Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
53.


__ADS_3

Sosok wanita yang berada dalam pandangannya kini dalam keadaan penuh peluh. Netra indahnya uang setiap hari di lihatnya kini tak nampak dan hanya terpejam erat. Ranjang indah bak istana kini porak poranda bak badai menghadang.


" Apa yang sebenarnya terjadi Mbok?" tanya Vendra lirih.


" Saya juga ndak tau Den. Saya juga bingung. Dari tadi cah ayu seperti itu" jawab Simbok bingung.


" Saya takut Den... " jawab Mbok Saroh dengan bergetar dan menitikkan cairan bening di netra tuanya.


" Ya sudah. Ceritakan awal mula. Apakah dia melakukan hal yang sudah kularang?" tanya Vendra.


" Ndak Den. Demi Allah cah ayu selalu bersama Simbok. Tadi memang sebelum tidur Cah Ayu merasa gelisah. Katanya karena memikirkan Aden. Dan pun terjadi dengan Simbok. Simbok juga khawatir dengan Aden dan Bapak" terang Mbok Saroh dengan terisak.


" Lalu??" tanya Vendra.


" Kami melaksanakan sholat sunah supaya kami merasa sedikit tenang. Dan itu terjadi. Kami sama - sama terlelap. Tapi tiba - tiba, Cah Ayu bergumam dan berteriak. Saya terbangun. Dan Saya melihat Cah Ayu seperti ini. Saya bangunkan tapi tidak ada responnya Den. Simbok takutt Den " jawab Mbok Saroh terisak - isak.


Pak Darman yang sudah sampai langsung duduk di samping istrinya. Memberikan kekuatan dan kenyamanan, agar tidak merasakan ketakutan yang berlebihan. Keterangan istrinya sudah sangat jelas baginya.


" Den, mungkinkah?" tanya Pak Darman serius.


" Kemungkinan begitu Pak. Dia dari tadi bergumam seperti sesuatu yang dia belum pahami" ucap Vendra.


" Den... tadi Cah Ayu menyebutkan Makhluk!" ucap Mbok Saroh mengingatkan.


" Apakah ada pengirim?" tanya Simbok ke Pak Darman dengan serius.


" Wes.. kamu ndak perlu mikir ke sana - sana bune. Semua belum jelas. Kita dampingi cah ayu. Bapak yakin, dia pasti bisa melewati ini semua" terang Bapak.


" Wes, mari kita berdoa sebisa mungkin. Doa apa saja dalam bahasa apa saja. Gusti Allah pasti paham dan mendengar doa kita. Minta pertolongan kepadaNya itu sangatlah penting untuk saat ini" terang Pak Darman.

__ADS_1


" Iya Pak" jawab Mbok Saroh dengan anggukan.


Vendra segera menuju ke kamar mandi. Dua orang tua itu hanya mengamati tanpa adanya pertanyaan. Pintu itu tertutup sudah. Tak lama terdengar gemericik air dari dalam ruangan itu. Setelah menunggu sekian lama, keluarlqh sosok yang sudah ditunggu.


" Maaf, aku mandi dulu" jawabnya lirih.


Netranya tak luput melihat gadis manis yang terlelap dengan gelisah di singgasananya.


" Kenapa kamu ikut dalam keadaan yang tidak semestinya. Apakah kamu ada hubungannya dengan semua ini? Kenapa kamu?" batin Vendra.


Dalam diam mereka segera bermunajat kepada sang khalik untuk meminta perlindungan dan pertolongan. Mulut tiga orang itu tak luput dari komat kamit entah apa yang mereka baca.


" Den, maaf simbok lancang. Mungkin inilah saatnya untuk membuka Alquran yang selama ini Aden tinggalkan. Bukankah Aden sangat pandai?" ucap Simbok halus.


" Hmmm" jawab Vendra yang dari tadi sudah berpikiran sampai ke sana.


" Jangan malu. Mungkin saat inilah Aden bisa melindunginya dengan cara itu! " ucap Pak Darman menimpalinya.


" Sudah wudlu bukan? Ambillah!" ucap Simbok seraya mengulurkan sebuah Alquran.


" Simbok?? Bukankah selama ini tidak ada Alquran dirumah ini?" tanya Vendra cepat.


" Wes, cepet ambil. Ini punya gadis Aden" jawab Mbok Saroh tersenyum.


" Heem" jawab Vendra.


Entah apa yang sekarang ada di pikiran pemuda itu. Diusianya yang tengah memasuki usia matangnya dia sudah sangat jauh dari sang pencipta. Dan kenapa Allah masih menyiapkan jodoh terbaik untuknya.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucapnya.

__ADS_1


Dibukanya Alquran dengan membaca taawudz terlebih dulu. Dibacanya perlahan, seperti meraba. Ya, benar saja. Itulah hal yang baru saja dilakukannya. Terbata, tentu saja!


" Sik sabar, pelan saja. Fokus, khusuk Den. Kaya cah ayu nek mbaca" ucap Simbok yang mengerti bahwa Adennya sedang dalam mode gugup.


Mata tua itu tak mampu berkata, hanya ucap syukur yang mendalam di kalbunya. Anak juragannya yang sudah dianggap anaknya sendiri kini berada dalam jalurnya. Kembali ke jalan sang pencipta. Tidak karena paksaan ataupun keterpaksaan.


Walaupun dalam keadaan yang terdesak, tapi demi rasa cintanya yang besar kepada gadis cantik yang tergolek lemah dengan gelisah.


" Alhamdulillah Ya allah, engkau lembutkan kembali hatinya yang membatu. Membukakan kalbu yang selama ini entah berada di mana. Hamba hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Lindungilah dia dan bahagiakan kehidupannya hanya dijalanMu. Aaminn" batin Mbok Saroh.


Genggaman tangan tua yang sudah tidak kekar kini bertumpu di tangan tuanya. Lelaki yang dengan sentiasa berada di sisinya. Walaupun tanpa adanya anak yang hadir dalam kehidupan mereka. Setia yang tiada luntur dalam jiwanya.


" Alhamdulillah " ucap Pak Darman.


" Iya Pak" mereka saling berbisik.


Masih dalam mendengarkan lafalan dan terhanyut dengan murottal yang sudah terdengar. Walau diawal masih terbata, kini suara merdu nan menggema di ruangan itu.


" Shhhssss" desah Aisyah dengan mata yang masih terpejam.


Gadis itu terpejam tapi dengan kondisi yang masih gelisah.


" Oooo.... ww.. ooonghhhhh" terdengar ucapannya yang hampir tidak terdengar dan tak jelas.


Dua mata tua itu masih mengamati gadis yang tak berdaya itu dengan diam dan mendekat seraya masjh berkomat - kamit dengan bacaan yang dilantunkan. Sementara Vendra masih setia dengan murottalnya.


" Ahh... Mas...!!" ucap Aisyah yang kini diliputi dengan gelengan kepala dengan kecemasan tinggi.


" Mass??" ucap Mbok Saroh terhenti.

__ADS_1


" Mungkin Aden Bune. Den, jangan berhenti. Teruskan saja. Semoga bisa membantu kesadaran Cah ayu!" ucap Pak Darman serius.


__ADS_2