
Aisyah terhenyak kaget mendengar penuturan dari Vendra. Ada kesalahan sepertinya yang diucapkan oleh Vendra. Aisyah belum beranjak dari duduknya. Masih setia mematung mendengar pernyataan sang pemilik rumah.
" Aish !!! Kau tuli??" tanya Vendra dengan mata menajam.
" Embbb... maaf tuan. Apa saya tidak salah?" tanya Aisyah sedikit ketakutan.
" Kenapa?? Kamu tidak mau? Atau kamu merasa keberatan akan hal itu? Haruskah Simbok yang aku pinta?" tanya Vendra panjang lebar.
" Ti.. tidak tuan. Baik segera saya siapkan keperluannya" jawab Aisyah patuh.
Mbok Saroh hanya diam mendengarkan dua insan yang tidak saling sinkron. Hanya memikirkan masing - masing pemikirannya sendiri.
" Mbok, bolehkah saya meminta pertolongan Mbok?" tanya Aisyah lembut.
" Iya cah ayu. Tentu saja" jawab Mbok Saroh.
" Kali ini aku ijinkan kamu ditemani Mbok Saroh ya!! Besok - besok tidak akan aku berikan ijin itu. Mengerti??" tanya Vendra tajam.
" Iya tuan. Saya permisi" jawab Aisyah pasrah.
Aisyah dan Mbok Saroh segera menuju kamar Vendra. Mereka segera membereskan perlengkapan yang dibutuhkan.
" Cah ayu, jujur saja. Sebenarnya baru kali ini Aden meminta kebutuhan disiapkan. Selama Simbok kerja di sini yo ndak pernah suruh Simbok buat nyiapin semuanya. Den Vendra cukup mandiri untuk memenuhi kebutuhannya cah ayu" terang Mbok Saroh dengan seraya membereskan perlengkapan.
" Apa dia mengerjaiku?" gumam Aisyah lirih.
" Astaghfirullahhaladzim, bicara apa aku ini. Kenapa jadi suudzon begini" gumamnya kemudian.
" Tuan akan pergi hanya sehari, jadi tidak perlu membawa baju terlalu banyak Mbok. Satu stel kaos dan celana, serta jaket yang lumayan tebal sepertinya cocok jika saat digunakan ke puncak. Bukankah disana dingin mbok?" tanya Aisyah.
" Dingin cah ayu, tapi jika di villa tidak begitu dingin. Villa nya dilengkapi pemanas ruangan. Jadi ya biasa saja cah ayu" terang Mbok Saroh..
" Ya sudah cukup ini saja Mbok. Yang penting untuk kebersihan badan dan kotak obat kecil ini" ucap Aisyah kembali.
" Ya sudah ayo cah ayu" ajak Mbok Saroh.
Mereka segera kebawah menuju ruang makan. Vendra masih setia menunggu Aisyah membawakan kebutuhannya. Dia memang sengaja meminta Aisyah untuk menyiapkannya. Ada alasan untuknya menyuruh akan hal itu.
" Hmmm.. cekatan juga!! Apa yang dia siapkan untukku!!" batin Vendra.
Vendra dengan sedikit kasar menarik tas yang di bawa oleh Aisyah. Aisyah sedikit tersentak dengan perlakuan Vendra. Vendra pun tak kalah sadis dengan menatap tajam wajah Aisyah. Sementara Aisyah tidak mampu untuk mengangkat wajahnya karena takut.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Vendra segera memeriksa apa saja yang di siapkan untuknya. Dengan pelan Vendra membuka tas yang sudah berisi penuh keperluan untuknya sembari menatap tajam gadis yang tengah ketakutan di hadapannya.
" Den.. aden" terak Pak Darman.
Seketika buyar sudah apa yang di pandanginya. Vendra segera beralih menatap sumber suara.
" Ya, pak? " jawab Vendra.
" Mobil sudah siap Den. Mari.." ajak Pak Darman.
*Deggg
" Mobil??? Dirumah ini ada mobil??" batin Aisyah kaget*.
" Tenang dirumah!! Jangan pergi jika tidak bersama Simbok. Jangan kemana - mana selain ke kamarku. Mengerti???" ucap Vendra dingin.
" I.. iya tuan" jawab Aisyah gugup.
" Hmm" jawab Vendra singkat sembari berlalu.
Vendra segera melangkahkan kaki menuju mobil yang sudah disiapkan. Ketika berada di ambang pintu,
" Tuan..." panggil Aisyah.
" Hati - hati, jangan lupa jaket di dalam tas di kenakan. Karena udara cukup dingin " pesan Aisyah.
" Hmm" jawab Vendra singkat.
Senyum mengembang di antara lengkungan sinar mentari. Hati tak terkira menampakkan keindahan sang penghuni relung hati.
Seolah menyapa dan mendayu di telinganya. Pesan terasa biasa dan singkat, namun penyampai pesan menggunakan nada dan penekanan kalimat yang berbeda.
Vendra terasa bahagia dengan sedikit perhatian kecil dari gadis itu. Tak dikiranya, Aisyah seorang gadis lembut yang memang sangat berbeda.
Vendra berlalu dengan hati yang berbunga - bunga. Sementara Pak Darman hanya memperhatikan Adennya dengan kebingungan. Sembari mencerna apa yang dilihat dan didengarnya, Pak Darman diam untuk berkesimpulan.
" Pak"
" Den"
Ucap mereka bersamaan. Vendra kemudian memberikan kesempatan itu kepada Pak Darman karena dia menghormatinya dan juga memang lebih tua jauh diatasnya.
__ADS_1
" Den.. muka berseri di pagi hari. Tanda mentari sudah kembali" ucap Pak Darman.
" Bapak bisa saja" jawab Vendra seraya tersenyum.
" Apakah karena ada matahari yang besinar ataukan bulan yang bertandang?" lanjut Pak Darman.
" Keduanya mungkin Pak" jawab Vendra santai.
" Pak.." ucap Vendra melanjutkan.
" Apa keputusanku salah? Aku takut dia tidak akan bahagia jika denganku! Tapi aku menginginkan dia" ucap Vendra.
" Hm.. untuk itu Bapak ndak paham Den. Tapi, menurut bapak nih ya.. Turuti saja apa kata hati Aden. Bukankah itu jauh lebih baik dari pada menerka - nerka sesuatu yang belum jelas dan pasti?" saran Pak Darman.
" Apa akun bukan manusia egois?" tanya Vendra kembali.
" Egois??? Dalam hal apa Den? Bukankah sudah dalam perjanjian kontrak?" tanya Pak Darman.
" Ah.. benar. Ya sudah lah, perjanjian ini sudah berlangsung" ucap Vendra.
" Tapi sihh ya Den, Cah ayu memang sudah ada di sininya Aden" ucap Pak Darman sembari menepuk dadanya sendiri.
Vendra hanya tersenyum dan menunduk. Terlihat sangat membenarkan perkataan Pak Darman baru saja.
" Cah ayu anak yang baik. Bahkan tiap malam Simbok selalu menceritakan dia. Dan tidak pernah bosan untuk menceritakan dia. Wes cantik, ayu, lemah lembut, tutur katanya baik dan dia sholehah. Tentu saja itu adalah sangat baik Den" ucap Pak Darman panjang lebar.
" Sepertinya aku sudah menyakitinya Pak. Dia adalah gadis yang taat kepada Tuhannya. Sedangkan aku??" terang Vendra.
" Ya, Aden masih tersesat saja. Belum tahu jalan titian kembalinya. Sabar saja Den. Bapak doakan semoga ketemu jalannya. Urusan Aden dengan Tuhan itu urusan pribadi Aden. Bapak ndak berani memberikan saran dan lain halnya. Tapi jika Aden sudah sangat keterlaluan Bapak baru turun tangan" jawab Pak Darman.
" Apa dia mau menerimaku dengan diri ini menjadi orang yang jauh dari agama begini ya Pak?" tanya Vendra murung.
" Emm... kalau menurut bapak si.. Dari caranya bertutur kata dan berucap, cah ayu akan bersabar membantu membimbing. Dan sepertinya dia gadis yang cukup tangguh untuk berjuang Den" ucap Pak Darman.
" Oh ya.." ucap Vendra yang tiba - tiba teringat sesuatu.
Diraih tas yang di persiapkan untuknya oleh Aisyah. Dibukalah tas itu dengan cepat karena tidak sabar apa yang ada di dalamnya.
" Satu stel pakaian, keperluan mandi, dan obat - obatan. Hmm dan jaket ini" ucap Vendra.
Pak Darman bingung dengan gumaman Adennya. Hanya diam dan mengernyit seraya mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
" Ini semua yang siapin Aish, Pak. Dan dia tahu, kalau aku tidak akan pergi lebih dari sehari ini. Dan sepertinya dia khawatir, karena membawakan obat - obatan ini untuk saya. Padahal kan..." ucap Vendra menggantung.