
" Den, apa aden akan kesana?" tanya Pak Darman.
" Tidak Pak, nanti saja!! Tunggu dia berulah apalagi. Untuk para buruh tidak mengapa Pak. Biarkan mereka tidak bekerja. Anggap sebagai liburan. Gaji akan aku berikan sebagai hak mereka secara penuh" terang Vendra.
Mbok Saroh memang sudah tahu kebaikan hati juragannya itu. Vendra tidak pernah melihat Ayahnya. Bahkan tidak pernah tahu bagaimana rupa Ayahnya. Namun, darah pebisnisnya bisa turun sepenuhnya.
" Bagaimana persiapan untuk nanti malam?" tanya Vendra kemudian.
" Siap den. Ada yang dibutuhkan?" tanya Pak Darman.
" Tidak. Cukup itu saja.Aku tidak mau dia tahu semua tentangku!!" ucapnya datar.
" Baik den. Ya sudah, tak mbalik kerumah belakang den. Nanti saya akan memberikan kabar ke mandor saja wes" ucap Pak Darman.
Vendra tanpa menjawab hanya dengan anggukan Pak Darman sudah paham.Mbok Saroh segera menyiapkan makan di meja dengan rapi. Setelah itu Mbok Saroh ke atas menuju kamar yang sednag di bersihkan oleh Aisyah.
Terdengar suara seseorang bercakap - cakap. Mbok Saroh tidak segera membuka pintu kamar. Diam dan mendengarkan.
" Cah ayu ngomong sama siapa itu? Lah kan yang ada dirumah ini aku, pak'e sama den Vendra saja to!! Lah itu terus siapa? Lah kok dadi merinding ngene, jadi merinding begini"
" Tolong jangan beritahukan keadaan saya dengan siapapun. Termasuk dengan pemilik rumah ini"
Percakapan terakhir yang Mbok Saroh dengar. Dan itu membuatnya penasaran. Mbok saroh segera mengetuk pintu kamar itu.
" Cah ayu... cah ayu" ucap Mbok Saroh.
" Ya.. Mbok.. " jawabnya singkat dan segera berlari membuka pintu kamar.
Tapi saat pintu akan dibuka, knop pintu tidak dapat terbuka sebagaimana mestinya.
" Mbok... Simbok masih di situ?" teriak Aisyah dari balik pintu.
" Ya, cah ayu. Buka pintunya" jawab Mbok Saroh.
" Mbok... tolong... mbok" teriak Aisyah seperti ketakutan.
__ADS_1
Mbok Sarohyang dari luar hanya mendnegarkan dan mengetuk- ngetuk pintu. Sembari berusaha membuka knop pintu kamar tersebut.
Sementara di dalam kamar. Tiba - tiba ada seorang wanita tengah duduk di ranjang yang belum sempat dibersihkan oleh Aisyah.
Wanita dengan gaun eropa klasik jaman dahulu. Wanita dengan rambut blonde bergelombang tengah duduk santai menghadapnya. Seperti noni belandanjaman dahulu. Bak bangsawan eropa yang tersohor. Tatapan tajam mengarah kepadanya.
Aisyah tercekat menyaksikan apa yang dilihat. Knop pintu yang tidak terkunci itu tidak dapat di buka. Sementara wanita itu perlahan mendekat dan menatap tajam.
Aisyah sangat ketakutan. Mulutnya srolah beku melihat itu semua. Bulir keringat dingin sudah mulai mengucur dari dahinya. Aisyah segera melantunkan surat pendek dalam hatinya.
Tapi wanita itu semakin mendekat seraya mengulurkan tangannya. Aisyah sangat ketakutan. Apa yang akan dilakukan wanita itu? Seperti akan mencekiknya.
Semakin mendekat dan terus mendekat perlahan berada tepat di depan wajah Aisyah. Dia hanya memejamkan mata dan mengkomat kamitkan doa perlindungan kepada Sang Khalik. Wanita itu kini hanya berkata dengan lembut.
" Duduklah..." ucap noni belanda itu.
Bak hipnotis tengah menghilangkan akal sehatnya. Aisyah segera duduk perlahan. Tatapannya seperti orang tatapnnya kosong.
" Jangan takut anak cantik... hihihi" ucapnya dengan tawa kikiknya.
Aisyah makin ketakutan. Setelah tadi menghadapi gadis yang tiba - tiba muncul dengan rintihan tangisnya. Kini noni belanda yang menakutkan.
Aisyah kini duduk ditepian ranjang. Dan wanita itu tepat berada di depannya. Mukanaya semakin mendekat ke muka Aisyah. Seketika wanita itu menganga bak monster yang sangat menakutkan. Giginya terlihat sangat tajam dan runcing. Mengeluarkan cairan yang baunya membuat ingin muntah.
Aisyah hanya bisa memejamkan mata dan terus berdoa, lambay laun wanita itu telah hilang entah kemana.
Sementara diluar, Mbok Saroh mendengar seperti orang teriak - teriak minta tolong. Mbok Saroh makin ketakutan dan sangat panik. Mbok Saroh segera kebawah memanggil adennya, meminta bantuan.
" Den.. den... tolong cah ayu... Kekubci di kamar" ucap Mbok Saroh panik.
Vendra tanpa menjawab langsung meletakkan sendok yang akan masuk kemulutnya dan segera berlari. Entah apa yang ada di benaknya. Kenapa dia reflek berlari dan segera menolong Aisyah.
Sebenarnya Vendra orang yang bahkan tidak pernah membantu orang lain secara langsung. Dia hanya ingin seluruh dunia membencinya. Bukan karena apapun. Tapi karena itu salah satu cara agar dia semakin tegas dan keras dalam hatinya.
Tetapi ternyata salah, semua orang yang sudah mengetahui secara langsung dan memahami lebih dalam, selalu menyimpulkan Vendra orang baik.
__ADS_1
" Aisyah.... Aisyah...." teriak Vendra dengan menggedor pintu.
Tanpa meminta persetujuan si empunya dia langsung mendobrak pintu itu. Hanya sekali tendangan pintu terbuka lebar. Disusurinya selurug kamar dan ruangan itu mencari keberadaan Aisyah.
Aisyah tidak nampak dimanapun. Tetapi terdengar isak tangis di ujung lemari. Vendra segera mencari sumber suara itu. Diikuti Mbok Saroh dari belakangnya.
" Cah ayu.. cah ayu" panggil Mbok Saroh lirih.
Dilihatnya wajah pucat dengan keringat dingin masih tersisa di dahinya. Dengan tampilan berantakan. Duduk menekuk kakinya dan hanya memegangi tangannya.
Isak tangisnya tertahan seperti tercekat di tenggorokan. Vendra yang melihat itumerasa sangat sakit. Di rengkuhnya tubuh mungil itu tanpa persetujuan pemilik tubuh. Digendongnya dan segera dibawa ke kamarnya.
" Mbok, buka pintu kamarku" perintah Vendra.
Tanpa menjawab Mbok Saroh berlari dan segera membuka pintu kamar. Vendra segera meletakkan tubuh mungil itu di atas ranjangnya yang berukuran king size.
Mbok Saroh segera menuju kulkas yang berada di kamar adennya. Diambilnya air mineral dingin yang ada di dalamnya. Kemudian dia mendekat ke samping Aisyah.
" Minumlah" peritnah Vendra.
Tanpa menjawab Aisyah segera meraih gelas yang berisi air mineral dengan sangat cepat. Bahkan masih dengan gemetaran. Simbok yang melihat sangat sedih. Sebenarnya apa yang menimpa cah ayu selama di dalam kamar tersebut.
Air mata di mata indah itu masih menetes walaupun tidak sederas tadi saat Vendra menemukannya di pojok lemari. Diusapnya penuh kelembutan. Disisipkannya anak rambut yang mulai keluar dari hijabnya.
" Ada apa?" tanya Vendra.
Hanya dua kata tapi bermakna ingin tahu sesuatu yang terjadi dan menimpa Aisyah. Aisyah hanya diam dan masih dalam gemetaran. Sesekali masih meminum air itu untuk menghilangkan gemetaran karena ketakutannya.
" Cah ayu... istighfar " ucap Mbok Saroh.
" Astaghfirullahhaladzim " ucap Aisyah kemudian.
Dan kini tangis itu semakin deras. Tapi tidak ada isakan. Hanya tetesan air mata yang enggan keluar dengan sendirinya kini tanpa malu mengucur tak terhingga.
" Ada apa?" tanya Vendra mengulangi.
__ADS_1
Aisyah hanya menatap Vendra dan segera memeluknya. Erat, bahkan sangat erat. Vendra yang membiarkan gadis itu memeluknya tahu posisi dan keadaan yang dialami gadis itu.
" Takut... Hiks" ucapnya lirih dengan tangis yang menjadi.