Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
43.


__ADS_3

Vendra hanya diam tidak menjawab. Menjadi pendengar yang baik tidaklah salah meunurutnya. Akan ada saatnya dia akan bertindak.


" Den, apa sebaiknya kita tidak lihat saja rumah tua itu? Bukankah Aden juga penasaran?" saran Pak Darman.


" Ya, itu yang sedang saya pikirkan Pak. Tapi saat ini sebaiknya kita temui orang ini dulu. Kemungkinan dia bisa kita jadikan kunci" jawab Vendra.


" Den, jangan lupa obatnya" ucap Pak Darman mengingatkan.


" Obat lagi... obat lagi. Sudah tiga hari ini saya tidak meminumnya pak!" jawab Vendra dengan menghembuskan nafas kasarnya.


Seketika Pak Darman menoleh sarkas.


" Benarkah??? Lalu apa yang aden rasakan jika tidak meminum obat itu?" tanya Pak Darman penasaran.


" Sejauh ini tidak ada Pak. Hanya sedikit lemas. Dan.. mungkin aku tidur akan menghilangkan rasa itu" jawab Vendra santai.


" Tapi... Aden jangan melupakan membawanya. Itu juga berbahaya den. Selama ini Aden tergantung dengan obat itu" ucap Pak Darman.


" Ya.. walaupun sekarang sudah ada obatnya di depan mata. Tapi kan tidak dua puluh empat jam selalu bersama den" ingat Pak Darman.


" Buat jaga - jaga Den" ucapnya kemudian.


" Iya Pak. Terimakasih atas nasihatnya" jawab Vendra tidak marah.


Ya, Vendra menyadari selama hidupnya memang dia tidak terlepas untuk meminum dan mengkonsumsi obat itu. Obat itu bak nyawa sambungnya.


" Aku juga heran Pak. Itu obat untuk penderita sepertiku tapi bisa menolongku selama ini" ucap Vendra menelaah kembali.


" Bukankah penderita hidupnya tidak akan lama?" ucap Vendra kemudian.


" Weealah Den.. Den.. hidup mati orang itu bukan ditangan dokter apalagi obat. Semua sudah diatur Gusti Sang Maha Pencipta segalanya. Ndak perlu pesimis Den. Dinikmati, disyukuri dan dijalani saja. Selama orang tua ini masih sehat, pasti akan selalu ada buat Aden" ucap Pak Darman menasihati kembali.


" Makasih Pak. Eh.. sepertinya sudah mulai reda. Mari Pak.. " ajak Vendra.


" Yo wes.. ayo Den" jawab Pak Darman.


Sementara di sebuah rumah mewah yang tidak nampak di depan maupun di belakangnya. Karena memang rumah itu dibuat oleh pemiliknya tidaklah nampak bak rumah sesungguhnya.


Melainkan seperti gundukan yang tidak terlihat indah apalagi mewah. Namun di dalamnya bak istana mewah dengan segala perabotan yang komplit.


" Mbok, mas Vendra apa sudah makan ya? Tadi belum saya siapkan bekal" ucap Aisyah tiba - tiba.


" Ciee yang mulai khawatir sama kakanda tersayang" ledek Mbok Saroh.

__ADS_1


" Bukan begitu Mbok" ucap Aisyah yang bersemu merah pipinya.


" Rona wajahmu mencerminkan kebahagiaan cah ayu. Simbok seneng, bahagia. Semoga kalian di berkahi selalu dan diberikan kebahagiaan dunia wal akherat ya cah ayu" ucap Mbok Saroh.


" Aamiin Mbok. Emmmbbb... Mbok, boleh saya bertanya?" tanya Aisyah tiba - tiba.


" Ya.. boleh. Kenapa cah ayu?" jawab Simbok.


" Mas Vendra sebenarnya pergi kemana ya Mbok? Tadi keburu - buru. Saya mau tanya sudah pergi cepat" ucap Aisyah sendu.


" Wes, ndak usah sedih gitu. Kakandamu lagi berkelana mencari sebongkah berlian. Hehehe" canda Simbok.


" Berlian? Jadi mas Vendra kerja di pertambangan?" tanya Aisyah kembali.


" Wehhh... lebih dari itu. Masmu itu... halah wes lah. Nanti biar kakandamu saja yang jelasin. Kamu bisa tanyakan kepada kakandamu cah ayu" ucap Mbok Saroh kemudian.


" Ya sudah. Terimakasih Mbok" ucap Aisyah kemudian.


Aisyah sendu mendengar jawaban Mbok Saroh. Dia tidak mendapatkan jawaban sebagaimana mestinya. Merasa kecewa akhirnya dia melanjutkan pekerjaannya.


Masih dengan kecamuk pemikirannya sendiri. Aisyah akhirnya memilih bungkam dengan memendam beberapa rasa penasarannya itu.


" Sudah selesai cah ayu? Kalau sudah istirahat saja. Disini aman. Ndak ada yang perlu di takutkan lagi" ucap Mbok Saroh.


" Ndak Mbok, saya mau ditemani simbok saja" jawab Aisyah cepat.


Aisyah hanya mengangguk lemah. Mbok Saroh yang mengerti ketakutan Aisyah hanya bisa mengusap lembut tangannya sembari memberikan pelukan hangat.


" Ndak perlu takut. Nanti simbok temani. Kalau masih takut, nyalakan semua lampu dan televisi. Atau bisa nyalakan musik atau Qiroah" saran Simbok.


" Memangnya boleh?" tanya Aisyah penasaran.


" Boleh saja. Tidak ada yang melarangmu melakukan apapun dirumah ini. Cah ayu kan Nyonya besar disini" ucap Simbok meledek kembali.


" Ah.. simbok. Ndak lah Mbok. Bagiku sama saja. Tidak ada yang berubah. Bagiku simbok adalah Ibuku. Karena aku sudah tidak mempunyai Ibu dan Bapak. Bagiku kalian sekarang adalah keluargaku. Orang tuaku" ucap Aisyah sedih.


" Wes.. ndak usah sedih - sedihan lagi Rajut kebahagiaan kalian. Ndak usah nengok kebelakang" saran simbok.


" Iya Mbok. Mbok, bagaimana kalau kita tadarus saja?" ajak Aisyah.


" Boleh juga cah ayu. Ayo" ucap Mbok saroh.


Mereka kemudian menuju ke atas, kamar Aisyah dan Vendra. Aisyah nampak ragu saat akan masuk ke kamarnya. Tapi Mbok Saroh segera meyakinkan kembali.

__ADS_1


" Mbok kita ambil wudhlu dulu ya" ucap Aisyah.


" Iya" jawab Mbok Saroh singkat.


Mereka kemudian segera berwudhlu untuk mensucikan diri. Setelahnya mereka segera mendudukkan diri di karpet bulu yang membentang luas di sisi ranjang king size milik empunya.


Tak lupa Aisyah menyambar bantal besar yang bertengger di atasnya untuk landasan Alquran.


" Mas Vendra sudah menyiapkan untukku Mbok " ucap Aisyah.


" Ya, tentu saja. Dia akan memberikan segalanya untukmu cah ayu. Jangan pernah kecewakan dia" pesan Mbok Saroh.


Aisyah hanya mengangguk lembut dan tersenyum. Segera mereka berdua belajar membaca Alquran.


Aisyah sudah sangat pandai dalam membaca kitab suci itu. Beberapa surat juga sudah dihapalnya. Dan Mbok Saroh ternyata belum pandai akan hal itu.


Ya, Mbok Saroh masih belajar mengeja. Sebenarnya Mbok Saroh malu mengakuinya. Tetapi Aisyah bertanya dengan lembut dan berjanji akan membantu belajar mengaji. Akhirnya Mbok saroh mengakuinya.


Tidaklah sulit mengajari Mbok Saroh mengaji. Karena Mbok Saroh cukup pintar dan pandai mengingatnya walaupun usianya sudah mulai senja.


Sementara di lain tempat. Lelaki bertubuh tinggi itu mulai tidak nyaman dengan perasaanya. Entah apa itu tapi dilihat dari posisi duduknya yang tidak nyaman.


" Kenapa den?" tanya Pak Darman yang mengamati sikap Adennya.


" Rasanya aneh Pak" jawab Vendra langsung.


" Aneh bagaimana?" tanya Pak Darman sembari menepikan mobilnya.


" Istighfar Den" saran Pak Darman.


" Astaghfirullahhaladzim ... Astaghfirullahhaladzim... Astaghfirullahhaladzim " ucap Vendra terus.


" Ya Allah, badan saya kenapa jadi gatal semua Pak?" ucap Vendra.


Pak Darman segera memeriksa seluruh tubuh Adennya. Disingkapnya jaket dan kaos yang melekat ditubuh kekar itu.


" Astaghfirullahhaladzim " jawab Pak Darman.


" Kenapa Pak?" tanya Vendra yang mulai panik.


" Sejak kapan Den?" tanya Pak Darman ambigu.


" Apanya Pak? Sejak Kapan apanya?" tanya Vendra berulang.

__ADS_1


" Gatalnya?" tanya Pak Darman berbalik.


" Belum lama. Saat berada di mobil belum terasa setelah masuk perbatasan pagar baru mulai gatal seperti digigit semut" jawab Vendra rinci.


__ADS_2