Misteri Rumah Putih

Misteri Rumah Putih
74.


__ADS_3

" Selalu dengan syarat!! huffftttzzzz..." batin Aisyah jengkel.


" Baiklah" Jawab Aisyah dengan malas.


" Bersama Simbok. Itu syaratnya!" jawab Vendra dengan memandang lurus kedepan.


" Iya. Terimakasih" jawab Aisyah dengan binar bahagia.


Sesampainya dirumah itu, segera Aisyah membaringkan diri ke kasur yang sudah disediakan oleh Pak Darman.


" Lama sekali Mbok !! Aku takut terjadi sesuatu dengan wanita itu ! " ucap Pak darman dengan sedikit kekhawatiran.


Aisyah yang sudah berbaring di sebuah kasur sebelah wanita itu menatap wajah tua itu. Matanya menyiratkan pertanyaan " apa yang terjadi?" begitu sekiranya.


" Dia muntah darah!!" ucap Pak Darman yang tahu arti yayap itu.


Aisyah bangkit untuk memeriksanya.


" Sudah Bapak Lap, Cah ayu" ucap Pak Darman.


" Terimakasih Pak" ucap Vendra.


Yangan kekar itu kembali menuntun sang tercinta untuk kepembaringan. Menata bantal dengan sabar dan meletakkan tubuh mungil itu dengan perlahan.


" Den saya akan segera memanghil dokter. Aden tolong jaga. Takut ada serangan yang tak terduga" ucap Pak Darman.


Hiiii.... Hiiiiiii .....Hiiiii


Suara yang tak terduga datang entah dari mana sumbernya. Hanya suara kikikan yang memekakkan telinga. Aisyah segera memindai matanya.


Tiga orang dewasa saling mencari dimana keberadaan makhluk itu.


" Ini.. nih.. kalo Pakne ngeyel ndak mau bersihin rumah tiap hari. Ndak ditiliki blas ini rumah pasti!" Mbok Saroh menggerutu.


Tetiba angin berhembus sedikiy kencang. Entah dari mana itu. Padahal gorden dirumah itu tidak bergoyang sedikitpun untuk menandakan asanya angin berhembus.


" Hihi... hiiiiiii.....hiiiiiii...."


" Siapa??" tanya Aisyah lantang.


" Keluarlah... jangan bersembunyi!!" ucap Aisyah santai.


Mata Aisyah mulai terpejam. Ingin berbicara secara batinnya. Tujuannya siapa dia, apa tujuannya.


" Huhhhh... kekasih hatimu itu baca mantra!!!" ucap makhluk itu.


" Hmmm oke!! " jawab Aisyah.


Mata bulat itu membuka perlahan.


" Mas, jangan membaca apapun!" ucap Aiyah.


" Tapi..." jawab Vendra menggantung.


" Percayalah. Aku bisa mengatasinya! Jangan gegabah dan jangan bertindak sesuka hati" ucap Aisyah yang tidak ingin di sela ucapannya.


" Baiklah" jawab Vendra lemah.


Mbok Saroh yang mulai ketakutan segera merapatkan di samping tempat tidur nyonya kecilnya.


Aisyah yang melihat itu hanya tersenyum simpul. Mbok Saroh yang terkadang tidak menunjukkan rasa takut dirumah putih itu kini mulai ketakutan.

__ADS_1


Diraihnya tangan keriput itu dalam dekapan tangan mungil yang meraih. Diusapnya perlahan dengan penuh arti.


" Tenanglah Mbok. Ada tujuan makhluk itu. Aku akan berbicara sebentar" ucap Aisyah.


" Loh... Kan.... bener. Dia bukan penunggu rumah putih. Kalo rumah putih aku tahu. wong pernah mujud kok! Cah Ayu ati - ati yo. Belum sembuh bener loh ini" ucap Mbok Saroh khawatir.


" InsyaAllah aman Mbok!!" ucap Aisyah kemudian menengkan dengan senyumannya.


" Berhati - hatilah. Aku akan menjagamu" ucap Vendra lembut.


" Aku tidak kemanapun Mas. Tenanglah. Hanya memejamkan mata sejenak. Jiwaku tidak pergi kemanapun" ucap Aisyah lembut.


" Baiklah. Berhati - hatilah. Bismillah " pesan Vendra dengan mengusap pucuk kepala istrinya.


Deg....


Ada sesuatu yang menjalar hingga relung hatinya. Jantungnya memompa dengan sangat cepat tanpa bisa di nyana. Aisyah merasakan gelayar yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.


Grogi? Mungkin. Canggung? Bisa dikatakan ada sedikit. Deg - degan bak ABG? Nah mungkin lebih kearah itu.


Memejamkan mata salah satu solusi mrnghilangkan rasa deg - degan itu. Dan segera menutupkan mata bulat nan indah itu.


" Bismillahhirrahmannrirrahim " ucap Aisyah lirih di teruskan dengan doa - doa yang sudah dirapalkannya.


" Assalamualaikum " ucap Aisyah yang sudah melihat sosok itu di depannya.


"....." diam seribu bahasa.


" Kafir!" ucap Aisyah ketus.


" Kamu mengucapkan itu hatiku ada yang menyentil!!" ucap Makhluk itu.


" Ah... ini mah sejenis si menik... hissss!!" gerutu Aisyah dalam hati.


" Iya, aku memang sejenis menik. Tapi levelku lebih tinggi dong dari pada dia!!" jawab Si kunti sombong.


" Oh.. baiklah. Kamu tahu bahasa batin" ucap Aisyah.


" Ya... tentu!! Itu salah satu kelebihanku" jawab Kunti.


Aisyah segera merapalkan beberapa doa untuk membentengi dirinya. Agar dia dapat menyenandungkan hati dan pikirannya tanpa terbaca makhluk seperti didepan matanya saat ini.


" Heh... baca mantra apa kamu?" tanya Kunti sarkas.


Aisyah hanya tersenyum miring. Senyum yang penuh arti. Dan terlihat si Kunti mengernyitkan muka jeleknya itu. Mencari tahu apa isi pikiran dan hati Aisyah.


" Heh... ilmumu boleh juga gadis!! Hihi.. hihi... " ucap Kunti.


" Benar juga apa yang di katakan Menik. Dia punya teman dari kalangan manusia uang nggak kaleng - kaleng!!" ucap Kunti kemudian.


" Baiklah, aku tidak mau bertele - tele lagi. Apa tujuanmu?" tanya Aisyah yang mulai melemah.


" Begini, aku dimintai tolong oleh Menik. Menjaga wanita itu. Membuat pagar ghaib untuknya juga. Karena kata menik akan ada penyerangan kembali" terang Kunti.


" Emmbbb Baiklah.... eeee" ucap Aisyah.


" Kantil... namaku Kantil" ucap si Kunti.


" Baiklah Kantil. Jika itu tujuanmu. Jangan berulah!!" ucap Aisyah.


" Aku pamit. Kita bisa bicara langsung sekarang. Ubah bentukmu!! Jelek sekali" ejek Aisyah kemudian.

__ADS_1


Sllleeepppp


Hilang bak asap, tak terlihat dan kembali ke kehidupan. Mata bulat kembali terbuka. Disampingnya masih ada suami dan Mbok Saroh yang setia menantinya.


" Alhamdulillah " ucap Aisyah lirih.


" Minumlah, Simbok sudah menyiapkan teh manis hangat untukmu. Setidaknya untuk sedikit menambah energimu" ucap Vendra.


Aisyah menerima uluran tangan yang berisi segelas teh manis hangat itu. Dirainya kemidian diminum perlahan.


" Bismillahhirrahmannrirrahim "


" Auchhh"


Teriakan pertama yang diucapkan cukup dengan tenaga tersisa yang dimiliki Aisyah.


" Pelan- pelan Cah Ayu. Bukan hangat tapi panas. Suamimu memang benar - benar mengerjaimu!!" ucap Mbok Saroh yang menoleh kaget ketika akan beranjak.


Mata bulat itu seketika menatap tajam mata elang yang sudah mulai menajam pula. Saling tatap dan saling menerjang mungkin itu gambarannya.


" Hehe.. maaf" ucap Vendra yang kemudian melunak.


" Lidahku terasa terbakar!!" ucap Aisyah.


" Nanti Mas obati. Tidak perlu takut!!" jawab Vendra.


" Mbok tolong ambilkan gula pasir kemari" ucap Vendra.


" Embbb untuk apa Den?" tanya Mbok Saroh mengernyit.


" Tolong... ambilkan" ucap Vendra.


" Baiklah... sebentar.." jawab Mbok Saroh kemudian.


Setelah mendapatkan apa yang diperintahkan Adennya. Diserahkan setoples gula pasir ke hadapan Adennya.


" Ini Den" ucap Mbok Saroh.


" Terimakasih" jawab Vendra.


Dibalas anggukan oleh wanita paruh baya itu. Sembari melihat apa yang akan dilakukan Adennya dengan gula tersebut.


" Buka mulutmu!!" perintah Vendra kepada Aisyah.


" Emmm untuk apa??" tanya Aisyah ragu.


" Buka saja... " jawab Vendra sedikit malas.


Diambilnya sejumput gula pasir kemudian dimasukkan ke dalam mulut istrinya. Mukut mungil itu kemudian mengatup menutup rapat.


" Hisaplah" ucap Vendra.


Tanpa menjawab Aisyah segera mengghisap dan sesekali menggesek lembut lidahnya.


" Embbb... bagaimana?" tanya Vendra.


" Embbb... sepertinya sedikit berkurang" ucap Aisyah yang masih merasakan itu.


" Nanti akan berkurang dan menghilang" jawab Vendra.


" Eh... Mbok.... Mas!!!" seru Aisyah yang membuat mereka bingung.

__ADS_1


__ADS_2