tuan. Tidak apa.Masih malam tuan, tidurlah. Aku akan melaksanakan sholat malam" ucap Aisyah.
" Aish... sudah aku peringatkan!!" ucap Vendra sedikit keras.
" Maaf tuan, suka atau tidak tuan harus menerima konsekuensinya. Jika saat bersama saya. Saya pun tidak akan mengganggu tuan dengan apapun yang tuan lakukan. Tetapi tolong jangan halangi saya untuk selalu bersujud kepada Tuhan saya" ucap Aisyah tegas.
" Arrghhh!!! Gadis keras kepala. Rasanya semakin panas saja. Semakin membuatku marah!!" ucapnya dengan teriak - teriak.
Aisya cuek dengan teriaka dan hardikan Vendra. Dia kemudian mengambil air wudhlu dari kamar mandi dan segera mengenakan mukena.
Menggelar sajadah dan segera bertakbir. Setiap gerakan shokat Aisyah yang begitu khusuk, sedikit rasa rindu dihati Vendra.
Rindu berkeluh kesah kepada Snag Khaliw. Meneriakkan kekesalan hatinya. Vendra yang selalu menepis rasa itu. Dibentenginya setinggi mungkin hatinya yang sudah dikuasai syetan.
Entah sudah berapa lama dia tidak menyembah Tuhannya itu. Ditambah lagi semua cobaan hidupnyq yang selalu menerpanya tidak ada habisnya. Kini dia hanya menatap seorang Gadis yang sedang dalam masalah hidupnya.
__ADS_1
" Bagaimana gadis ini tidak mempunyai rasa kecewa dihatinya? Orang tuanya tiada, seluruh hartanya habis terbakar. Dan seluruh warga desa mencarinya seperti buronan. Mendapatkan fitnah keji yang sangat teramat membuat siapa saja tidak akan bertahan. Dan kini dia datang padaku, dan aku memberikan beban dengan menikah denganku. Kenapa kamu masih percaya dengan Nya?" batin Vendra