Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
22.


__ADS_3

" Sudah cah ayu?" tanya mbok Saroh.


" Sudah mbok" jawab Aisyah singkat.


" Ya sudah, ini bisa dipakai. Den Vendra yang sudah menyiapkan ini semua" ucap Mbok Saroh.


" Tuan Vendra?" tanya Aisyah keheranan.


" Kenapa tuan begitu baiknya terhadapku? Bukankah dia manusia jadi - jadian seperti rumor yang beredar di desa waktu itu? Dan apakah dia hantu yang berubah jadi seperti manusia? Tetapi apa yang dia inginkan, sekali menjentikkan jarinya sudah tersedia. Jadi, siapakah tuan Vendra yang sebenarnya?" batin Aisyah bertanya - tanya


" Wes, ndak usah ngelamun cah ayu. Sik penting sudah ada baju. Dan Den Vendra bisa bersikap baik sama cah ayu. Bersikap apa adanya saja. Jadi diri sendiri saja. Den Vendra tidak akan berbuat jahat" ucap Mbok Saroh.


" Bersikap baik?" tanya Aisyah.


" Wes.. wes.. pembicaraan selesai. Dipakai dulu bajunya cah ayu. Ndak semakin dingin" ucap Mbok Saroh menyudahi.


" Baik Mbok" jawab Aisyah singkat.


Aisyah kembali ke kamar mandi dan berganti pakaian. Aisyah tetap membuka pintu kamar mandi dan dia berganti pakaian dibalik pintu kamar mandi. Agar tidak nampak oleh Mbok Saroh.


Sementara Mbok Saroh menunggu di sofa depan ranjang kebesaran milik tuannya itu. Dia tahu dimana posisinya sehingga dia enggan untuk duduk walaupun ditepian ranjangnya.


" Mbok sudah. Kenapa tuan Vendra begitu tahu ukuran bajuku? Bahkan maaf Mbok.. emmm ukuran pakaian dalamku pun paham. Apakah?" tanya Aisyah menggantung.


" Wes.. ra usah ngeres, ndak usah berpikir negatif begitu. Simbok yang emmebelikan buat kamu cah ayu. Ukuran sama dan pas, yo karena Simbok tahu ukuran gadis sepertimu cah ayu. Den Vendra cuma memberikan uang sama Simbok. Bagaimana? Cah ayu suka?" tanya Mbok Saroh.


" Iya mbok. Terima kasih. Aish suka sekali. Dan lagi sesuai selera Aish" ucap Aisyah tulus.


" Alhamdulillah. Ya wes sekarang ke bawah. Kita makan malam dulu" ucap Mbok Saroh.


Aisyah masih dian terpaku. Kemudian bergerak cepat dan memegang tangan Mbok Saroh. Tangan dingin Aisyah sangat terasa ketika menempel di tangan Mbok Saroh.


" Wes, Ndak perlu takut cah ayu. Kita punya Allah bukan? Jadi minta perlindungan dariNya. Dan selebihnya kami akan selalu siaga untuk cah ayu. Ayo.." ajak Mbok Saroh seraya menenangkan.

__ADS_1


Aisyah hanya mengangguk membenarkan ucapan Mbok Saroh. Di pegangnya tangan nan mulai keriput itu dengan sedikit erat. Sehingga membuat Mbok Saroh sedikit terperanjat. Tapi Mbok Saroh tahu, Aisyah masih dalam keadaan takut. Hal itu sangat lumrah dengan apa yang baru saja menimpa dirinya.


Aisyah tidak berani menengadahkan kepalanya. Bola matanya tertuju hanya di depannya. Dia tetap berpegangan erat ke lengan dan telapak tangan Mbok Saroh.


Mbok Saroh sebenarnya juga merasa ketakutan akan hal tersebut. Tapi selama Mbok Saroh tinggal dirumah ini belum pernah menjumpai hantu atau jin dalam bentuk apapun. Hanya ada satu setan yang berada di hati adennya. Setan " benci".


Setan itu yang menguasai hati adennya hingga saat ini. Sampai lupa caranya untuk bersujud kepada sang Khaliq. Dan seperti marah dengan Sang Pencipa. Karena rasa kecewanya yang teramat dalam. Marah dalam keadaan kecewa dan salah.


Sesampainya di meja makan, Vendra sudah menunggu dengan sambil membaca majalah yang ada.


" Ayo makan!!" perintah Vendra dengan cepat.


Aisyah tahu, dia yang membuat semuanya menjadi terlambat. Sampai - sampai Vendra menunggu waktu makannya hanya untuk dirinya.


" Maaf" hanya kata itu yang Aisyah ucapkan.


Mbok Saroh hanya memegang pergelangan tangan Aisyah sembari mengedipkan matanya. Menandakan semua baik - baik saja.


Tidak ada suara satupun yang keluar dari masing - masing mulut. Aisyah sudah mengambil makanan sesuai porsinya dan sudah berada di piringnya.


Doa itu tidak keluar dengan keras, hanya lirih dan hanya didengarkan sendiri. Mungkin hanya dia saja yang mendengar. Dengan menengadahkan tangan dan berdoa dengan khusuk.


Vendra yang kala itu langsung saja makan merasa sangat sesak dadanya. Serasa tidak mampu bernafas dengan lapang. Diraihnya air putih yang sudah disediakan sebelumnya. Kemudian memindai Aisyah dengan sangat teliti.


Doa itu lirih bahkan sangat lirih tapi Vendra merasakan doa itu sangat memekakkan telinganya. Dipegangnya dada itu berdebar sangat kencang. Tak dipungkiri rasa rindu itu ada.


" Ya, Allah.. aku memang rindu kepadaMu tapi aku sangat kecewa kepadaMu. Engkau membuatku sakit yang teramat sakit. Akangkah Engkau memberikanku sedikit kebahagiaan di sisa umurku?" batin Vendra.


Aisyah yang sudah berdoa tidak melihat kemanapun. Matanya hanya tertuju ke piring yang berisi lauk pauk yang sangat menggiurkan. Tapi entah kenapa dia tidak ***** makan. Bukan berarti menyia- nyiakan rezeki.


" Ya Allah, sungguh.. nikmat mana lagi yang Engkau dustakan. Hamba hanya tidak menyia - nyiakan rezeki hari ini. Tapi semoga Engkau mengampuni hamba jika makanan ini tidak habis" ucapnya dalam hati.


Vendra melihat gadis nan ayu itu makan dengan sangat malas. Dia tetap mencoba mengisi kekosongan perutnya. Dia pasti tidak akan menyia - nyiakan makanan yang ada.

__ADS_1


" Habiskan makananmu!! Jangan kau sia - siakan walau hanya sebutir !!" ucap Vendra menyadarkan lamunan Aisyah.


Aisyah sedikit terperanjat dengan ucapan Vendra. Dari mana dia mengetahui apa yang sedang dia ucapkan dihatinya. Apakah dia punya telepati?


" Ba.. baik tuan. Insyah akan saya habiskan" jawab Aisyah ketakutan.


" Ya Allah berikan kekuatan untuk menghabiskan makanan ini agar tidak mubadzir" batin Aisyah.


" Bagus !! Setelah ini kembalilah ke kamarku. Jangan pernah keluar sebelum aku masuk untuk menemanimu. Jika takut nyalakan televisi yang ada" perintah Vendra.


Aisyah merasa tidak enak. Dia berfikir hal yang negatif kepada Vendra. Apabyang sebenarnya direncanakan. Tapi sebenarnya Aisyah masih takut jika hantu itu kembali lagi, apalagi kamar Vendra bersebelahan dengan kamar itu.


Vendra yang mengetahui kecemasan di wajah cantik itu segera menenangkannya.


" Tidak perlu takut, kamarku aman. Bahkan Setan dalam bentuk apapun sudah takut kepadaku !!!" ucap Vendra lantang.


" Ya memang, karena dihatimu sudah ada setan" ucap Aisyah dalam hati.


" Astaghfirullahhaladzim " ucaonya lirih.


" Kenapa?? " tanya Vendra sedikit keras.


Aisyah yang gelagapan menjawab hanya melongo dan tidak mampu menjawab sedikitpun.


" Kenapa? Karena setannya ada pada diriku? Begitu kan?" ucap Vendra sarkas.


" Bu.. bukan tuan.." ucap Aisyah gelagapan.


" Lalu??" tanya Vendra menelisik.


" Wes.. wes.. sudah.. ndak ada setan - setanan. Sekarang cah ayu tak anterin ke atas. Ke kamar aden, tak temeni selama aden belum kembali ke kamar. Gimana? " tawar Mbok Saroh.


" Lah aden, silahkan kalau mau melakukan sesuatu atau masih ada keperluan. Monggo" ucap Mbok Saroh kembali.

__ADS_1


" Ya Mbok Makasih" ucap Vendra menyudahi percakapan itu.


Aisyah segera menghabiskan makannya dan kemudian kembali ke kamar sesuai dengan perintah tuan rumah.


__ADS_2