
" Tidak cah ayu. Makanlah... Tidak ada satupun dari pertanyaanmu yang benar. Makanlah dengan tenang. Setelah makan simbok mau berbicara dengan serius kepada cah ayu" ucap Mbok Saroh lembut.
Aisyah segera makan dan menikmati makanan itu. Tak lupa dia berdoa sebelum makan. Dia teringat rasa masakan Ibunya. Tak terasa air mata menitikkan diwajah nan ayu itu. Mbok Saroh yang melihatnya jadi khawatir.
" Ada apa nduk? Apa ndak enak makanannya? Apa ada sesuatu yang membuat sakit?" tanya Mbok Saroh.
" Tidak mbok, saya hanya teringat dengan Ibu dan bapak. Bagaimana dengan mereka. Hiks.. hikss" ucap Aisyah.
Sedih? Tentu saja sangat menyayat hati. Mbok Saroh ikut bersedih dan terenyuh melihat gadis cantik di depannya. Hatinya begitu terluka.
Dan kini dia akan dihadapkan kepada masa sulitnya. Masa dimana dia akan memutuskan kehidupannya.
" Ya sudah mbok, saya sudah cukup makannya" ucap Aisyah.
" Loh.. kok sedikit. Dihabiskan. Jangan dibuang sebutir nasipun. Banyak orang yang butuh diluar sana. Untuk mendapatkannya pun susah. Wes dihabiskan" pinta mbok Saroh.
" Rasanya tidak nyaman. Rasanya semua makanan tercekat di leher saya mbok. Hati saya sangat sedih. Dan saya tidak nafsu makan. Walaupun makanan simbok enak" terang Aisyah.
" Eh.. cah ayu. Bersedih boleh saja. Tapi jangan ngekantur. Ndak baik. Allah saja maha pemurah. Kamu namanya ndak bersyukur. Allah juga ndak akan menguji hambanya melebihi batasannya. Percaya itu" terang mbok Saroh.
Mbok Saroh kemudian menyuapi Aisyah dengan telaten. Embun di pelupuk mata gadis nan ayu itu kini luruh dengan sendirinya. Semakin sesak di dadanya mengingat suapan dari Ibunya.
" Hiks.. hiks.. " masih dalam isakan.
" Sudah cah ayu. Masih ada simbok di sini.. Sudah ndak usah nangis lagi ya?" hibur simbok.
" Mbok kapan aku akan ditumbalkan?" tanya Aisyah.
Mbok Saeoh hanya memberikan senyuman selebar - lebarnya. Gadis polos ini memang benar - benar tidak tahu sebenarnya. Dan dia mrmang sudah pasrah akan hidupnya. Apakah dia akan menerima perjanjian ini. Itulah yang ada dalam pikiran Mbok Saroh.
" Cah ayu, ini bacalah" ucap simbok dengan memberikan sebuah map.
"Surat Perjanjian" Aisyah membaca.
" Ya, disitu sudah banyak dituliskan beberapa persyaratan sebelum cah ayu menjadi tumbal " jawab simbok meledek.
" Ini beneran mbok perjanjiannya?" tanya Aisyah mengernyit.
...SURAT PERJANJIAN...
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Ravendra Bagaswara
Jenis Kelamin : Laki - laki
__ADS_1
Selanjutnya disebut Pihak Pertama.
Nama: Aisyah Hanum Salsabila
Jenis Kelamin : Perempuan
Selanjutnya disebut Pihak Kedua.
Jika ingin selamat dan tinggal dirumah ini, maka Pihak pertama membuat perjanjian dan kesepakatan. Demikian isi Perjanjian:
...Pasal 1...
...Bahwa antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua telah sepakat membuat perjanjian nikah yang akan diadakan lusa....
...Pasal 2 ...
...Bahwa pihak kedua tidak boleh menolak perjanjian yang sudah disepakati dalam pasal 1. Jika melanggar sanksi yang dikenakan adalah sebagai tumbal....
...Pasal 3...
...Bahwa apabila sudah menjadi sepassng suami istri, pihak kedua wajib manjalankan kewajiban seorang istri. Tanpa ada paksaan dan dengan ikhlas menjalankannya. ...
...Pasal 4...
Demikan surat perjanjian ini dibuat rangkap dua, di atas meterai Rp6.000,00 untuk dijadikan pegangan bagi masing-masing pihak.
Surat perjanjian ini ditandatangani di depan saksi-saksi dan dalam keadaan sehat walafiat tanpa tekanan dari siapapun.
Pihak Pertama
Ravendra Bagaswara
Pihak Kedua
Aisyah
Begitulah kiranya isi dari perjanjian itu. Aisyah terperanjat dengan perjanjian ini. Dia sangat bingung dengan apa yang dia baca.
" Mbok, Aish tidah tahu harus bagaimana. Kalau Aish menerima ini, berarti Aish akan menikah dengan seorang monster atau..." tanya Aish menggantung.
" Tidak cah ayu. Den Vendra itu manusia" jawab simbok.
" Tapi... dia pelaku tumbal pesugihan?" tanya Aisyah.
" Apakah rumah ini dipenuhi dengan emas dan berlian. Banyak tumpukan harta karun atau terlihat seperti sekte pemujaan?" tanya simbok sarkas.
__ADS_1
" Ti.. tidak.. mbok. Maaf " jawab Aish menunduk.
" Tanda tangani saja cah ayu. Den Vendra itu manusia. Manusia langka lebih tepatnya. Dan cah ayu juga bisa tinggal disini. Cah ayu sudah tidak punya tempat tinggal bukan? Atau mau kembali ke bandot tua itu lagi?" tawar simbok.
" Ah... tidak mbok.. membayangkannya saja aku takut" jawab Aisyah.
" Baiklah mbok, Aish akan menyetujuinya. Tetapi Aish minta syarat 1 saja" pinta Aisyah.
" Apa itu ?" tanya simbok.
" Ijinkan Aish tetap bersujud menyembah sang Khaliq" ucap Aisyah.
" Itu urusannya sama simbok. Jangan sampai den Vendra mendengarnya. Karena dia tidak suka ada orang beribadah di rumah ini. Tetapi jika tidak diketahui oleh den Vendra dan den Vendra tidak melihatnya secara langsung itu ndak apa cah ayu. Besok simbok belikan mukena. Sing sabar yo cah ayu" ucap simbok.
Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum miris. Ternyata masih ada orang baik yang amu menolongnya saat ini. Walaupun nantinya dia akan dijadikan tumbal jika tidak mau.
Sementara dipikirannya hanya bisa mempunyai tempat untuk berteduh walaupun hanya singgah sebentar saja.
Aisyah sangat takut dengan makhluk apa dia akan menikah lusa. Apakah dia menyeramkan atau bagaimana. Pikiran Aisyah tidak mampu melampaui batasannya.
Dia hanya bisa berdoa dan berharap akan ada keajaiban yang merubahnya. Aisyah sudah berada di titik terpojok.
" Mbok.." tiba - tiba meluncur dari mulut Aisyah.
" Ya, cah ayu ada apa?" tanya simbok.
" Aku takut mbok. Jika malam datang, rumah ini gelap gulita. Hanya ada satu lampu teplok yang remang - remang itu" ucap Aisyah lirih.
" Nikmatis aja cah ayu, ini sudah peraturan dirumah ini. Semua sudah ditentuka oelh den Vendra. Jadi bersabarlah cah ayu" ucap Mbok Saroh memenangkan.
" Mbok, bolehkan nanti malam simbok menemaniku tidur disini?" pinta Aisyah.
" Baiklah cah ayu, simbok akan menemani cah ayu. Tapi jika cah ayu sudha menikah dengan den Vendra cah ayu sudah harus bersama den Vendra" ucap Mbok Saroh.
" Mbok, bisakah aku bertemu dengan Vendra sakali saja? Aku ingin melihat bagaimana calon suamiku" pinta Aisyah.
" Nanti saya sampaikan kepada aden. Apakah Aden bersedia atau tidak" ucap Mbok Saroh.
" Ya sudah, istirahatlah. Simbok akan ke dapur menyiapkan keperluan calon suami cah ayu. Istirahatlah, nanti jika waktu sholat simbok akan kesini lagi" ucap Mbok saror.
" Terima kasih Mbok" jawab Aisyah.
Aisyah sedikit lega, setidaknya masih ada Mbok Saroh yang baik terhadapnya. Tidak seperti pemilik rumah ini yang emnikahinya dan akan menjadikannya tumbal.
" Siapakah Vendra itu? Dari mana asalnya? Pekerjaan dia apa? Rumah ini bagus m, namun tidak terawat, bahkan dia sengaja membiarkan agar terlihat seperti itu. Apakah dia orang baik ataukah dia monster yang sewaktu - waktu akan menerkamku?" batin Aisyah bergejolak.
__ADS_1