
" Tidak perlu!! Kembalilah. Dan jangan pernah mengatakan apapun!! Paham??" ucap dokter Haris.
" Sebenarnya siapa dokter Haris ini? Kenapa punya anak buah yang... secara fisik bukan dari tenaga medis? Patut dicurigai!!" batin Pak Darman meronta.
" Mari Pak, kita bawa masuk. pelan - pelan saja tidak perlu terburu - buru. Karena saya sudah menyuntikkan beberapa obat pendukung" ucap dokter Haris.
Tangan kekar dengan kulit yang mulai mengelinting itu tanpa diduga mencegat dada bidang dokter tampan itu. Dokter Haris sudah siap dengan sikap yang dilakukan Pak Darman kepadanya.
" Siapa sebenarnya anda?" ucap Pak Darman tanpa melihat dokter Haris.
Mata tua itu memandang arah kedepan, tanpa melihat wajah tampan nan rupawan itu. Dokter haris hanya tersenyum simpul. Dugaannya tepat sekali. Dan dia sudah siap dengan semua pertanyaan yang akan dilontarkan lelaki paruh baya tersebut.
" Saya? Bapak bisa lihat sendiri bukan?" ucap dokter Haris dengan menunjukkan nama di dadanya.
" Hmmm... saya tahu. Siapa anda yang sebenarnya? Lawan atau kawan?" tanya Pak Darman memicing.
Pak Darman sudah siap jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Nyawanya dan seluruh hidupnya hanya untuk memgabdi untuk juragan kecilnya.
Walaupun jika juragan kecilnya mengetahui Pak Darman berkorban banyak tentunta tidak akan pernah terjadi. Karena Vendra qkan menjadi garda terdepan untuk lelaki tua tersebut. Hanya Pak Darman dan Mbok Saroh yang dia miliki.
Dua orang paruh baya yang sangat setia mengabdi kepadanya. Tanpa ada niat sedikitpun untuk mengambil seluruh harta juragan kecilnya itu. Walaupun mereka tahu kekayaan juragannya itu seperti apa.
" Pak.. saya seorang dokter. Tentu saja saya bekerja sebagai dokter. Bapak pun tahu bukan klinik saya ada di luar desa itu. Tepatnya di ujung kota?" terang dokter Haris yang terus berkelit.
Ya, tentu saja dokter Haris sengaja memancing pertanyaan selanjutnya dari orang tua tersebut. Agar dia juga bisa mendapatkan informasi yang penting menurutnya.
" Siapa??" tanya Pak Darman yang semakin ingin meledak.
Lelaki paruh baya itu sembari mengeratkan kepalan tangannya di belakang tubuhnya. Mata tuanya kini menukik tajam merotasi dan memindai wajah tampan yang menjadi pusat kemarahannya.
Melihat hal itu dokter Haris merasa sudah cukup. Pak Darman tentu sudah banyak sekali malang melintang di dunia 'mengulik' seseorang.
" Saya memang seorang dokter. Saya juga mempunyai klinik di ujung kota. Bapak penasaran dengan dua orang tadi bukan?" tanya dokter Haris.
Wajah tua yang mengeras itu sedikit mengendur. Menandakan membenarkan apa yang dilontarkan dokter Haris.
__ADS_1
" Mereka memang anak buah saya Pak. Di perguruan. Tempat saya menimba ilmu kanuragan. Tapi lebih tepatnya saya masih belajar ngaji sama Pak Kyai" ucap dokter Haris.
" Kyai?" tanya Pak Darman mengernyit.
" Saya nyantren Pak. Di daerah Jombang. Dan saya mengadu nasib setelah sekolah kedokteran saya selesai. Tapi kata Pak Kyai, ilmu saya akan sempurna jika diamalkan. Dan saya juga akan mendapatkan banyak ilmu dari itu semua!" ucap dokter Haris.
" Ya, ilmu dunia yang harus dijadikan bekal diakherat nanti" ucap Pak Darman.
" Betul sekali Pak. Untuk itu dua orang tadi hanya anak buah saya yang dulunya adalah preman pasar. Saya bawa ke pesantren. Dan setelah menurut saya cukup ilmu saya bawa mereka kembali. Mereka dalam pengawasan saya" terang dokter Haris.
" Hmm.. baiklah. Saya percaya!" ucap ketus Pak Darman.
" Baiklah mari Pak. Kita sudah cukup lama berbincang" ucap dokter Haris.
Kedua tangan kekar lelaki yang berbeda kulit itu segera akan mengangkat alat medis. Terdengar suara langkah kaki seperti Pak Darman kenali.
" Aden" ucap lirih Pak Darman.
Dokter Haris hanya menoleh ke arah sumber suara dan tersenyum. Ya, tentu saja. Lelaki tua dihadapannya itu sudah sangat hafal walau dengan langkah kaki seseorang. Tapi .... tunggu...
Pak Darman kembali tergagap dan segera mengembalikan kegugupannyq dengan cepat agar tidak diketahui oleh dokter Haris.
" Pak... kok lama. Saya menyusul takut terjadi sesuatu" ucap Vendra.
" Tidak ada sesuatu nak.. mari kembali" jawab Pak Darman lembut.
" Baiklah, aku akan bantu!!" ucap Vendra.
" Tentu saja... badan kekar begitu!! Tidak membantu!! Unfaedah banget hidup kamu!!" ledek dokter Haris.
" Hilihhhhh.... bilang saja kamu kecapekan!" jawab Vendra.
Pak Darman yang mendengar mereka berdua hanya menggeleng dan tersenyum. Sudah sangat lama Pak Darman menginginkan Adennya ini mempunyai yeman sebaya. Teman dikala sedih dan senang. Teman untuk berbagi.
Tetapi karena trauma akan kehidupannya dan banyak sekali masalah yang menerpanya sehingga dia menutup diri dari kehidupan. Penyakitnya pun juga menjadi kendala utamanya. Menarik diri, bersembunyi, dan selalu ketakutan terhadap sesuatu yang membuat traumanya kambuh.
__ADS_1
Tapi entah kenapa kala suatu hari Pak Darman melihat juragan kecilnya berada di balkon atas gedung rumahnya dengan membawa sebuah teropong. Kegiatan itu dilakukannya rutin setiap pagi dan sore hari.
Setelah turun dari balkon atas rumahnya dia selalu tersenyum tanpa diketahui siapapun. Pernah Pak Darman melihat senyum itu sebentar saja. Dan itu membuat Pak Darman sangat senang.
Entah hal apa yang membuay juaragan kecilnya itu begitu bahagia. Gurat pancar kebahagiaan pun dengan jelas nampak. Semangat hidupnya pun kembali seperti sedia kala.
Tapi disaat rasa sakit itu datang, monster bak menguasai tubuhnya. Apapun dihadapannya akan menjadi amukannya. Bahkan tubuhnya pun tak luput dari amarahnya.
Kasihan...
Itulah yang selalu menerpa hati lelaki tua itu. Tetapi Vendra tidak pernah mau dikasihani. Tidak mau mereka iba terhadap dirinya. Dia benci dengan penyakit laknat yang menggerogoti dirinya.
" Dokter Haris bukannya dokter ya? Apakah bisa diajak kerja sama? Bagaimana jika ...." ucapan Vendra mengambang dihatinya.
" Heh... ngelamun. Cepat!! Itu pasien butuh penanganan cepat!! Badan saja gede. Tapi angkatin barang tidak kuat!!" ejek dokter Haris.
Entah kenapa dokter Haris sangat suka meledek Vendra. Di matanya dia menemukan seorang yang tepat untuk diajak bercanda. Walaupun awal dari pertemuan itu diawali dengan ketidak sukaan dari masing - masing lelaki itu.
" Ishhh.... cerewet!!" hardik Vendra.
" Hahaha... Pak... Anak anda memang berdarah tinggi. Suka sekali marah - marah. Dan saya merasa senang. Hahahah" ucap dokter Haris tertawa lebar.
" Sudah - sudah... masuklah. Semua sudah menunggu" ucap Pak Darman.
Sementara didalam ruangan, dua wanita beda usia salinh berdiskusi. Entah apa yang di diskusikannya. Sepertinya tidak jauh dari urusan perut.
Mbok Saroh memang bertanya kepada Aisyah tentang hal itu. Terdengar bisik liroh di telinga tua itu. Bahwa istrinya akan menyiapkan makanan yang cepat saja. Karena jam makan memang sudah terlewatkan.
" Mau kemana Bu ne?" tanya Pak Darman.
Mbok Saroh yang hendak bergerak menuju dapur belakang terhenti sudah.
" Ohhh... Pak... alatnya mana?" tanya Mbok Saroh.
" Kamu mau kemana? Kok terburu - buru?" tanya Pak Darman.
__ADS_1