Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
15.


__ADS_3

Sepanjang waktu hanya akan memikirkan pernikahan. Sampai Aisyah meratapi betapa buruk sekali nasib yang diterimanya. Kenapa lepas dari masalah malah mendatangkan masalah baru. Dia hanya bisa termenung dan menyadari dan memikirkan kesalahan dulunya.


" Ya Allah, maafkan hambaMu ini yang selalu kurang bersyukur atas nikmatMu" ucap Rayina.


Subhanallah Walhamdulillah Walaailaahaillallah... Allahuakbar.. Walaahaulaawalaaquwwataillabillahil'aliyyil 'adziim.


Aisyah hanya selalu bermunajat kepada sang Khaliq. Dia memandang jauh kedepan, matanya tertuju diluar jendela kamarnya kini. Ya, sebuah desa kecil yang dulu dia tinggali bersama kedua orang tuanya.


Desa asri yang belum tersentuh oleh ulah usil manusia yang ingin menjajahi desa tersebut. Sebuah desa yang masih kolot dengan ketaatan peraturan yang sudah sejak lama dibuatnya.


Sebuah desa dengan kearifan lokal, dengan hasil panen yang melimpah ruah. Sebuah desa dengan hawa murni yang menyejukkan relung hati yang menghirupnya.


Dia hanya menatap miris setelah kejadian yang telah menimpa keluarganya. Bukan salah dia ataupun kedua orang tuanya. Namun, karena adanya manusia dzalim yang lalim akan obsesi dan ketamakannya.


Tak terasa dalam balutan doanya dan dzikir yang selalu dikomat kamitkannya, suara adzan menyeru di seluruh penjuru desa.


Aisyah tergelak mendengar suara adzan yang mendayu- dayu. Mengingatkan akan suara adzan Bapaknya yang begitu merdu dan merasuk ke qolbu.


Tok..


Tok...


Tok...


Sura pintu diketuknya dengan sangat lembut dan hati - hati. Aisyah tidak menjawabnya, karena dia tahu yang akan ke kamarnya bukan orang asing lagi. Dia mengenalnya. Ya, Mbok Saroh. Siapa lagi.


" Cah Ayu, mari sholat.." ajak Mbok Saroh.


" Ya mbok.. Tapi dimanakah kita wudlu. Kamarku tidak ada air yang mengalir" ucap Aisyah.


" Kemarilah..." perintah Mbok Saroh.


Mbok saroh mendorong sebuah cermin yang berukuran setinggi manusia. Beliau kemudian menunjukkan adanya tombol nyala.


Klik...

__ADS_1


Satu hentakan pun menjadi bak sulap. Mbok Saroh kemudian mengajaknya keluar dari ruangan itu. Namun Aisyah masih kaget dengan adanya ruang itu.


" Mbokk.." ucap Aisyah.


" Jangan pernah melakukan sesuatu yang bukan hak dan tidak dikehendaki oleh bukan milik kita cah ayu. Batasi diri, jangan membuat cah ayu menjadi makin susah" tegas Mbok Saroh.


" Baik mbok " jawab Aisyah patuh.


Aisyah dibekali kedua orang tuanya untuk taat dan patuh. Jika itu bukan hak dan kewajiban kita. Dan tidak boleh menyalahi aturan yang sudah ditetapkan. Dia harus melaksanakan itu yang sudah ia pegang sejak dulu.


" Marilah kita ambil wudlhu" perintah Mbok Saroh.


" Mari mbok, sebelumnya saya mau buang air kecil dulu. Dan.. apakah saya tidak diberikan pakaian dan lain sebagainya mbok? Kalau tidak, bolehkah saya meminjam pakaian simbok saja?" pinta Aisyah memelas.


" Kemarilah cah ayu" ucap Mbok Saroh.


Dibukanya sebuah lemari besar yang belum disentuh sama sekali oleh Aisyah. Semenjak masuk ke kamar ini, dia hanya murung dan meratapi nasibnya. Tanpa melihat atau menghiraukan keadaan sekitarnya.


" Lihatlah, cah ayu bisa memakainya. Walaupun simbok rasa modelnya sedikit tua" ucap simbok.


" Baju nyonya besar dulu waktu muda. Beliau sudah meninggal saat den vendra masih kecil" ucap Mbok Saroh.


" Mbok, tapi saya memakai jilbab. Dan, baju ini sopan si..tapi..." ucap Aisyah ragu.


" Saya merasa malu mbok jika membuka aurat saya. Saya belum pernah melakukannya. Saya takut sama kemarahan Allah mbok" jawab Aisyah lirih.


" Pakailah dulu cah ayu. Ini bersih, den Vendra selalu meminta simbok mencuci baju nyonya besar. Agar terlihat terawat. Dan cah ayu bisa memakai mukena dulu. Besok simbok kepasar akan membelikan keperluan cah ayu" terang Mbok Saroh.


" Ah.. baiklah Mbok" jawab Aisyah.


" Ya sudah, semua sudah terselesaikan.Mari kita tunaikan kewajiban kita" ajak Mbok Saroh.


Aisyah dan Mbok Saroh segera mengambil wudlu. Mereka bergantian untuk berwudlu. Dan segera menuju tempat sholat. Mereka menjalan sholat di kamar yang ditempati Aisyah. Sebelum itu, Aisyah sudah berganti pakaian yang bersih.


Mbok Saroh melihat Aisyah dengan rambut panjang teruai, hitam tebal, dengan ukuran tubuh yang pas dengan nyonya besarnya dulu.

__ADS_1


" Cah ayu, baju itu nampak pas dan cantik di badanmu. Simbok melihat nyonya waktu muda dulu dari dirimu" terang Mbok Saroh.


" Ya sudah Mbok, ceritanya nanti dilanjutkan. Sekarang mari skita sholat" ajak Aisyah.


" Jadilah imam. Simbok belum pintar. Masih banyak belajar. Simbok pikir kamu anak sholehah yang sudah paham agama" pinta simbok.


" Tidak Mbok, Aish juga masih banyak belajar. Mari sama - sama kita belajar. Ya sudah saya yang menjadi imamnya" jawab Aisyah lembut.


Aisyah kemudian mengambil shaf didepan Mbok Saroh. Takbir mulai diserukan oleh Aisyah. Mbok Saroh segera mengikutinya karena menjadi makmum.


Mbok Saroh merasa sangat nyaman dan damai saat Aisyah membaca surat - surat pendek pada rokaat demi rokaat setiap sholat. Bacaannya begitu fasih suranya begitu lembut dan enak didengarkan.


Bagi Mbok Saroh yang sudah sepuh itu menurutnya bacaan itu mudah didengarkan dan dipahami. Aisyah sangat khusuk dalam menjalankan sholatnya. Setelah selesai salam, Aisyah memanjatkan doa.


Doa - doa yang begitu menyayat hati bagi yang mendengarkannya. Pilu yang dirasa dan sangat sesak didada. Tak terasa netra tua itu meneteskan bulir air dipelupuk matanya. Kini pipi tuanya yang sudah mulai keriput dibasahi air mata yang berlinang.


" Oalah cah ayu, nasibmu sungguh miris. Tapi simbok yakin Den Vendra akan membahagiakanmu dikemudian hari. Semoga nasib baik datang kepadamu" rintih mbok saroh.


Setelah selesai bermunajat kepada sang Khaliq, Aisyah segera berbalik dan mengambil tangan nan keriput itu. Diciumnya penuh hikmad dan membuat Mbok Saroh menitikkan air mata kembali.


Diusapnya kepala anak yatim piatu itu. Dutengadahkannya kepala itu dan dikecupnya kening nan halus lembut bagai sutra.


" Semoga Gusti Allah mengijabah semua doa - doamu cah ayu. Simbok hanya bantu mendoakan dan mengamini setiap doamu" ucap Mbok Saroh.


" Mbok, terimakasih sudah menjadi orang baik yang hadir dalam hidupku saat ini. Terimakasih menerimaku dengan tidak memandangku risih atau kecil dan kerdil" ucap Aisyah.


" Sama - sama cah ayu. Kamu sudah simbok anggap anak simbok sendiri. Karena simbok tidak mempunyai anak" ucap Mbok Saroh sedih.


" Mbok, percayalah... Allah sudah menyiapkan anak disyurga jika Mbok tidak diberikan di dunia. Dan yakinlah bahwa simbok akan selalu diberikan kebahagiaan yang lainnya" ucap Aisyah.


" Amin... Insyaallah ya cah ayu" ucap Mbok Saroh.


" Ya sudah, simbok akan segera menyiapkan makan siang dan perluan Den Vendra. Karena Den Vendra hanya memberikan waktu istirahat yang sedikit. Dan simbok menggunakannya dengan baik. Nanti simbok akan kembali setelah semuanya selesai" ucap Mbok Saroh terburu - buru.


" Ya Mbok, hati - hati. Jangan terburu - buru" jawab Aisyah dengan sangat lembut.

__ADS_1


Mbok Saroh segera berbegas keluar kamar Aisyah dan segera membuat makan siang untuk semuanya. Dan menyiapkan keperluan Adennya.


__ADS_2