
" Haaa... Astaghfirullahhaladzim... makam??" pekik Aisyah.
" Kenapa aku berada di sini. Aku terjebak. Hiks... Bapak, Ibu... bagaimana keadaan kalian. Apakah kalian selamat?" lirih Aisyah dengan bercucuran air mata.
Malam semakin larut, di daerah desanya memang udara malam hari sangat menusuk. Aisyah yang saat ini hanya bisa merenung dan berdzikir dengan banyak linangan air mata, meminta pengampunan sang Khaliq.
Tiba - tiba kelebatan bayangan putih melewati depan matanya. Aisyah tercekat melihat itu. Dia kemudian menengok kesana kemari mencari sekelebatan bayangan putih itu.
Matanya menembus gelapnya malam. Hanya berbekal dengan cahaya remang -remang dia mencari itu. Dengan selalu menyebut asma Allah dia berdoa.
Sampai akhirnya dia lelah dan tertidur. Hinga terdengar sayup - sayup suara adzan. Aisyah segera bangun dan mencari kamar mandi.
Dia menyaksikan ruangan ino dengan sangat teliti. Kamar yang bersih dan tertata dengan sangat rapi. Bahkan debu tidak ada sama sekali.
Apakah ada kamar mandi di kamar ini? Dia terus mencari. Hingga akhirnya ada sebuah pintu di dalam kamar. Kemungkinan ini adalah pintu kamar mandi, pikirnya. Dan benar, itu adalah kamar mandi.
Tetapi airnya tidak keluar karena kering. Entah sengaja dimatikan atau tidak, itu bukan urusannya. Aisyah kemudian memberanikan diri keluar kamar. Ternyata dikunci dari luar. Aisyah akhirnya sholat dengan bertayamum. Dan dia menggunakan selimut untuk menutupi auratnya dan segera menghadap sang Illahi Rabbi.
Setelah sholat subuh dia berjalan ke tepi ranjang. Ranjang model tua, mungkin lebih tepatnya model jaman kuno. Di sampingnya terdapat nakas yang modelnya juga kuno. Aisyah mencoba membukanya dan dia menemukan sebuah Al quran kecil.
" Subhanallah" ucapnya.
Hatinya merasa lega, seperti menemukan sebongkah emas yang sangat berharga. Dia kemudian membuka lembar demi lembar untuk dibacanya. Tidak terlalu keras dia membaca ayat suci Alquran. Sayu - sayu terdengar merdu.
Setelah menghadap sang Khaliq, sayup - sayup dia berdzikir dan berdoa. Hingga pagi menjelang, cahaya matahari mulai muncul kepermukaan. Menampakkan indahnya cahaya. Menerangi seluruh isi bumi ini.
Diluar kamar Aisyah..
" Hhhhhrrrrr, siapa yang membaca itu???" teriak menggelegar suara.
" Anu.. anu.. den.. gadis itu" terang Kakek.
" Hei, Darman... usir dia!! Aku tidak suka !!" teriak suara itu.
" Ampunn Den.. ampun.." mohon ampun Darman.
__ADS_1
Darman kemudian ke dapur meminta Saroh ke kamar wanita itu. Saroh adalah istri Darman. Dia juga mengabdi pada tuan itu.
" Mak, kekamar atas. Wanita itu membaca Ayat suci Alquran. Aden marah" ucap Darman.
Ya, Rumah itu sebenarnya adalah rumah berpenghuni. Sengaja memberikan kesan seram dan angker agar tidak ada satu orangpun yang bisa menjangkau keberadaan penghuni itu.
Darman bekerja di rumah itu sudah lebih dari tiga puluh tahun. Dia mengabdi di rumah itu bersama dengan istrinya. Setiap hari hidupnya dibatasi.
Untuk kebutuhan sehari - hari, Saroh diantarkan suaminya ke pasar seberang desa dengan mobil milik Adennya. Agar warga desa tidak melihatnya dan kembali sebelum warga desa beraktifitas.
Ravendra, nama pemilik rumah itu. Dia tidak pernah menampakkan diri. Bahkan dia sangat tidak suka ada manusia lain yang berada di rumahnya.
Entah kenapa saat Aisyah masuk ke falam rumah ini dia tidak ada penolakan. Hanya saja dia sangat benci jika ada orang yang berdoa dan memuja Tuhannya dihadapannya, ataupun dia mendengarnya.
" Aden? Wanita? " tanya Saroh bingung.
" Tadi malam, ada gadis desa ngumpet dari kejaran warga. Sepertinya ada yang terjadi dengan gadis itu. Bajunya compang camping juga mak. Coba kau lihat mak, kasihan juga. Aden sekarang malah nyuruh bapak ngusir dia" terang Darman.
" Gadis? Den vendra tidak mengusir? bukankah dia anti dengan manusia selain kita?" ucap Saroh.
Mas Saroh kemudian keatas memastikan si empunya suara. Dia melihat gadis cantik, dengan rambut panjang lurus terurai. Badan putihnya seputih kapas. Wajahnya nan ayu rupawan bak wanita asia pada umumnya.
*cekrekk
cekrekk*
Suara putaran kunci pintu terdengar jelas. Aisyah yang sangat ketakutan hanya bisa berdoa. Tak terasa loloslah sudah air matanya.
" Cah ayu" ucap Mbok Saroh.
Aisyah tidak menjawab dia memperhatikan wanita paruh baya itu. Dilihatnya dari atas ke bawah. Dia melongok melihat kaki wanita paruh baya itu. Ternyata menapak tanah. Berarti bukan hantu, ya kan.
" Cah ayu, kemarilah" ucap Mak Saroh.
" Ndak perlu takut. Kemarilah. Akujuga manusia sama sepertimu" ucap Mak Saroh.
__ADS_1
Dengan ragu Aisyah berjalan menuju tempat yang dituju Mak Saroh. Makasaroh berada di kursi yang berada di depan ranjang. Sebenarnya rumah itu tepatnya dikatakan istana. Karena semua barang perabotannya sangat bagus dan terawat. Berbeda jauh dengan penampilan luar rumah ini.
" Nduk, cah ayu.. kenapa kamu sampai masuk ke rumah ini?" tanya Mak Saroh lembut.
" Se... se..benarnya" ucap Aisyah lirih.
" Kamu tahu bukan, konsekuensinya jika masuk ke rumah ini?" tanya Mak Saroh.
" Iya mak" jawab Aisyah lirih.
" Aku ikhlas jika memang aku yang akan menjadi tumbalnya" ucap Aisyah kemudian.
Mak Saroh tercekat kaget. Tetapi dia buru - buru mengubah mimik wajahnya sedatar mungkin. Dia sudah mengira dengan suaminya yang sudah berkata bukan - bukan kepada gadis ini.
Ingin tertawa? tentu saja. Mak Saroh habya bisa menahan tawanya itu.
" Bu... sebenarnya.." ucap Aisyah lirih akan menjelaskan.
" Namaku Saroh. Panggil saja Mak Saroh Namamu siapa cah ayu?" tanya Mak Saroh.
" Nama saya Aisyah mak. Sebenarnya saya kemari juga sangat terpaksa. Saya lari dsri kejaran centeng dan anak buah juragan Gandi" ucap Mak Saroh.
Sebenarnya Mak Saroh tidak pernah mengetahui siapa juragan Gandi dan bagaimana rupanya. Yang dia tahu tuannya, Ravendra menceritakan seorang gadia yang dia lihat ketika berada di ujung jendela menyaksikan pemandangan desa.
" Lalu..?" tanya Mak Saroh.
" Juragan Gandi memaksakan kehendaknya . Dia memaksaku menikah dengannya. Tetapi aku menolaknya. Dan dia membakar rumahku. kedua orang tuaku juga terbakar dimakan jago api. Aku yang hendak membantu kedua orang tuaku suda kena seret dan akan diperkosa juragan Gandi. Hiks... hiks.." Aisyah bercerita dengan tersedu - sedu.
" Kemudian aku lari tanpa tujuan. Hingga akhirnya aku masuk ke rumah ini. kemungkinan mereka tidak akan berani masuk untuk memeriksa ke dalm rumah ini. Karena rumor yang beredar di desa kami. Rumah ini angker dan berhantu" terang Aisyah.
" Menurutmu?" tanya Mak Saroh.
" Rumah ini sangat tertata rapi, dan seperti terawat. Tidak angker. Tetapi apakah benar ada makhluk menyeramkan di rumah ini? Suaranya menggelegar. Dia sangat menakutkan" ucap Aisyah ketakutan.
Mak Saroh hanya tersenyum mendengar penuturan Aisyah. Dia hanya aneh dnegan tindakan juragannya itu. Dia mengijinkan gadis ini masuk tetapi dia bersikap seolah - olah hantu yang menyeramkan.
__ADS_1