Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
50.


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat malamnya dan memanjatkan doa. Aisyah segera kembali beristirahat. Karena hatinya sedikit tenang. Dan Mbok Saroh juga ikut beristirahat di sofa yang berada di kamar itu.


Mbok Saroh tidak sampai hati untuk membiarkan nyonya mudanya tidur sendiri dalam keadaan yang kurang baik.


Mata tua itu mulai tak dapat diajak kompromi. Terlelap sudah keduanya dalam dinginnya malam yang menyelimutinya.


Jalanan gelap tak nampas satu orangpun lalu lalang. Aisyah berjalan menyusuri jalanan sepi itu. Tiba - tiba terdengar rintihan wanita. Rintihannya nampak teramat pilu. Seperti menahan sakit atau bahkan sedang kesakitan.


Menyiksa, sungguh sangat menyiksa jika ia dapat merasakannya. Aisyah berjalan mencari sumber suara tersebut. Tapi kakinya seakan berat untuk melangkah dan memijakkan di tanah. Seperti ada seseorang yang bergelayut di kakinya.


" Kenapa kaki ini terasa berat sekali untuk melangkah Ya Allah" gumamnya dalam gelapnya malam.


" Hiks... hiks... sakit... sakit... ampuuuunnnn"


" Hiks... hikss... tolooonnggg.... tolonggg"


Terdengar rintihan yang sangat memilukan hati. Aisyah berusaha mencari sumber suara itu dengan sekuat tenaga sembari menyeret langkah kakinya yang terasa sangat berat.


" Ya Allah, ridhoi hamba untuk melangkah Ya Allah" gumam Aisyah.

__ADS_1


Jraaaasshhhhh


Seketika sekelebat bayangan hitam besar berlalu di depan mata Aisyah. Makhluk berbulu dengan mata merah seperti darah, bertaring panjang dan sangat tajam kini berada di depan Aisyah.


" Hrrrrrhhhhrrrr" erangnya.


" Astaghfirullahhaladzim" ucap Aisyah spontan.


Makhluk itu masih setia menunjukkan muka seramnya dihadapan Aisyah. Dengan menggerutukkan gigi tajamnya. Erangannya begitu meneyeramkan.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Aisyah kemudian.


" Hrrrrr.... hrrrrrr... hei kamu. Hentikan apa yang kamu ucapkan !!!" hardik makhluk itu.


" Wahai makhluk, siapakah dirimu?" tanya Aisyah lembut.


" Tidak perlu tahu siapa aku!!! Dan kau...!!! Jangan pernah sekalipun mencampuri urusanku!!!" bentak makhluk itu.


Makhluk itu mendekat seperti akan mencekik Aisyah. Sedangkan Aisyah masih diam tanpa menjawab. Kini dirinya hanya bisa bermunajat kepada Allah Ta'ala.

__ADS_1


"Allahu laa ilaaha illaa huw al-hayyul qayyuum. Laa ta’ khuzuhu sinatuw wa laa na’um, lahuu maa fisamaawaati wa maa fil-ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahuu illaa bi iznih, ya’lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiituna bisyai im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal-ard, wa laa ya ‘uduhu hifzuhumaa wa huwal-‘aliyyul-‘aziim"


" Diaaaammmmmm.....!!!!! Diaaammmmm!!!"


" Hhhhhrrrrrr.... Hrrrr.... manusia laknat!!! terkutuk!!!"


" Diaaammmmm!!! Hentikan mantramu itu !!!"


" Aaaargghhhhhh... panas... panasssss"


Aisyah hanya terus diam dan fokus untuk membaca ayat kursi dengan tawadu'. Erangan, rintihan serta hardikan makhluk itu tak diperdulikannya lagi. Saat ini dia hanya mau meminta perlindungan Allah SWT.


" Hikkss... tooolooonggg " terdengar rintihan orang minta tolong.


Aisyah mendengar rintihan itu. Tanpa berhenti membacakan Ayat kursi tersebut, dia terus menyusuri sumber suara. Mencari keberadaan orang yang meminta pertolongan tersebut.


Sekelebat putih kini berada di depannya. Aisyah hanya bisa diam dan terus berkomat - kamit membaca ayat kursi.


Seketika bayangan putih itu membentuk pusaran bak angin kinton yang berputar - putar di depan matanya. Tak lama bayangan putih itu berubah menjadi cermin besar yang sangat berkilau.

__ADS_1


Aisyah hanya memandangi pantulan yang terlihat di bayangan itu. Ada seorang wanita dengan tangan, kaki dan bahkan lehernya terbelenggu rantai besar.


" Siapa dia?" batin Aisyah.


__ADS_2